PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
154. Tugas Kampus.


__ADS_3

Sesampainya di sudut tempat Fando yang menghentikan kendaraan di sesuatu jalanan, entahlah tempat itu berbeda dari alamat yang pernah di telusuri oleh Elisa dan temen-temen yah. Walau Elisa masih ingat, jalanan dimana mereka tersesat saat mencari tahu tentang rumah fando.


"Ini dimana sih? kok hutannya masih lebat sekali, dan kok ada tempat seperti ini yah?" ucap Elisa seraya melepaskan helm seraya turun dari atas motor.


"Ini masih terlihat sangat aslikan, aku suka tempat yang jalannya masih ditumbuhi pohon-pohon seperti ini, karena akan terasa sejuk saat berada dibawa yah." ucap fando yang menjelaskan, sambil turun juga dari motor Elisa.


"Iya juga, jadi dimana rumah mu kok aku gak melihat ada rumah di sekitar sini?" tanya Elisa yang celingukan mencari.


"Kanapa, kamu mau main ke rumah ku?" tanya Fando yang ingin menggoda Elisa.


"Boleh kalau di izinkan, aku untuk main?" Elisa malah mengatakan dengan semangat.


"Jangan ah! Maksudnya jangan sekarang, belum waktunya kamu tahu rumah ku." ucap fando yang masih ingin merahasiakan yah.


"Ouh, yaudah lah." ucap Elisa yang agak kecewa dan frustasi.


"Elisa, apakah kamu yakin bisa pulang sendirian. Ini sudah malam, apakah kamu gak takut pulang malam-malam." ucap fando yang agak khawatir sama Elisa.


"Iya gak apa-apa kok, santai aja! Udah sana kamu pergi aja duluan, aku akan pergi juga kok!" ucap Elisa yang langsung memakai hlemnya lagi.


"Jangan pakai helm itu, pakai yang ini saja." ucap fando yang diam-diam menaruh suatu benda di helm tersebut.


"Okey, aku akan pakai helm ini aja." ucap Elisa akan mengambil helm itu dari tangan Fando, tapi di tahan. Malah di pakaikan helmnya oleh Fando.


Gila nih cowok, kalau aja aku belum menikah kayaknya aku udah kesem-sem nih sama nih cowok, sayangnya aku dah nikah fando. Maaf banget yah, kamu harus patah hati. Karena aku udah terlalu bucin sama misua aku yang super keren itu, jadi hati aku udah di penuhi oleh dia. Dalam hati elisa yang menatap wajah Fando yang gentleman.


"Apakah kamu yakin mau diantar sampai sini saja Fando, gak sampai rumah?" tanya Elisa yang masih penasaran sama rumah yang ditinggali oleh Fando.


"Iya Elisa, nggak apa-apa sampai sini aja. Mendingan kamu segera pulang, nanti orang tua kamu nyariin kamu." ucap fando.


"Tapi aku tidak melihat rumahmu? Maaf fando tapi aku sangat penasaran tahu, sama rumah kamu?" ujar Elisa yang langsung menatap Fando.


Fando hanya tersenyum tipis, karena melihat wajah lucu Elisa yang sangat bersemangat sekali ingin tahu tempat tinggalnya.


"Rumahku masih agak masuk ke gang itu, jadi kamu tak usah kesana karena cukup berbahaya medannya, aku gak mau ada apa-apa sama kamu. Jadi sampai sini saja, lain kali nanti aku baru ajak kamu kesana." Ujar Fando yang menjelaskan.


"Hmph! Baiklah, tapi kenapa jika masih jauh kamu malah berhenti di sini, nggak sekalian saja kita naik kesana." ucap Elisa yang masih berusaha.


Fando Meletakan satu tangannya di bahu Elisa dan langsung menurunkan wajah, hingga berharap 5 CM dari hadapan. Seketika Elisa kaget, dan entak kenapa jantungnya berdetak kencang.


