PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
55. Konsul ke Suami.


__ADS_3

Elisa masih kebinggungan untuk memikirkan matang-matang jawabannya, jurusan yang dia pilih juga membuat dia harus berfikir sangat keras untuk bisa mengambil pelajaran, terbaring di sofa rumah orang tuanya. Sambil menunggu jam makan siang, Elisa masih fokus berfikir.


"Jurusan apa ya yang bagus buat ku, hmmm? jurusan masak tapi aku gak mau jadi chef, kalau ambil farmasi? hmmm mungkin aku bisa bantuin mas Andre, buat stok obat. Atau bisa buka apotek sendiri, eh itu juga bagus" Dumal Elisa yang langsung duduk.


"Lagi pula, aku sudah punya dasar buat itu. Hmmm Azril emang bener, tapi apakah nanti mas Andre akan setuju yah" sambung Dumalan Elisa.


Azril datang dan duduk di samping, menegaskan lagi karena melihat tetehnya begitu bersemangat.


"Gimana teh? sudah tentuin mau jurusan apa" ucap Azril.


"Zril, misalkan teteh lanjutin lagi farmasi gimana? mas Andre marah gak ya" Elisa minta saran dari adiknya.


"Ya gak lah, malah teteh di suruh kuliah itu agar teteh punya kegiatan yang bermanfaat, apa lagi kuliah sesuai dengan keinginan teteh, itu lebih asik kan, jadi teteh belajar dengan sepenuh hati dan akan sungguh-sungguh belajar, jika teteh mau ke farmasi ya mas Andre pasti akan senang dan selalu dukung kemauan dari teteh, itu tandanya teteh sudah ada minat buat belajar lagi. Teh, apakah teteh gak kesel sama orang-orang diluar negeri itu yang meremehkan teteh soal pendidikan, ingat gak? saat di New York, mas Andre tidak jadi di lantik gara-gara apa? Karena soal pendamping ya tidak berpendidikan, itu menandakan ketidak kesetaraan atau keseimbangan bagi mas Andre kan. Kasihan sama mas Andre teh, makanya teteh harus punya niatan untuk diri sendiri. Untuk menangani kasus seperti ini, dan lainnya" ucap Azril.


"Iya juga zril, kamu bener banget. Kadang aku agak gedeg, kesel juga sih sama mereka. Okelah! Aku akan berusaha semaksimal mungkin, untuk menepati janjiku agar menjadi seorang yang mampuh berdiri beriringan dengan mas Andre" ucap Elisa yang menetapkan pilihannya.


"Oke jadi fix nih mau farmasi?" tanya Azril yang menyakinkan.


"Iya, farmasi. Aku yakin, carikan zril" ucap Elisa yang meminta adiknya.


Saking senengnya Elisa tidak sabar ingin memberi tahu pada suaminya Andre, makanya belum waktunya makan siang ataupun mendekati jam istirahat Elisa sudah sampai di rumah sakit, Elisa yang sudah tiba di sana membawa bekal makan siang untuk Andre sang suami, terlihat lorong-lorong sangat sibuk dengan banyaknya orang-orang yang wara-wiri.


"Elisa, kamu baru kelihatan dari mana aja" sapaan Rudi yang baru keluar dari toilet.


"Eh mas rudi? iya nih mas Rudi, biasalah aku kan sekarang jadi orang sok sibuk, karena ikut jalan-jalan sama membeb" ucap Elisa yang sangat bangga.


"Cielah, yang suka keliling negara mulu. Enaknya sekarang sudah tahu banyak negara-negara lainnya, doa mas Rudi kamu jadi istrinya Andre gak sia-sia lis" ucap Rudi yang membanggakan diri sendiri.


"Heheh iya mas, Hmmm itumah gara-gara mas Rudi pengen banget meledekku terus" ucap Elisa yang agak ngembek.


"Kamu mau ke ruangan Andre yah?" tebak Rudi yang saat ini sudah tahu.


"Iya mas, apakah mas Andre ada di ruangannya, udah mau jam makan siang" ucap Elisa yang memperlihatkan kotak makannya.


