PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
97. Anak-anak Arafif.


__ADS_3

Keesokan harinya Elisa menemui Arafif dan Monika, mereka sangat senang bisa bertemu kembali menuju ruang makan mereka berpapasan. Elisa sedang bejalan dengan Azalea yang ingin memberitahu dalang atas insiden di ujian seleksi di High House itu, karena percakapan mereka sangat serius tak menyadari jika mereka akan menabraknya Arafif dan Monika dari arah lainnya.


"Ouh, Elisa sayang!" teriakan Monika yang refleks karena akan bertabrakan.


"Mamah!" Elisa kaget karena panggilan dan mendadak berpapasan tersebut.


"Bagaimana kabarmu nak?" ucap Monika yang merai tangan Elisa yang awalnya di gandeng oleh Azalea.


"Baik mah, mamah sendiri gimana kabarnya?" ucap Elisa sangat senang karena bisa bertemu dengan mamah Monika kembali.


"Mamah juga baik, ouhnya. Mamah kok gak lihat Andre ya, kemana dia Elisa?" tanya Monika yang sangat penasaran.


"Mas Andre gak ada di sini mah, gak tahu dia pergi kemana" ucap Elisa yang menjelaskan agak murung.


"Ouh gitu, emang gak bilang ke kamu? Dia mau pergi kemana, anak itu bikin orang tua khawatir, kamu pikir bisa menjenguk kalian di sini bisa bertemu. Tapi, anak itu juga tidak ada disini, kemana ya dia pergi" ucap monika yang sangat penasaran.


Elisa hanya bisa termenung karena tak bisa menjelaskan pada Monika. "Iya mah, mas Andre gak bilang apa-apa."


Melihat Arafif yang agak gugup dan selalu mencuri-curi pandangan pada Azalea, membuat Alea merasa tidak nyaman dengan Arafif, dikira Arafif sedang genit padanya. Alea menarik tangan Elisa, untuk segera pergi dari sana.


"Kak Elisa, ayo kita lanjut jalan yuk!" ucap alea seraya menarik tangan Elisa.


"Eh, iya tapi bukannya kita mau ke ruang makannya? Mamah sama Papah kalian mau kemana?" tanya Elisa yang sangat penasaran dengan tujuan dari Elisa.


"Ouh sama dong, kita juga berniat keruang makan juga sayang, eh tapi ini siapa yah? Kok mamah baru lihat anak ini?" ucap monika yang sangat penasaran.


Monika sempat melihat alea yang seperti agak aneh saat melihat suaminya, dan pandangan monika langsung tertuju pada Arafif yang tak kalah aneh juga sikapnya. Monika langsung merasa keheranan sama Arafif yang bersikapnya tidak seperti biasanya, danselalu melihat kearah alea.


"Pah, papah kenapa? Kurang enak badan yah" tebak Monika yang melihat ekspresi wajah Arafif agak pucat.


"Enggak kok, katanya kita mau keruang makan kapan akan pergi?" Arafif mengalihkan pembicaraan.


Azalea malah masih menggenggam tangan Elisa sangat erat, membuat Elisa melihat ke arah Alea. "Alea, nggak apa-apa. Mereka adalah orang tuaku juga, mereka mamah dan papah kak Andre" penjelasan Elisa.


"Iya kak Elisa aku tahu!" ucap alea yang masih mengalihkan pandangannya.


Gawat jika aku menatap alea seperti ini pasti dia akan curiga dan akan menilai aku sebagai pria yang gak tahu diri, sepertinya dia sangat takut padaku. Dumal Arafif dalam hatinya.


"Monika, sebaik kamu pergi saja duluan ke ruang makan dengan Elisa, sepertinya aku masih ada urusan. Nanti aku akan menyusul kalian di ruang makan setelah urusanku selesai, aku pergi dulunya" ucap Arafif yang langsung berjalan pergi meninggalkan mereka.


"Eh, Pah! Kok malah tiba-tiba begitu, apakah gak bisa di tunda dulu kita sarapan bersama-sama?" ucap Monika, tapi karena Arafif agak gugup jadi tak mendengar apapun yang dikatakan oleh Monika.


"Hmph! Agak aneh sama sikapnya tadi kamu merasa gitu gak sayang?" sambung Monika, seraya menatap kepergian suaminya


"Iya mah, papah kenapa ya? kayak lagi menghindari sesuatu, apakah papah lagi badmood makan bersama dengan Elisa kah?" ucap Elisa yang jadi pesimis.


