
Andre yang sudah sampai di sebuah rumah sederhana, bersama dengan pak Luthfi yang sangat panik. Di depan rumah pak Luthfi sudah terlihat banyak orang yang berkumpul di kediaman pak lutfhi.
"Assalamualaikum, ibu-ibu bapak-bapak." ucap Andre yang akan masuk kedalam tapi sangat sulit.
"Walaikumsalam," semua serempak langsung menoleh ke belakang.
"Permisi ibu-ibu, bapak-bapak, saya mau lewat dulu yah." ujar andre yang bergegas masuk kedalam rumah sederhana itu.
Terlihat seorang bidan wanita, sedang berusaha menangani pasien yang akan melahirkan itu. Andre yang langsung sigap langsung duduk di samping istri dari pak lutfhi ini, si bidan hanya menatap Andre yang saat ini mengecek denyut nadi yah. Bidan ini sangat kaget, karena ada orang asing malah duduk di samping pasiennya.
"Maaf yang tidak berkepentingan dilarang untuk masuk kedalam sini pak, mohon maaf yah. Bisakah anda keluar dahulu, biarkan saya saja yang menangani pasien. Karena kondisi ibu sedang kurang baik, pasien sedang masa kritis, pak." ucapnya seraya menyuruh Andre agak menjauh.
"Sudah sampai pembukaan berapa, lalu ibu mengalami hal seperti ini." Tanya Andre yang menanyakan kepada bidan, ia mengabaikan apa yang dikatakan oleh bidan sebelumnya.
"Maaf, tapi anda siapa yah!" tanya sang bidan.
"Tinggal menjawabnya saja, apa susahnya." tanya Andre yang agak kesel.
"Baru pembuka lima, lalu ibu mengalami pendarahan." ucap bidan tersebut.
"Hmmm... Cek kondisi di bawa bibir saluran rahim apakah ada pembengkakan." ucap Andre yang menyuruh bidan itu.
Bidan itu merasa agak kesel, kepada Andre karena menurutnya orang baru datang ini, malah seenaknya saja mengatur dan memerintahkan dirinya.
"Bu bidan beliau ini adalah dokter, saya panggilkan dokter yang tidak jauh." ucap pak Luthfi yang menanggapinya.
Bidan itu malah menoleh ke arah sumber suara, lalu melihat suami dari pasiennya tersebut. "Pak lutfhi saya tidak menyuruh anda untuk panggil seorang dokter, tapi istri anda ini membutuhkan ambulan. Kita harus membawanya segera ke rumah sakit agar di tangani dokter khusus." ucap bidan itu agak emosi.
"Tidak akan sempat, jika anda memanggil ambulan untuk datang kesini segera, butuh waktu 15 menit untuk sampai, sedangkan kondisi ibu sudah kehabisan tenaga, dan sudah banyak mengeluarkan darah." ucap Andre dengan tatapan lebih tajam dan menekan.
Bidan itu menelan ludahnya bulat-bulat, lalu menatap mata Andre yang menajam itu. "Lalu apa yang sekarang akan anda lakukan untuk menyelamatkan pasien?" tanyanya seakan meremehkan kemampuan Andre.
"Ini bukan waktunya anda mengetes pengetahuan soal medisku, kita harus melakukan yang terbaik karena posisi bayinya sudah ada di atas, tidak ada waktu lagi, dalam kondisi ini bayi akan sulit untuk dikeluarkan, karena posisi kepala tidak ada dibawa bibir rahimm, kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat sekarang." ucap Andre yang masih sabar menanganinya.
"Maka dari itu, saya meminta di panggilkan ambulans karena Ibu ini harus dibawa ke rumah sakit." ucap bidan itu mulai panik.
"Lakukan operasi sesar segera, tidak perlu datang kerumah sakit, itu tidak akan ada gunanya. Karena akan memakan waktu lebih banyak, untuk menunggu." ucap Andre yang menekan.
"Disini? tidak ada alat-alat yang memadai, nyawa ibu ini tidak akan tertolong, jika di paksakan untuk operasi. Apakah anda sudah gila, aku tidak bisa mengambil resiko ini, karena ini terlalu berbahaya." ucap bidan itu malah lebih marah.
