PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
105. Pertemuan dan Pertempuran.


__ADS_3

Semua sedang dalam keadaan sangat waspada, Zever dan para pasukan lainnya dengan sangat hati-hati melangkah. Elisa yang sudah ikut dalam tim dua, juga ikut sangat waspada karena sebagian pasukannya musuh anggota terkuat dari barat, sedangkan pasukan yang dibawa oleh Elisa dan Zever lebih banyak dari tim medis kemiliteran yang sudah terlatih.


Mas Andre kamu sebenarnya berada dimana? Elisa sudah datang. Apakah kamu baik-baik saja, bagaimana keadaan kamu sekarang sayang. Aku sangat khawatir, aku takut jika terjadi sesuatu padamu. Dalam hati Elisa yang sudah tidak karuan, pikiran sudah tidak tenang.


ROGER : Nyonya, apakah anda lelah? atau sudah merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Kita bisa beristirahat dulu, kita akan cari tempat yang aman untuk beristirahat sejenak. Sebelum kita lanjut perjalanan, karena hutan ini sangatlah luas. Banyak binatang buas juga, jadi harus ekstra hati-hati.


ELISA : Kau tidak usah khawatir diriku, aku masih kuat dan masih sanggup untuk jalan menelusuri tempat ini.


ZEVER : Elisa jangan terlalu memaksa dirimu, jika kamu sudah tidak kuat untuk jalan jangan kau tahan, tak akan baik juga kita teruskan.


ELISA : Kita lanjutkan saja perjalanan ini, semua pasti akan kita akhiri dengan baik, dan bersama-sama pasti kita melewati semuanya agar kita semua bisa kembali dan pulang dengan selamat.


WINDY : Lalu bagaimana jika kita semua tidak ada yang selamat dan tidak bisa melindungi, atau tidak bisa menyelamatkan pasukan lainnya.


Langsung saja dapat tatapan dari semua orang, kecuali satu orang yaitu Elisa. Windi pantas mendapatkan tatapan tajam karena ucapannya yang seenaknya saja, dengan kata-kata yang mungkin akan menyakiti hati Elisa.


ROGER : Apa yang kau katakan, jangan sembarang bicara. Jaga ucapanmu, Nyonya Elisa! Anda jangan masukan kedalam hati, apa yang telah diucapkan oleh Windi.


ZEVER : Iya, mungkin aku sendiri yang akan menghabisi nyawa mu.


ELISA : Lebih baik mati dari pada tidak melakukan apapun, dan hanya bisa menjadi penonton bagi teman-teman kita yang telah gugur, aku tidak mau seperti itu.


Mendengar hal itu Windi terdiam tak lagi berani mengucapkan apapun lagi, Elisa lebih mengkhawatirkan kondisi suaminya yang entah keberadaan dimana.


Malam harinya mereka langsung membuat tempat tinggal sementara di pohon-pohon, dengan mengikatkan tali dan kain sebagai tempat tidur mereka sementara. Elisa yang duduk sambil meminum perbekalan yang ia bawa, perjalan hari ini sangat melelahkan baginya. Tapi itu tidaklah seberapa, karena dia harus mencari keberadaan suaminya dan para pasukannya.


Sudah sejauh ini, tapi aku belum menemukan mu mas. Kamu di mana? Aku sangat merindukan kamu, apakah kamu baik-baik saja?. Dalam hati Elisa seraya berdoa agar suaminya dapat di temukan.


Karena dihutan belantara, banyak sekali serangga dan lolongan serigala hutan, itu membuat Elisa tidak nyaman untuk tidur. Banyak sekali gangguan dari binatang hutan, Elisa yang terbangun melihat ada seekor ular yang melilit ditalinya.


"Ya Allah, itu adalah ular. Bagiamana ini, aku... Aku harus tenang, iya jangan panik itu kuncinya." dumalan Elisa.


Saat ular itu sudah hampir dekat pada Elisa, ia tak mau menganggu istirahat pasukannya. Tapi, dia juga tak bisa berkata-kata apapun saat ular itu sudah merayap mendekatinya.


Tiba-tiba saja ular itu akan menyemburkan racunnya karena merasa ada bahaya, membuat Elisa takut dan memejam matanya pasrah dengan keadaan.


ROGER : Nyonya, anda baik-baik saja? Ularnya sudah saya amankan.


ELISA : Aaah- awas ular itu seperti berbisa. Kamu harus hati-hati, jangan sampai tergigit.


EIGER : Nyonya Elisa kenapa anda tidak membangun kami jika anda takut, setidaknya anda membangunkan kami. Jika anda tidak terjaga, anda pasti sudah di gigit ular.


