PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
183. Rencana Pindah Rumah.


__ADS_3

Pukul 18.00 Setelah adzan Maghrib, Andre baru saja pulang dari RS, terlihat mobil silver miliknya sudah terparkir di depan rumah. Lalu dia langsung masuk kedalam, di rumah hanya ada Azril dan elisa, karena Siti dan Yusman sudah berangkat ke masjid.


"Assalamualaikum" ucap Andre saat masuk kedalam rumah.


"Walaikumsalam." Jawab Azril mencium tangan Andre.


"Udah pulang mas." tanya Azril yang duduk kembali di sofa.


"Iya nih zril, ouhnya tadi katanya kamu dan Elisa datang ke RS ya. Maaf ya, aku sibuk banget disana, Elisa marah yah?" tanya Andre yang langsung membidik pada Azril.


"Iya mas, kita tadi kesana. Tapi, gak tahu teteh tiba-tiba langsung minta pulang gitu aja, yang ngajak ke RS dia yang minta pulang juga dia. Sampai tadi pulang, teteh belum keluar kamar aku jadi bingung mas harus bagaimana, ibu sudah bujuk tapi tetep aja nggak mau keluar." penjelasan Azril.


"Udah kamu gak usah khawatir, aku akan bujuk dia keluar." ucap Andre yang akan berjalan masuk kamar.


"Iya mas." ucap Azril yang agak lega, lalu matanya kembali fokus pada layar leptop miliknya.


Andre yang mengetuk pintu kamar, karena di kunci dari dalam oleh Elisa yang sedang ngambek dan pikiran gak karuan, Andre juga tidak mengerti apa yang di rasakan oleh Elisa saat ini.


Tok Tok Tok


Andre yang mencoba mengetuk pintu karena Elisa yang tidak kunjung membuka, akhirnya Andre membuka suaranya.


"Assalamualaikum. Sayang ini aku, tolong buka pintunya." ucap Andre seraya mengetuk pintunya.


Tanpa kata, pintu langsung terbuka. Tidak ada salam juga yang di jawab, Elisa mukanya di tekuk saja. Andre meletakannya tasnya, lalu duduk disampingnya.


"Ada apa, kok suami datang bukannya di sambut senyum ini malah muka bete gitu, gak jawab salam dari mas lagi." ucap Andre yang mencoba membujuk Elisa.


"Walaikumsalam." seraya mengambil tangan Andre untuk di cium.


"Ada apa sayang. Kamu sakit, tadi katanya kamu ke RS. Maaf ya aku lama, kamu jadi marah sama aku yah?" tanya Andre.


"Nggak kok!" Jawab singkat muka masih bete.


"Terus, kamu kenapa?" tanya Andre sangat penasaran.


"Mas aku mau liburan, honeymoon kita kok selalu gagal sih. Aku gak mau tahu pokoknya bulan ini kita harus ngadain liburan, titik." ucap Elisa yang penuh dengan semangat.


"Eh, kok tiba-tiba mintanya." ujar Andre yang mengerutkan alisnya.


"Kok tiba-tiba. Mas kamu sadar gak sih, sama apa yang kamu katakan itu, kita itu udah nundanya lama loh, dan sering kita bicarakan soal ini kan." ucap Elisa yang sangat kesel.


"Iya iya iya, yaudah kita bicarakan lagi setelah aku mandi yah, sebentar." ucap Andre yang mau menghindar dari pertanyaan ini.


Andre yang masuk kedalam kamar mandi langsung di ikuti oleh Elisa masuk, kaget karena Elisa juga ikut masuk kedalam kamar mandi.


"Bisakan, kamu luangin waktu kamu buat aku." tanya Elisa yang langsung membidik pada suaminya.


"Iya sayang iya, ya udah kamu keluar dulu, aku mau mandi nih." ucap Andre yang akan melepaskan pakaian yah.


Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, Elisa langsung melepaskan pakaiannya juga, dan sudah polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Andre mulai panik, karena dia lupa kunci pintu kamar.


"Eh apa-apa ini kok kamu juga lepas baju sih, kamu mau ngapain?" bisik Andre karena takut di dengar oleh Azril.


"Mau ikutan mandi bareng." ucap polos Elisa yang menyalakan shower.


