
Elisa yang pergi meninggalkan rumah mengunakan motor gede ya meninggalkan rumah, Andre yang ingin mengejar malah ketinggalan. Karena Elisa sudah tancap gas, tak bisa di kejar oleh kaki lagi.
"Loh, nak Andre teteh kenapa yah. Dan mau kemana?" tanya Siti yang heran melihat putrinya tak pernah semarah ini saat keluar rumahnya.
"Salah Andre bu, biar nanti Andre kejar. Andre pergi dulu ya Bu, takut ada apa-apa sama Elisa di jalan. Assalamualaikum." ucap Andre yang langsung pergi meninggalkan rumah, mengunakan mobilnya. Ia mengejar sang istri yang sudah tancap gas jauh itu, walau Elisa marah tapi marahnya itu karena dia kesal pada suaminya, yang cuek dan tidak peka itu.
Berada di suatu tempat, Elisa yang memborong sebuah cup es krim, yang dia suka. Iya langsung duduk di pinggir pantai sambil menangis tersedu-sedu, karena dia bingung mau curhat sama siapa? Pikirkan sekarang tak karuan, karena harus memikirkan apa yang terjadi selama pernikahannya dengan Andre. Ada waktu dia juga bahagia bersama suaminya, tapi seringkali hatinya juga terluka karena sikap Andre yang selalu saja mengabaikan, dan menyampingkan dirinya. itulah yang membuat dia sangat terluka, dirinya seperti tidak dianggap sebagai seorang istri, melainkan hanya seorang pendamping yang dicari jika di butuhkan, jika tidak langsung di abaikan lagi, dan hanya untuk menghilangkan rumor tentang Andre.
Andre yang merasa bersalah terhadap istrinya, dia melajukan mobilnya sambil matanya sangat sibuk, lirik kanan dan kiri mencari, mencari ke jalanan yang kanan dan kiri, dan di bahu-bahu jalan, tapi tak menemukan Elisa dimana-mana, entah keberadaan ada Elisa saat ini tidak di ketahui
"Elisa Sebenarnya kamu berada di mana?"dumal Andre yang frustasi karena sudah hancur 4 jam dia mencari di jalanan.
Sekarang pukul setengah 2 dini hari, Andre masih mencari tahu dimana istrinya berada. Hingga sebuah deringan ponsel yang membuat Andre menghentikan mobilnya sejenak, tertera nama Brother.
"Hallo dek, walaikumsalam... Mas lagi di jalan nih, cari Teteh kamu... Iya biasalah dia ngambek, heh! Jadi dia sudah ada di rumah? okey, mas pulang sekarang... Iya, mas tutup dulu assalamualaikum."
Mendengar jika Elisa sudah sampai dirumah, Andre langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi dia langsung pulang ke rumah mertuanya. Sesampai di depan rumah, terlihat motor milik Elisa sudah bertengger di halaman. Andre merasa lega sekaligus tenang, karena Elisa baik-baik saja.
"Assalamualaikum." Ucapan salam dari Andre, lalu dia masuk ke dalam rumah.
Andre melihat kedua mertua, duduk di antara Elisa dan Azril. Andre langsung menyalami kedua orang mertuanya itu, melihat wajah semua orang yang ada di sana tampak serius, dan dan sangat tegang. Andre merasa heran apa yang terjadi, dan hawa dingin di ruangan tersebut karena keheningan yang ditimbulkan mereka.
"Ini Ada apa ayah ibu?" Andre membuka percakapan.
"Mas Andre silakan duduk dulu, kita bicara sambil duduk santai, aku mau ngomong sama kalian semua." ucap Elisa yang menatap setiap orang yang ada di sana.
"Mau bicara apa sih teh. Ini udah malam loh, gimana kalau ngomongnya besok pagi aja." ucap Siti yang menegur putrinya.
"Aku nggak bisa menunda-nunda lagi. Ibu sama Ayah harus dengerin apa yang Teteh ucapkan, terutama kamu mas." ucap Elisa yang menegaskan.
"Okey, aku terima." jawab Andre yang hanya bisa pasrah.
"Elisa mau pindah rumah, jadi malam ini juga, Elisa nggak mau tinggal sama ibu sama ayah lagi. Elisa sudah menikah sama Mas Andre, jadi Elisa nggak mau tinggal lagi sama ibu dan ayah lagi. Aku mau mandiri, dan pengen mengurus rumah tangga Elisa sendiri sama Mas Andre. Bolehkan, Elisa minta izin buat keluar dari rumah, malam ini juga." ucap Elisa yang tegas.
