
Andre mengantar Elisa sampai depan gedung High House terlihat banyak orang yang masih wara-wiri di halaman, bahkan ada beberapa mobil sport mewah di sana. Sebelum keluar dari dalam mobil, Elisa mencium pipi Andre.
"Kau yakin akan mengirim Ku kesini, padahal aku punya cuti satu hari ini loh" ucap Elisa yang mencoba menggoda suaminya.
"Suruh siapa kamu masuk kesana, dan malah ikut seleksi pemilihan pendamping" ucap Andre yang agak kesel dengan keputusan istrinya yang tidak mendiskusikan tentang hal tersebut padanya.
"Apakah kamu sudah terbiasa tidur tanpa aku ya, makanya kamu buru-buru mengantar aku kembali kesini! Padahal aku sangat kesepian disini tanpa melihat tubuh kotak-kotak mu itu setiap malam, apakah kamu tega membuat berhalusinasi yang tidak baik" ucap Elisa mengancamnya.
"Jangan macam-macam, cepat masuklah" ucap Andre yang agak mempertegas nada suaranya.
"Cih, kamu suka sekali marah-marah gak jelas begitu. Mas Andre lagi pms ya, kapan kamu akan jemput aku lagi. Karena aku ingin di keloniin oleh dirimu, aku ingin melihat tubuh eightpek mu? aku sangat rindu, anak-anak di tubuhmu itu" ucap Elisa yang tersenyum genit.
"Hentikan, lalu apa itu eightpek? aku baru denger" ucap Andre.
"Kamu gak tahu itu apa, padahal itu milikmu sendiri loh. Oke! biar aku perjelas, sebutan tubuh berotot manja. Sixpek di tunjukkan untuk 6 kotak otot, tapi milikmu sekarang bertambah 2 kotak lagi, jadi sekarang kamu memiliki 8 kotak otot perut jadi..." tangan Elisa mulai liar, menyusup ke balik kaos yang di pakai Andre.
"ELISA NURHALIZAH, jangan memulai. Cepat keluar dari mobil dan masuk kedalam, jangan buat masalah lebih lanjut, ayo" ucap Andre menekan.
Keesokan paginya, Andre yang sedang mengadakan kegiatan di lapangan untuk melihat lokasi yang di katakan oleh para anggota soal lahan yang gersang tidak dapat di huni atau di buat tempat usaha.
KETUA ANGGOTA : Ini tempatnya tuan, sebagai pusat dimana tempat ini tak akan bisa di huni oleh manusia apa lagi di kunjungi. Di tambah kontur tanahnya yang sedikit keras dan kering, tidak akan dapat bisa di tanami, makanya tidak akan cocok dengan ladang perkebunan atau ladang pertanian disini.
ANDRE : Jika begitu kita lakukan usaha lainnya seperti membangun pusat perbelanjaan atau pusat kuliner, atau teman bermain bagi anak-anak. Lahan di sini seperti akan cukup dengan hal tersebut, bagiamana?
ANGGOTA 1 : Kenapa tidak membangun hotel atau resort yang ideal saja tuan, mungkin akan lebih berguna tempat penginapan berada di sini, itu pasti akan lebih menguntungkan lebih banyak.
ANDRE : Hmmm- aku tidak setuju dengan ide it, karena agak kurang tepat saja. Apa lagi di sini sudah banyak tempat penginapan dan di picu lainnya adalah tidak ada tempat wisata, atau tempat hiburan. Di tambah persaingan hotel-hotel mewah di sini cukup ketat persaingannya,nkayak tidak mungkin akan ku buat resort atau tempat penginapan.
KETUA ANGGOTA : Saya sependapat dengan tuan Andre, karena tempat ini di dominasi resort dsn hotel atau tempat penginapan lainnya jadi pesaing sangat ketat, tapi kalau di bangun kuliner dan tempat bermain itu pasti akan banyak peminatnya.
ANDRE : Kita pikirkan kenyamanan lingkungan di sekitar dulu pak, jangan berfikir soal ambil keuntungannya saja, jika anda sudah memiliki manset dari awal begitu maka di jamin itu tidak akan terwujud, dan sangat sulit untuk sukses dan di tambah untuk mendapatkan keuntungan.