ELISA : Aku tidak mau menganggu istirahat kalian, pasti sangat lelah. Bagaimana caranya kalian bisa tidur sangat lelap, sedangkan di tengah hutan seperti ini.


EIGER : Nyonya, diantar kami tak ada yang tidur lelap, karena jika kami tidur terlalu lelap maka tidak akan tahu kapan bahaya akan mengincar kami, contohnya ular tadi.


ROGER : Nyonya, jangan khawatir kami semua akan menjaga anda. Jadi istirahatlah dengan tenang, anda belum terbiasa saja hidup di alam liar seperti ini.


Elisa hanya bisa menjawab dengan senyuman yang kecut, malam hari itu di isi dengan cerita-cerita mereka sampai semuanya benar-benar tertidur.


Keesokan harinya, semua sudah bangun kecuali Elisa yang masih tidur karena saking nyenyaknya, tak ada yang berani untuk membangunkan Elisa. Walau Elisa lebih awal tertidur dari yang lainnya, tapi Elisa lebih lambat bangun hingga yang paling akhir karena saking lelahnya. Tak lama ada suara pergerakan, semua sudah mengangkat senjatanya untuk melindungi nyonyanya.


Muncullah seseorang dari balik semak yang rimbun, dengan wajah yang tak keliatan.


ZEVER : Tenanglah, ini aku.


Ujar Zever seraya membuka kain penutup wajahnya, agar anak buahnya percaya.


ROGER : Komandan?

__ADS_1


Semua langsung menurunkan senjata mereka, saat mereka sudah tahu itu adalah kawannya.


ZEVER : Iya ini aku, apakah kau lupa suara ku? sampai harus bertanya begitu. Baru juga berpisah semalam, masa kamu melupakan suaraku.


EIGER : Kami pikir ada musuh, kami hanya waspada saja, saat ada pergerakan. Langkah kaki komandan membuat kami menjadi sangat serius.


ZEVER : Itu bagus kalian memang prajurit yang kompeten Eiger. Ouh iya? Kok kurang satu. Mana Nyonya Elisa, kalian tidak melupakan nyonya Elisa kan. Jangan ditinggalkan nyonya Elisa, walau di cukup merepotkan tapi dia adalah nyonya kalian. Majikan kalian harus kalian lindungi.


EIGER : Sabar komandan, sabar. Jangan emosi dulu, mana mungkin kita meninggal Nyonya.


ZEVER : Lalu dimana? Aku tidak melihatnya kalian tidak sedang membohongi aku kan.


ROGER : Beliau masih di atas, dan belum bangun pak.


Zever langsung menoleh ke atas, ada seseorang yang masih terlelap disana. Zever yang melihat wajah Elisa yang seperti sangat menikmati waktu luang itu, Zever langsung memberikan aba-aba agar semua pasukan bersiap.


ZEVER : Nyonya Elisa, apakah kamu masih betah di atas sana, mau sampai kapan kau akan tidur dipohon? Kita harus segera berangkat sebelum matahari terbenam kembali.


Karena suara itu Elisa kaget, dan tak sengaja berbalik badan lupa jika dia tidur di atas ketinggian. Akhirnya Elisa terjatuh dari atas ketinggian 6 meter, untungnya semuanya sudah siap menangkap Elisa dari bawah.


"Aaaaa... Ayah-Ibuuu..." teriakan Elisa.


Haap... Grep...


Ditangkap oleh pasukan pengawal-pengawalnya, Zever hanya menepuk jidatnya karena kelakuan konyol Elisa itu.


ZEVER : Elisa bukannya aku sudah melatih kamu soal pertahanan diri, kenapa kamu tidak bisa melakukan apa yang sudah di ajarkan. Malah berteriak tak penting seperti tadi, bagaimana jika kedengaran oleh musuh.


ELISA : Jangan salahkan aku, kenapa kau membangun kan orang yang sedang tertidur dengan ancaman seperti itu. Dengar ya Kak Zever, saat seseorang sedang terlelap tidur jangan sekalipun membangunkannya seperti tadi, itu sangat membahayakan. Karena terlalu mengagetkan, apakah kakak tahu jika bayangan atau nyawa seseorang saat tertidur itu sedang melayang tinggi tidak ada bersama raganya, banyak orang gila gara-gara dibangunkan dengan cara seperti itu.


ZEVER : Oke-oke aku minta maaf soal itu, jangan marah ya. Ternyata bener yang dikatakan oleh Andre, saat kamu marah lebih menakutkan dibanding musuh yang kejam.