Gila nih cowok, bikin aku struk jantung aja. Dia mau ngapain? Mau cium aku yah. Aduh... Gawat aku harus bagaimana ini, hindari dia. Dorong dia, atau pukul dia, aku harus bagaimana. Dalam hati Elisa tak karuan.


Fando malah menyelenyik jidat Elisa dengan pelan membuat Elisa kaget, dan memegangi jidatnya itu. "Hah, ada apa kok malah jidat aku kena sentilan kamu sih, apa salahku?" protes Elisa.


"Udah balik sana, kasihan nanti kamu bisa kemalaman dijalan, nanti aku bisa lebih khawatir sama kamu, jika kamu pulang malam." ucap fando yang memutar tubuh Elisa hingga menuju motornya.


"Aku udah biasa kok pulang malam, jadi kamu gak usah khawatir." ucap Elisa yang menjelaskan.


"Hah! Kamu pulang malam udah biasa? Orang tua kamu nggak nyariin kamu emangnya, kalau pulang larut." ucap fando.


"Kan aku pernah kerja part Time, ya pasti sih si cariin sama mereka, orang tuaku pasti akan khawatir nyariin aku, cuman aku udah biasa aja pulang malam. Eth! Bukan aku cewek nakal ya, jangan salah paham soal itu. Pulang malam bukan berarti aku cewek yang gak bener yah, aku anak baik-baik kok. Kesayangan ibu dan ayah, hehehe. Promosi, diri sendiri gak apa-apa kan?" ucap Elisa cengengesan sendiri.


"Kamu ini lucu banget sih, kok ada yah cewek selucu kamu. So, kamu mau jadi kesayangan siapa kalau bukan orang tua kamu, kesayangan aku?" ucap fando malah keceplosan.

__ADS_1


"Hah! Jadi kesayangan kamu, apakah kamu yakin?" Ucap Elisa yang langsung membidik penasaran.


"Yakin apa nih, udah ah! kalau kamu mengajakku terus mengobrol, kamu benar-benar pulang kemalaman. Serius kamu nggak apa-apa pulang sendirian malam-malam kayak gini?"


"Ya udah, gini aja. Kalau kamu khawatir sama aku, mendingan kamu anterin aku pulang? Terus aku anterin kamu lagi, gimana?" Saran masukan Elisa.


"Kalau kayak gitu, terus kapan kita nyampe tujuannya, sampai besok pun tak akan selesai." Ujar Fando.


"Lah tuh paham, Ya udah ah! Karena aku udah nganterin kamu sampai tujuan yah mungkin setengahnya sih, tapi niat aku kan udah baik nih sama kamu, mau nganterin kamu sampai depan rumah, tapi malah turun di gang kayak gini." ucap Elisa yang agak kesal.


"Aku nggak mau, kamu dalam bahaya gara-gara aku, karena tempat itu agak berbahaya. Jadi nggak baik buat cewek kayak kamu, tapi next time. Ini sudah malam, jadi sampai sini aja yah, makasih banget karena udah mau anterin aku." ucap fando yang sangat senang.


"Iya sama-sama, yaudah aku balik yah! Sampai ketemu besok" ucap Elisa yang masih menatap Fando.


"Iya, kamu hati-hati di jalan. Elisa kalau sudah sampai di rumah, langsung kabari aku yah" Ucap fando yang tersenyum lebar.


"Okey, tenang aja. Yaudah aku balik dulu, dah sampai ketemu di kampus." ucap Elisa menyalakan mesin motornya.


"Iya sampai ketemu juga di sana, hati-hati Elisa." ucap fando yang jujur dalam hatinya tak bisa membiarkan wanitanya pulang sendirian.


"BTW, gimana besok, kalau aku jemput kamu disini lagi, kamu nggak ada kendaraan kan?" Tawaran Elisa yang cukup menantang.


