PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
85. Debat Pasutri.


__ADS_3

Pagi hari yang mendung di sertakan dengan petir yang menyambar-nyambar, Andre berdiri di dekat jendela melihat kilatan itu di langit yang gelap. Kedatangan Gulftaf ke istana MONARFI yang agak basa karena harus naik taksi untuk sampai ke kediaman istana MONARFI ini.


"Tuan, maaf saya terlambat datang" ucap Gulftaf yang berjalan mendekati Andre yang berdiri di dekat pintu kaca, sambil menatap awan gelap.


"Apakah ada hal yang sangat penting hingga kamu datang saat hujan begini Gulftaf, setidaknya jika saat hujan seperti ini kamu seharusnya tak usah datang. Tinggal menghubungi ku saja, tak usah repot-repot kesini" ucap Andre yang membalikkan badan melihat baju Gulftaf basah.


"Itu sudah jadi tugas saya dan tanggung jawab saya tuan, untuk melayani anda" ucap Gulftaf.


"Lalu ada apa? kau datang ke sini sampai rela hujan-hujanan begini, aku tidak melarang kamu bekerja, boleh-boleh saja kamu kerja lebih keras tapi jika seperti ini aku tidak terlalu suka, karena itu membahayakan dirimu sendiri." ucap Andre yang tidak tega, melihat Gulftaf.


"Iya maaf Tuan, saya–" ucap Gulftaf yang terpotong.


"Ganti bajumu dulu, baru kamu bicara denganku. Setelah kamu ganti pakaian boleh menghadap ku kembali, naik ke lantai atas. Fey akan mengantar mu ke kamar ganti, Fey antar pak Gulftaf ke kamar ganti, berikan stelan bajuku di sana" ucap Andre yang menyuruh Gulftaf mengganti pakaian yang agak basa itu.


"Baik Tuan" ucap Fey yang langsung maju ke depan untuk menujukan jalan pada Gulftaf.


"Pak Gulftaf, lewat sini" ucap Fey yang mempersilahkan Gulftaf untuk naik ke atas tangga.


Sesampainya di suatu lorong dekat kamar tidur Elisa dan Andre tak sengaja mereka berpapasan, Gulftaf agak gugup melihat nyonya Elisa. Karena masih mengingat kejadian saat di aula, Gulftaf langsung menundukkan wajahnya.


"Nyonya," Fey yang langsung spontan memberikan hormatnya saat Elisa baru keluar dari kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Elisa yang sempat melihat ke arah Gulftaf.


"Anu itu, tuan menyuruh saya mengantar pak Gulftaf untuk ganti pakaian" ucap Fey yang menjelaskan.


"Ouh, lalu sekarang dimana dia berada?" ucap Elisa yang sangat penasaran, karena perdebatan dia kemarin membuat Andre tidak masuk kamar, atau membujuk dirinya yang sedang ngembek.


Elisa sadar jika dirinya salah, maka dari itu ia telah merenung semua kesalahan yah. Waktunya dirinya meminta maaf kepada suaminya, membuang semua ego yah.


"Di ruang bawa, sedang menunggu pak Gulftaf" ucap Fey yang menjawab.


"Baiklah, lanjutkan tugasmu" ucap Elisa yang tidak melihat Gulftaf di belakang, ia langsung turun ke bawa.


Nyonya Elisa apakah masih marah padaku karena kejadian waktu itu, bahkan dia tidak menyapamu. Aku juga merasa sangat bersalah pada nyonya, seharusnya saya yang minta maaf dulukan kepada nyonya. Dalam hati Gulftaf dalam bahasa English.


Sesampainya di bawa, melihat Andre yang sedang duduk sambil baca buku menunggu Gulftaf kembali dari ganti baju. Elisa yang menuruni anak tangga, menyiapkan mental ya untuk memohon pengampunan dari suaminya.


"Mas, Mau minum teh jahe susu bikinan Elisa gak?" ucap Elisa penuh harapan, tapi agak canggung dan sangat ragu-ragu mengajak bicara suaminya dengan hati-hati Elisa berkata.


"Nggak usah! Terimakasih, Itu akan merepotkan kamu" ucap Andre yang cuek, masih fokus pada buku, Andre sama sekali tidak melihat Elisa.