"Oke ayah setuju sama apa yang di katakan, Teteh. Tapi, ini sudah malam kenapa kita tidak bicarakan ini besok, karena ini sudah jam 02.00 malam nak. Jika kamu pindah, gak ada waktu buat kamu istirahat." saran Yusman.
"Itu bener Elisa, ayah ada benarnya. Udah besok pagi saja teh, kalau pergi malam-malam itu bahaya, ibu juga gak bisa izinkan kalau gitu." ucap Siti yang menyarankan.
"Ibu sama Ayah tidak usah khawatir, Elisa nggak akan kenapa-napa kok, percaya deh, kan ada tuan ANDRILOS disini. Dia pasti bisa jagain Elisa dengan baik, jadi Elisa boleh'kan pergi malam ini, untuk meninggalkan rumah ibu dan ayah." ucap Elisa yang memohon.
Kedua orang tua Elisa hanya saling memandang, gak bisa berbuat banyak. Elisa tetap kekeh pada pendiriannya, ingin pisah rumah dengan kedua orang tuanya itu.
"Kasihan bu, mas Andre sudah beli rumah tapi gak pernah di tungguin. Dari pada mubajir'kan." ucap Elisa yang menjelaskan lagi.
"Iya juga sih, yaudah deh! Terserah sama teteh saja, gimana enaknya. Ibu dan ayah juga gak bisa larang itu, semua keputusan ada pada teteh." ujar siti yang akhirnya pasrah begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa nggak bisa besok saja sih teh pindahnya." sambung Azril yang angkat bicara.
"Nggak bisa, ini semua sudah keputusanku bulat, buat pindah dari rumah, lagi pula aku juga sudah membereskan pakaian, dan perlengkapan lainnya tinggal lest'go." ucap Elisa yang sangat antusias sekali.
Andre hanya bisa diam dengan apa yang di minta sang istri, dia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana, karena dia juga yak bisa melakukan apapun sekarang ini.
Akhirnya orang tua Elisa menyetujui apapun permintaan Elisa saat ini, Andre hanya bisa pasrah, dan diam tanpa suara. Dia juga tidak bisa menentang putusan akhir dari sang istrinya, Elisa masih saat ini sedang marah terhadap dirinya.
Pukul 03.00 dini hari akhirnya Andre, dan Elisa pergi menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempat tinggal Try Rohman, sesuai dengan permintaan Elisa yang tidak akan jauh dari rumah sakit ataupun kampusnya. Tapi, harus jauh dari rumah mamah mertua, dan ibunya.
Setelah sampai di depan rumah, Elisa langsung masuk begitu saja ke dalam rumah, tanpa memikirkan Andre yang sedang memarkir mobil melewati ruang tengah, Elisa mengabaikan semua dekorasi hiasan, atau apapun. Dia hanya terfokus pada satu ruangan, yaitu kamar tidur, karena dia ngantuk berat, setelah nangis besar, berdebat dengan orang tuanya, hingga perjalanan datang ke rumah itu.
Lalu ia menjatuhkan dirinya di atas kasur, tanpa menunggu lama lagi, dalam hitungan detik saja Elisa langsung tertidur pulas, saat Andre masuk. Iya kaget karena Elisa sudah berada di alam bawah mimpinya, Andre yang berusaha membereskan posisi tidur Elisa yang memakan tempat.
"Kadang kalah aku gak faham sama dia, kenapa amarahnya itu sangat menakutkan bagiku, Elisa jangan seperti ini lagi, entah kamu ini sedang kenapa? Aku bahkan tidak mengerti dengan sikapmu." Dumalan Andre.
Aku sangat mencintaimu wanita ini, tapi aku kita tahu bagaimana cara untuk menyikapi perbedaan diantara kita. Sepertinya aku harus belajar lagi untuk memahami dirimu, Elisa. Dalam hati Andre yang saat ini pilu, seraya mencium ujung kepala Elisa yang sangat mesranya
...----------------...
Keesokan paginya, Andre yang sudah siap-siap itu, membangunkan sang istri yang masih terlelap. Iya Andre yang biasa hanya tidur beberapa menit itu, dan sudah biasa bergadang karena dia seorang prajurit makanya dia udah terlatih.
