PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
66. Tidak diajak ke Prancis.


__ADS_3

Elisa sudah memilih 5 bodyguard yang akan menjadi pengawal pribadinya, beberapa bodyguard tersebut tidak menyangka jika seni beladiri Elisa cukup berbeda pada umumnya karena Elisa menggabungkan antara karate, taekwondo, Pacak silat dan seni totok titik syaraf lumpuh.


"Aku akan membawa mereka, tapi biar kan mereka untuk bersiap-siap dahulu. Aku tunggu di rumah saja yah, kalian bisa datang sendiri kan" ucap Elisa yang ingin langsung mereka untuk berkerja.


"Kami siap hanya ganti baju dan langsung berangkat nyonya" ucap Tyana.


"Kalian tidak membawa pembekalan begitu atau barang-barang kalian" ucap Elisa di pikirkan jika mereka akan tinggal satu atap dengan Elisa.


Mereka saling menatap satu sama lainnya, semua bodyguard itu tak mengerti apa yang di maksud oleh Elisa.


"Nyonya Elisa, mereka akan tetap tinggal di sini hanya mereka akan bekerja di bawa naungan anda, jadi bukan mereka ikut tinggal di rumah anda" penjelasan Glenn yang meluruskan.


"Ouh gitu ya! Aku pikir mereka akan tinggal di rumah kita, jadi pagi mereka akan di rumah yah. Hmmm- waktu kerja jam berapa?" Ucap Elisa, karena baru pertama kali Elisa punya bodyguard dalam naungannya makanya dia masih kurang faham sistem kerja.


"Tergantung pada kebutuhan yang anda perlukan. Karena mereka akan siap kapanpun anda inginkan" penjelasan Glenn.


"Kalau gitu aku harus punya kontak mereka dong? untuk menghubungi mereka" ucap Elisa.


"Bener nyonya, nanti saya akan memberikan kontak masing-masing anggota atau nyonya ingin minta sendiri dari mereka" ucap Glenn.


"Minta sendiri saja, tidak usah merepotkan kamu. Baiklah, saya harus pergi sekarang karena saya belum menyiapkan makan siang untuk mas Andre, jadi jika kalian sudah siap maka ikut aku, saya tunggu di luar" ucap Elisa yang langsung berjalan meninggalkan tempat.


"Baik Nyonya" serempak dari 5 orang tersebut.


Malam hari setelah selesai mandi Elisa duduk di samping suaminya yang saat ini sedang sibuk membaca email di laptopnya.


"Mas, tadi siang kamu kemana?" tanya Elisa yang ingin tahu, karena saat Elisa datang dengan makan siang untuk Andre malah tidak ada di rumah sakit.


"Ouh! tadi siang aku ada lagi pengecekan pasien, dan mungkin lagi di suatu tempat" ucap Andre yang tak jelas untuk mengatakannya.


"Dimana?" Elisa yang ngotot ingin tahu.


"Sudahlah, aku tak ingat aku pergi kemana saja tadi siang. Ouh ya !Bagaimana tadi siang kamu sudah datang ke markas bersama glenn?" Andre langsung mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kata kamu yang suruh Glenn datang dan untuk memilih pengawal ku sendiri?" ucap Elisa yang ingin tahu kepastian.


"Iya, mas yang suruh Glenn untuk menjemput mu dan menyuruh kamu untuk pilih sendiri sesuai selera kamu. Aku tahu kamu agak risih dengan semua itu tapi ini semua demi kebaikan kamu dan keamanan, walau aku masih cukup khawatir dengan keadaan kamu" ucap Andre yang menutup laptopnya.


"Kok gak ngomong sama aku dulu sebelumnya, kan pagi ya kita masih sempat ngobrol tuh. Kenapa kamu gak bilang-bilang kalau aku suruh pilih pengawal, hampir aku mencurigai Glenn"


"Lupa, makanya pas mas inget langsung mas suruh Glenn. Mas inget pas lagi di mobil jalan ke rumah sakit, jadi aku suruh Glenn menjemput kamu untuk memilihnya sendiri, karena Aoda saat ini belum bisa bekerja dengan baik, jika dia sembuh juga dia tak akan jadi pengawal lagi, nanti aku ganti pekerjaan sebagai IT gabungan" penjelasan Andre.


