
Elisa yang ditinggal oleh suaminya yang ngambek karena dibikin kesal oleh tingkahnya itu, Elisa berjalan berjinjit-jinjit menuruni tangga. Karena merasakan perih dan sakit, di bagian itu. Karena baru berefek saat dia menginjak lantai, Elisa berusaha bejalan normal tapi saat melangkah seperti ada sesuatu yang mengganjal disana, tapi berusaha untuk menahannya.
"Ternyata sakit juga ya buat jalan, ini gimana caranya aku akan turun ke bawa, dia lagi ngembek lagi. Sudahlah terpaksa harus jalan sendiri, ini gila rasanya seperti seluruh kakiku tidak punya tulang" Dumal Elisa yang agak kesal seraya berjalan dengan sangat hati-hati. Saat menuruni tangga pun cukup hati-hati takut tergelincir.
Sedangkan Andre sedang sibuk masak di dapur untuk sarapan mereka siang ini, hingga ada sebuah bel pintu yang membuat Elisa menoleh ke arah pintu. Andre juga menoleh dan melihat Elisa sudah berdiri di bawah tangga, melihat Elisa yang mematung disana karena tidak mau suaminya tahu jika ia jalan seperti anak kecil yang baru bisa melangkah.
Andre juga tahu jika situasi istrinya itu saat ini, karena Elisa sesekali meringis seperti menahan rasa sakit. Sungguh dalam benak hati Andre ada rasa penyesalan, karena telah melakukan tindakan gegabah.
"Biar aku saja yang buka, kamu duduk saja di kursi" ucap Andre yang melihat Elisa yang baru turun dari tangga.
"Ouh, baiklah. Tapi, ngomong-ngomong siapa yang bertamu di tempat ini, jauh dari mana-mana cukup private" ucap Elisa yang menarik kursi.
Elisa hanya bisa menuruti apa yang di katakan oleh sang suami, Andre juga sudah membuat beberapa hidangan di atas meja. Andre kembali lagi dengan sekotak dedaunan, dan entah apa lagi yang ada di dalam tas jinjing yang dibawanya itu. Tak lama seseorang mengikuti dari belakang, dia adalah orang yang mengantar apa yang di minta Andre.
"Itu apa?" Tanya elisa yang sangat penasaran dengan apa yang di bawa oleh suaminya.
"Udah nanti juga kamu tahu ini apa, diem saja dulu di situ. Fokus saja sama hidangan yang saat ini di depan mata mu, kamu pasti laperkan, makan saja dulu." ucap Andre yang menyuruh Elisa untuk tidak tanya-tanya dulu, Andre menyiapkan satu piring lagi di meja untuk orang suruhannya itu.
ANDRE : Duduklah, ikut makan dengan kita. Maaf sudah merepotkan, kamu ku suruh kesini dengan tiba-tiba. Bagaimana tadi perjalanan apakah sulit, maaf ya kamu harus banyak tersesat di jalan.
PESURUH : Ah, tidak apa Tuan. Anda tak usah repot-repot juga memberikan saja hidangan ini, apa lagi di suruh duduk disini.
ANDRE : Ouhnya, sebelum kembali kesana kita sarapan dulu. Kita sama-sama saja pulang ke istana Monarfi, karena kami juga sedang menunggu jemputan.
ELISA : Loh emang tadi naik apa kesini?
ANDRE : Mobilnya mogok di jalan, jadi aku suruh mesin IT milik Dady yang jenius agar menjemputnya, untuk diantarkan kesini robot kendaraan umum itu.
ELISA : Yaudah mas kita pulang naik itu aja lagi nggak usah nunggu mobil jemputan.
ANDRE : Mobil itu dipakai dengan jarak tertentu tidak mungkin digunakan sampai istana Monarfi, dia menggunakan wi-fi dan baterai jarak dekat jadi cuman sampai perbatasan rumah ini saja, jika lebih dari jangkauan dia akan mati, walaupun dayanya masih penuh.
"Kok bisa gitu, seharusnya bikin dong yang bisa ngirit bensin, terus pakainya tenaga surya, atau tenaga air gitu yang gampang dicari bahan bakunya itu" Elisa mulai protes dengan apa yang dijelaskan oleh Andre.
