
Matahari telah menyinari seluruh permukaan bumi, Arafif dan Zelia juga perlahan membuka mata mereka. Kedua langsung memahami lingkungan sekitar, karena masih belum sadar seutuhnya. Masing-masing sedang mengumpulkan nyawanya, saat sadar mereka kaget dan langsung bangkit, sama-sama memalingkan wajah, terdiam canggung satu sama lainnya.
"Maafkan aku kak? Aku—" Arafif belum sempat mengatakan apapun sudah di hentikan oleh Zelia yang menutup mulut Arafif dengan telapak tangannya.
"Ssst! Bukan kau saja yang salah black, aku juga terlibat. Sudahlah anggap kejadian ini tidak ada, kita harus kembali mereka pasti akan mencari kita. Kita pergi secara terpisah, kamu pergi ke barat aku ke selatan. Baiklah aku pergi dulu, rapikan bajumu."
Zelia langsung pergi meninggalkan tempat tanpa di ketahui oleh siapapun, sedangkan Arafif masih termenung di sana. Mengingat-ingat semua kejadian yang baru saja ia alami semalam, samar-samar ingatan kembali kebayang bagaimana dia menerkam Zelia yang mabuk saat itu, dengan sangat ganasnya tanpa ampun, kepala juga terasa sangat pusing karena minuman.
Kembali ke markas, Zelia yang bersikap seperti biasa saja. Tak memperdulikan penampilannya saat ini yang berantakan, ia langsung masuk kamarnya dan menatap dirinya di cermin.
"Kau sudah gila Zelia, apa yang kamu lakukan. Kamu menghancurkan kehormatan mu sendiri dengan pria yang kamu anggap sebagai adikmu, apa lagi statusnya adalah suami orang. Apa yang ku lakukan sebenarnya, semoga black baik-baik saja." Dumalnya karena kesal.
Arafif juga akhirnya kembali ke anggotanya, lalu Arafif bersiap diri akan ikut tim gabungan kembali, untuk pergi meninggalkan tempat. Sebagai anggota prajurit kepengawalan, Arafif harus selalu ada digaris depan sebagai jenderal tempur, karena dia dengar tempat mereka akan segera di serang oleh pihak musuh, sedangkan disana ada Andre dan Monika. Arafif harus menyelamatkan nyawa kedua dahulu, walau dia harus egois karena telah meninggalkan posisinya sebagai seorang pemimpin tempur.
Arafif langsung membawa keluarga ya pergi dari Italia, dan meninggal Zelia dan kawanannya. Untuk menyelamatkan Andre dari bahaya, Arafif harus mengorbankan nyawa teman-temannya lagi. Mereka tinggal di Indonesia, tempat yang paling aman dari kejaran musuh Brandon atau musuh lainnya.
Setelah kejadian itu, beberapa bulan kemudian. Zelia tampak mengurung diri di kediamannya. Membuat Keyshu dan istrinya khawatir, akhirnya ia mendobrak pintu kamar Zelia ingin tahu bagaimana keadaan adiknya yang akhir-akhir ini terasa sangat aneh.
"Sebagai kakakmu aku tidak perlu meminta maaf karena telah merusak pintu kamarmu, karena itu salah kamu sendiri karena tidak mau membukakan pintunya. Zelia sebenarnya apa yang terjadi kepada mu, kenapa kamu selalu menghindar dariku. Apa yang kamu sembunyikan dari kami, katakan padaku?" ucap Keyshu yang khawatir.
"Iya Zelia, kakakmu sampai tak bisa makan dengan baik. Jika kamu ada masalah, seharusnya kamu katakan pada kami. Bukankah kamu selalu mengatakan apapun padaku, lalu kenapa kamu hanya mengurung diri di dalam kamar" ucap Zoya yang khawatir.
"Aku takut kalian akan marah padaku, jika aku katakan yang sebenarnya. Aku juga sangat takut jika kalian akan memutuskan hubungan kalian dengan ku, aku juga takut jika kalian akan mengutus seseorang untuk membunuhnya."
"Apa yang kamu bicarakan itu Zelia, aku bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu katakan itu. Zelia katakan dengan jujur dan sangat jelas, agar aku bisa faham dengan apa yang kamu ucapkan, jangan menguji kesabaran ku. Apa yang terjadi padamu?" ucap Keyshu sudah di ambang batas kemarahannya.
"Apakah kakak janji tidak akan marah dan membunuh seseorang, kakak harus janji dulu sebelum aku mengatakan sejujurnya" Zelia ingin memastikan amukan kakaknya itu tidak menyakiti orang-orang yang dia cintai seperti Arafif dan bayinya.