"Sayang, ayo bangun, bukannya hari ini kamu ada presentasi pak Heru kan?" ucap Andre yang sedang pakai baju.
"Hmph, pak Heru? Siapa, aku gak kenal." Ucap Elisa yang setengah sadar.
"Ouh iya! Pak killer, aduh aku lupa." bergerak cepat dan bergegas dia lari ke kamar mandi.
"Hmm- ada-ada saja itu, sayang. Kamu masuk pakai mukenah loh, lepas dulu mukenanya." Teriakan Andre, karena semalam Elisa setelah sholat subuh malah langsung melanjutkan tidurnya.
"Iya." jawab singkat.
Elisa yang menolak untuk di antar oleh Andre karena dia nggak mau identitas sebagai seorang istri ketahuan, karena bisa jadi bulan-bulanan di kampus.
"Kamu yakin gak di antar mas Andre?"
"Nggak usah, aku bisa sendiri kok. Ouh yah, mas jam ke 4 MK Bu Susan kamu yang ngajar kan?" tanya Elisa yang tanya kepastian.
"Iya, jam 10 kan?" memastikan kembali.
"Hm, lupa iya kayak mah. Yaudah, saat nanti kamu di kelas, kamu jangan anggap aku istrimu yah." ucap Elisa menyarankan agar Andre tak membongkar semua rahasianya itu.
"Iya baiklah, terserah kamu saja." ucap Andre yang pasrah saja.
Elisa yang langsung pamitan dengan suaminya, dan pergi mengunakan taksi untuk menuju kampusnya, dan saat ini sedang bergerak menuju tujuannya. Andre yang saat ini akan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu, karena harus mengurus beberapa pekerjaan disana. Melajukan mobilnya menuju tujuannya, dan meninggalkan rumah.
__ADS_1
Melihat Try yang juga akan berangkat karena rumah Andre melewati jalan rumah Try, hingga membuat try kebingungan karena ada Andre disana.
Tin Tin Tin
"Ayo naik, kita searah tujuan kan." ucap Andre menurunkan kaca jendela mobil.
"Loh, Andre. Kok bisa kesini, kenapa jauh-jauh datang kemari?" Try kaget.
"Panjang, udah cepat naik aku ceritain di mobil." ucap Andre.
Try langsung naik saja kedalam mobil andre, mereka akhirnya berangkat bareng menuju RS. Baru Andre menceritakan kejadian semalam, dan mengatakan jika dirinya tinggal di rumah baru bersama Elisa.
Sesampainya di kampus, Elisa yang langsung kalang kabut karena dia belum buat PPT untuk presentasi, membuat dia langsung kebut membuat yah.
"El, kamu kok baru bilang sih kalau ada tugas, 3 Hari mau Tek of presentasi yah." ucap Dina temen sekelas yah.
"Hehehe sorry guys, nama yah juga manusia kadang lupa." ucap Elisa yang membela dirinya.
"Udahlah Din, kamu gak usah menyalahkan orang, bilang aja kamu gak mampuh buat bikin Makalahnya, malah nyalahin orang." ucap Nacly yang gak terima begitu.
"Kok, kamu yang nyolot sih nac. Lagian bukan aku saja yang protes, banyak tuh." ucap Dina.
"Ouh iyalah perasaan baru kamu saja deh yang ngaduh," ucap Nacly.
"Udah Nacly, emang aku yang salah kok. Gak usah debat gitu ah, endingnya juga kita semua akan presentasikan." ucap Elisa yang menenangkan temennya.
"Kok kamu pasrah gitu saja sih, dia emang nyesel yah gak!" Ucap Nacly yang masih gak terima.
"Bukan sama kamu aja El, sama yang lainnya juga kok. Emang dia agak nyeseli sih, bener yang di katakan Nacly, aku aja kesel dan gedeg banget sama dia." sambung Resti yang angkat suara.
"Udah-udah ah, kok jadi benci-bencian gitu! kita ini temen sekelas, jangan gitu ah! gak bagus buat jantung." pembelaan Elisa.
"Kok jantung sih?" Nacly malah gak mengerti sama ucapan elisa itu.
"Iyalah, kalau menyimpan dendam nama penyakit jantung kan." ucap penjelasan Elisa.
"Eh iya juga sih, yaudah deh! kita harus mengutus apa yang dikatakan oleh Elisa." ucap Resti membela.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Selasa 4 April 2023