
Dua mobil sudah terparkir di depan halaman rumah Monarfi dengan supir pribadi masing-masing, dimobil yang akan digunakan Andre ada asisten setianya yaitu Gulftaf. Sedangkan Elisa hanya supir dan seseorang yang akan membukakan pintu mobil untuknya, canggung dan khawatir.
Antara tega gak tega untuk melepaskan Elisa seorang diri untuk menghadiri acara debutnya sebagai nyonya ANDRILOS, karena Andre harus datang ke persiapan gelar perkumpulan para pemimpin. Apa lagi acara debut itu hanya bisa dihadiri oleh para wanita, larangan untuk kaum pria datang. Itulah yang membuat pria ini tampak gelisah dan khawatir akan keselamatan Elisa, tapi mau gimana lagi dia tidak bisa menemani sang istri ke acara debut yah itu.
"Tuan? apakah anda baik-baik saja kenapa anda sudah berkeringat duluan sebelum sampai, dan tampaknya anda juga sangat pucat?" tanya Gulftaf.
"Iya, aku baik kok hanya saja kepikiran soal Elisa, gimana dia akan menghadapi kaum bangsawan dipesta debutnya ini" ujar Andre yang khawatir.
"Anda jangan khawatir, nyonya Elisa akan baik-baik saja kok. Jangan terlalu banyak fikiran Tuan." ucap Gulftaf yang menenangkan Andre.
"Iya, Gulftaf aku akan berusaha tenang sekarang" ucap Andre yang merilekskan pikirannya.
"Lalu kenapa wajah anda tampak gelisah kembali, apakah kepikiran hal yang sama?" tanya Gulftaf yang membuka sebotol air untuk diberikan pada Andre.
"Bagaimana jika ada orang jahat yang menyamar jadi tamu undangan dalam pesta debut?" ucap Andre yang sudah tidak karuan pikirannya.
"Tuan, sekarang apa lagi yang tuan khawatirkan, percayalah bahwa nyonya akan baik-baik saja. Anda seharusnya lebih fokus pada penampilan anda dan fokus kembali ke pekerjaan saat ini, anda punya banyak pekerja yang belum anda selesaikan. Mari kembali ke titik awal dan apa yang anda saat ini pikirkan, tolong singkirkan dulu pikiran lainnya" ujar Gulftaf yang melihat kecemasan diwajahnya, Andre yang terlihat raut wajahnya.
"Aku hanya khawatir kepada Elisa, dia pergi sendiri tanpa ditemani siapapun. Tapi, aku akan coba tenang saat ini" ujar Andre yang masih memikirkan hal yang sama.
Gulftaf hanya bisa menarik nafasnya, karena tidak ada akhirnya pertanyaan tuannya itu, rasa khawatirnya juga seperti wanita yang terlalu paranoid.
"Tuan, anda tidak usah khawatir! Nyonya Elisa pasti akan baik-baik saja, seharusnya anda yang harus yakin dan percaya dong" Ujar Gulftaf yang mencoba menyakinkan Andre.
"Iya tuan yang dikatakan pak Gulftaf ada benarnya. Anda jangan khawatirkan nyonya Elisa, karena pasukan aliansi milik Aoda bersama dengan nyonya, untuk melindunginya." ujar Glenn yang nonggol tiba-tiba dari jok depan, saat mobil berhenti karena lampu merah.
"Eh? Glenn kamu ada disini, kapan kau masuk kedalam." Andre dibuat kaget dengan kemunculannya.
"He-he-he iya tuan maaf, dari tadi saya sudah ada di jok depan tuan. Hanya Tuan saja tidak menyadarinya, aku dan Aoda akan jadi supir pribadi bagi kalian sekalian melindungi kalian juga" sambung Glenn.
"Jadi Aoda ada bersama Elisa?" tanya Andre yang sedikit agak lega karena telah mendengar hal itu.
"Iya, jadi sekarang anda tidak usah khawatir lagi, anda harus yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada Nyonya Elisa, karena pasukan anda bersama nyonya. Walau tidak benar-benar bersama, hanya bisa berada dihalaman, tidak di dalam pesta maka akan disebar luas dihalaman pestanya" penjelasan Glenn yang fokus kembali ke depan.
"Syukurlah kalau begitu. Iya, terimakasih" ucap Andre yang agak sedikit lega karena mendengar hal itu.
