PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
13. Persiapan.


__ADS_3

Keesokan hari di pagi yang begitu padat bagi Andre dan pagi yang begitu sibuk. Andre yang sedang keliling untuk pengecekan sambil melihat-lihat pasiennya, dengan beberapa dokter di belakang dan suster yang masih dalam proses magang.


"Dokter Andre, pasien yang ini sedang dalam masa pengawasan. Apakah harus di pindahkan di ruang rawat?" ucap dokter karyawan ya.


"Sementara ini tunggu saja di sini sampai kondisi stabil" ucap Andre yang menegaskan.


Andre langsung pindah ruangan lainnya, terlihat seorang wanita yang sedang berdebat dengan perawat. Andre melihatnya, karena penasaran ia langsung mendekati mereka.


"Ada apa ini Susan?" tanya Andre saat melihat suster yang bertanggung jawab di ruangan tersebut.


"Anu dok, ini bapak ini sudah lewat satu bulan di rawat di sini tapi belum bayar tagihan rumah sakit, anaknya bilang nanti saat jatuh tempo. Tapi—" ucapan Susan langsung di putus oleh Andre, saat melihat tatapan mata sedih dari wali pasien.


"Cukup! coba saya kamu minggir dahulu, agar saya bisa mengecek kondisi bapak ini?" ucap Andre dengan nada lembut.


"Baik dok" suster itu langsung minggir dan Andre maju untuk mengecek kondisi pasien.


"Dokter Raffi, apakah dia pasien mu?" tanya Andre karena Dokter magang itu masih berdiri di belakang Andre, dia maju satu langkah di belakang Andre.


"Iya dok, beliau Pasien saya" ucap Raffi langsung maju kedepan.


"Coba saya minta data riwayatnya, apakah dia seperti ini setelah operasi?" ucap Andre yang melihat kondisi pasien sangat kritis.


"Iya dok, sebentar saya cari dulu" ujar Raffi yang akan pergi mencari datanya.


"Taro di meja saya jika sudah ketemu" ucap Andre yang to the point.


"Baik dok!" Raffi yang langsung bergegas mencari datanya.


"Mohon maaf nona ini wali dari pasien?" tanya Elisa pada wanita yang ada di depannya.


"Iya, dok" jawabnya singkat.


"Maaf, anda ini siapanya pasien? sebagai walinya" ucap Andre yang menanyakan pada wanita itu.


"Saya putrinya." Jawabnya singkat.


"Hmm- jadi begitu nanti jam makan siang pukul 12.00-13.00 temui saya di resepsionis depan ya. Sudah jangan di pikirkan, saya akan bantu sebisa saya. InsyaAllah sampai ayah anda sembuh" ucap Andre.

__ADS_1


Pukul jam makan siang Andre yang harus menyelesaikan tugas ya hari ini membuatnya masih keadaan sibuk mengecek bagian lainnya, seperti ruangan obat hingga ruang otopsi.


Teringat jika dia punya janji dengan seseorang, langsung menyudahi segala urusannya di ruang data. Berjalan menuju lantai satu lagi, terlihat wanita itu sedang duduk di kursi tunggu.


Ternyata gadis itu adalah Romlah temen dari Elisa, tapi karena mereka saling tidak kenal makanya tidak tahu. Romlah menyadari jika karisma seorang dokter andre membuat semua orang yang melihatnya terpana, bukan hanya pasien semua juga terlihat seperti menganggumi sosok andre ini.


"Maaf, anda sudah menunggu lamanya?" ucap Andre saat jalan dengan elegannya.


Sejenak Romlah terpesona dengan aura karisma dari jalan Andre yang sangat elegan itu. "Aaaah- tidak juga, saya juga baru sampai" ucap Romlah yang langsung bangkit dari tempat.


"Maaf ya, tadi saya harus keliling dulu. Mari ikut saya kesana, jangan takut" ucap Andre yang begitu ramah.


Mereka maju ke depan resepsionis, ingin mencari data. "Suster Hana, coba kamu cek pasien yang bernama?.... Hmmm- maaf, nama ayah anda siapa yah?" tanya Andre yang bergantian.


"RIFAI HARDOYO" jawab Romlah dengan sangat lantang dan jelas.


"Pak rifai hardoyo, di kamar rawat B-1. pindahkan ke kamar QQ yah hana, nanti suruh mereka menyiapkan semua yah" ucap Andre yang menjelaskan.


