PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
21. Prioritas.


__ADS_3

Keesokan paginya, sebuah ketukan pintu yang membuat Andre yang baru selesai menunaikan ibadah sholat harus di bangunkan oleh suara yang tidak asing.


Tok- tok- tok


PELAYAN : Tuan, Nyonya. Apakah anda sudah bangun?


Andre berdiri langsung, dan membuka pintu kamarnya. Terlihat seorang pelayan wanita berdiri di sana, membungkuk memberi hormat kepada Andre.


ANDRE : Ada apa?


PELAYAN : Tuan, anda di panggil boss untuk menghadap.


ANDRE : Baiklah, bilang pada mereka tunggu sebentar.


PELAYAN : Iya tuan saya akan sampaikan, saya mohon diri.


Setelah pelayan itu pergi, Elisa terbangun dari tidurnya. "Siapa mas?" ujar Elisa yang terbangun karena suara itu.


"Ouh tadi itu pelayan. Aku akan siap-siap mau menemui mereka, kamu mau ikut atau tidak?" ucap Andre yang meletakan sajadah di tempatnya semula.


"Siap-siap kemana? dan mau ketemu sama siapa sih mas?" ucap Elisa yang setengah sadar.


"Orang-orang tua di bawa sana lah" ucap Andre yang berjalan mendekati Elisa yang matanya masih sayup-sayup.


"Hmmm- orang tua? siapa?" Ucap Elisa yang masih kurang faham.


"Ya Papah, Dady dan tuan George sekarang di tambah tuan Efrain juga datang, lengkap sudah penderita ku" ucap Andre sangat frustasi.


"Maksudnya gimana sih mas, aku kurang faham nih" ucap Elisa yang belum juga mengerti kondisi dan keadaan saat ini.


"Aku mau keluar dulu mau menemui orang tua, kamu mau ikut apa gak?" tanya Andre yang dapat di fahami oleh Elisa.


"Hah? kapan" tanya Elisa spontan, mata Elisa seketika mata terbelalak.


"Yah, sekarang lah" ucap Andre yang langsung berganti pakaiannya itu.

__ADS_1


"Baiklah, tapi Elisa belum mandi. Elisa mandi dulu deh" ucap Elisa yang langsung mengambil handuk.


"Yaudah, mas tungguin. Cepat mandi sana, kalau lama mas tinggal" ancaman Andre.


"Aiya, nih cepat mandinya" ucap Elisa yang bergegas menuju kamar mandi.


Tak butuh waktu yang lama Elisa sudah rapi dengan setelan baju khasnya yang paling nyaman ia kenakan, Andre yang juga sudah rapi dengan kaos panjang yang polos, dan celana kolornya.


"Udah selesai?" tanya Andre yang melihat Elisa sudah pakai baju rapi.


"Iya, yuk" ucap Elisa yang langsung bekalan begitu saja.


"Kamu sudah lapar sekalinya, sampai buru-buru ingin keluar dari dalam kamar?" ucap Andre yang asal tebak.


"Hehehe tuh tahu, tadi malam Elisa gak makan mas" ucap Elisa dengan senyuman manis.


"Yaudah, kita makan dulu saja setelah itu kita ketemu meraka" ucap Andre.


"Eeeh! emangnya papah, Daddy dan pria tua lainnya tidak ada di rumah ini?" tanya Elisa yang kebingungan.


"Nggak, ini rumah yang terpisah dengan istana lainnya. Jadi, ini bukan rumah tapi tahanan" ujar Andre yang langsung keluar dari kamar.


Menuruni tangga, hidangan juga tertata dengan baik di meja makan. Elisa sangat kagum dengan semua pelayanan ini.


"Enaknya jadi anak sultan, serba-serbi di layani" ucap Elisa yang langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan.


"Enak kalau kamu lihat dari sisi baik tapi gak enak kalau kamu lihat sisi lainnya" ucap Andre yang langsung duduk di sebelah Elisa.