Disisi lainnya, dimobil yang ditunggangi Elisa terlihat agak tenang karena Elisa sendang menenangkan diri dengan rasa gugupnya. Tangannya gak henti-hentinya bergemetar, dan sudah dingin. Mulutnya juga sesekali berkomat-kamit, entah baca doa apa.
"Nyonya harus lebih hati-hati lagi saat ada di dalam nanti, jika dirasa tidak ada yang beres atau ada apa-apa anda harus segera memberi kabar atau langsung memberitahuku dan menginformasi sebelum kejadian, apakah bisa dimengerti?" ucap Aoda yang memberikan penjelasan.
"Baiklah, aku akan mengingat semuanya" ucap Elisa yang langsung diam kembali.
"Ouhnya satu lagi, tuan sudah melengkapi semua atribut ditubuh nyonya sekarang. Dari mulai Jps, kamera, alat penyadap suara, rekaman, dan senjata yang akan dibutuhkan sewaktu-waktu jika nyonya dalam bahaya, atau dalam keadaan terdesak. Digaun itu bukan rancangan biasa, dan bukan sembarang gaun nyonya. Jika anda membukanya itu seperti baju zirah militer dan tahan panas juga, sarung tangan yang anda pakai itu bisa mengeluarkan senjatanya juga. Jadi anda tidak perlu khawatir, aku dan para pasukan lainnya ada disekitar gedung menyamar jadi pasukan keamanan" ucap Aoda yang menjelaskan tentang semuanya.
"Makasih ya, Aoda kamu baik banget sama aku memberitahu semuanya. Aku jadi agak lega dan tidak gugup lagi" ucap Elisa yang semakin pede dengan penampilan dirinya saat ini. Langsung merapikan riasan diwajah dan pakaiannya, agar tidak terlalu terlihat dia akan bertempur atau gugup.
"Tidak masalah nyonya, ouh satu lagi karena kamera pengawas juga sudah dirantas oleh tuan muda Azril, maka akan jadi lebih aman lagi untuk mengawasi anda" sambung Aoda kembali.
"Ouh, Azril juga merantas CCTV yah? syukurlah, tapi apakah anak itu ada di New York!" Elisa kebinggungan karena Azril seharusnya sedang belajar di Amerika.
"Iya, apakah masih ada kekhawatiran lagi nyonya?" Aoda menghentikan mobilnya, dan melihat keadaan nyonya saat ini yang berada di jok belakang.
"Nggak ada, cuman lucu aja. Kok rasanya aneh aku datang ke pesta, tapi sangat lucu dan menegangkan" ujar Elisa yang menyiapkan segala keperluan dirinya.
"Lucu gimana nyonya?" ujar Aoda tidak faham dengan apa yang dikatakan oleh Elisa.
"Padahal ini adalah pertama kalinya aku datang ke sebuah acara pesta besar begini, tapi kesan pertamaku terhadap acaranya adalah kegelisahan, dan ketegangan. Bawa rasa kok kayak gini banget yah! Seharusnya pesta yang dihadiri itu happy happy, santai dan rileks. Ini malah kecemasan, khawatir, dan takut!" ucap Elisa muram.
__ADS_1
"Nyonya, pesta perayaan seperti ini memang ajang pertempuran yang cukup ganas, dan juga sebuah medan perang yang telah dikemas dengan baik dengan sebutan pesta perayaan. Padahal tempat itu adalah tempat semua pembunuh yang cukup handal berkumpul dalam lingkup yang berkualitas, bukan dengan senjata saja yang mereka dapat, tapi dapat juga membunuh orang tanpa jejak, mereka lebih kejam dari pada membunuh, karena mereka dapat membunuh tanpa menyentuh melainkan dengan ucapan dan mulut mereka. Anggap seperti itu, jadi nyonya jangan anggap remeh, jika tempat itu adalah tempat hiburan, tapi lautan peperangan yang cukup ganas."
"Hahaha, iya juga sih. Tempat itu adalah medan perang cukup menakutkan, hmmm- Aoda, jika terjadi sesuatu apakah kamu akan datang menyelamatkan ku kan, karena mas Andre katanya berasa jauh dari lokasiku."
Gerbang sudah terlihat dengan sangat gagahnya, dengan beberapa orang yang berjaga di depannya. Lalu terlihat deretan mobil spot impor maupun ekspor, sudah berbaris rapi. Hanya mobil yang dikendaraan Elisa yang terlihat sangat biasa-biasa saja, tidak menarik.