"Nggak sayang, papahmu entah akhir-akhir ini agak aneh saja. Hmph!... Ouh! Sampai lupa, menanyakan soal gadis manis yang di sebelah kamu itu siapa namanya. Bolehkah mamah kenalan, kayaknya tidak asing" ucap Monika yang menatap ke arah Alea dan Elisa.


"Ouh ini, Namanya Azalea panggilan alea" ucap Elisa yang memperkenalkan alea pada mamah Monika.


DEG!!!


Jangan-jangan anak ini adalah... Mungkin itu alasan kenapa dia menghindar saat ini, mungkin dia canggung bertemu dengan anaknya sendiri. Apa lagi sampai berpapasan seperti ini. Iya, itu pasti. Dia baru saja bertemu dengannya selama bertahun-tahun, maka pasti akan ada jarak di antara mereka. Dumal dalam benak Monika.


"Mah, mamah. Kok malah bengong sih mah, mamah baik-baik saja kan? jangan bikin Elisa khawatir dong mah, atau mamah kepikiran papah yang pergi itu yah, atau memikirkan mas Andre yang entah pergi kemana?" asal tebak Elisa.


"Eh, nggak kok sayang, lebih baik kita ngobrol sambil jalan yuk. Mamah sudah laper banget nih, yuk!" ucap Monika seraya mengandeng Alea dan Elisa.


Monika yang berada di tengah-tengah gadis-gadis muda itu senang gembira, seperti anak ABG. Akhirnya Monika bisa bertemu tanpa sengaja dengan putri kandung Arafif, sesekali Monika melihat alea.


"Oh, jadi ini yang namanya azalea yah? Apakah kamu alea keponakan kak keyshu?" ucap Monika yang ingin memastikan.


"Iya mah, dan alea ini punya saudara kembar. Tapi dia lagi ikut mas Andre namanya Alex mah, dia pria yang sangat tampan dan kuat" penjelasan Elisa.

__ADS_1


"Begitukah? Hmm-sayang sekali, tapi cepat atau lambat kita pasti akan bertemu seperti sekarang ini, mamah bisa ketemu dengan alea gadis manis. Sebuah keajaiban yang tidak mamah bayangkan, jika harus bertemu dengan alea di sini" ucap Monika yang membuat Elisa kebinggungan dengan tingkah mamahnya yang kegirangan itu.


"Iya mah coba mamah juga bisa ketemu dia juga" Ucap Elisa yang tidak terlalu memusingkan soal ucapan mamah itu.


Mereka akhirnya bercerita, setelah sarapan. Lalu tak lama mereka dengan santai tiba-tiba terdengar suara helikopter dari atas ketinggian. Elisa ingat jika helikopter itu di naiki oleh suaminya, dan beberapa orang.


Mas Andre? Apakah mas Andre pulang! Aku harus cek kondisi yah, dan segera minta maaf padanya, terserah dia mau terima atau nggak ucapan maafku yang penting aku sudah meminta maaf. Isi dalam hati Elisa.


Elisa bergegas pergi menuju tempat helikopter itu mendarat, saat baling-baling itu sudah berhenti berputar. Elisa senang ingin menyambut suaminya, tapi saat melihat beberapa orang yang keluar dari sana luka-luka membuat senyum yang bahagia seketika seram.


"Eh, apa yang terjadi kok mereka keluar dari helikopter malah babak belur begitu, sebabnya kenapa yah!" ucap Elisa yang bicara dengan sendirinya.


"Ouh, Alex!" teriak Keyshu yang kaget melihat keponakan ya di bawa dengan tandu, membuat Arafif yang dari jarak jauh itu langsung kaget melihat putranya malah tidak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi ini?" ucap Elisa yang sangat kebingungan.


"Markas Utara telah di serang, Tuan Andre dan lainnya sedang berjuang di sana."


"Apa, kok bisa. Lalu bagaimana keadaan disana?" tanya Monika panik.


"Kacau, kita harus kirim beberapa orang lagi untuk membantu kesana" ucap Keyshu yang sangat panik.


"Tuan Andre bilang jangan. Biarkan pasukannya saja yang sekarang berapapun yang masih bertahan disana, jangan ada yang datang untuk bala bantuan. Semua pasukan akan tetap disini saja, takutnya jika kita kesana membantu. Disini akan kosong dan mudah untuk di serang, tuan berfikir bahwa ini adalah jebakan" ucap prajurit.