"Nanti ya kalau kamu jadi profesor perakit robot, kamu bikin yang seperti itu, kamu ini ada-ada aja masih untung ada robot itu cukup membantu, gimana ceritanya kalau dia nggak sampai ke sini, apa jadinya nanti" ucap Andre yang sedang merapikan alat-alat dapur.
"Iya juga sih, kasihan pasti akan tersesat dijalan yang antrabrata. Tapi, gimana kalau mogoknya di jalan di wilayah perbatasan apakah si robot itu akan bisa menjemputnya" pertanyaan Elisa membuat Andre harus berfikir keras.
"Ya terpaksa dia harus jalan kaki dulu hingga sampai ke perbatasan, karena robot ini gak bisa kesana karena jarak melebihi kapasitas yang digunakan" Penjelasan Andre.
"Yah kasihan dong! Kalau kayak gitu, gimana kalau jaraknya di perpanjang sampai jembatan tol disana itu, apakah bisa mas" ucap Elisa yang terus saja bertanya.
"Kamu ini kalau tanya nggak ada habis-habisnya deh! Gak mau kalah kalau berdebat, udah mendingan kamu ambil nasi terus makan, sekalian minta tolong ambilkan nasinya untuknya, aku ambil lauk lainnya" ujar Andre yang mengambil lauk lainnya.
Setelah makan itu, Andre yang langsung membuat ramuan untuk penawar racun untuk Elisa. Sedangkan Elisa masih duduk di ruang tenang dengan orang suruhannya itu, Elisa melihat dihalaman sudah ada seprai dan atribut sarung bantal hingga pakaian Andre yang sudah berjejer di pajangan halaman sedang di jemur.
Pantesan aku merasa seprainya kok berubah, ternyata sudah di cuci bersih toh semuanya. Udah jago masak, jago bersih-bersih, hingga ngurusin semuanya juga bisa. Emang suami idaman kan, he-he-he beruntung ya aku di jadikan Ratunya, walau dia seorang Raja tapi tak pernah mengandalkan semuanya pada pelayan. Dalam hati Elisa.
__ADS_1
"Sayang, coba kamu minum ini" Andre yang datang dengan membuatkan minum untuk tamunya, sekaligus membuat penawaran racun untuk Elisa.
"Apa ini?" Ucap Elisa yang kebinggungan saat menerima segelas yang berisi sari-sari bahan yang dia buat tadi.
"Udah cepat kamu minum saja, jangan banyak tanya. Ini penawar racun, semua demi kesembuhan kamu. Biar gak pada biru-biru, semalam aku lupa lepas gaun kamu jadi efeknya kebiruan di tubuh kamu," ucap Andre yang menuangkan teh ke gelas tamunya itu.
PELAYAN : Terimakasih Tuan.
ANDRE : Silakan di minum dulu, kita akan kembali ke istana Monarfi agak siang saja. Nunggu pakaian kering, karena mobil juga belum datang untuk menjemput kita.
"Cuih... Ini pahit banget, mas ini apa sih kok gak enak rasanya, aku serasa makan dedaunan, pahit. Gak enak banget si, nggak mau ah!" ucap Elisa.
"Habiskan, itu penawar racunnya agar tubuh kamu gak memar biru kayak gitu. Jangan seperti anak kecil gitu, kalau kamu mau cepat sembuh, lalu kalau mau manis makan gula dan katakan hal-hal yang manis maka akan jadi manis, coba kamu minum yah sambil natep aku pasti itu akan berubah jadi manis loh" ucap Andre yang mengedipkan matanya.
"Idih, pengen banget yah. Mas Andre, boleh tidak Elisa gak minum ini" seraya meletakan gelasnya di meja, penawar itu masih penuh.
"Kenapa emangnya?" Andre kebinggungan dengan apa yang diminta Elisa.
"Elisa takut, jika Elisa minum ini nanti efeknya lain lagi bukan sembuh malah berdampak hal lainnya." ucap Elisa wajahnya menujukan kekhawatiran.
"Takut kenapa lagi, hal lainnya gimana maksudnya" ucap Andre yang di buat cemas karena Elisa.