"Nggak usah, aku biasa naik bis. Atau tranportasi umum lainnya, jadi kamu gak usah khawatir yah, aku besok pasti berangkat kok. Kamu gak usah sampai jemput aku segala, tenang aja okey!"


"Yaudah aku percaya sama kamu, dah aku pergi yah." ucap Elisa yang langsung melanjutkan motornya meninggal tempat.


Langsung raut wajah Fando berubah dari pria romantis dan melow didepan Elisa, menjadi pria yang menakutkan saat elisa sudah agak jauh.


FANDO : Keluarlah. Siapa kalian, dan mau apa dariku? Kalian pikir bisa terus memata-matai aku.


Perkelahian di antara mereka pun tidak terelakkan lagi, karena tim elite sudah ditugaskan untuk menangkap Fando untuk dibawa ke penjara internasional di New York.


Keesokan paginya, Elisa sengaja menggunakan transportasi umum agar bisa bertemu dengan Fando, karena dia ingat jika Fando sering berangkat menggunakan transportasi umum seperti apa yang dikatakannya semalam. Karena harus bangun pagi-pagi, Elisa merasa masih mengantuk.


Tiba di pemberhentian selanjutnya, terlihat Fando yang juga ikut mengantri untuk masuk ke bis, fando yang kaget melihat Elisa sedang tertidur di dekat jendela mobil.


"Hah! Kenapa dia ada disini? kemana motor besarnya, apakah semalam dia baik-baik saat pulang kerumah? apakah, dimarahi oleh orang tua, dan membuat dia dilarang untuk menggunakan motornya lagi." Dumal pelan Fando.


Fando yang duduk di samping Elisa, sesekali melihat Elisa yang sedang tertidur itu. Karena bis jalannya meliuk-liuk, membuat kepala Elisa katup-katup di jendela kaca, Fando langsung meletakkan kepala Elisa di bahunya, dengan sangat hati-hati dan perlahan.


"Semalam dia tidur jam berapa? Sampai dia harus tertidur di mobil seperti ini?" Gumam Fando.


Tiba-tiba jam tangan milik Elisa berbunyi menunjukkan pukul 07.00 tepat, membuat Elisa terbangun karena suara daringan tersebut.


"Ouh! Maaf ya, aku tidak sadar malah tertidur. Terimakasih. Heh? Fando..." Elisa yang kaget karena melihat fando di sisinya.


"Sepertinya tidurmu sangat nyenyak, malam kamu pulang jam berapa? Kenapa tidak langsung menghubungiku, kau tahu aku menunggu pesanmu" ucap fando.


"Ouh! Maafkan aku, semalam sampai rumah aku langsung tidur, aku minta maaf ya Fando aku lupa." ucap Elisa yang memohon pengampunan dari Fando.


"Iya gak apa-apa, jam berapa kamu sampai rumah?" tanya Fando sangat penasaran.


"Hmm, sekitar jam setengah sepuluh. Itu setelah ngobrol sama ayah, aku yah nama juga hobby pulang malam jadi sedikit diceramahi sama ayahku." ucap Elisa yang menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu dimarahi sama Ayah kamu? Karena pulang malam, iyakan." Tebakan Fando.


"Hahaha betul sekali. Tapi, kenapa sama wajah kamu, kok biru gini? Kamu di pukuli orang yah?" Ucap Elisa yang khawatir pada Fando.


"Aku gak apa-apa kok! Ini hanya luka kecil aja, besok juga sembuh kok!" ucap fando yang menyepelekan yah.


"Beneran kamu nggak apa-apa? udah coba datang ke rumah sakit, kali aja mungkin udah luka dalam atau yang lainnya?"


"Aku gak apa-apa, sungguh! Kamu gak usah khawatir gitu."


"Gimana aku nggak khawatir sama kamu, semalam kamu baik-baik aja, terus pas aku pulang, besoknya udah kamu kayak gini. Coba kamu katakan sama aku, jujur. Kamu dipukuli sama siapa? Kakakmu, atau orang jahat saat perjalanan ke gang rumah kamu itu, bukannya kamu bilang tempat itu berbahaya kan."