"Hmmm gitu yah, tapi kamu setidaknya bisa SMS, telfon atau chat aku kan. Biar aku gak salah kira, jadi tujuan kamu memberikan pengawal agar bisa mengawasi aku 24 jam" ucap Elisa yang ingin protes.


"Itu kamu tahu, aku tak bisa mengikuti kamu selama 24 jam kan, pengennya mah aku bisa bunsin atau di copy paste. Cuman gak bisa" candaan Andre.


"Cih dasar kamu ini" ucap Elisa yang tersipu malu.


"Sayang, besok aku mau ke Prancis. Ada urusan di sana" ucap Andre yang memainkan helaian rambut Elisa, ya niatnya minta izin.


"Prancis? ngapain?" ucap Elisa yang langsung menatap tajam penuh pertanyaan.


"Ada kerjaan aja di sana, tadi dapat telfon dari seseorang mas harus ke sana" ucap Andre yang menyelipkan rambut Elisa ke daun telinga.


"Ouh gitu" ucap Elisa, langsung mengambil hp Andre yang tergeletak tak jauh dari leptopnya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Andre yang heran karena istri langsung buru-buru ambil hp miliknya.


"Cari lokasi" ucap Elisa polos.


"Lokasi apaan?" Andre mengerutkan kedua alisnya.


"Tempat dan letak di Prancis ada apa aja?" ucap Elisa yang masuk ke google dan tempat-tempat wisata.


Semakin kebingungan si Andre karena tingkah istrinya itu, Elisa sibuk mengotak-atik hp Andre.


"Letak tempat apaan?" penuh tanda tanya Andre yang tak mengerti apa yang di katakan Elisa.

__ADS_1


"Kota Prancis itu dimana? dan letak-letak yang bisa untuk jajan enak" ucap Elisa polos.


"Hah? buat apa itu?" Andre semakin tak mengerti.


"Ya mau cari tempat wisatanya lah, buat refreshing setelah selesai kerja" ucap Elisa yang spontan.


"Tempat wisata? Tapi, sayang mas kesana gak liburan, tapi kerja" menjelaskan.


"Iya setidaknya ada waktu luang kan buat istirahat sejenak mas, makanya aku lagi cari spot yang bagus" ucap Elisa masih sibuk.


"Lagian mas di sana gak lebih dari seminggu kok, buat apa cari spot bagus?" Andre masih belum mengerti.


"Aduh— Mas walau gak lebih dari seminggu juga, pasti ada waktu di mana kamu bisa istirahat sejenak kan, makanya aku bantu kamu cari tempat wisatanya yang bagus dan dekat juga" ucap Elisa yang menjelaskan.


"Tapi sayang, mungkin juga gak akan sempat buat liburan karena waktu juga gak tentu bisa selesai cepat, bisa aja pulang ya malem. Jadi gak akan bisa liburan, enak juga waktu luang itu buat istirahat dan tidur di penginapan" ucap Andre yang menjelaskan.


"Yah gak asik mas masa kita jauh-jauh kesana cuman buat numpang tidur dan istirahat, Elisa bisa bosen lah nantinya" ucap Elisa yang langsung membuat Andre terdiam sejenak, sekarang dia tahu alasan kenapa Elisa ngotot sekali mencari tempat wisata.


"Heh? kita? kayak ada kesalahpahaman di sini. Oke kita luruskan dulu ini, jadi maksudnya tadi kamu ingin ikut?" ucap Andre yang ingin penjelasan.


"Lah, emang kamu pikir aku gak ikut yah?" ucap Elisa yang agak syok.