"Iya baiklah, aku tak akan marah atau melakukan hal konyol itu, cepat katakan apa yang terjadi" Keyshu mulai melemah dan melembutkan.
"Aku... Aku... Aku hamil kak?" ucap Zelia yang agak ragu untuk mengatakan hal itu.
"Hah? Hamil? Apa maksudmu Zelia, bagaimana kamu bisa hamil?" ucap Zoya yang kebingungan.
Keyshu kaget, tak percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya, ia mengecek kondisi Zelia sendiri dan benar saja jika adiknya tengah hamil 16 Minggu, itu yang membuat Keyshu kesel.
"Cuman itu, Hmph! Lalu siapa ayah dari bayimu itu? Siapa si brengseek yang telah menghamili mu, cepat katakan! Kenapa dia tidak bertanggung jawab atas bayinya dan kamu hmph!" Keyshu semakin marah.
"Kakak, bukanya kakak sudah janji tidak akan marah, kenapa kakak malah marah sekali" ucap Zelia yang memegangi perutnya.
"Aku hanya ingin tahu dimana ayah yah sekarang" Keyshu mulai melembutkan kembali.
"Dia ada di Indonesia, bersama keluarga ya. Aku tak berani untuk mengusik kehidupannya, aku tak bisa kak" ucap Zelia.
"Apa maksudmu Zelia, kami tidak mengerti" ucap Zoya yang kebinggungan.
"Kakak ipar, ayah bayi ini adalah black. Aku, aku tak bisa meminta dia untuk bertanggung jawab karena dia punya keluarga, aku tak bisa mengatakan bahwa dia adalah ayah dari bayiku"
"Dasar adikku yang bodoh, kamu—"
"Sudahlah tenangkan dirimu, Zelia saat ini sedang hamil, tak boleh dapat tekanan terlalu berat baginya" ucap Zoya yang menenangkan suaminya.
"Kurang ajar bocah itu, dia belum pernah merasakan tusukan pisau bedah ku rupanya" saat akan pergi langsung ditahan oleh Zelia.
"Kakak! Kakak sudah janji tidak akan membunuhnya, kak ini semua salah Zelia. Black tidak ada hubungannya, aku akan merawat anak ini sebagai hukumannya, kak izinkan aku untuk membesarkan ya" ucap Zelia memohon.
__ADS_1
"Zelia merawat seorang anak sendiri itu berat, apakah kamu sanggup!"
"Aku pasti bisa kakak ipar, kalian tidak usah khawatir. Kak, aku hanya ingin kalian mendukung ku saja, hanya itu yang ku butuhkan dari kalian" akhirnya Zelia berhasil membujuk kedua kakak ya.
Hari berganti bulan juga terus berganti, perut Zelia juga terus berkembang membesar dan membuncit. Arafif merasakan hal yang tidak nyaman dalam benaknya, jadi ia memutuskan untuk pergi ke New Zealand. Karena kepikiran dengan Zelia, saat sampai di markas. Ternyata Zelia sudah lama meninggal pelatihan ke pengawalan militer, akhirnya Arafif pergi lagi ke Italia dimana rumah Zelia di sana.
Walau keturunan Jepang-italia, Zelia memutuskan untuk menetap di Italia. Itu yang membuat Arafif harus pergi kesana menemui Zelia, saat sampai di depan gerbang rumah.
Arafif ragu untuk masuk, hingga suatu suara yang membuat dia kaget.
"Black, apakah itu kau?" suara yang terdengar tidak asing baginya, terlihat Zelia yang membawa jinjingan keranjang di tangannya.
"Kak," mata Arafif terbelalak melihat Zelia yang memergoki dirinya itu.
"Sedang apa kau di sana, ayo kita masuk!" ucap Zelia yang sangat ramah.
"Tapi, ada kak key?" ucap Arafif yang khawatir akan amukan dari Keyshu.
"Mereka sedang ke jepang, kakak iparku akan segera melahirkan anak kedua mereka disana. Orang tua kak Zoya ingin sekali mengendong anak kedua mereka, tidak usah khawatir. Ayo masuk!" ucap Zelia membuka pintu gerbang.
"Iya, maaf ya kak" ucap Arafif, yang seperti merasa bersalah pada Zelia.
"Kenapa kamu selalu yang minta maaf, tidak apa ayo!" ucap Zelia yang menarik tangan Arafif.