"Baik dok, tapi dengan jaminan apa dok" ucap Hana yang meminta data pembayaran.


"Baik dok" ucap hana yabg sudah tidak asing dengan hal itu, karena Andre selalu masukkan pasien yang bermasalah dengan keuangan ke data list penanganan kasus darinya.


"Nona, mulai besok pak rifai adalah pasien saya. Jadi, mulai pagi nanti beliau akan saya tangani secara ekslusif, Nona juga tidak usah memikirkan soal biaya karena semuanya sudah saya tanggung" ucap Andre yang menjelaskan.


"Tapi, dok... Apakah tidak masalah dengan hal itu, apakah nanti rumah sakit ini tidak akan merugi?" ucap Romlah yang polos.


"Nona kami disini sistem ya menolong, dan menyelamatkan nyawa orang dengan catatan sebisa kami lakukan, jika soal itu. Hal lainnya, jadi anda tidak usah khawatir. Terpenting sekarang adalah nona berdoa, meminta kesembuhan untuk ayah anda. Itu sudah cukup, ada yang ingin anda tanyakan lagi sebelum saya pergi"


"Tidak dok! terimakasih banyak atas bantuan yah" Romlah masih terpesona dengan kebaikan Andre.


"Baiklah jika begitu saya permisi" sedangkan Andre langsung pergi setelah itu, karena masih banyak tugas yang harus ia kerjakan.


Hari tidak terasa sudah jam 17.00 waktunya Andre siap-siap untuk pulang, masalah dengan Arafif juga belum menemukan titik terang, sekarang Andre tidak tahu dimana keberadaan papah ya itu.


"Den, kok dari tadi bapak perhatikan diam aja. Apakah ada masalah di rumah sakit den?"


"Nggak ada pak, hanya saja aku kepikiran sama papah. Sekarang papah ada dimana yah?"

__ADS_1


"Hmm-, coba den hubungi sapa tahu saja tuan mau mengangkat panggilan dari den bagus"


"Iya, saya akan mencobanya"


Di sisi Lainnya Arafif terdiam di sebuah tempat, ia terlihat sangat sedih karena keluarganya hancur dalam hitungan detik, ia tak bisa menjaga keharmonisan dalam rumah tangga yah, di tambah jika Monika tahu yang sebenarnya Arafif punya anak dengan wanita lainnya apakah Monika akan semakin membencinya.


Tapi selama 20 tahun arafif hanya sesekali mengunjungi tempat di mana anak-anaknya tinggal, Arafif memiliki putri dan seorang putra.


"Tuan, ada kabar yang terdengar jika Alex dan Zever sedang menelusuri sungai mati di New York, apakah saya harus ikuti?"


"Tidak usah, jika dia bersama zever. Kita fokus saja dengan penobatan Andre, kapan pemilihan itu?"


"Tanggal 20 Juli tuan" jawab seseorang anak buat dari Arafif.


"Tahun ini?"tanya Arafif yang belum tahu jadwal terbaru dari pemilihan.


"Iya, tahun ini tuan. Apakah ada yang bisa saya lakukan lagi setelah ini?" ucap anak buahnya itu.


"Masih ada waktu 4 bulan lagi kita persiapkan segala sesuatu yah, jangan sampai ini gagal kembali" ucap arafif yang menyuruh untuk tetap siap siaga.


"Itu akan kami maksimal kan sebaik mungkin. Lalu bagaimana dengan keadaan tuan ANDRILOS, bukankah dia masih menolaknya" ucap anak buah itu yang khawatir akan masa depan ANDRILOS.


"Dia pasti akan berfikir, dan cepat atau lambat dia akan mengerti. Baik dia mau dengan suka rela atau tidak, tapi ini semua adalah tanggung jawab yang dia harus pikul, tak akan ada yang bisa membantunya" penjelasan Arafif.


"Anda bener, baiklah saya akan mempermudah proses tahap selanjutnya agar tuan ANDRILOS juga langsung naik Tahta setelah beliau setuju" ucap anak buah Arafif ini yang setiap saat membantu segala sesuatu yah.


"Tolong bantuannya" ucap arafif yang meminta bantuan dengan tulus sekali.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 27 JULI 2022.

__ADS_1


__ADS_2