"Di rumah sakit juga akan percuma jika nyawa ibu sudah tidak bernafas, setidaknya anda percaya pada kemampuan anda sendiri, itulah kuncinya dari tenaga medis, walau dengan alat seadanya, Jika anda bisa bekerja dengan profesional mungkin tidak akan membutuhkan alat-alat medis sekalipun, jika keadaannya sangat darurat, pisau dapurpun bisa jadi pisau bedah. Nyawa ibu dan anak ini tidak akan selamat jika anda terus kekeh uring-uringan seperti ini, lakukan operasi sesar segera, kita ambil peran. Bagaimana?"
Andre menuju taringnya, karena keras kepala si bidan membuat Andre harus menekan emosi, bidan ini tidak bisa di buat faham untuk melihat kondisi darurat.
"Baiklah kali ini aku akan mempercayai ide anda ini, apa yang akan dilakukan." ucap si bidan.
"Aku yang bedah dan menjahit, anda ambil bayinya, dan lakukan apapun yang anda bisa untuk menyelamatkan bayinya, aku yang ambil tali pusar anda yang memutuskan talinya." ucap Andre dengan tegas.
"Baik." tak banyak menolak lagi dia menurut apa yang dilakukan oleh Andre.
Elisa juga datang di waktu yang tepat, membawa semua alat-alat medis Andre yang sangat lengkap. Kotak itu semua alat-alat medis yang terpercaya, semuanya alat-alat medis yang bermerek. Membuat bidan itu langsung terdiam sejenak, melihat Andre begitu sangat cekatan dan sangat sigap menangani kasus pasien.
"Mas Andre, ini aku..." teriakan suara Elisa dari luar, Elisa yang langsung ditarik oleh Andre.
"Cepat masuk sini, mana kotak alat medisnya." tanya Andre.
"yang ini kan." ucap Elisa yang menujukan kotaknya.
"Iya. Elisa kamu bantu bereskan bantal dan duduk di belakang ibu, selalu cek kondisi denyut nadi dan jantungnya. Cepat, tak ada waktu." ucap Andre yang menyuruh Elisa untuk segera.
"Aah iya baiklah, aku akan kesana." ucap Elisa yang segera ke atas kelapa pasien.
__ADS_1
"Posisi kepala harus lebih tinggi dari badan, jangan biarkan kepala lebih rendah dari badan karena sirkus darah bisa naik, ibu akan mengalami lumpuh otak nantinya." ucap Andre.
"Baik. Seperti ini?" ucap Elisa.
"Apakah anda sudah siap Bu bidan, saya akan mulai." ucap Andre yang siap pakai sarung tangan dan menyiapkan semua alat-alat yang sudah di bersihkan dengan antiseptik. Elisa agak tegang dibuatnya.
...----------------...
Membutuhkan waktu setengah jam, akhirnya bayi itu pun dapat dikeluarkan dari rahim sang ibu, kerjasama yang mereka lakukan membuahkan hasil, sang bayi dan ibu masih tertolong, Andre dengan lihainya cari jemarinya, menjahit perut si Ibu, tak butuh waktu lama ambulans juga datang.
"Dokter Andre?" panggilan si perawat ambulan.
"Cepat bawa pasien yah, Pak Luthfi bisa ikut saya kerumah sakit untuk menemani istri anda, biarkan bayi disini. Bu bidan bisa mengurus sisanya kan, saya harus membawa ibu Erna untuk segera dapat penanganan medis. Mari pak Luthfi, saya akan temani anda." ujar Andre yang bergantian.
Siapa sebenarnya tuh orang, dari semua yang dia lakukan sangat hebat. Bahkan jam terbang ku saja pasti akan kalah dengannya, jahitan yang dia lakukan sangat indah dan rapi, aku sampai tidak melihat benang sedikitpun seperti pakai lem. Dalam hati bidan melihat kepergian Andre itu yang masuk kedalam ambulans.
Bayi yang sudah di bersihkan dan sudah di bedong, percantik langsung di berikan pada keluarga yang berjaga, hingga Kaka dari pak Luthfi yang memberikan azdan pertama untuk si baby. Elisa yang sedang sibuk merapikan alat-alat medis milik suaminya masih di dalam kamar, sambil mengambil satu-satunya alatnya.