"Ya ampun, kamu bilang-bilang dong! Pintu depan gak aku kunci lho, gimana kalau ada yang masuk." ucap Andre yang panik.


"Tinggal pintu kamar mandi saja yang di kunci, bereskan mas." Elisa menganggap entengnya, dan langsung melepaskan pakaian Andre.


Orang tua Elisa pulang dari masjid, Elisa dan Andre sedang merapikan meja makan karena akan makan malam. Lalu Azril juga baru pulang dari warung karena di suruh tetehnya beli sesuatu yang kurang.


"Assalamualaikum" ucap ayah dan ibu serempak.


"Walaikumsalam." Jawab anak-anak di dalam rumah.


Mereka bergantian bersalaman. " Eh, teteh sudah masak." ucap Siti yang melihat meja makanan sudah rapih.


"Iya," jawab singkat Elisa.

__ADS_1


Mereka akhirnya langsung duduk di kursi masing-masing, dan terlihat sangat hening makan malam ini, tak ada canda atau tawa seperti biasanya. Sangat canggung, Azril juga hanya bisa diem karena atmosfer di dalam rumah agak tegang.


"Zril, kamu kapan berangkat kuliah lagi di Luar negeri." Suara sang ayah mematahkan keheningan.


"Tanggal 10 bulan depan ayah, masih lama ayah, emang kenapa yah!" ucap Azril yang langsung menatap wajah ayahnya yang sangat dingin.


"Kalau bisa, kamu kuliah saja disini, gak usah keluar negeri lagi. Jauh," ucap sang ayah. Seperti sedang membatasi ruang gerak Azril untuk berkarya, Elisa gak bisa tinggal diam lagi sikap kedua orang tuanya terlalu mengatur kehidupan.


Meletakan sendok dengan kasar membuat semua yang ada disana kaget, dan melihat kearah Elisa yang langsung menatap wajah ayahnya.


"Sudah cukup, ayah. Membatasinya gerakan Azril, dari sepulangnya Elisa. Ayah gak pernah ngomong sama aku, hanya bisa mencari kesalahan dari Azril. Lalu saat punya kesempatan langsung memarahi yah, jika ayah marah padaku lakukan saja. Tak usah ada perantara seperti itu, seperti azril selalu salah dimata ayah."


"Teteh, ayah gak begitu kok. Itu hanya perasaan teteh saja, udah tenang yah teh." Ucap Siti menenangkan pikiran Elisa.


"Aku tahu ini juga demi kebaikan Azril dan Elisa, kalian juga khawatir dan sangat cemas. Tapi, kita juga punya kehidupan dan perjalan kita sendiri ayah, kenapa ayah malah mematahkan semangat Azril. Biarkan dia mengejar cita-citanya, toh dia kuliah tanpa biaya kok. Malah dia yang dibayar, kenapa ayah jadi seperti ini." ucap Elisa yang menatap ayahnya yang tak melihat dirinya.


"Bukannya begitu teh, ayah cuman gak mau kejadian kamu bisa menimpah adikmu lagi. Kamu tahu, adikmu hampir saja kehilangan nyawanya." ucap Yusman membela.


"Itu semua salah Elisa, karena gak bisa jagain Azril. Okey, ayah boleh salahin Elisa apapun. Tapi, jangan ayah marahi semua orang dirumah ini, termasuk Azril. Ayah gak berani marahin Elisa, tapi ayah selalu marahi Azril. Apa salahnya sih ayah, bisakan ayah jujur saja padaku."


"Elisa. Sudah tahan emosi kamu, ayah tidak bermaksud seperti itu kok. Sudah kamu tenang dulu yah, sini kamu duduk lagi. Kita lagi di meja makan, jangan marah-marah di meja makan." Andre yang menenangkan istrinya.


"Aku jadi gak selera makan." ucap Elisa yang langsung bangkit dari tempat.


"Elisa. Maaf ayah ibu. Aku akan coba bujuk Elisa, maaf ya zril." Andre langsung bangkit dari tempat dan mengejar Elisa.


Setelah mereka pergi Siti menegur suaminya, yang sudah agak keterlaluan menurut yah.


"Cih, ayah. Sudah tahu putrinya sensitifan, malah ayah bahas-bahas masalah Azril lagi." ucap Siti yang langsung menatap tajam.