ANGGOTA 2 : Jadi bagaimana sekarang Tuan Andre, apakah akan berlanjut soal pembangunan atau tidak.
ANDRE : Tentu saja akan berlanjut. Kalian sudah obrolkan soal permintaanku kemarin, aku meminta 4 orang kandidat untuk penanggung jawab dari setiap tiang yang ku cetuskan itu, jika belum. Maka semua ini tidak akan tertunda lagi, rencana kita juga akan sia-sia.
KETUA ANGGOTA : Kami akan mengirimkan mereka tuan, segera mungkin agar semuanya berjalan dengan lancar.
ANDRE : Baiklah, aku tunggu jawaban selanjutnya, saya beri waktu satu Minggu untuk mencari orang yang akan kalian kirimkan padaku.
Setelah pertemuan itu, Andre dan Gulftaf kembali ke mobil. Berada di dalam, Andre menyenderkan kepalanya di penyangga kursi mobil, terdiam sambil memijat kepalanya. Gulftaf yang duduk bersebelahan dengan supir, sedang mengecek ulang jadwal Andre, karena Gulftaf mengatur semua jadwal Andre.
"Gulftaf, apa ada lagi acara ku hari ini, apakah masih ada pertemuan di luar ruangan atau pertemuan lainnya" tanya Andre yang matanya masih memejam.
"Tidak ada lagi tuan, besok masih ada rapat koordinasi dengan para petinggi apakah anda akan menemui mereka tuan" ujar Gulftaf.
"Tapi, hari ini sudah gak ada lagi pertemuan apapun lagi kan?" ucap Andre.
"Iya tuan tidak ada" jawab Gulftaf, sempat melirik pada Andre yang sekarang menatap keluar kaca jendela mobil.
"Gulftaf, jika hari ini tidak ada jadwal lainnya. Bisakah kalian antar aku ke gedung High House sekarang. Ada seseorang yang ingin aku temui, tapi apakah bisa tanpa membuat janji?" ucap Andre yang merasa ragu.
"Memang anda ingin menemui siapa Tuan?" tanya Gulftaf yang sangat penasaran.
"Pemilik High House, atau pemimpin yang telah mengusulkan soal seleksi pelantikan pendamping ini, aku ingin tahu siapa orangnya" ucap Andre yang agak menggertakkan rahangnya.
"Jadi sekarang anda ingin diantar kesana, menemui pemimpin High Hous, lalu anda ingin tahu siapa orang yang telah membuat peraturan pembuatan program seleksi itu" Gulftaf agak membidik.
"Antarkan saja saya ke Gedung pusat High House, selebihnya nanti aku urus sendiri saja kalian bisa pulang dan istirahat" ucap Andre yang tidak mau merepotkan asisten dan supirnya.
"Tidak apa Tuan saya akan ikut anda" ucap Gulftaf.
__ADS_1
Sang supir langsung memutar jalan menuju tempat yang diinginkan Andre, saat perjalanan ia melihat banyak sekali tempat hingga kepikiran sebuah ide untuk membangun sebuah tempat usaha dengan lahan minimal tersebut, dan sepertinya Andre juga harus cari arsitek dan kontraktor untuk membuat rencana itu nyata.
Setelah sampai di gedung kantor pusat High House, terlihat agak sepi hanya ada beberapa orang saja yang wara-wiri di lobi.
"Tuan, saya akan mencoba mencari tahu anda tunggu saja di sini" ucap Gulftaf, sebelum dia keluar dari dalam mobil.
"Tidak, seharusnya saya yang bertanya karena memang saya yang ada perlu bertemu dengan pemimpin High House, sebagai orang yang bersangkutan kenapa malah harus tunggu di sini. Aku akan ikut saja, biar nanti tahu apa yang di bicarakan agar kamu gak usah bolak-balik" ucap Andre.
"Baiklah, tunggu sebentar tuan. Saya bukakan pintunya" ucap Gulftaf, tapi sebelum Gulftaf membuka Andre sudah keluar duluan.
"Ayo masuk, apa yang kamu tunggu" ajak Andre yang sudah ada di luar mobil.
"Baiklah" Gulftaf hanya bisa menarik nafas panjang.