"Maaf, sebelumnya. Bolehkan saya bertanya?" si bidan itu membantu Elisa merapikan alat-alat medis.
"Tanyakan saja jika itu mengganggu pikiran anda." ucap Elisa yang tidak menoleh sama sekali.
"Apakah pria yang tadi adalah suami anda?" tanya sangat penasaran.
"Iya, dia suami saya. Ada apa?" ucap Elisa yang cuek dan tak melihat sama sekali.
"Maaf sebelumnya. Saya telah meragukan profesi suami anda, apakah dia benar-benar seorang dokter." ucapan itu membuat Elisa melihat agak tajam dan menakutkan.
"Tidak usah di perjelas lagi kan, seharusnya anda jangan bersikap egois saat kondisi darurat, jangan menilai orang dari luar, karena untuk menyelamatkan nyawa buka titel atau jabatan yang akan di gunakan, tapi kerja sama, maaf jika ucapan ku sedikit menyinggung, karena sikap anda hampir mengantarkan nyawa Bu Erna dan bayinya. Mohon di mengerti, saya permisi." Elisa langsung pergi dari tempat dan langsung berpamitan dengan keluarga.
...----------------...
Elisa yang langsung pulang kerumah ibunya lagi setelah selesai melakukan tugas disana, Elisa yang langsung duduk dikursi karena belum sarapan. Ditemani oleh Azril yang duduk di sebelahnya, menatap tetehnya yang wajah kesel.
"Kesel aja zril" ucap Elisa yang duduk sambil makan tersebut.
"Hmmm bosen, tiap hari ada aja yang buat teteh kesel, gak ada hari cerah apa?" sindir Azril.
"Emang kesel aja zril." ucap Elisa yang langsung menatap adiknya.
"Perasaan Teteh akhir-akhir ini suka kesel tiba-tiba, mood suka nggak nentuh, sadar gak. Teteh lagi nyidam yah!"
"Aamiin Yarobalalamin semoga saja doamu di ghijaba." ucap Elisa yang langsung mengamininya.
"Emang belum ada tanda-tandanya teh?" ucap Azril yang sangat berharap.
"Gak tahu. Mas Andre katanya mau anak cewek, kenapa tiba-tiba dia sangat antusias gitu yah!"
"Iya baguslah kalau mas Andre sudah ada peningkatannya." ucap Azril yang sangat senangnya.
"Iya sih, ya syukurin aja lah" ucap Elisa yang meletakan piring kosongnya.
"Sekarang gimana? Masih kepikiran sama orang yang mengikuti teteh gak!" ucap azril yang khawatir.
"Nggak tahu lagi deh! Aku sudah gak mikirin itu, terserah aja aku mah!" ucap Elisa yang sudah biasa saja.
"Yaudah kalau gitu!" ucap Azril yang masih agak menjanggal karena Andre berpesan agar sangat hati-hati, karena tetehnya itu agak berbeda sekarang.
"Zril nanti anter teteh pulang kerumah besar yah, mau ngerjain tugas tapi leptop teteh, ada di rumah besar sekalian mau ambil buku-buku juga, jadi antar aku pulang yah."
"Ya ampun teh. Pake leptop aku aja dulu sih teh, ngapain pulang jauh-jauh aja." ucap Azril yang menanggapi yah.
__ADS_1
"Oke pake leptop ya kamu, terus buku-buku gimana? susah lah tanpa buku-buku, apa lagi buku catatan teteh juga ada di rumah besar."
"Iya deh! kapan?" adiknya hanya bisa pasrah kepada tetehnya itu.
Setelah selesai makan akhirnya Elisa yang mengunakan motor gede, Azril mengantar tetehnya kembali ke rumah besar, untuk mengambil beberapa baju dan leptop hingga perlengkapan lainnya.
Azril dan Elisa yang tidak menaruh curiga sedikitpun hari ini, karena tak ada pergerakan apapun dari musuh-musuhnya jadi hanya bisa santai saja.
Sesampainya di halaman rumah, seperti biasa satpam membukakan pintu tapi Elisa belum juga sadar, hingga mereka memarkirkan motornya di halaman.