"Hmm, maksudnya?"


"Sudahlah lupakan, cepat di makan"


Meraka makan dengan hikmat, tanpa bicara lagi. Setelah selesai makan Andre dan Elisa langsung pergi ke gedung utama di mana semua orang sudah menunggunya di sana, Andre terdiam sejenak saat akan memasuki tempat tersebut.


"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" ucap Elisa yang melihat kearah suaminya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, yuk masuk" ucap Andre yang mengandeng tangan Elisa.


Semua langsung berdiri saat melihat Andre dan Elisa masuk ruangan, Elisa yang terdiam karena banyak sekali orang di sana.


"Mereka sudah menunggu mu ya" ucap Elisa spontan. Andre terdiam saja seraya matanya menajamkan, tak lama Andre tersenyum tipis.


"Andre ada yang ingin kita bicarakan mengenai soal kemarin, jadi kami sengaja memanggil mu kemari, bagaimana soal jawaban kamu nak! Kamu sudah memikirkan yah?" tanya Arafif yang tanpa basa-basi atau pembukaan lagi.


"Jawabanku masih sama Pah, dan aku tak bisa mengubah dalam waktu semalam" ucap Andre yang datar.


"Begitukah, coba nak kamu pikirkan lagi lebih matang soal penolakan mu ini, karena sebagai seorang pemimpin resmi dari ANDRILOS di masa depan. Sekarang ANDRILOS ada di tanganmu, jika kamu menolaknya bagaimana generasi selanjutnya akan memulainya, nak tolong pikirkan baik-baik" ucap Arafif kembali.


"Keputusan ku sudah bulat Pah, buat apa di pikirkan ulang, toh pada akhirnya juga Andre tidak bisa memimpin dengan baik.


Andre masih punya tanggung jawab lainnya, selain menjadi pemimpin dari ANDRILOS. Jika Andre menjadi pemimpin ANDRILOS lalu bagaimana dengan karir papah, siapa yang akan mengelola rumah sakit jika tidak ada aku, Pah fikirkan lagi. Dulu papah menyuruhku masuk universitas kedokteran, sekarang papah tiba-tiba minta aku jadi pebisnis. Jadi Andre harus bagaimana sekarang, Andre binggung sama jalan dan alur fikiran dari papah"


"Iya itu salah papah dulu, tak memikirkan matang-matang perbuatan papah. Tapi Andre semua bisa di mulai lagi jika kamu memiliki kemampuan komunikasi yang baik"


"Pah, Andre sudah berapa kali katakan tak bisa. Andre gak mau Pah, karena yang pasti akan mengurangi semua waktu Andre dan masa-masa Andre bersama keluarga"


"Nak, jika Dady masih muda mungkin Dady yang akan menjadi pemimpin. Tapi, lihat daddy mu ini sekarang, untuk jalan pun harus menggunakan alat bantu, sebuah tongkat untuk menjagaku agar seimbang dan tidak jatuh, jadi tidak mungkin seorang pemimpin setua diriku" sambung Brandon yang angkat bicara.


"Sudah cukup, perdebatan ini. Kalau kalian tetap memaksa cari saja yang lainnya aku gak mau, pliss! ku mohon jangan terus-terusan meminta ini padaku, karena aku lelah, aku juga sudah bosan selalu di mintai hal yang sama berulang kali"


"Makanya kamu fikirkan lagi, apa yang kamu tolak itu" ucap Arafif.


"Kan sudah berulang kali juga aku tolak kenapa kalian tidak menyerah saja sih. Cari pengganti yang lainnya, lagian keturunan ANDRILOS bukan aku saja kan" ucap Andre yang agak bernada emosi.


"Iya itu bener, tapi hanya akulah pewaris yang SAH dan keturunan ku yang berhak memimpin" ucap Brandon yang langsung menegaskan.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Kamis, 11 Agustus 2022.


__ADS_2