PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
20. Tidak Jadi Ritual.


__ADS_3

Andre yang hendak melepaskan pelukannya dari Elisa karena di rasa waktunya belum tepat dia melakukan hal itu. Tapi, Elisa yang sudah terbuai oleh ciuman lembut dan belaian sang suami membuat dia tidak mau berhenti sampai disitu saja.


"Udahlah cukup sampai sini aja, kita tidur saja yuk! Besok aku harus bertempur kembali dengan para orang tua di luar sana" ucap Andre spontan ia mengambil handuk yang jatuh di lantai.


"Lagi-lagi begini. Yaudah lain kali kalau kamu kayak begitu lagi, dan minta jatahmu lagi, nanti akan ku tendang. Sampai milikmu itu tidak bisa berdiri lagi" ancaman Elisa membuat Andre terbelalak kaget seraya menatap wajah Elisa yang jutek.


"Serem banget ancaman kamu sayang, aku mah gak masalah sih, jika kamu menendang milikku. Sakitnya cuman beberapa bulan, tapi gimana sama orang tua kamu dan orang tua ku garis keturunan ANDRILOS akan hancur" ucap Andre yang tak kalah kejam ancamannya.


"Bodo amat, aku tidak peduli" ucap Elisa yang memalingkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan kain selimut.


Andre terdiam sejenak menunggu miliknya agak tenang, dan setelah miliknya sudah kendur lagi Andre memberanikan diri menarik selimut dan masuk kembali kedalamnya, memeluk Elisa dari belakang.


"Baiklah, kita lakukan sekali saja. Tapi... Kita mulai dari awal ya" bisikkan Andre pelan di telinga Elisa.


Mendengar hal itu Elisa membalikan badannya, menatap lekat wajah suaminya itu. "Maksudnya dari awal?" tanya Elisa binggung.


"Hmm... Lagi pula dia sudah tidur lagi tuh, jadi kita mulai dari awal. Pemanasan, sebelum pemanasan. Kita sholat dulu saja, gimana?" ajakan Andre yang langsung menatap bola mata Elisa.


"Sholat apa?" tanya Elisa polos, tak faham.


"Sholat sunnah, sebelum melakukan ritual itu, kita harus sholat Sunnah dulu" ucap Andre yang membisikan pelan.


"Hah! ritual? mas. Kan kita gak melakukan pesugihan, ngapain kita ritual" ucap Elisa yang konyol, Andre tersenyum tipis.


"Bukan ritual itu sayangku, tapi ritual untuk penyatuan kita berhubungan suami-istri, harus ada ritualnya secara benar, dan terarah. Agar beni yang aku tebar itu jadi anak-anak yang Sholeh dan Sholehkah itu kata orang-orang tua. Yuk!"


"Kelamaan dong kalau begitu, itu gak adil mas" ucap Elisa yang ngembek.


"Lah kok gitu, gak adil gimana?" ucap Andre yang tidak faham apa yang di katakan oleh Elisa.


"Kamu kalau lagi pengen begituan, langsung nyosor aja. Kok pas aku yang pengen, selalu ada rancangan ini dan itu"


"Yaudah! gini aja biar cepet. Kita berdoa aja deh, agar jangan ada yang ikutan selain kita berdua, gimana?"


"Oke! doa ya emang kamu hafal, jujur Elisa gak hafal. Pernah baca tapi gak inget, itu dulu"


"Iya, aku tahu. Aku juga pernah baca cuman sekali, tapi aku ingat kok" ujar Andre yang memang sudah lama membaca itu dari buku-buku yang pernah dia baca.


Setelah selesai mereka baca doa, Andre terdiam menatap wajah Elisa sayup.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatap aku begitu sih, ada yang aneh di wajah elisa mas?" ucap Elisa yang memegangi wajahnya.


"Nggak! kamu manis, hmm- kalau cantik itu mayoritas. Tapi, manis itu jarang. Sayang, jika nanti kamu merasa sakit. Kamu bilang yah, jangan diem aja oke!" ucap Andre yan sudah di atas Elisa.


Hanya anggukan kepala saja sebagai jawaban dari Elisa, Andre mulai melakukan hal yang diawal dia lakuin. Tapi, sekarang lebih terarah dan teratur. Elisa hanya diam seraya memeluk tubuh kekar Andre yang sedang melakukan tugasnya, hingga sampai di ujung jalan. Saat Andre ingin mengambil hak ya sebagai suami, ia terdiam lama saat menatap ke arah seprai sebelum ia menutup tubuhnya dengan selimut.


"Kok diem aja mas, jadi gak. Kelamaan nih deh mas Andre tuh, banyak mikir benget sih" ucap Elisa yang udah gak sabar.