Andre menarik nafas dalam-dalam, membuka matanya menatap istrinya. "Sayang, begini. Pertama-tama mas jelaskan dulu, mas ke Prancis di sana buat kerja bukan traveling, yang kedua kayaknya mas akan sibuk juga selama beberapa waktu, dan terakhir mas juga gak bisa ngajak kamu kesana. Bahkan Glenn saja tidak akan ikut" penjelasan Andre dengan hati-hati.


"Lah kok gitu, jadi kamu kesana sendirian. Terus naik apa?" Elisa agak kecewa di sini.


"Iya, naik pesawat umum. Emang kesana cuman masalah kerjaan saja, bukan jalan-jalan" ucap Andre yang menyakinkan Elisa.


"Ouh gitu, baiklah" ucap Elisa yang lemes. Meletakan hp Andre kembali ke meja, lalu dia bangkit dari sofa dengan wajah kecewa.


"Iya cuman masalah kerjaan, kamu tenang saja sayang, mas akan pulang cepet kok kalau udah beres" ucap Andre yang merasa bersalah.


"Iya udah lanjutkan saja" ucap Elisa yang langsung jalan menuju pintu keluar.


"Kamu marah ya?" tebak Andre, elisa tak mau menujukan wajah kecewanya di hadapan Andre.


"Nggak!" nada judes dan sangat dingin, tanpa menoleh.


"Nggak apa-apa, emang kayak gini kan suara Elisa" jawabnya.


"Terus sekarang mau kemana?" tanya Andre yang melihat Elisa yang berjalan menuju pintu.


"Mau siapkan makan malam, emang kamu nggak mau makan?" masih dengan nada juteknya.


BRAKK!


Elisa membanting pintu cukup keras saat keluar dari kamar, Andre sampe menutup mata karena suara keras itu.


"Bilang ya mah gak marah, nada sewot terus bibir manyun 10 meter, yaudah pasrah saja malam ini, kayaknya akan jadi bulan-bulanan ngembek!" Dumal Andre yang menggeleng kepala.


Ingin mengejar istrinya turun, gara-gara ke inget jika dia menaruh kunci laci meja kantor ya di dasbor mobil. Jadi Andre keluar rumah ingin mengambilnya di mobil yang masih terparkir di halaman, Monika yang sedang ikut membantu menyiapkan makan melihat Andre yang terburu-buru keluar itu penasaran.


"Mau kemana dre?" Tanya Monika.


"Mau kedepan sebentar mah, Andre lupa naruh kunci laci di dasbor mobil tadi"


Saat di luar rumah, Andre membuka pintu mobil dan langsung mengambil apa yang dia cari tadi, tak sadar jika di belakang sudah ada Arafif yang berdiri tegap.


"Astaghfirullah! Papah bikin kaget Andre. Ngapain sih malem-malem pake baju hitam begini, bikin struk jantung aja" ucap Andre yang spontan kaget.


"Maaf Andre, papah sudah mengejutkan kamu malam-malam karena tiba-tiba muncul begini" ucapnya singkat.


"Yaudah, lupakan itu. Ada apa pah? malam-malam sampai ngagetin Andre begini" tanya Andre yang sangat penasaran.


"Andre, papah ingin membicarakan sesuatu denganmu" ucap Arafif yang tak bisa menatap wajah Andre.


"Katakan saja papah, gimana kalau kita ngobrol di dalem aja" tawar Andre.

__ADS_1


"Aaah! tidak usah Andre, di sini saja" ucap Arafif tak mau nanti bisa bertemu dengan Monika.


"Pah sekian lama papah tidak pulang semenjak kejadian itu, sekarang akhirnya papah pulang juga, tapi kenapa masih menolak untuk masuk"


"Tidak! apa-apa Andre, karena papah hanya ingin bicara denganmu, ini juga tak akan lama. Tadi papah menghubungi mu, kenapa panggilan papah tidak kau angkat" penjelasan Arafif.


"Maafnya pah, mungkin Andre gak dengar panggilan dari papah. Yaudahlah papah masuk aja duluan, kita lagi menyiapkan makan malam kok, kita bisa makan malam bersama lagi" ucap Andre.