Andre yang berhasil mengerjar istrinya itu, duduk disampingnya. "Sayang, ayah sebenarnya bukan maksudnya begitu kok, pasti ayah itu marah sama aku. Tapi, gak bisa ayah ungkapkan saja. Jadi kamu jangan berdebat dengan ayah soal ini yah, maafkan ayah." ucap Andre yang membuka pikiran Elisa.


"Bukan kayak gini juga mas, aku tahu ayah marah sama kita berdua, udah gini saja, aku nggak mau tinggal sama orang tua lagi. Inikan rumah tangga kita berdua, masalah ini juga masalah kita. Selama kita masih tinggal bersama orang tua aku atau kamu, hidup rumah tangga kita itu kayak gak beraturan banget tahu gak! Selalu diatur-atur, aku seperti gak punya kebebasan sama sekali, sebagai nyonya dirumah. Mas, dalam satu rumah harusnya dihuni oleh satu nyonya, bukan dua nyonya dengan beda pemikiran dan zaman, aku sama ibu atau mamah kamu itu beda zaman. Makanya aku gak mau tahu, kita sepertinya harus pisah rumah dengan mereka, kita jalani kehidupan rumah tangga kita sendiri." ucap Elisa yang langsung to the point.


"Okey. Aku akan ikuti saja apa yang kamu mau, masalahnya sayang. Apakah orang tuamu mengizinkan yah, kamu tahu sendiri sekarang ayah juga seperti membatasinya gerakan kita juga."


"Iya. Ada, kamu mau yang mana?" tanya Andre.


"Yang dekat dari kampus, nggak jauh juga dari RS, ada pemandangan indah juga adakan." ucap elisa.


"Iya ada kok, di daerah rumah Try. Mau?" ucap Andre yang saat ini mengatakan yah.


Setelah agak redah, Azril keluar melihat teteh juga sudah agak membaik. "Teteh, disuruh masuk sama ibu dan ayah tuh." ucap Azril.


"Nanti aja zril, teteh masih kesel." ucap Elisa jujur.


"Teh, maafin Azril yah." ucap Azril yang merasa bersalah.


"Loh, kok kamu yang minta maaf sih Zril. Udah-udah kamu gak usah banyak pikiran gitu, yaudah yuk kita masuk." ucap Elisa yang bangkit dari kursi.


Di ruang tengah tak ada orang-orang, kayaknya orang tua Elisa tak mau menganggu mood Elisa yang kurang baik. "Nggak ada ibu dan ayah tuh" ucap Andre.


"Hmph! Kayaknya ibu udah masuk deh!" ucap Azril.


"Iya udah kamu juga masuk aja ke kamar yah, kamu pasti capek bantuin ayah di empang." Ujar Elisa yang menepuk bahu adiknya.


Berada di kamar, Andre yang melihat istrinya sibuk. Merapikan loker dan lemari, membereskan pakaian Andre, dan pakaian dirinya, karena mereka akan pergi dari rumah untuk menempati rumah mereka sendiri.


Karena mereka tidak mau tinggal bersama orang tua mereka masing-masing. Elisa sudah membulatkan tekadnya, untuk berpisah dengan orang tuanya.


"Kamu ngapain sayang, sibuk benar dari tadi. Mendingan kamu cepet istirahat, besok kamu masih ngampus."ucap Andre yang meletakkan hp-nya di laci.


"Iya. Kamu kalau mau tidur. Tidur aja duluan, aku harus membereskan pakaian dulu. Besok kita udah tinggal di rumah baru, entah ayah atau Ibu melarang. Aku akan tetap dengan pendirianku, pokoknya kita harus pindah." ucap Elisa.


Keesokan paginya Elisa yang diantar oleh Andre ke kampus, tak bicara sepatah dua patah apapun pada orang tuanya. Bahkan mereka berangkat pagi-pagi buta, karena Elisa harus membeli bahan untuk stok bakery.


"Udah segini aja, ada yang kurang nggak! mangkuk cup nggak ada lho Yang." ucap Andre yang sudah memasukkan bahan-bahan kue.


"Udahlah nanti agak siangan aja Rana yang beli, aku bisa telat ngampus nih. Lagian kita juga belum sarapan, cari makan yuk!" Ucap Elisa yang manja banget sama Andre.