"Usaha kita semalam akan jadi sia-sia dong! Nanti kalau gak jadi gimana?" Ucap Elisa yang memegangi perutnya. Khawatir jika benih yang tebar Andre malah gak jadi tumbuh, gara-gara jamu yang di minum Elisa saat ini.
"Hah! Usaha apa yang kamu maksud" ucap Andre yang tak faham dengan apa yang di katakan oleh istrinya itu.
"Hah? Apa itu" Andre semakin tidak faham dengan apa yang dikatakan.
"Masa harus dijelaskan, kalau Elisa minum ini nanti benih yang kamu tebar semalam gak jadi dong!" Ucap Elisa yang khawatir.
"Astaghfirullah, kirain apaan" ucap Andre yang agak lega.
"Nanti bikin lagi ya kalau gak jadi" ujar Elisa yang protektif terhadap suaminya.
"Iya, udah cepat di minum. Satu-satu dipikirkan dulu sayang, jangan sekaligus begitu, sekarang ini yang lebih baik adalah menetralisir racun di tubuhmu dulu. Lalu baru pikirkan lainnya lagi, jangan buru-buru" ucap Andre yang menenangkan Elisa.
"Ya mau kapan lagi kalau gak sekarang, Elisa bosen tahu di tagih mulu sama mamah dan ibu. Kamu gak akan tahu gimana rasanya jadi aku, kayaknya mereka itu kepengen banget punya cucu, mas jadi gimana?" Ucap Elisa yang merengek pada suaminya.
"Ya kan anak bukan di bikin dari tepung terigu, kan di kirim dari Allah sebagai amanat bagi kita, jika mereka terus minta tinggal bilang aja Tuhan belum kasih yang waktu yang terbaik buat memberikan amanah dan anugerah pada kita, jadi yang penting kita berdoa dan terus usaha semaksimal mungkin." Ucap Andre yang menenangkan istrinya.
Elisa cemberut saat Andre sudah bersabda, dia tahu jika suaminya tidak terlalu memikirkan hal itu. Walau Elisa sudah sering memohon, tapi seakan anak itu tidak berarti bagi Andre.
Setelah selesai Andre yang bersiap-siap akan kembali ke istana Monarfi, di jemput oleh seseorang dari ajudan Aoda yang saat ini sedang menunggunya. Sampainya di istana Monarfi Andre yang hanya mengantar Elisa dan tamu ya saja, dia langsung pergi lagi bersama pengawal itu.
"Sayang, kamu masuk duluan ya. Aku akan menyelesaikan tugas lainnya dulu hari ini, masih ada yang belum aku bereskan, kemungkinan aku akan pulang besok jadi tidak usah menunggu ku untuk pulang," ucap Andre yang memperingatkan Elisa bahwa dirinya akan lama di tempat lainnya.
"Emangnya kamu mau kemana lagi si mas, udah mau pergi aja. Ada urusan apa yang belum kamu selesaikan, gak bisakah nanti besok saja" Ucap Elisa yang menahan kepergian Andre.
__ADS_1
"Nggak bisa, ini masalah yang cukup penting. Kamu gak usah khawatir aku akan pulang lagi kok, hanya akan menyelesaikan sesuatu saja, gih masuk dulu saja masuk dulu. Kamu harus banyak istirahat saja kalau mau benih itu tumbuh, diminum obat yang nanti di siapkan oleh pelayan yah" ucap Andre yang langsung masuk kedalam mobil kembali.
Elisa yang di tinggal hanya diam tak bisa berkata-kata apa-apa lagi, hanya bisa melihat kepergian Andre yang sudah menjauh.
"Elisa, apakah kamu baik-baik saja nak! Mana Andre" ucap Arafif yang datang menghampiri Elisa.
"Papah, Dady. Mas Andre pergi lagi, aku juga gak tahu dia akan pergi kemana lagi, karena tidak bilang mau pergi kemana? Tapi katanya ada urusan yang harus di selesaikan"ujar Elisa yang menjelaskan.
"Yasudahlah cepat kamu masuk dulu, katanya kamu habis di culik lagi oleh beberapa orang, apakah kamu sekarang lebih baik nak?" Ujar Brandon yang khawatir.