"Mas, laper gak?" Elisa tak kehabisan akal, ia mulai duduk di samping suaminya, biasa cara manja itu dia selalu berhasil membujuk Andre yang sedang ngambek.


"Nggak! Kalau kamu laper makan saja duluan, di dapur kayak yah mereka sedang masak untukmu" ucap Andre yang duduknya langsung bergegas menghindari Elisa yang mendekati.


Melihat hal itu Elisa terdiam sejenak lalu menatap suaminya seperti orang lain, dia sangat dingin padanya tidak seperti biasanya, Andre yang tidak sama sekali menatapnya.


"Mas, masih marahnya sama Elisa? Kok duduknya langsung geser, Elisa bawa virusnya, atau bakteri sampai duduknya menghindar begitu?" Agak kecewa karena suaminya sendiri yang menghindarinya.

__ADS_1


"Nggak! Karena sempit sofa ya," jawab ya singkat, tak mau panjang-panjang.


Mata Elisa sudah mengenang air mata, menatap suaminya kembali. "Terus kenapa? Elisa udah mandi, wangi. Mas Andre masih jijik ya?" ucap Elisa yang nada suara sudah mulai serak karena menahan tangisannya.


"Iya aku tahu." ucap Andre singkat lagi, membuat Elisa semakin dibuat kebingungan dengan sikap dingin Andre.


"Terus kalau gitu kenapa jawabannya singkat banget, mas Andre masih marah yah. Mas juga gak noleh sama sekali sama Elisa, semalam juga mas gak tidur sama Elisa" ucap Elisa yang berkaca-kaca, pelupuk matanya sudah dipenuhi air.


Andre seakan tidak peduli dengan Elisa yang saat ini terlihat sangat tidak berdaya, karena Andre yang entah kenapa menjadi gunung es. Ia sangat kuat, dan sangat dingin sikapnya.


"Kamu gak lihat aku sedang apa?" ucap Andre yang melirik tajam kearah istrinya yang menatapnya penuh harapan.


"Lagi baca buku" jawab Elisa parau dan wajahnya sudah tidak bisa di tutupi lagi, sudah di banjiri oleh air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Yaudah, arti ya aku sedang tidak bisa menjawab panjang, kamu tanya aku hanya menjawab" ucap Andre yang membalik lembaran buku lainnya.


"Kenapa? Bisa begini, kalau Elisa salah. Elisa minta maaf ya mas, jangan kayak giniin Elisa" ucap Elisa yang memegang lengan Andre.


"Iya mas udah maafin, sebelum kamu minta maaf!" ucap Andre yang masih dingin.


"Kalau udah maafin Elisa kenapa masih kayak gini, jutek sama Elisa. Biasanya mas banyak merespon apapun yang Elisa katakan, kok sekarang jawaban singkat terus" ucap Elisa yang tidak mengerti apa yang harus dia lakukan lagi untuk membujuk suaminya.


"Bukanya kamu lebih suka aku tidak banyak bicara!" ucap Andre yang masih cuek.


"Kapan Elisa ngomong gitu ke mas, Elisa gak ngomong gitu kok!" pembelaan Elisa.


"Mungkin kamu lupa karena kamu dalam kemarahan, makanya ucapanmu sendiri kamu lupa" Andre hanya mengingatkan kata-kata elisa.


"Kamu sendiri yang tidak suka aku banyak bicara, terlalu bawel dan sangat cerewet banget. Apakah sekarang kamu ingat pernah bicara itu, sering sekali kamu ucapkan jika sedang marah padaku kamu mengatakan hal itu." ucap Andre yang menjelaskan.


"Itu... Elisa karena lagi terbawa arus, maaf ya mas" Elisa gelagapan untuk mencari alasan lainnya, Elisa terus memohon pada Andre untuk memaafkan dirinya.


"Iya sudah sana makan, nanti asam lambung kamu kumat lagi. Kalau harus kedokteran maka akan repot nantinya, apakah harus ku panggilkan pelayan untuk mengantar kamu ke sana?" ucap Andre.


"Mas temenin aku makan dong!" ucap Elisa yang masih berusaha keras.