"Begitu yah!" ucap Keyshu yang langsung mengerti dengan apa tujuan dari Andre.


"KEYSHU! Cepat kita bawa Alex untuk pengobatan dulu, kita akan pikirkan lagi. Untuk membantu Andre, kita tidak akan kehabisan waktu nanti" ucap Arafif yang berteriak dari kejauhan.


"Kamu benar, ayo kita pergi ke ruang rawat. Bawa semua orang yang terluka untuk pengobatan, cepat bawa" perintah Keyshu.


"Baik tuan Keyshu" ucap prajurit yang membantu membawa pasien yang di bawa oleh helikopter.


"Apakah semua ini ada kaitannya dengan insiden saat di High House?" Dumal Elisa yang pelan.


Elisa hanya bisa tersenyum masam karena tak bisa menunjukkan ekspresi apapun untuk saat ini, dia juga sangat khawatir akan kondisi suaminya.


Elisa bekerjasama dengan yang lainnya untuk memberikan pertolongan pertama kepada para prajurit yang terluka, sedangkan Arafif dan Keyshu sedang membantu proses operasi untuk Alex yang terluka cukup parah.


"Kita membutuhkan pendonor darah untuk menyelamatkan dia, tapi tidak ada bank darah di sini. Jika harus ambil dari RS akan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan di sini juga tidak ada stok darah. Bagaimana ini?" Keyshu yang panik dan kalang kabut.


Alea yang mendengar hal itu sangat terkejut, langsung ia menyodorkan dirinya untuk menjadi relawan memberikan darahnya untuk saudara kembar yang sedang terluka parah.


"Pakai darahku saja paman, Alex adalah saudara kembarku mungkin darah kami akan cocok" ucap alea mata sudah berkaca-kaca.


"Tidak usah, berikan darahku saja?" ucap Arafif yang tidak mau jika putrinya harus berkorban, sedangkan dia masih memiliki seorang ayah yang masih berdiri tegap.


"Kamu tidak punya hipertensi ataupun diabetes kan?" ucap Keyshu.


"InsyaAllah aku masih sehat" ucap Arafif yang percaya diri.


"Aku coba tes darahmu dulu, jika darahmu baik-baik saja akan kuberikan pada Alex" ucap Keyshu.


"Ya silakan!" ujar Arafif yang sudah menetapkan pilihannya untuk menolong putranya.


"Lebih baik kamu juga ikut alea, sapa tahu kamu juga dapat membantu karena kalian satu-satunya keluarga yang memiliki darah yang sama" ucap Keyshu.


Alea tidak terlalu mempedulikan ucapan Keyshu itu, hanya berfokus pada ucapan untuk membantu Alex agar bisa kembali sembuh.


Keduanya langsung dicek, ternyata Arafif bisa mendonorkan darahnya untuk putranya. Alea juga bisa membantu untuk stok cadangan, karena mereka memiliki darah yang sama.


Aneh, pak tua ayah kak Andre kok bisa punya darah yang sama dengan kami. Tapi paman key juga sangat percaya sekali padanya, sebenarnya ada hubungan apa dia dengan kami. Apakah dia ayah kandung kami yang telah meninggal kami, tidak mungkin paman key pernah bilang jika ayah kami telah meninggal saat tugas. Jadi itu tidak mungkin, iya itu tidak mungkin. Dalam hati alea saat darahnya di ambil saat ini.


"Alea, kamu istirahat saja dulu ya jangan kemana-mana. Arafif kau juga jangan pergi kemana-mana dulu, aku akan selamatkan Alex dengan nyawaku sendiri kamu tidak usah khawatir" ucap Keyshu yang sudah mendapatkan 2 kantong plastik darah.

__ADS_1


"Iya, ku percaya dia padamu kak" ucap Arafif yang saat ini hanya bisa berharap jika putranya baik-baik saja.


Andre sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang telah kamu lakukan nak, kenapa kamu juga melibatkan Alex dalam masalah mu. Jika kamu ingin membalas dendam mu, setidaknya kamu lampiaskan pada papah nak! Mungkin papah akan kuat jika kamu melakukan pada papah, tapi tak akan kuat jika kamu membalasnya pada Alex atau Alea. dalam pikiran Arafif.


"Bagaimana keadaan mereka, aku ingin menjenguknya" terdengar suara gaduh dari luar ruangan.