Berada di ruangan, Zelia yang kesusahan untuk duduk dan mengambil sesuatu di bawa membuat Arafif turun tangan untuk membantu Zelia, Arafif yang sangat penasaran dengan perut buncitnya.
"Maaf ya aku jadi merepotkan kamu, silakan kamu juga duduk aku akan buatkan teh hangat untukmu." ucap Zelia yang menatap Arafif kembali duduk.
"Iya tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf dan Terimakasih," ucap Arafif yang menatap perut Zelia.
"Maafkan aku, karena meninggalkan bekas secara sepihak padamu, dan merepotkan kamu. Aku siap menerima hukuman apapun, aku sungguh minta maaf" ucap Arafif bersujud kepada Zelia.
"Hei! Apa yang kamu lakukan, black angkat kepalamu. Jangan seperti ini black, cepat bangunlah" ucap Zelia yang sangat khawatir.
Zelia membangunkan Arafif yang bersujud itu, mereka akhirnya duduk bersama di menatap indahnya langit malam. Di dalam lubuk hati Zelia tidak bisa di pungkiri jika dirinya sangat senang karena Arafif berada di sisinya, sesekali Zelia melihat Arafif yang saat ini sedang menatap langit malam.
"Jadi, apakah kamu akan berniat membesar mereka sendiri, jika seandainya aku tak datang kamu juga tak memberitahu soal ini padaku?" ucap Arafif yang langsung menatap Zelia.
"Huh? Ouh, soal apa?" ucap Zelia yang langsung gelagapan.
"Anak-anak itu, apakah kamu berniat untuk membesarkan mereka seorang sendiri. Ternyata kamu cukup egois, padahal kita melakukannya bersama tapi kenapa kamu malah ingin merahasiakan dariku."
"Black, aku tak mau memberatkan kamu. Aku berfikir jika aku membesarkan mereka sendiri tidak masalah bagiku, karena aku tidak mau mengusiknya kehidupan rumah tanggamu dengan Monika, dan akan menyusahkan kamu nantinya"
"Monika tidak bisa hamil" ucap Arafif mendadak.
"Huh? Apa yang kamu katakan, black!" Zelia kebingungan karena Arafif tiba-tiba mengatakan hal aneh.
"Iya, kamu tidak salah dengar. Monika tidak bisa hamil, karena suatu kecelakaan mengakibatkan dia tak bisa hamil" Penjelasan Arafif.
"Kenapa? Bukankah dia masih muda, black jangan seperti itu. Monika juga seorang wanita, kamu terlalu kasar" ucapan Zelia.
"Zelia, Monika memang tidak bisa hamil. Dia mantan balerina, saat mudanya dia pernah melakukan diet terlalu ketat. Pernah diracun juga oleh kakaknya, mengakibatkan dia tak bisa hamil karena pembusukan rahim karena racun tersebut, akhirnya aku sendiri yang mengambil rahimnya. Aku berbohong jika Andre adalah anak kami, untuk menutupi semuanya dan untuk menyembunyikan identitas asli Andre."
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan? Kamu tidak berniat akan mengakui anak-anak ini sebagai anak kita kan? Itu akan menyakiti hatinya black, jangan! Pokoknya kamu jangan lakukan hal konyol itu aku tidak akan izinkan."
__ADS_1
"Zeliaa, kenyataan mereka adalah anak-anak ku. Aku tak bisa mengabaikan hal itu, aku tak mungkin melepaskan tanggung jawab ku padamu dan anak-anak ini."
"Black, jika seperti itu. Apakah aku boleh egois, aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Apakah bisa seperti itu, apakah bisa kamu berikan dirimu juga padaku. Kau tinggalkan Monika, dan kembali padaku."
Arafif terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan itu karena sangat sulit untuk milih keduanya, Arafif memikirkan matang-matang jawabannya.
"Kamu tak bisa berkata-kata apa-apa bukan, kau tidak mempunyai jawaban yah. Black, aku juga seorang wanita rasanya akan sangat menyakitkan jika kamu membagi cinta dan kasih mu, aku tahu kamu hanya ingin memberikan semua kasih sayang mu kepada anak-anakmu. Black, mereka tetap anak-anak mu dan akan selamanya menjadi anak-anakmu. Tanpa harus kamu menjadi pendampingku, kamu tetaplah ayah dari anak-anak kita."
"Zelia, aku—" Lagi-lagi ucapan Arafif di hentikan oleh Zelia.