"Bukannya gitu sayang, mas mau masukin tapi, kamu sudah berdarah duluan!" ucap Andre yang spontan ngomong asal ceplos.


"Hah! berdarah gimana? kan Elisa gak jadi tadi memasukannya, masa baru nyempe ujung aja udah..." ucapan Elisa yang terhenti karena penasaran sama apa yang terjadi saat ini.


"Lihat, ada bercak darahkan" ucap Andre yang menujukan seprainya.


"Kok bisa?" Elisa malah binggung dengan keadaan itu.


"Sayang, tanggal berapa kamu terakhir datang bulan?" ucap Andre yang menatap intens.


"Hmm- lupa" jawab singkat.


"Mana hp mu" tanya Andre yang langsung mencari hp milik istrinya.


Mengotak-atik hp milik elisa terlihat Andre mencatat semuanya di hp milik Elisa, yah kalender merah bagi wanita. Andre cukup teliti dengan bulanan sang istri, tapi Elisa yang tidak bisa mengenal lebih tentang dirinya.


"Ini lihat, disini sudah jelas merah" ucap Andre yang menujukan tanggalan merah Elisa.


"Heh? siapa yang daftarin ini sih" Elisa kaget karena punya kalender wanita.


"Aku, biar kamu nggak perlu nanya terus soal bulanan kamu ke aku. Seharusnya kamu ingat-ingat dong, tanggalan kamu sendiri. Masa harus suaminya yang mengingat kapan kamu datang bulan, kan kamu yang merasakannya, sayangku" ucap Andre yang mengecup kening Elisa lembut.


Wajah Elisa yang agak kecewa dengan hal itu, terdiam melepaskan hp miliknya lalu kembali merebahkan tubuhnya dikasur.


"Hey, kok malah tiduran ganti baju sana. Nanti kita tidur bercampur darah lagi, ayo bangun biar mas yang bersihin seprainya"


"Elisa gak bawa pembalut, jadi yah udah tidur aja lagi"


"Yaudah kamu bangun saja dulu, nanti mas yang bersih-bersih ini. Lalu meminta seseorang mengantarkan pembalut untukmu" ucap Andre.


Elisa bangkit dari tempat tidur, lalu masuk kamar mandi. Andre langsung ganti baju, dan menelfon seseorang dari telfon di kamarnya. Tak lama seorang pelayan datang membawakan apa yang di butuhkan oleh Andre, segera Andre membersihkan kasur dan mengganti semua seprainya.

__ADS_1


Elisa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelitnya. "Mas, ada pembalut ya gak?"


"Ini, tadi mas minta sama pelayan wanita. Sana masuk lagi, bawa baju gantinya gak. Jangan-jangan gak lagi kayak waktu di New York, kamu pake baju aku terus ternyata kamu gak bawa baju" ucap Andre yang masuk sibuk merapikan seprai.


"Bawa kok, itu bajunya elisa" ucap Elisa yang menuju ke arah koper pink.


"Iya udah sana ganti baju kamu, terus kita tidur lagi, tapi mas cek dulu beneran gak kamu bawa baju" ucap andre yang memberikan koper Elisa, tapi sebelum itu Andre membuka isi kopernya.


"Kan Elisa sendiri yang mau datang, jadi gak di siapin orang lainnya, jadi tahulah Elisa bawa baju apa saja" ucap Elisa.


"Kirain aja nanti ada yang menukar isi koper kamu, kan gak ada yang tahu" ujar Andre yang khawatir.


"Iya deh, tapi benarkan isinya baju Elisa?" ujar Elisa.


"Iya ini baru bener isinya baju kamu, yaudah ganti baju sana"


"Iya, sini kopernya"


"Nih, kita nanti akan langsung tidur. Udah jangan minta apa-apa lagi yah"


"Yah aku harus puasa lagi, nungguin tanggal marahku selesai" ucap Elisa yang kecewa.


"Nanti kalau sudah selesai kita rencanakan lagi"


"Kamu selalu bilang itu, bosen! yaudah deh aku masuk dulu"


Elisa masuk ke dalam kamar mandi kembali, terduduk di kursi di kamar mandi seraya merenung.


"Yah, padahal dikit lagi. Kenapa sih kamu datangnya gak tepat banget, sudah tahu minta ituan sama dia sangat susah sekali, kalau bukan dia yang pengen. Aaaaah kesel ya aku, kesel sampai rasanya mau makan diri sendiri" Dumalan Elisa seraya memakai baju.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Kamis, 11 Agustus 2022.

__ADS_1


__ADS_2