Di bagian penerima tamu, terlihat 4 wanita yang sibuk dengan masing-masing kerjaan mereka Ada yang menerima telfon, ada yang sibuk mengetik dan ada juga sibuk mencatat.
GULFTAF : Maaf, permisi bolehkah saya bertanya?
RESEPSIONIS : Iya, ada yang bisa saya bantu Pak.
GULFTAF : Apakah ini kantor pemilik High House?
RESEPSIONIS : Iya bener, ada perlu apa pak?
GULFTAF : Apakah pemimpin High House ada di kantor?
RESEPSIONIS : Anda dari mana? dan apakah sudah membuat janji dengan pak Presdir.
GULFTAF: Aaah itu...
ANDRE : Maaf Nona saya menyela pembicaraan, sebenarnya saya datang mendadak. Nama Saya Andre, kami belum membuat janji dengan beliau, tapi baru ingin membuat janji. Apakah bisa kami membuat janji dengan beliau, ada masalah yang ingin saya tanyakan dengan beliau.
RESEPSIONIS : Ouh begitu, baiklah saya akan tanyakan dulu dengan asisten atau pada sekretaris Presdir. Mohon di tunggu sebentar, saya akan memberikan konfirmasinya.
RESEPSIONIS : Maaf pak, sepertinya akan lama karena mereka cukup sibuk. Kemungkinan tak akan ada waktu luang bagi Presdir, mungkin bulan depan.
GULFTAF : Apakah kita tidak bisa tunggu saja, jika sampai bulan depan itu terlalu lama mba.
ALEC : Profesor Andre, apakah benar?
Seraya mengingat kembali siapa orang yang menyapanya tersebut, semua yang melihat pria yang menyapa Andre langsung membungkuk memberi hormat.
ANDRE : Mohon maaf, tapi anda... Siapa yah pak, karena saya lupa-lupa ingat.
ALEC : Profesor, ini saya Alecandra. Mahasiswa Universitas saat di London, murid anda saat bimbingan tesis.
ANDRE : Aaah... Aku ingat Alec yang temennya Eros iyakan.
ANDRE : Iya Profesor, saya pernah meminjam leptop anda saat ujian tesis.
ANDRE : Iya aku ingat, sekarang kamu kerja di sini? tampaknya kamu sudah sukses yah Alec.
ALEC : Iya Prof, saya kerja disini. Ouh ya ngomong-ngomong profesor ada apa datang kemari?.
ANDRE : Saya ingin menemui Presdir pemilik gedung High House, ingin bertanya tapi katanya tidak bisa menemuinya. Beliau sedang sangat sibuk, dan akan ditunda sampai bulan depan.
ALEC : Ouh! siapa yang katakan hal itu, sesibuk-sibuk apapun. Jika tamu adalah gurunya sendiri bagaimana bisa dia menolaknya. Malah akan memarahi orang yang telah menunda pertemuan itu, orang sibuk apapun kalau sudah lihat Profesor pasti akan meluangkan waktunya.
ANDRE : Apa maksudmu Alec, pemilik gedung High house akan katakan hal itu, sepertinya tidak mungkin akan menemui orang biasa seperti saya.
ALEC : Kata siapa Anda orang biasa, andalah orang yang paling berjasa seumur hidupnya. Tanpa anda dia bukan siapa-siapa mungkin, jadi anda jangan seperti itu profesor. Pemilik gedung High House malah berhutang banyak pada anda, High House bisa sebesar ini berkat bimbingan, pembelajaran dan arahan dari Anda profesor.
__ADS_1
Andre terdiam sejenak karena tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Alec, bahkan saat ini kebinggungan.
ANDRE : Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, maksudnya bagaimana? apakah memiliki Perusahaan High House ini adalah salah satu mahasiswa ku juga, apakah benar begitu?
ALEC : Profesor masih belum mengerti juga yah, Profesor orang yang ingin dicari dan ingin di temui oleh profesor ada di depan Anda ini.
Andre cukup kaget ia sangat terkejut dengan pengakuan tersebut, Gulftaf juga sempat kaget lalu dia juga mengingat-ingat Alec ini seperti tidak asing bagi Gulftaf.
ANDRE : Astaghfirullah! Jadi kamu pemiliknya, aah- maaf saya tidak tahu. Kok bisa kebetulan begini ya.