"Dady tenang saja, aku baik kok hanya saja emang masih agak syok. Karena aku baru saja datang keacara seperti itu tapi kesan pertama yang kurasakan malah rasa takut dan khawatir, itu sih yang aku sesali dad" penjelasan Elisa yang langsung di rangkul oleh kedua ayahnya.
"Iya juga, ini kan debut pertamamu, syukurlah tapi Andre langsung menemukanmu." Ujar Brandon yang sangat lega.
Mereka berjalan masuk meninggalkan tempat, terlihat beberapa pelayan juga menyambut kedatangan Nyonya mudahnya yang baru datang.
Di sisi lainnya Andre yang telah sampai di suatu tempat dia di sambut dengan baik oleh parah pengawal ya, langsung menghampiri untuk memberikan laporan yang mereka dapat.
"Tuan, mereka tidak ada yang mau mengakui suruhan dari siapa, mereka lebih baik bungkam selamanya dari pada harus mengatakan kebenaran." ucap Aoda yang melaporkan kejadian.
"Iya, Tuan mereka saja tak ada yang mau mengakui apapun, tidak bisa mereka katakan jadi apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan informasi ya" ucap Glenn yang mengekor di belakang Andre.
"Apa yang kamu lakukan selama ini, pasti ada informasi lainnya yang kalian dapat lokasi dan situasi saat ini, kita bisa gunakan itu sebagai alat pencarian kita, galih lagi dalam dan lebih teliti lagi, aku tak mau tahu aku hanya ingin tahu siapa cicunguk yang sudah berani mengundang ku." Ucap Andre yang sinis dan agak marah.
Kedua pengawal yang di belakangnya Glenn dan Aoda ketakutan saat melihat Andre dalam mode iblis, Aoda dan Glenn sudah terbiasa dengan hal itu jadi masih santai menghadapinya.
"Anda benar Tuan, ada seseorang yang kami loloskan mereka mendatangi suatu tempat, tapi saat kita datangi orang yang kita bebaskan itu malah sudah tewas di tempat tak ada orang disana" ucap Aoda yang menjalankan kejadian yang mereka alami.
"Bukannya tidak ada orang, tapi dia sudah kabur setelah membunuh mata-mata yang kalian lolos itu, berati dia bukan orang biasa, pasti sudah tahu beberapa informasi milik kita. Untuk tidak meninggalkan jejak dia membunuh mata-mata yang sudah memberikan dia informasi, seharusnya kalian lebih teliti lagi saat meloloskan orang." Andre agak geram dengan apa yang terjadi saat ini.
"Kami minta maaf tuan, karena kami telah kehilangan jejak informasi tersebut, dan karena kebodohannya dan kelalaian kamu. Lalu sekarang kita harus bagaimana dengan mereka?" ucap Glenn yang meminta maaf dengan hormat.
"Satu-satunya cara kita harus menggali lebih dari mereka. Coba cek lagi apakah mereka memiliki senjata terakhir yang akan mereka gunakan untuk lolos dari introgasi kita, kalian lacak di seluruh tubuh mereka ada apa saja, takutnya mereka memiliki sebuah alas yang berbahaya, kemungkin ada bom peledak atau sejenisnya, atau bisa saja ada racun yang berbahaya untuk membuat mereka bunuh diri." ucap Andre yang sudah hafal dengan gerakan-gerakannya seperti itu.
"Tuan Andre cukup detail. Kami sudah melakukan pengecekan secara menyeluruh, tapi kami di kejutkan dengan apa yang kamu temukan, ternyata mereka semua tidak memiliki lidah?" ucap Glenn yang menjelaskan kejadian saat ini.
"Apa maksudmu mereka tidak memiliki lidah Glenn?" Andre agak syok dengan ucapan Glenn.
"Ada beberapa tawanan yang kita tangkap ternyata tidak memiliki lidah, hanya beberapa yang kemungkinan mereka adalah ketua mereka yang memiliki lidah, tapi mereka tetap bungkam tidak akan bicara apapun." penjelasan Glenn yang membuat Andre marah.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Minggu 11 Desember 2022.