"Elisa, aku nggak apa-apa. Nggak kok, kakakku malah nggak pulang ke rumah, Aku nggak tahu Kakak aku di mana sekarang."


"Terus kamu bisa dapat luka lembab kayak gitu? Gimana ceritanya?" Tanya Elisa.


"Aku pukulin diri aku sendiri, biar dapat perhatiannya kamu." ucap fando.


"Ih apasih gak lucu tahu gak! Aku serius tanya ke kamu, ini kenapa? Jangan bercanda dong Fando, aku tanya bener-bener sama kamu." Rengekan Elisa kepada Fando yang saat ini sedang menatapnya.


"Gini deh! Aku mau tanya sama kamu, kamu melakukan ini padaku apakah punya niat lainnya Elisa. Maksudnya kalau kamu perhatian kayak gini ke aku, aku bisa salah artikan loh." Penjelasan Fando.


"Salah artikan gimana maksud kamu?" Elisa yang sudah mulai panik.


"Aku bisa kira kamu menyukaiku?" ucap fando yang menatap tajam pada Elisa.


"Aku memang menyukaimu, terus apa masalahnya? Salahkah bila aku perhatian sama kamu?" ucap Elisa.


"Elisa, perhatian seorang wanita kepada pria atau sebaliknya itu berbeda. Kalau nggak menggunakan perasaan, kalau cewek sama cewek atau cowok ke cowok itu artinya peduli, tapi kalau lawan jenis. Apalagi kita deket kayak gini, gimana aku nggak bisa salah artikan kalau kamu menyukai aku." penjelasan ringkas Fando.


"Loh bukannya ada ya, buktinya dokter sama pasiennya, dokternya misalnya cowok terus pasiennya cewek, apakah dokter itu gak pakai perasaan buat ngobatin pasiennya. Nggak mungkin dokter merawat pasiennya setengah hati." Elisa contohkan.


"Bukan itu maksudku itu lain lagi nantinya, perhatian kamu ke aku itu agak berbeda Elisa bukan pada dokter kepada pasiennya melainkan lawan jenis." ucap fando yang menatap tajam Elisa.


Gawat Apakah Fando sadar kalau aku pura-pura perhatian sama dia, bisa gagal nih rencanaku kalau fando tahu, Aku cepat-cepat memikirkan cara yah agar Fando tidak mencurigaiku. Dalam hati Elisa yang panik.


"Fando aku... Jika aku, hmm aku..." Elisa merasa gugup saat ini karena harus menjalani misi rahasia karena setiap tindakan akan menentukan hasilnya.


Sebelum Elisa melanjutkan apa yang dikatakan, mereka malah sudah sampai di tempat tujuan mereka. depan gerbang universitas. Elisa yang tidak ingin mengatakannya langsung bergegas berdiri, dan kabur dari bus tersebut menjauhi Fando.


Fando pikiran Elisa malu karena mengatakan itu secara terang-terangan, tanda mengartikan jika Elisa menyukai dirinya. Jadi dia pikir dapat lampu hijau dari Elisa, itu yang ada di pikiran Fando. Dengan senyum kemenangan, Fando yang turun dari bis langsung mengikuti Elisa dsgi belakang.


Temen-temen Elisa langsung menyambut kedatangan Fando kembali, ke kelas. Ketua memberikan sebuah buku pada Fando, yang berisi tentang catatan tugas yang menumpuk gara-gara dia jarang berangkat.


"Bro, ini tugasmu yang terbengkalai, silakan kamu kerjakan sekarang juga. Tugas individu, sedang kelompok, tenang saja semua mata pelajaran yang ada tugas kelompok kamu sama kelompok Elisa." penjelasan Raditya.


"Oke! Terimakasih banyak yah pak ketua."


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 31 Januari 2023


__ADS_2