Monika menerobos masuk melihat Alea dan suaminya sedang di ambil darahnya. Arafif yang melihat istrinya masuk dengan tergesa-gesa langsung menegurnya, karena sudah membuat keributan di ruangan kesehatan.


"Ada apa ini Monika? Kenapa kamu membuat keributan di ruangan medis" sewot Arafif.


Monica tidak langsung menubruk suaminya atau menghampirinya malah mendatangi ranjang Alea dan ingin tahu keadaannya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Monika dengan raut wajah yang khawatir, dan sangat panik. Sedangkan Alea sangat kebingungan karena Monika yang langsung mendatangi dirinya, dan bertanya-tanya kenapa istri dari seseorang lebih mengkhawatirkan kondisinya dibandingkan suaminya.


"Oh iya, nyonya tidak usah khawatir. Saya baik-baik saja, lagi pula saya sudah sering memberikan donor darah di klinik-klinik, jadi hanya satu atau dua kantong saja saya masih bisa" ucap alea yang menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu, nanti jika ada apa-apa kamu langsung bilang ya. Kamu jangan memendam ya sendiri, kamu bisa mengatakan apapun jika kamu sakit ya?" ucap Monica yang begitu perhatian dan khawatir pada putrinya itu.


"Baik nyonya, tapi seharusnya anda menanyakan kabar suami Anda kan. Lalu kenapa anda malah menanyakan kondisiku, suami anda sebelah sana" ucap Alea tidak enakan dengan Monika.


"Aku tidak apa-apa, malah itu bagus jika dia menanyakannya padamu dulu Alea, tandanya dia terlalu Sayang padamu" sambung Arafif.


"Sekarang kamu dengar sendiri kan, apa yang dikatakan oleh suamiku, dia lebih senang kalau aku memperhatikanmu dibandingkan aku harus memperhatikan dia."


"Kenapa bisa begitu, aku bukan siapa-siapa kalian kenapa Nyonya begitu sangat perhatian padaku?" Alea kebingungan dengan sikap keduanya.


"Karena kamu adalah putriku" spontan Monika mengucapkan hal itu membuat Alea kebingungan ibunya sudah meninggal lama.


"Bagaimana bisa aku menjadi putri anda?" ujar Alea yang kebingungan dengan kata-kata Monika.


"Kamu sama seperti Elisa dan Andre yang sudah ku anggap seperti anakku sendiri, jadi apa aku salah. Jika kalau aku menganggap mu sebagai putriku?" Monika cukup hati-hati dalam kata-katanya, takut Alea menjadi tersinggung membuatnya tidak bisa diterima sebagai ibu sambung dari Alea.


Mendengar hal itu Alea sangat bahagia karena sudah lama sekali, Alea ingin memiliki orang tua yang lengkap.


"Tidak! Aku juga sangat senang bisa menjadi putri anda" dengan senyuman mengembang terlukis di wajah Alea.


Arafif dan Monika yang mendengar hal itu sangat senang dan tidak bisa melukiskan rasa kebahagiaannya terhadap apa yang mereka dengar tersebut, ternyata Alea mau menerima Monika.


"Benarkah begitu? Jadi apakah kamu mau menjadi putriku" seakan tidak percaya dengan ucapan Alea dia ingin terus mengulang apa yang dia dengar dari mulut alea.


"Iya aku mau. Tapi, kalau Alex juga mau menjadi putramu. Jadi apakah Nyonya bisa menerima Alex juga sebagai anak Nyonya, apakah kalian keberatan" ucap alea yang sangat polos.


"Tentu saja, tentu nak! Malah aku sangat senang jika kalian semua mau menjadi anak-anak ku juga, aku akan senang hati menerima kalian dengan lapang dada, malah aku lebih senang punya banyak anak" ujar Monika tidak bisa melampiaskan kebahagiaan dia.


"Saat dia sadar nanti aku akan membicarakan dengannya dan memberitahunya" ucap alea yang tersenyum lebar.


"Iya, kamu boleh memberitahunya nanti, kita berdoa dulu agar dia selamat" ucap monika yang tak bisa berkata-kata lagi rasa senangnya.


"Anda benar semoga saja dia selamat" ujar Alea yang membenarkan hal itu.


"Amin yarobbalalamin"


"Nyonya, apakah boleh aku memeluk anda. Jika tidak boleh tidak apa-apa sih, aku hanya ingin merasakan pelukan seorang ibu itu seperti apa? Alea kadang sangat merindukan ibu," ucap alea.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 15 November 2022.

__ADS_1


__ADS_2