"Kamu tunggu disini dulu ya zril, biar teteh aja yang naik ke atas." ucap Elisa.
"Iya teh." ujar Azril yang hanya bisa pasrah dan duduk di ruang tengah.
Elisa langsung naik ke lantai atas ke kamarnya, Elisa mengambil laptop buku-buku dan beberapa pakaian ganti untuk dibawa ke rumah orang tuanya. Sehingga sebuah bayangan hitam yang berada di belakang Elisa, membuat Elisa kaget refleks tubuhnya langsung berbalik, pria itu malah langsung memojokkan Elisa ke sudut lemari kaca.
"Aah! Siapa kamu." ucap Elisa yang tidak tahu siapa pria yang memakai topeng seperti itu.
Elisa yang mencoba memberontak, langsung terdengar suara pecahan beberapa barang yang jatuh, hingga kaca dari lemari itu pecah, suara itu berisik dalam kamar Elisa. Azril langsung terkejut dengan hal itu, takut terjadi apa-apa pada tetehnya. Azril langsung naik ke atas, sebelum sampai. Azril malah ditendang hingga berguling-guling di tangga, Azril langsung melihat siapa orang yah.
"Siapa kamu? dan mau apa kalian datang kesini?" ucap Azril yang dalam bahasa asing.
"Kamu tidak usah tahu siapa aku, dan kamu juga tak perlu ikut campur nak, kalau kamu mau selamat, bocah." jawabnya.
Azril langsung ditendang hingga tidak sadarkan diri, sedangkan di dalam kamar Elisa malah di suntik bius, karena selalu melawan. Akhirnya Elisa tak sadarkan diri juga, pria itu langsung membawa Elisa pergi meninggalkan tempat, para pembantu di sana sudah diikat kuat semua. Satpam yang berjaga adalah komplotan si pria misterius ini, elisa yang langsung di masukan kedalam mobil Jeep dan di bawa pergi.
...----------------...
Malam harinya, Andre kembali ke rumah besar karena mendengar dari ibu Siti, jika Elisa dan Azril pamit untukku kembali ke rumah besar ingin ambil sesuatu. Tapi sesampainya di rumah malah Andre di buat kaget, semua berantakan. Ia langsung bergegas masuk kedalam rumah, langsung melihat adiknya berlumuran darah Andre panik.
"Azril... Dek, kamu kenapa? Elisa, Bi Ina, Bu Sumi. pak Solikin, kemana semua orang." ucap Andre yang mengendong adiknya ke sofa lalu naik ke atas, kaget melihat kamarnya sudah acak adul.
"Apa-apa ini, apa yang terjadi sebenarnya." ucap Andre yang sangat kebingungan.
Andre hanya langsung mengambil kotak obat, dan beberapa alat medis untuk mengobati adiknya yang terluka itu. Segera Andre melakukan pertolongan pertama untuk adiknya, syukurlah adik tidak ada luka serius.
"Azril, Azril." Andre terus saja memanggil nama adiknya yang tidak sadarkan diri.
"Mas Andre... Teteh, teteh dibawa pergi orang asing." ucap Azril parau.
"Lalu, dimana semua pelayan." ucap Andre yang khawatir dengan penghuni rumah lainnya.
"Aku tidak tahu, coba mas Andre cek di belakang. Tadi aku mau melihat ke belakang, hanya saja terhenti karena suara dari atas kamar teteh." jawab Azril yang saat ini kepalanya kelingan.
Andre langsung kearah belakang melihat 4 pelayan wanita, dan 3 penjaga rumah malah di ikat, hingga mulutnya di bungkam pakai lakban hitam.
"Den bagus, mba Elisa..." ucap bi inah yang langsung menatap tuannya itu datang.
"Aku tahu, kalian semua gak apa-apa?" Andre yang sibuk membuka tali ikat semua pelayannya itu.
"Iya kami nggak apa-apa, mungkin hanya luka kecil, karena kami sempat melawan." jawab pak satpam.
"Coba sini saya cek semua kondisi kalian semua." ucap Andre yang membantu membangunkan semua pelayan dirumah ini.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Senin 27 Februari 2023