"Waduh! apakah kita salah tempat Aoda, kayaknya bukan disini deh? coba lihat banyak banget mobil mewah bagus-bagus lagi" ucap Elisa yang sibuk tengok kanan tengok kiri.
"Nyonya ini bener kok lokasinya, hanya saja tuan yang ingin kedatangan anda agar jangan terlalu mencolok, bisa saja tuan kirimkan mobil keluaran terbarunya spot yang sedang populer tapi limited edition. Tapi tua. tidak lakukan hal itu, karena akan sangat rumit nantinya berurusan dengan mereka" ucap Aoda yang sedang mencari lahan untuk parkirnya.
"Baiklah, aku mengerti apa yang kamu maksud. Suamiku memang tidak pelit jika soal barang atau harta, jadi aku tidak bisa mencurigai dia itu pelit untuk memberikan mobil" ucap Elisa yang kadang rasa cemburu dan iri jika liatnya.
"Tuan itu sangat dermawan, dan sangat loyal juga nyonya. Kesemua orang jangankan sama orang kecil (miskin) atau yang lemah (orang kurang mampuh) bahkan sama kami yang pengawalnya saja beliau gak mandeng nilai kami siapa" ucap Aoda yang langsung mematikan mesin mobil.
"Iya juga sih," ucap Elisa yang sependapat dengan Aoda.
"Oke, karena sudah sampai apakah nyonya siap untuk mulai bertempur di dalam dengan wanita-wanita sosialita. Siapkan mental anda, lalu aku akan bukakan pintu mobilnya untuk anda" ucap Aoda yang langsung menoleh ke jok belakang.
Elisa hanya bisa menarik nafas lalu mengaturnya dengan baik mata merem melak untuk menormalkan suhu tubuhnya, setelah sudah tenang semua alat yang terpasang sebagai perhiasan yang menempel pada Elisa mulai aktif.
"Hati-hati di dalam sana nyonya Elisa" ucap Aoda yang membukakan pintu mobil.
Elisa langsung di sambut oleh dua orang penjaga pintu, ingin mengecek undangan yang di bawa oleh Elisa. Lalu satunya lagi mengumumkan siapa yang datang, dengan teriakan.
PENJAGA 1 : Tolong nyonya tunjukan kartu undangannya?
Dengan sopan mengulurkan tangannya untuk meminta sebuah kartu undangan sebagai identitas dari tamu.
ELISA : Ouh, iya tunggu sebentar.
Elisa merogoh dalam tasnya, mencari benda yang dicarinya.
ELISA : Ini, kartu undangan milikku.
Elisa memberikan kartu undangannya, lalu memberikan pada penjaga 1, tapi penjaga 1 malah memberikan pada penjaga 2.
PENJAGA 2 : Nyonya Elisa dari High House Fly. Telah tiba, dan telah memasuki aula pesta.
Eh, itukan bukan nama kalangan bangsawanku. Akukan dari Andrilos, kok jadi High House? Yaudah deh, bodo amat lagian aku gak ingin datang kesini. Terserah ajalah. Dalam Elisa yang keheranan dengan apa yang diucapkan oleh penjaga.
Semua tidak mempedulikan dirinya, Elisa aman saat ini karena Elisa belum cukup terkenal di dunia sosial kalangan bangsawan, jadi ia tak begitu di perhatikan.
"Bagus aku tak perlu bersandiwara, tak akan ada yang peduli padaku. Baiklah, aku cuman harus menghadiri saja kan tidak ikut terlibat" ucap Elisa yang sekarang masuk dan pura-pura membaur dengan lainnya.
Tak lama saat dia membaur diantara para wanita bangsawan itu mereka semua seperti punya geng ya masing-masing, Elisa hanya bisa diam disebuah meja yang berjejer banyak sekali minuman warna-warni dan aneka cemilan.
WANITA 1 : Permisi, boleh saya tanya?
ELISA : Iya, silakan.
WANITA 1 : Apakah kamu baru ya disini, aku baru pertama kali melihatmu. Ouh iya tadi kamu dari keluarga mana yah?
ELISA : Aku, dari High House Fly.
WANITA 2 : Bukannya itu sebuah nama gedung? atau kamu jebolan ajang pencarian pendamping untuk kalangan keturunan dari bangsawan.
ELISA : Iya, saya ikut ajang itu.
__ADS_1
WANITA 3 : Ouh, gitu Pantas saja terlihat agak...