"Andre kayaknya gak ada di tempat deh saat ini, lagi ada rapat atau seminar di RSIA sama dokter Medina. Kalau gak salah, dia berangkat tadi jam 10an" ucap Rudi yang mengingat.


"Eh! kok dia gak menghubungiku ya?" ucap Elisa.


"Gimana dia mau menghubungi kamu, orang hp aja dia tinggal" ucap Rudi.


"Lah kok mas Rudi bisa tahu jika mas Andre gak bawa hp" tanya Elisa yang kebingungan.


"Lah itu hp ya, di letakan di meja ku. Gak dia bawa, mungkin dia lupa bawa kali. Tapi dia pergi sama dokter Medina, untuk menghadiri seminar katanya" ucap Rudi yang mendengar percakapan Andre dan Medina sebelum pergi.


Elisa mengambil hp milik Andre, karena tahu kata sandinya ia langsung menelpon Medina, karena ingin menanyakan Andre akan pulang jam berapa.


Disisi lainnya, di suatu tempat di ruangan. Medina yang duduk di sebelah Andre sambil memperhatikan seseorang yang sedang bicara di depan, karena menjelaskan tentang materi yang dia bawa, Medina merasa ada getaran di dalam tasnya.


Kaget saat mengecek ponselnya tertera nama kak Andre. "Heh? Kok ini, aku di telfon sama kamu kak?" ucap Medina yang kaget, menyenggol lengan Andre.

__ADS_1


"Maksudnya?" Andre malah kebinggungan dengan ucapan Medina.


"Ini lihat, maksudnya apa?" ucap Medina memperlihatkan hp dalam keadaan panggilan belum di angkat.


"Aah.. sepertinya hp-ku tertinggal di suatu tempat, coba kamu angkat" ucap Andre yang baru sadar.


"Dasar kau ini, gak pernah bisa berubah yah!" ucap Medina yang mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Walaikumsalam, iya... Ada apa ya?... Mohon maaf ini dengan siapa ya? di kontak nama saya adalah dokter Andre, sedangkan dokter Andre sedang bersama saya... Ouh! Elisa? ada apa, Elisa... Coba ku tanyakan" ucap Medina yang langsung menatap Andre yang masih fokus.


"Dokter Andre katanya hpmu ketinggalan di ruang Rudi, apakah anda sengaja meninggalkannya?" ucap Medina yang mengatakan pada Andre.


"Tidak, emang itu telfon dari siapa? coba sini biar aku yang menjawabnya" ucap Andre yang meminta hp Medina.


"Ini istri kamu dokter Andre" ucap medina yang menjelaskan.


"Hallo sayang!... Yaudah kamu simpen aja dulu, mas lupa... Nanti jam setengah lima seminar belum kelar, udah kamu pulang aja, gak usah nunggu mas di rumah sakit, karena nanti pulang dari sini akan langsung pulang ke rumah... Tentu saja rumah papah... Iya, Walaikumsalam" ucap Andre yang langsung panggilan tersebut terputus.


"Gimana? Elisa minta apa itu?" tanya Medina yang sangat penasaran.


"Tanya kapan aku pulang, karena dia sudah ada dirumah sakit katanya" ucap Andre yang menjelaskan.


Sampai di rumah, Elisa duduk dengan kesal karena Andre tidak ada di rumah sakit padahal dia sudah susah payah masak, tapi malah Andre tidak di sana.


"Pulang dari rumah sakit kok mukamu gitu sa, ada apa?" ucap Monika. Melihat Elisa duduk di sofa dengan lesu, dan tidak bersemangat.


"Mas Andre gak ada dirumah sakit, jadi ini makan siang Elisa bawa lagi" ucap Elisa agak kesel, karena sia-sia dia masak.


"Nggak tahu, bilangnya lagi ada seminar" ucap Elisa yang kesel.


"Yaudah, dari pada kamu bete ikut mamah saja yuk ke salon, mamah dah lama nih gak pergi ke salon" ucap Monika yang merapikan rambutnya.