__ADS_1


"Ya udah kamu makan apa?" tanya Andre pada istrinya.


"Ketoprak enak kali ya, sambil nyemil bakwan. Di bang Mamat, depan kampus." minta Elisa.


"Iya yaudah yuk!" akhirnya Andre menurutinya apa yang diinginkan oleh istrinya.


Sampainya di depan warung pinggiran bang Mamat, agak ramai jadi mereka tidak bisa makan di tempat hanya bisa pesan karena sangat penuh orang.


"Yah, nggak bisa makan di sini. Ya udah deh makan di kampus aja, aku pesan dulu yah, kamu pedes gak?" tanya Elisa yang akan turun.


"Penuh sayang, kamu mau makan di mana? Jangan pedes deh!" ucap Andre seraya melihat orang yang mengelilingi warung pinggir itu.


"Ya udah kamu jangan keluar yah, bisa heboh nanti." ucap Elisa yang melarang suaminya untuk keluar dari mobil.


Setelah mendapatkan pesanannya, Elisa langsung masuk lagi ke dalam mobil. Memberikan salah satu ketopraknya pada suaminya, karena tahu suaminya pasti tidak akan bisa makan jika sudah sampai di rumah sakit, pekerjaan yang menumpuk. Akhirnya Elisa sendiri yang menyuapi suaminya, sambil Andre menyetir mobil dengan fokus.


"Enak gak!" tanya Elisa yang meminta pendapat dari suaminya.


"Enak kok." jawab singkat Andre. "Kamu juga makan loh sayang, kok dari tadi kamu cuma menyuapin aku aja." sambung Andre.


"Aku udah beli, Nanti aja makannya di kampus, Aku tahu kamu pasti nggak akan makan walaupun aku bawa bekal. Jadi kalau aku nggak nyuapin kamu kayak gini. Nanti gak kamu makan. Iya kan." ucap Elisa yang langsung menatap wajah suaminya.


Sesampainya di depan gerbang universitas, Elisa yang mencium punggung tangan Andre. Hingga minta ciuman di bibir sebelum keluar dari dalam mobil yah, Elisa lagi kode Andre.


"Salim, assalamualaikum." seraya mencium tangan suaminya.


"Walaikumsalam." jawab Andre.


"Kiss ya mana?" tanya Elisa, Andre langsung mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Elisa.


Iya cuman kecupan ringan di bibir, Elisa langsung keluar dari dalam mobil, dan langsung masuk kedalam universitas yah. Andre juga langsung pergi meninggalkan tempat, menuju bakery.


"Elisa," teriakan panggilan Nacly.


"Ouh, Nacly." Elisa menghentikan langkahnya.


"Kamu baru berangkat?"tanya Nacly.


"Iya. Kenapa emang yah?"


"Nggak apa-apa."


Seraya berjalan di koridor, menuju ke kelas mereka. "Eh kamu udah denger belum, katanya ada dosen baru. Pengganti sementara ibu Susan yang lagi cuti, katanya sih hari ini dia udah mulai ngajar." ucapkan memberitahukan kepada Elisa.


"Ouh yah. Cewek apa Cowok?"Elisa sangat bersemangat mendengar hal itu.


"Aku juga kurang tahu El, dengar-dengar aja sih, dari kakak tingkat yang lainnya." ucap Nacly.


"Berarti itu kurang pasti, jika kabar burung saja. Bu Susan belum ada penggantinya." ujar Elisa.


"Bisa gawat kalau Bu Susan gak ada penggantinya, aku nggak mau diajarkan sama Pak killer."


"Kenapa? Kan sama aja." Elisa yang polos bingung dengan ucapan Nacly.


"Hello Elisa, kamu mau satu minggu diajarin sama Pak killer, dua hari aja cukup kali buat diajarkan. Bisa mati berdiri kita, udah ngajarnya nyeremin, sukanya ngasih tugas, nggak ada materi." ucap keluhan Nacly.


"Yah namanya juga mahasiswa ya harus cari sendiri lah materinya." pembelaan Elisa.


"Alah susah ngomong sama kamu, ujung-ujungnya pasti aku yang disalahkan." ucap Nacly yang agak kesel sama Elisa yang terlalu lurus.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Kamis 23 MARET 2023

__ADS_1


__ADS_2