WANITA 1 : Jadi kamu termasuk kelas rendahan ya disini. Pantas saja aku baru melihatmu, ya ampun pasti kamu belum terbiasa dengan pesta semewah ini.
Kurang ajar nih cewek, aku patahin juga tuh mulut. Pedes banget, kalau aja aku gak janji jaga image sama suami, ku cincang kau. Dalam hati Elisa.
WANITA 4 : Ya ampun aku gak tahu ada kalangan serendah ini di sini, apa mereka gak salah undang yah. Kok bisa-bisa undang rakyat jelata ke kelasnya yang jauh beda level, seharusnya kamu itu tahu diri di sini.
Mendorong Elisa hingga air yang sedang diminum Elisa itu terjatuh, dan menumpah ke gaunnya.
ELISA : Aaaaaa.... Kalian ini, apa-apa sih aku kan tidak usik kalian, kenapa kalian malah dateng-dateng melakukan hal ini. Apa salahku sebenarnya sama kalian, kenal juga engga.
WANITA 2 : Hahaha... Kamu nanya salah kamu dimana?
WANITA 3 : Kasih tahu, Jenny...
WANITA 4 : Salah kau adalah seorang wanita pendamping yang rendahan, dan dari keturunan rakyat jelata.
ELISA : Lalu, apa masalahnya dengan kalian dan mau apa kalian denganku?
Semua tertawa karena ucapan Elisa itu, seraya wanita ke 2 menyiram air jusnya pada gaun yang sedang di pakai Elisa. Tanpa wajah berdosa malah sangat senang, dan semua tertawa kembali. Elisa hanya diam saja, membiarkan perbuatan mereka.
ELISA : Kalian ini apa-apa sih, kenapa kalian malah kayak gini dan kamu kenapa menumpahkan air minimum.
WANITA 2 : UPPPSSS! Maaf, aku kira ini wastafel. Jadi aku menumpahkan minuman yang sudah tidak aku minum lagi, jadi ini gaun yah.
WANITA 3 : Tapi gaun ini emang gak cocok sama orang ya sih, dan cocoknya jadi wastafel.
Mereka kembali tertawa bahagia, Elisa semakin di buat geram dengan hal itu. Masih cukup menahan amarahnya, Elisa masih sabar.
ELISA : Sekali lagi aku tanya kepada kalian ini, sebenarnya kalian semua datang kepada saya dengan tujuan apa yah?
Elisa sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat, siap untuk membuat bogeman di wajah mereka.
WANITA 1 : Kamu nanya, gak pantes kamu nanya-nanya begitu. Ke kita, tahu diri kamu itu hanya congor dan temen tidur bagi pria bangsawan, lagi pula siapa kamu bukan wanita terhormat juga ngapain kamu punya keberanian tanya-tanya begitu.
WANITA 2 : Lagi pula tujuan kita juga jelas, mau apa? mengusir kamu dari pesta ini, karena bikin sakit mata tahu nggak?
WANITA 3 : Astaga! Bukannya ini adalah gaun rancangan Ryan Desmond?
WANITA 2 : Paling juga itu Kw, nggak mungkin rakyat jelata seperti dia punya gaun rancangan Ryan Desmond, yang super mewah dan hanya di buat 1 untuk setiap model gaunnya, karena cukup langkah makanya sangat mahal. Mana mampuh cewek seperti ini membeli gaun rancangan Ryan Desmond, ngimpi kali ya.
WANITA 3 : Tidak, ini ada lambang asli dari The Queen Dress milik Ryan Desmond.
WANITA 1 : Tidak mungkin gadis rendahan ini mampuh membeli gaun rancangan Ryan Desmond. Jelas-jelas dia ini hanya rakyat jelata bagaimana mungkin dia memiliki aset ini.
WANITA 4: Paling juga dia sudah menjual tubuhnya pada para Tuan-tuan bangsawan itu, hanya satu malam dengan bantuan banyak tuan yang kaya raya bisa saja'kan.
WANITA 1 : Hahaha iya kamu bener sekali, baiklah aku tanya?... Gimana rasanya di gilir oleh para tuan muda dan tuan lainnya? wah kamu pasti puas sekali ya jadi simpanan dari tuan-tuan Bangsawan itu, tapi gak apa-apa kan. Uang ya juga mengalir deras ke dompet mu, wah asiknya... hahahaha.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Selasa 6 Desember 2022.