"Aku gak lapar. Biar para pelayan saja yang menemani mu, lagi pula kamu sudah besar masa harus di temenin melulu" ucap Andre yang melepaskan tangan Elisa dari lengannya.


"Kok! Sekarang kamu beda sih mas, perlakuan gak sama kayak dulu ke aku?" ucap Elisa yang langsung menatap kecewa.


"Beda gimana?" ucap Andre yang pura-pura tidak mengerti.


"Ya kamu kenapa bisa bersikap seperti itu, sikapmu kok dingin kayak gini ke aku, cuek dan jutek begitu. Kamu sekarang gak peduli lagi sama aku, padahal kamu yang ku bela mati-matian" ucap Elisa yang mulai gak tahan sama sikap Andre.


BRUUK!


Andre menutup bukunya, dan menatap istrinya yang sekarang mulai menjauh darinya. Menatap tajam kepada elisa yang sekarang sedang menangis, sebenarnya jauh didalam hatinya nggak tega, tapi dia hanya ingin memberikan contoh dan memberikan Elisa belajar agar bisa lebih menghargai orang lain, dan menaati ucapan dari suaminya.


"Lalu mau kamu aku harus gimana untuk bersikap kepadamu?" ucap Andre yang menantang.

__ADS_1


"Ya seperti dulu lagi" ucap Elisa yang terisak tangisannya.


"Seperti dulu lagi yah? Apakah kamu tahu aku dulu bagaimana, inilah aku yang dulu. Saat sebelum aku memilih kamu dan meminta kamu dari orang tuamu" ucap Andre yang masih bernada rendah.


"Gaak, ini bukan kamu. Mas Andre yang ku kenal bukan seperti ini, dia lemah lembut. Dia baik dan gak kasar kayak gini, bahkan dia sangat peduli padaku. Nggak secuek ini dan gak dingin kayak gini" masih dalam isakan tangisan.


"Percuma, aku memperlakukan kamu seperti itu. Tapi apa balasan mu padaku, aku merasa di pandang sebelah mata oleh mu. Elisa, pernahkah sekali kamu mendengar apa yang ku katakan padamu sebagai suami?" ucap Andre yang menatap Elisa yang mulai basah karena tangisannya.


"Mas, aku kesini mau berbaikan sama kamu. Aku mau minta maaf, tapi kenapa kamu malah bersikap seperti itu. Aku gak bisa berdebat lama sama kamu, lalu kenapa mas malah kayak gini." ucap elisa yang tak tahu lagi harus bagaimana.


"Berbaikan ya? apakah itu sebuah benda atau makan atau barang, karena itu tidak ada artinya bagimu Elisa" ucap Andre yang membuka bukunya kembali. Walau jauh di lubuk hati nuraninya terkoyak melihat Elisa, tapi dia hanya ingin mendidik istrinya lebih baik lagi.


Jadi dia harus berusaha dan bersabar karena Elisa sangat keras kepala, tidak bisa mendidik secara cepat harus perlahan dan penuh dengan tekanan, baru akan bisa nyampai di pemikirannya.


"Aku selalu berusaha sangat keras agar aku bisa menjadi istri yang baik untuk kamu, aku juga selalu kan dengerin kata kamu, bahkan aku berusaha sangat lebih keras agar aku bisa di sisi kamu, dan bisa mendampingi kamu nggak bisa melihat kah usaha aku Mas?" ucap Elisa yang langsung menatap buram suaminya.


Lagi-lagi Andre mengabaikannya, Andre sibuk membaca bukunya, Elisa seakan tak berharga saat ini karena Andre malah menyempatkan diri hanya untuk membaca buku.


"Mas, Mas Andre denger gak sih? apa yang Elisa omongin tadi, Elisa lagi bicara sama kamu kenapa kamu malah asik baca buku?" ucap Elisa yang melempar buku yang di baca oleh Andre.


Andre menghela nafas panjang, menatap tajam pada istrinya, Andre tak tahan lagi ia bangkit dari sofa menatap istrinya.