"Gak ah! Elisa mager" ucap Elisa yang rebahan di sofa.


"Sayang, nanti kamu bisa blow rambut atau manikur dan pedikur, atau mau pijat terapi badan kamu, mungkin kamu capek kan pulang dari New Zealand langsung pergi lagi ke New York, pasti lela. Udah refreshing, dari pada kamu mikirin Andre yang bikin kamu selalu naik turun emosi kan" ucap Monika yang menenangkan dan membujuk Elisa.


"Iya deh mah yuk!" ucap Elisa yang sudah semangat kembali, bangkit dari sofa dan mereka langsung pergi menuju salon kecantikan.


Pukul 5 sore, melihat rumah agak sepi karena Arafif semenjak kejadian itu dia belum pernah pulang lagi ke rumah, walau Andre sudah menyuruh pulang dan membujuknya untuk kembali tapi masih saja kekeh untuk tetap tinggal di markasnya.


"Assalamualaikum" salam Andre yang sudah masuk kedalam rumahnya.


"Walaikumsalam" jawab Mbok Erna pembantu rumah tangga.


"Den Andre, sudah pulang" ucap mbok Erna yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.


"Kok sepi bi, pada kemana?" tanya Andre yang tak melihat Elisa atau mamahnya karena tidak terlihat wara-wiri dua wanita tersebut.


"Anu, nyonya Monika dan mba Elissa lagi pergi den" jawab Mbok erna.

__ADS_1


"Kemana?" tanya heran Andre.


"Gak tahu den, karena nyonya bilang mau keluar cari udara, gitu bilangnya" jawab Mbok Erna.


"Hmm- gitu, yaudah deh! Aku naik ke kamar dulu ya bi, mau mandi" ujar Andre yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, ia langsung naik saja ke kamarnya.


"Iya den, silakan" ucap mbok Erna, yang kembali di sibukkan dengan aktivitas lainnya.


Elisa pulang dari salon dengan penampilan yang baru, rambut ia warna menjadi coklat pirang, khas bule lokal. Lalu kuku Elisa juga sudah cantik-cantik dengan hena di setiap pergelangan tangannya.


"Nyonya, mba Elisa baru pulang?" sapaan Ina, anak dari mbok Erna.


"Eh, iya na. Kamu sudah siap kan makan malam, emang mas Andre sudah pulang na?" ucap Elisa yang bertanya.


"Sudah mba, baru saja naik ke atas" ucap ina yang menujuk ke atas.


"Bagus, yaudah saya naik dulu ya mah" ucap Elisa yang gak sabar menujukan penampilan barunya pada sang suami.


"Iya, mamah juga mau mandi" ucap Monika yang langsung masuk kamarnya.


Elisa melihat tas milik Andre sudah berada di tempatnya, pintu kamar mandi tertutup dan terkunci sedangkan kamar tidak terkunci. Elisa mengetuk pintu kamar mandi, untuk memastikan itu Andre yang ada di dalam.


...TOK TOK TOK...


"Mas, kamu ada di dalam?" ucap Elisa yang berteriak dari luar.


"Iya ada. Kamu baru pulang?" tanya balik Andre yang saat ini sedang mencuci rambutnya dengan shampoo.


"Iya, baru saja nih" Jawab Elisa.


"Dari mana? sama mamah" Tanya Andre sangatlah penasaran.


"Nanti aku jawab saat kamu sudah keluar dari dalam. Ouhnya Mas Andre, aku boleh minta saran dan pendapat kamu gak?" ucap Elisa yang masih di belakang pintu.


"Soal apa?" jawab Andre dari dalam kamar mandi.


"Kamu tahu universitas MERPATI PUTIH?" tanya Elisa yang sangat penasaran.


"Iya tahu. Kenapa emangnya?" jawab Andre yang pernah beberapa kali datang kesana untuk menjadi seorang motivator.


"Elisa boleh tidak masuk universitas itu mas?" tanya Elisa kepada Andre.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Rabu 28 September 2022


__ADS_2