PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
11. Berkunjung Ke Besan.


__ADS_3

Jam menujukan pukul 04.30. Andre yang terbangun di pagi buta melihat elisa yang masih terlelap tidur di sampingnya seraya dengan sangat nyenyak, andre bangkit dari ranjang. Menuju kamar mandi ingin bersih-bersih, andre siap ingin murotal tadarus Al-Qur'an seraya menunggu subuh.


Pukul 05.00, andre membangunkan istrinya untuk sholat subuh berjama'ah.


"Elisa, sayang. Bangun, sudah subuh" ujar andre yang membangunkan elisa dengan lembutnya.


Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, elisa membantu andre untuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat hidangan yang di minta monika semalam.


"Elisa, kamu nanak nasih saja sana. Ini biar mas andre saja yang masak, setelah selesai kamu temani mamah saja di ruang tengah kalau sudah matang nanti aku panggil" ujar andre yang menyuruh istrinya untuk beristirahat saja.


2 jam kemudian semua hidangan yang di inginkan mamah dan hidangan lainnya andre sudah siapkan, para asisten rumah tangganya hanya bisa jadi penonton saat andre masak tadi.


"Saya baru tahu jika den andre bisa masak" ujar mba ratna yang baru melihat andre di dapur karena selama ia bekerja di rumah arafif belum pernah melihat andre di dapur.


"Jangan ditanya, soal den andre. Den andre mah jagonya kalau di dapur. Pokoknya den andre mah serba bisa, sudah paket komplit" ujar bi inah.


Di meja makan di dapur hanya ada tiga orang sesuai dengan keinginan mamahnya, ingin makan dengan anak dan menantunya saja.


"Ternyata kamu jago masak juga ya mas, enak" ucap Elisa yang baru mencicipi makanan yang di masak oleh Andre lagi, terakhir ia mencicipi adalah saat pertama kali dia datang ke New York, di apartemen.


"Sudahlah makan cepat nanti keburu dingin dan enggak enak" ucap Andre yang menyumpal mulut Elisa dengan suapan nasi dan udang.


"Iiih mas Andre, apa-apa sih!" setelah makanannya ia telan bulat-bulat.


Setelah selesai makan, Andre dan Elisa langsung siap-siap untuk pergi mengantarkan Monika ke rumah orang tua Elisa. Tak lama terlihat Arafif datang dari kamar samping, melihat Andre dan lainnya baru kelar sarapan.


"Kalian sudah selesai makan?" tanya Arafif yang melihat Monika bersembunyi di balik tubuh Andre, seperti minta pelindung dari putranya.


"Iya Pah, ini kita mau langsung pergi lagi. Papah mau makan, Elisa ambilkan ya?" ucap Elisa yang menyahuti sapaan papahnya itu, karena Andre dan Monika hanya bungkam tak mau bicara dengan Arafif.


Arafif sadar jika tatapan istri dan anaknya cukup berbeda, ia jadi tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Gak usah nak! papah hanya ingin bicara dengan Andre dan Monika, ada hal yang papah harus luruskan" tanya Arafif, tapi malah mendapat tatapan tak enak dari Andre.

__ADS_1


"Jangan sekarang, nanti saja. Pah, tolong mengertilah. Semua ini awal dari papah yang tidak bisa melindungi mamah, jadi mamah masih agak takut sama papah, plis nanti saat keadaan mamah stabil kita baru bisa membicarakan dengan baik-baik" ucap Andre yang menjelaskan yah.


"Baiklah jika itu yang kamu katakan, tapi papah hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Jujur, papah tak bisa mencegah Efrain dan Brandon datang. Karena mereka adalah atasan papah, jadi papah tak bisa menolaknya" ucap Arafif, dengan nada suara agar putranya mau mengerti keadaan dirinya.


"Kita bicarakan lagi, aku dan mamah ingin pergi dulu. Ayo, elisa!" ucap Andre yang merangkul Monika menarik pergelangan tangan Elisa.


Sampai di mobil, Sofyan sudah di samping mobil bersiap ingin mengantarkan kemana majikan akan pergi hari ini.


"Den, mau kemana nih?" Sofyan sudah menyambut Andre dan dua wanita di belakangnya.


