
Di Pasar baru, Elisa yang sedang sibuk membeli stok bahan untuk bakery cake miliknya yang sudah pada habis stok, sedangkan di gudang juga sudah mulai menipis, Elisa pergi sendiri yang ke pasar. Karena mamah Monika sedang pergi bersama ibunya ke suatu tempat, sedangkan ayah Elisa sibuk di Empang. Jadi Elisa mandiri untuk melakukan sesuatu halnya sendiri, walau dia punya suami tapi suaminya bukan orang yang ngagur jadi yah harus serba sendiri.
Saat semua bahan dan barang sudah hampir terkumpul, Elisa juga sudah selesai pilih-pilih bahan masakan untuk makan siang nanti. Dengan secepat mungkin dia belanja, karena dia ingat hari ini Elisa sudah ada janji dengan adiknya mau turing untuk mencari informasi tentang universitas.
"Kayaknya sudah semua nih? Apa lagi yah yang kurang?" Dumal Elisa.
Saat Elisa di sibukkan pilih-pilih bahan ada suara yang membuatnya mendengar dan langsung menoleh ke sumber suara, nyaring sekali dengan sangat gelisah.
"Jambret-jambret-tolong ada jambret" ucap seorang wanita yang saat ini tasnya di ambil orang di pasar, mendengar teriakannya itu Elisa melihat sumber suara dan mengunci target yang di tujuh sebagai pelaku jambret.
"Pak Rois, minta buah kedondong satu ya?" ucap Elisa pada pedagang buah di sebelahnya.
"Aiya mba silakan" ucapnya dengan suka rela, buah tersebut langsung dilemparkan tepat pada sasaran, hingga pria jambret itu jatuh tersungkur ke tanah.
Elisa menghampiri pria tersebut, menginjak kakinya dengan sangat keras banyak yang berdatangan ingin menghakimi dia, yah mau mengeroyok si jambret. Tapi Elisa langsung menghalangi ya, karena dia juga manusia.
"Dasar kamu ini bikin resa pembeli saja, udah kita pukul saja dia" ucap salah satu orang di sana jadi provokator.
"Eeeeh! Berhenti bapak-bapak. Jangan menghakimi sendiri begitu kasihan. Ini bukan salah dia, kayaknya dia juga amatir dalam menjambret" ucap Elisa yang membela.
"Jangan membelanya, jangan-jangan kamu juga komplotan yah lagi, udah sekalian saja bawa ke kantor polisi" ucap salah satu bapak-bapak di sana.
"Cih! dasar kalian ini. Baru ketahuan satu sudah seperti ini, jika gak ketahuan kalian diam-diam saja. Woy! bilang pada ku siapa komplotan mu, mereka penasaran" ucap Elisa yang bicara bergantian dengan si penjambret.
Karena tidak mau di salahkan sendiri, si penjambret itu malah menuduh Elisa sebagai boss dari dirinya itu. "Bener, dia boss ku" ucap si penjambret.
"Wah tuh kan bener!" bapak-bapak itu langsung percaya saja dengan ucapan si penjambret.
"Sialan kau. Jangan lakukan hal konyol yang merugikan dirimu sendiri. Ngaku gak siapa komplotan mu yang sebenarnya, jangan sampai aku naik darah loh" ucap Elisa yang sudah agak memuncak.
"Sudahlah mba, itu buktinya udah ada. Dia ngaku jangan ngancam-ngancam begitu" ucap salah satu bapak-bapak tersebut.
"Udah bawa saja mereka ke kantor polisi" ucap bapak-bapak tersebut, lalu membawa si penjambret dengan Elisa.
"Iya bawa saja mereka, ayo..." ucap bapak-bapak itu menangkap Elisa dan si penjambret.
"Eeeh bapak-bapak tunggu sebentar, mau membawa kemana? ini kalian salah tangkap, dia ini langganan saya mana mungkin jadi ketua komplotannya" ucap ibu-ibu penjual sembako.
"Iya bener. Ini mah mba Elisa, ini anak Bu Siti, mana mungkin dia jadi ketua komplotan. Hey, jangan ngada-ngada deh kamu ini" ucap salah satu penjual lainnya membela Elisa.
__ADS_1
"Jangan asal ngomong kamu, bawa saja dia ke kantor polisi. Orang dia yang salah kenapa mba Elisa juga di bawa" ucap pak Rois pedagang buah kedondong.
"Baiklah, pak. Bawa dia saja, ayo" ucap bapak-bapak yang membawa si pria penjambret itu.
"Hmmm tunggu dulu, kamu harus kasihan dulu tas milik orang yang kamu jambret itu. Berikan!" ucap Elisa yang mengambil dengan paksa.