Mereka langsung melanjutkan perjalanan untuk pencarian Andre dan anggotanya yang belum ketemu. Sudah memasuki hutan yang cukup dalam tapi mereka belum juga menemukan keberadaan Andre dan pasukannya? tiba-tiba saja ada seseorang yang melihat ada prajurit yang sudah berbau busuk, untungnya itu bukan prajurit pasukannya Andre melainkan milik musuh.


ZEVER : Bawanya Elisa lebih dulu jalan, agar tidak melihat mayat yang bersimpahan itu.


Pengawal Elisa langsung membawa Elisa lebih dulu jalan, agar tidak melihat yang berada di belakang. Walau banyak sekali mayat yang sudah mulai membusuk, tapi satupun tidak ada identitas mayat dari anggota pasukan Andre.


ZEVER : Syukurlah tidak ada mayat anggota Pasukan yang dipimpin oleh xeverio ataupun Andre, semuanya pasukan musuh.


Mereka bisa bernafas lega artinya pasukan yang dibawa oleh xeverio ataupun Andre kemungkinan masih hidup. Pencarian mereka pun langsung gencar, hingga sampai ke suatu tempat yang dialiri oleh sungai yang cukup curam, airnya juga sangat deras.


ZEVER : Kalian lindungi Elisa disini biar aku dan tim 1 yang akan menyebrang ke sana, Elisa kamu disini saja karena aliran sungai ini cukup deras, mudah tergelincir.


ELISA : Bukankah kau sudah melatihku, untuk melakukan sesuatu hal seperti ini. Kau masih ragu akan latihan yang kau sendiri berikan kepadaku. Apa kau tidak sungguh-sungguh ya saat melatihku, makanya kamu masih ragu memperbolehkan aku ikut ambil bagian.


ZEVER : Eeeh?! Bukan begitu maksudku Elisa, dengarkan aku, di lihat aliran ini cukup deras jika kamu ikut lalu siapa yang akan mencari informasi tentang keberadaan Andre. Kemungkinan, di sebrang sana adalah markas mereka. Jadi aku sangat khawatir jika seandainya kita di serang, maka masih ada tim penyelamat yang akan mencari Andre dan memberi kita bantuan begitu.


ELISA : Ya baiklah kali ini aku percaya akan apa yang kamu jelaskan itu, ingat kak Zever kakak harus yakin padaku jangan ada keraguan dong! Kenapa kau jadi seperti ini, seakan-akan kakak meremehkan kemampuan ku. Bukankah kau sendiri yang menjadi instruktur yah, bahkan aku saja percaya jika kak Zever adalah instruktur yang handal. Bahkan kak Zever bisa melatih anak dibawa umur untuk dilatih menjadi handal, buktinya Alex yang dalam naunganmu katanya saat di usia 10 tahun dia sudah mulai bertempur, kenapa aku dilarang untuk ikut, sedangkan latihanku lebih lama dibandingkan Alex.


ZEVER : Baiklah jika kamu sudah punya keyakinan seperti itu, tanggung sendiri akibatnya. Tempat ini cukup bahaya jika kamu tidak berhati-hati, ayo kita pergi.


ELISA : Tidak usah khawatir, karena kita punya tanggung jawab masing-masing.


Sehari setelah perjalanan yang panjang akhirnya mereka menemukan dimana titik lokasi hilangnya para pasukan Andre, sangat melelahkan bagi Elisa baru pertama kali melakukan hal itu. Walau Elisa yang sudah berpakaian lengkap seperti prajurit, hingga tidak akan bisa dikenali oleh siapapun, bahwa dia adalah perempuan satu-satunya dalam pasukan, wanita yang ikut dalam kelompok Zever serigala hitam.


Sudah hampir seharian mereka mencari keberadaan pasukan Andre yang entah menghilang kemana? saat Elisa ingin membasuh mukanya dia melihat jejak darah yang sudah hampir mengering di sebuah batu di pinggir sungai kecil. Akhirnya Elisa mengikuti jejak tersebut, hingga menuju ke suatu tempat. Elisa berkeliaran seorang diri, saat semua pasukan sedang beristirahat di suatu lokasi.


Tiba-tiba saja di tempat dimana Zever dan pasukannya sedang istirahat, ada sekelompok orang yang menyerang kelompok Zever. Pertempuran aduh mekanik dan tembakan pun tidak terelakan lagi, kecuali Elisa yang terpisah dari kelompok karena melihat jejak darah dan terus mengikutinya.

__ADS_1


Elisa yang akhirnya tiba disuatu tempat yang banyak sekali semak belukar yang menutupi sebuah batu besar, ternyata adalah sebuah gua tempat persembunyian dari Andre dan para pasukan yang sedang terluka.