"Nggak usah Andre, papah hanya sebentar mau bicara denganmu saja" ucap Arafif yang mendekat.


"Di dalam saja Pah, mau sampai kapan papah dan mamah uring-uringan begini. Malu sama umur Pah, pria sejati itu harusnya yang mengalah jangan kuat-kuat begini" sindir Andre.


"Bukan masalah itu Dre, papah masih belum bisa aja ketemu Monika" penjelasan Arafif.


"Pah, mamah kayak udah kangen sama paPah, udahlah soal itu bisa kalian bicarakan pelan-pelan kan" saran dari Andre, tapi Arafif yang masih enggan untuk menemui istrinya.


Jika dia menemui istrinya pasti akan teringat semua dengan dosa-dosanya dan rasa bersalah, terhadap Monika.


"Sudahlah nanti saja, jika masalah itu. Ini masalah lebih penting, apakah kamu sudah mendengarnya" ucap Arafif yang mengingatkan Andre.


"Soal apa?" Andre berwajah serius.


"Soal pendamping untukmu, mereka sedang merencanakan sebuah siasat yang baru" ucap Arafif.


"Ouh soal itu, iya aku sudah mendengar ya. Beberapa waktu lalu ada orang yang datang menawarkan untuk pelatihan nyonya ANDRILOS, mereka ingin melakukan seleksi di New York" ucap Andre.


"Lalu apakah Elisa sudah tahu?" ucap Arafif, khawatir.


"Aku tidak memberi tahunya, jika Elisa tahu pasti akan langsung menyerah Pah. Makanya aku gak kasih tahu soal ini sama Elisa" ucap Andre yang khawatir jika Elisa akan down.


"Papah tidak bisa bantu banyak Dre, kemampuan papah sebatas hanya bisa membawa kamu sampai ini" ucap Arafif.


"Tidak masalah pah, serahkan saja pada Andre" ucap Andre yang menangkan papahnya.


Makan malam ini terasa hening Elisa yang biasa banyak bicara seketika hanya diam seribu bahasa, Andre sudah mulai ketar ketir. Monika yang heran dan melihat ekspresi wajah Andre dan Elisa yang saling diam, tapi Andre selalu memperhatikan Elisa.


Kayaknya mereka lagi berantem nih, pasti Andre bikin masalah lagi. Dalam hati Monika sudah bisa menebak dengan faham.


"Elisa kamu lagi sakit yah" tanya Monika yang membuka percakapan.


"Nggak kok mah" jawab singkat.


"Kok muka kamu di tekuk aja, Andre kamu bikin masalah lagi ya" tebak Monika yang melirik pada Andre.


"Hah! Aku, tadi sudah Andre jelaskan mah tapi Elisa tak mau mengerti" ucap Andre yang membela diri sendiri.


"Kata siapa, Elisa mengerti kok. Nggak apa-apa kalau mas gak mau bawa Elisa, nggak masalah" protes elisa gak terima.


"Tuh mamah bisa lihat sendiri, gimana sikapnya. Gimana coba, bilang mengerti dan menerima tapi kamu diam aja kayak gini" ucap Andre yang tak mau kalah.


"Andre-Elisa, emang kalian ingin kemana lagi?" tanya Monika sangat penasaran.


"Anu mah, besok Andre mau ke Prancis. Dady menyuruh untuk adakan pertemuan, dan ada masalah kerjaan juga sih di sana"


"Ouh gitu, jadi kamu berniat tidak akan mengajak Elisa"


"Ya, kalau aku ajak Elisa bisa lama pulang ke indo mah"


"Lah dulu kamu juga kalau di suruh pulang ke indo juga selalu ogah-ogahan Dre, kok sekarang jawaban mu beda lagi"


"Ya beda lah mah, dulu mah gak ada tanggung jawab. Sekarang kan ada tanggung jawab yang harus aku urus" Penjelasan Andre tegas.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Kamis 13 Oktober 2022


__ADS_2