"Kalian bawa tuh orang. Mba Elisa baik-baik saja?" tanya salah satu ibu-ibu.
"iya baik, Terimakasih ya" ucap Elisa yang berterima kasih.
Pemilik tas tersebut baru datang menghampiri dengan seorang pemuda, lalu melihat Elisa yang memberikan tas milik si wanita.
"Nih mba, tasnya. Coba mba cek dulu barang kali ada yang hilang atau ada yang kurang" ucap Elisa yang menyarankan.
"Ouh?! semua masih lengkap kok, terimakasih ya mba. Maaf ya mba, gara-gara saya mba sampai harus di tuduh jadi komplotan si penjambret tadi" ucap mba korban ini.
"Hehehe gak apa-apa, aku dah biasa kok. Tampang kayak aku ini emang banyak yang salah sangka, yaudah mba saya duluan" ucap Elisa yang berjalan menuju mobil kolbak miliknya.
Elisa bersama pak Yayan, si supir yang juga sedang sibuk mengakut barang-barang.
"Mba ini, sebagai tanda terimakasih saya ke mba" ucap mba korban itu, memberikan sejumlah uang. Elisa menolaknya, karena Elisa menolong dengan ikhlas.
"Cakep tuh cewek mba. Nggak mau belasan pamrih, tapi dia keren ya mba melempar satu buah langsung kena sasaran" ucap pemuda yang berdiri di sampaikan
"Eeeh, iya dek. Aduh sampai lupa tanya nama, kamu kok gak ngingetin sih" ucap mba tersebut.
"Aku akan mengingatkan wajahnya Mba, tenang saja" ucap pemuda itu diduga adalah adik laki-laki wanita korban jambret tersebut.
Jam menujukan pukul 9 pagi, Elisa di bonceng adik kandung keliling kota sambil mencari universitas yang mau dia tujuh. Naik sepeda motor yang di belikan Andre sehari setelah Elisa di lamar Andre.
"Nah teh, itu universitas Jaya Abadi. Disana banyak temen Azril yang masuk, ini teknik informatika dan pertanian, banyak juga ceweknya" ucap Azril yang menujuk tempat.
"Kita masuk aja zril tanya-tanya boleh gak yah?" ucap Elisa yang sangat penasaran.
"Oke, kita masuk" ucap Elisa yang ingin masuk tapi Azril menahan tangan tetehnya.
"Bentar dulu teh, azril telfon temen dulu" temen Azril adalah kakak tingkat waktu SMK. Setelah tersambung Azril langsung di suruh untuk masuk saja ke dalam, karena dia sudah menunggu di dalam.
"Gimana zril" tanya Elisa setelah Azril menyimpan kembali hp miliknya.
__ADS_1
"Katanya masuk saja, temen Azril lagi ada di parkiran" jawab Azril yang menyalakan mesin motor kembali.
Setelah sampai di sana Azril di sambut dengan baik oleh kakak tingkatnya, mereka biasa nongkrong di dekat parkiran karena tempatnya adem dan sejuk.
"Yo zril, kamu sudah datang. Cepat sini masuk, nunggu lama yah di sana" ucap Jeffry.
"Nggak! baru aja sampai kak" ucap Azril yang langsung geser duduk untuk tetehnya.
"Bawa siapa nih" ucap Hilman, temen Jeffry.
"Tetehku, kak. Azril boleh nanya-nanya nggak?" ucap Azril yang to the point.
"Tanya apa?" Jawab singkat.
"Disini fakultas aja jurusan apa saja" tanya Azril yang ingin tahu.
"Cuman ada 5 zril. Teknik sipil, Lingkungan, bangunan, pertanian dan sosial budaya, dan cagar alam. Emang buat siapa? kamu?" ucap Hilman, selaku ketua Hilman.
"Hehehe iya kak. Wah banyak juga ya kak, terus soal akreditasinya gimana kak?" ucap Azril.
"Yaudah masuk sini aja, kan ada kita. Udah B zril, emang kamu mau ngambil jurusan apa?" ucap Jeffry.
"Hahaha. Gak tahu kak, Azril lagi mikir-mikir dulu kak" ucap Azril.
"Jangan lama-lama mikirnya, tapi jurusan buat kamu yang cocok adalah sosial budaya zril" ucap Hilman.
"Lah iya itu bagus, lagian kamu terlihat aktif banget kesenian" sambung Jeffry.
"Hehehe iya kak, nanti aja Azril masih binggung" ucap Azril yang tersenyum getir.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Kamis 29 September 2022
__ADS_1