"Pak Sofyan, bapak mengantarkan papah saja ya. Hari ini biar saya saja yang menyetir sendiri, Terimakasih" ucap Andre menolak dengan lembut.


"Ouh! baiklah. Pakai mobil yang mana den, nanti bapak ambilkan" tawar Sofyan.


"Nggak usah, itu mobil yang saya akan pakai" ucap Andre yang melihat mobil yang di bawa Aoda yang baru datang.


"Ini kunci mobilnya tuan" ucap Aoda yang keluar dari dalam mobil.


Berdiri seorang pria di depan jendela kaca di gedung yang tinggi, terlihat seorang wanita yang duduk di sofa mewah seraya sedang merapikan kuku yang baru selesai di cat.


SHOFIA : Papi, apakah sudah dengar tentang pemimpin dari ANDRILOS?


SAMMY : Iya, menurut mata-mata papi. Dia adalah kalangan bangsawan juga, tapi belum jelas. Mereka sudah menyiapkan beberapa kandidat, tapi ku dengar lagi mereka belum bisa mengambil keputusan untuk menetapkan siapa pemimpin yah.


SHOFIA : Banyak sekali peraturan pemerintah ANDRILOS, papi. Aku ingin ikut seleksi grup FLOWER, ingin tahu semua cicinguk yang telah memberikan hukuman kepada saudaraku Jackson.


SAMMY : Shofia jangan gegabah, kita tunggu sampai pemimpin ANDRILOS di tentukan dan di lantik.


SHOFIA : Kenapa kita harus menunggu pemimpin ANDRILOS di lantik papi.


SAMMY : Lawanmu adalah grup-grup kelas atas yang jauh di atasmu, grup FLOWER baru saja merintis. Jika kamu bergerak sendiri maka hancur sudah kita, jadi tunggu ANDRILOS muncul. Karena ANDRILOS di sini sangat di takuti oleh grup-grup lainnya, jadi tunggulah sampai pemimpin mereka muncul.


SHOFIA : Bagaimana jika, pemimpin mereka mudah di lumpuhkan dan di gulingkan dari tahta. Atau bisa saja, pemimpinnya mudah untuk di kalahkan dan mudah terhasut. Papi coba pikirkan itu, kenapa papi percaya akan hal itu.

__ADS_1


SAMMY : Shofia, kamu tak tahu apapun, dan tidak mengerti sistem dari pemilihan kepemimpinan dari ANDRILOS itu bukan sembarang yang duduk disana, harus keturunan murni dari klan bangsawan. Jadi tak bisa sembarang memilih seperti voting dari pihak manapun kecuali itu adalah pilihan dari tahta, dan pemilik stempel.


SHOFIA : Serumit itu, wah! jadi bener-bener sistematis kerajaan sekali ya papi. Lalu jika tidak ada keturunan murni bagaimana?


SAMMY : Maka yang di pilih oleh stempel, caranya lewat orang-orang kepercayaannya yang tidak mudah di hasut dan tidak mudah di suap, rill orang yang benar-benar mengabdikan diri kepada ANDRILOS.


...***...


Sesampainya di rumah ibu mertuanya, Andre langsung turun membuka pintu belakang untuk Monika, Elisa yang duduk di samping Monika.


"Bu Monika, sini masuk" ucap Siti menyambut besannya itu dengan rama dan hangat.


Andre mencium punggung tangan Siti di susul Elisa juga mencium tangan ibunya. Lalu Bu Siti bersalaman dengan Monika, siti menatap wajah monika agak lesuh dan pucat.


"Ayah kemana bu" tanya Andre.


"Biasa nak, di Empang. Ya gimana lagi kerja gitu, setelah pensiun jadi supir taxi. Silakan masuk dulu, sudah makan?" ucap Bu Siti yang bergantian.


"Alhamdulillah sudah Bu, kami datang mengganggu ya bu?" ucap Andre seraya tangannya masih kuat menggenggam tangan Monika.


"Kata siapa, nggak nak. Cepat bawa mamah mu masuk nak!" ucap Bu siti.


"Iya Bu. Terimakasih. Yuk mah" ucap Andre yang membantu Monika masuk.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Rabu 20 JULI 2022.

__ADS_1


__ADS_2