"Tempat apa ini, tapi bekas darah ini seperti bukan satu orang?" Dumal Elisa yang masih mengikuti jejaknya.


Akhirnya Elisa menemukan dimana lokasi semua pasukan Andre berada, termasuk Andre yang sudah tidak sadarkan diri, terkapar di tempat. Glenn yang mendengar ada suara pergerakan yang mendekat, iya yang sedang waspada langsung keluar untuk menghadapinya.


Dikira musuh, Glenn menyergap Elisa dari belakang dengan cepat dan lincah Elisa bisa lolos menghindarinya. Glenn langsung bisa mengenali gerakan dari beladiri tersebut, tapi masih binggung karena belum mempercayainya.


"Nyonya? tidak mungkin jika nyonya Elisa ada di sini" Dumal Glenn pada dirinya sendiri.


"Apakah kau Nyonya Elisa?" ujar Glenn yang ingin tahu siapa orang yang di balik topeng itu. Elisa tersenyum di balik topengnya, ternyata Glenn sudah mengenalinya.


"Rupanya kamu hebat juga bisa langsung mengenaliku Glenn" ucap Elisa yang membuka penutup wajahnya.


"Tentu saja aku langsung mengenali anda, karena gerakan tadi, tapi kenapa anda bisa ada disini?" ucap Glenn khawatir.


"Itu tidak penting kenapa aku bisa ada disini. Dimana suamiku, apa dia bersamamu?" ucap Elisa.


"Nyonya Tuan Andre terluka parah karena harus melindungi pasukan, dan saat ini tidak sadarkan diri. Kami sedang kebingungan untuk menyelamatkan tuan, sebagian pasukan sudah terluka parah. Aku ingin pergi untuk mencari bantuan dari sini, agar bisa menyelamatkannya semuanya. Akan tetapi aku tidak bisa meninggalkan mereka, dan kami juga telah dikepung" ucap Glenn yang sangat frustasi.


"Bawa aku menemui mereka semua, dimana kalian bersembunyi?" ucap Elisa yang ingin tahu lokasinya.


"Ikut aku nyonya, lewat sini. Hati-hati batu-batu disini sangat licin karena habis hujan, jadi air lagi meninggi" ucap Glenn.


Sesampainya di suatu tempat, goa itu banyak sekali orang yang sudah tak berdaya. Bau darah cukup menyengat, mata Elisa langsung tertuju pada seorang pria yang sudah tidak bergerak, wajah yang pucat.


"Sudah berapa lama kalian disini?" tanya Elisa yang melihat sekeliling.


"Empat hari ini, nyonya apakah anda datang sendiri ke tempat yang berbahaya ini?" ujar Glenn yang khawatir.


"Apakah kalian sudah kirim bantuan?" Elisa mengabaikan ucapan dari Glenn.


"Kami sudah mengirim bantuan ke markas pusat, sedangkan pak Xaverio juga terluka parah jadi kami juga tidak tahu harus bagaimana? hanya beberapa yang tidak terluka terlalu parah" ucap Glenn.


"Tidak usah khawatir, aku sudah datang semuanya pasti akan baik-baik saja. Semua pasti akan selamat, bala bantuan akan segera datang" ucap Elisa yang langsung mengirimkan sinyal pada pasukan di markas pusat.


"Kamu tenang saja yah, aku akan suruh kak Zever untuk datang kemari."


Elisa yang mengirim pesan pada Zever tapi malah tidak di hiraukan oleh Zever karena saat ini sedang berperang, Elisa tampak khawatir. Lalu terdengar suara ledakan dari jarak 10 meter dari lokasi, Elisa baru mengerti kenapa Zever tidak merespon panggilannya.


ZEVER : Elisa, kamu ada dimana? Apakah kamu baik-baik saja?


ELISA : Iya aku baik, apakah kalian baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi?


Zever keheranan karena Elisa malah bertanya apa yang telah terjadi saat ini.


ZEVER : Apakah kamu tadi tidak ikut pasukan? kenapa kamu malah bertanya.


ELISA : Maafkan aku karena telah berpisah, dan melakukan keputusan sendiri, kak aku menemukan lokasi dimana Mas Andre dan para pasukan berada, maaf aku harus bertindak tanpa pemberitahuan padamu kak.


ZEVER : Yaudah jika kamu baik-baik saja, tunggu disana saja, jangan pergi sembarang lagi. Kami akan menyusul mu, aku tutup panggilan ini.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


JUMAT 25 November 2022.


__ADS_2