"Sekarang aku tanya padamu, enak tidak jika di abaikan saat kamu sedang bicara? Bagaimana rasanya? Tidak enak bukan! Itu sama dengan apa yang aku rasakan, selama ini. Tapi, aku cukup bersabar karena kamu istriku. Coba kamu renungkan kembali, jika kamu mau di hargai maka kamu harus menghormati orang lainnya bicara yang memberikan kesempatan untuk nasehat dan saran. Tapi kamu tidak pernah memasukan dan tidak pernah di resapi, apa lagi kamu terapkan" ucap Andre yang menatap tajam pada istrinya.


Elisa hanya bisa pasrah dan menitikkan air mata bersamaan dengan hujan yang masih menguyur, hujan di luar malah semakin deras.


"Omongan kamu mau aku dengarkan, tapi omongan ku kamu abaikan, kamu egois Elisa. Coba kamu pikirkan itu, pernah gak aku melanggar perintah dan larangan kamu, semua omongan mu aku turutin apapun itu. Tapi sebaliknya, apakah kamu pernah mendengarkan apa yang aku katakan dan perintahkan, apakah kamu pernah menurut sama ucapan ku. Kamu malah nggk pernah mau mendengarkan apapun yang aku katakan, semuanya kamu langgar. Tapi yang lebih anehnya kamu nggak merasa bersalah sama sekali, lalu apa statusku ini di matamu? Kau anggap apa diriku ini. Harga diriku sebagai seorang suami gak ada artinya bagi mu, jujur aku kecewa karena sikapmu yang seperti itu."


"Yaudah, kalau kamu udah bosen sama aku. Kamu juga udah kecewa sama aku, dan kamu merasa kalau aku tidak menghargai kamu sebagai seorang pemimpin keluarga, lebih baik kita cerai aja."


Andre menarik nafasnya menatap Elisa begitu tajam. "Kamu selalu menggampangkan semua masalah dan urusan dengan kata-kata perpisahan, bisakah kamu bersikap dewasa bukan hanya usia saja yang dewasa tapi kamu harus mematangkan lebih lagi pikiran kamu, jangan kekanak-kanakan seperti ini!"


"Lagian kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah kecewa sama aku, kalau aku sangat egois. Aku juga sangatlah keras kepala, oke! terima ucapan dari kamu, kalau kamu udah nggak suka, sudah nggak sayang sama aku, yaudah buat apa lagi hubungan kita dipertahankan, buat apa kita lanjut terus menjadi sepasang suami-istri, bahkan selama ini kamu nggak pernah melakukan hal yang sama selayaknya sepasang suami istri pada umumnya."


"Bukan itu jalan keluar ya, lalu jika kamu berpisah dengan ku apakah masalah akan selesai. Nggak Elisa, inilah alasanku menunda punya anak dengan kamu, karena kamu memang belum siap dan belum cukup dewasa. Jika ada masalah sedikit kamu minta pisah, ada masalah kecil kamu minta pisah. Sudah ku bayangkan apa jadinya anak kita nanti, jika kita punya anak dengan sikap kamu yang kanak-kanak begitu, siapa yang nantinya akan jadi korbannya? Kalau bukan Anak kita yang tanpa dosa dan salahnya."


"Terus mau kamu apa?" ucap Elisa yang masih menenangkan dirinya karena bendungan air mata masih saja mengalir deras dari pelupuk mata.


"Pikiran kamu harus dirubah, jalan pikiranmu jangan sempit itu sehingga kamu memikirkannya hanya jalan pintas yang mungkin menurut kamu itu efektif, tapi itu berakibat sangat fatal bagi dirimu sendiri, sudah aku katakan padamu, kamu harus bisa pikirkan resiko ke depannya, jangan kamu asal mengambil keputusan dan pada akhirnya kamu akan terjerumus ke jalur salah apa bisa dimengerti Elisa Nurhalizah" Penjelasan Andre panjang sekali.


Hubungan Elisa dan Andre semenjak kejadian kemarin, terasa agak merenggang. Andre yang seakan tak mempedulikan Elisa, tapi di balik kerasnya Andre saat ini hanya untuk membuat elisa bisa belajar dari apa yang terjadi, dan belajar dari apa yang dia putuskan dan harus memikirkan matang-matang bagaimana cara jalan keluarnya, Andre sangat tegas terhadap prinsip yang diterapkan.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


RABU 2 November 2022.


__ADS_2