ALEC : Tidak apa-apa profesor, ini yang di namakan takdir. Baiklah, mari ikut saya ke ruang atas.
ANDRE : Terima kasih Maaf sudah merepotkanmu tapi bukannya kau sedang sibuk ya, kenapa mau menemui ku.
ALEC : Karena sudah kukatakan tadi, sesibuk apapun pasti akan meluangkan waktunya untuk Profesor sama halnya dengan Profesor saat membimbing saya dengan sabar sekali dan tidak pernah lelah, bahkan saat anda sedang tidak enak badan pun, anda tetap membimbing saya sampai lulus. Lalu bagaimana mana aku bisa melupakan jasa perbuatan baik anda.
ANDRE : Jangan seperti itu. Aku jadi malu, sudahlah lupakan hal tersebut sekarang.
Mereka masuki lift yang saat ini hanya ada mereka bertiga, Gulftaf masih saja sibuk dengan pikiran karena ingin mengingat siapa pria yang ada di depannya tersebut.
"Tuan Andre, apakah anda baik-baik saja. Seharusnya anda langsung menanyakan soal seleksi dan langsung mengatakan sejujurnya"
"Mulutku tidak mau membuka untuk mengatakan hal tersebut" bisik Elisa.
Saat berada di lift Alec mencoba memikirkan matang-matang siapa pria yang di samping Andre tersebut, seperti tidak asing baginya.
ALEC : Tuan apakah kita pernah bertemu sebelumnya, karena wajahnya tampak familiar bagi saya.
GULFTAF : Mungkin, kita pernah bertemu di suatu tempat, atau mungkin anda salah menandai orang. Iya bisa dibilang mungkin muka saya ini pasaran, jadi bisa saja anda melihat saya di tubuh orang lain.
ALEC : Aaahahahaha anda sudah bercanda rupanya, iya mungkin saja saya melihat di suatu tempat, tapi saya tidak ingat.
Andre hanya bisa tersenyum saja, tak lama tatapan Alec kepada Andre kembali, seraya mengingat-ingat kembali.
ALEC : Profesor. Setelah anda berhenti dari universitas. Sekarang anda sedang memiliki kesibukan apa setelah pensiun jadi dosen?
Andre terdiam sejenak tak merespon, karena binggung mau menjawab apa.
Apakah nih anak gak liat berita apa? masa iya tidak kenal sama tuan Andre, pemilik grup ANDRILOS ternama, wah! nih orang harus sekali-kali di beri pelajaran. Dumal dalam hati Gulftaf yang agak kesal.
Andre langsung melirik pada Gulftaf yang saat ini dengan tatapan pembunuhnya pada Alec, Andre langsung tahu apa yang ada di pikiran Gulftaf.
"Tenangkan dirimu, biarkan saja kamu jangan ikut campur" ucap bisik Andre pada Gulftaf.
"Baiklah Tuan" Gulftaf kembali diam dan menatap ke pintu lift.
ALEC : Profesor, apakah anda baik-baik saja?
ANDRE : Aah! Iya aku baik. Tadi kamu tanya soal kesibukkan ku yah? hmmm- bisa di bilang saat ini saya pengangguran yang banyak rencana di otak, tapi belum bisa memastikan apakah itu akan terwujud atau tidak.
ALEC : HA-HA-HA, Profesor anda sangat lucu bagaimana anda bisa membuat lelucon seperti itu. Saya tidak mempercayai hal itu, anda pasti akan bisa mewujudkan apa yang anda impikan itu, aku yakin sekali.
ANDRE : Iya terimakasih atas doanya, tapi memang sebenarnya dibilang seperti itu, sebagai pengangguran tapi banyak kegiatan. Saat dibilang aku sok sibuk, tapi emang kerjaan aku jalan-jalan mulu, jadi enyah yang benar gimana?.
ALEC : Anda ini tidak pernah berubah Profesor, selalu merendah seperti itu. Tapi jujur itulah daya tarik anda, sangat luar biasa. Profesor apapun yang anda kerjakan saat ini semoga sukses yah, walaupun anda seperti ini tapi aku ingin bisa mencontoh semua kebaikan anda. Andalah panutan bagi saya profesor.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
RABU 26 Oktober 2022.