"Ssst! Kita harus tidur, besok pagi kita bicarakan lagi. Ayo bangun, kita harus bangun pagi karena aku punya 1000 daftar untuk ku lakukan bersama dengan mu besok, ayo kita tidur" ucap Zelia yang bersemangat.
Hari-hari mereka lalui dengan sangat bahagia, kencan setiap hari. Arafif juga seperti terbuai akan hal itu hingga suatu ketika, kebahagiaan mereka terasa singkat, karena rumah Zelia tiba-tiba sudah di kepung oleh pihak musuh-musuh mereka di masa lampau. Zelia merasa ada yang janggal akan rumahnya, Arafif juga merasa hal yang sama.
"Zelia, apakah kamu merasakannya?" ucap Arafif, Zelia hanya mengangguk.
"Black, ada pintu ke arah bawah. Aku akan kesana, kamu halau mereka" ucap Zelia.
"Iya, pergilah dahulu" ucap Arafif yang mengambil pistolnya dari belakang tubuhnya.
Pertempuran itu tidak terelakkan lagi, ada beberapa orang yang mengejar Zelia ke lorong bawah tanah syukurlah karena lorong itu memiliki 1000 pintu dan seperti labirin, mereka jadi tersesat di pintu-pintu tersebut.
Di ujung pintu, Zelia langsung di tarik oleh Arafif dan mereka lari bersama hingga bersembunyi di gudang, untuk mengelabuhi mereka. Karena Zelia yang saat ini tak bisa lari dengan lincah dan cepat lagi, gara-gara perut buncitnya. Tak bisa untuk bersembunyi terlalu lama, Arafif langsung mencari akal untuk kabur dari sana.
"Aaah! Black, sepertinya anak-anak ini mulai berkontraksi" tiba-tiba saja kandungan memulai bergejolak.
"Apa! kenapa harus sekarang, Zelia apakah kamu bisa menahannya?" ucap Arafif yang saat ini kebingungan.
"Aku tak sanggup lagi, Black! Lakukan proses melahirkan sekarang juga?" ucap Zelia yang ingin Arafif melakukan proses melahirkan anak-anaknya.
"Apa! Zelia aku tak mungkin melakukan hal itu aku belum punya pengalaman untuk melakukan proses melahirkan, Zelia kamu bisa menahannya" ucap Arafif yang panik kalang kabut.
"Ini darurat cepatlah tidak punya banyak waktu lagi, cepat lakukan sekarang juga ini sangat menyakitkan black, ayo lakukan black!" ucap Zelia.
Terpaksa mereka melakukan proses persalinan di gudang bawa tanah, Zelia yang sudah sekuat tenaga untuk mengeluarkan anak-anak dengan selamat. Satu jam kemudian anak-anak itu akhirnya keluar dengan selamat, walau dalam kondisi yang sangat darurat, Zelia sangat senang anak-anaknya selamat. Walau dirinya sudah sangat melemah, tapi saat melihat anak-anak sehat dan baik-baik saja semua sangat bahagia.
"Black pergilah bawa anak-anak kita ketempat yang aman, selamatkan mereka. Cepat pergi black!" ucap Zelia yang menyuruh Arafif pergi.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian," ucap Arafif yang langsung membungkus kedua anaknya dalam pelukan.
"Selamatkan mereka dahulu, baru kau datang kembali untuk menyelamatkanku. Cepat pergi, black tidak ada waktu lagi cepat pergi" ucap Zelia, dia berbicara bohong agar Arafif segera meninggalkan tempat, karena Zelia ingin melakukan sesuatu yaitu untuk mengubur dirinya sendiri dengan rumah dan seisi orang-orang yang terjebak di dalam rumahnya itu.
"Baiklah aku akan menuruti apapun yang kamu katakan tunggulah aku kembali, jangan kemana-mana yah, aku akan menghancurkan mereka" ucap Arafif.
Zelia yang tersenyum manis kepada Arafif agar tidak usah mengkhawatirkan dirinya, Arafif langsung pergi meninggalkan tempat. Arafif dengan sangat hati-hati membawa kedua anaknya yang sangat kecil itu pergi dari rumah, saat sudah jauh dari kediaman. Tiba-tiba saja tempat itu langsung hancur dalam seketika, Arafif kaget saat menoleh semua sudah tidak tersisa. Zelia terkubur hidup-hidup dengan semua musuh-musuhnya yang ada di dalam rumah tersebut, Arafif syok yang tidak sempat menyelamatkannya sangat menyesali apa yang dia lakukan, tempat tersebut seperti kubangan besar membentuk cekungan yang sangat dalam.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Selasa 8 November 2022.
__ADS_1