PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
130. Bencana Alam.


__ADS_3

Keesokan paginya, Andre yang sholat subuh berjamaah di masjid sama dengan mertuanya setiap perjalanan banyak bapak-bapak yang datang yang berjalan bersama ke masjid. Setelah selesai menunaikan ibadah, mereka pulang ke rumah dulu. Menyapa dua wanita di rumah, yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Assalamualaikum," ucap Yusman dan Andre bersama, dari dalam Elisa dan ibunya langsung menyahut salamnya.


"Waalaikumsalam." jawab kompak Elisa dan ibunya, langsung menghampiri ke pintu depan


Elisa mencium tangan Andre, sedangkan ibu Siti juga mencium tangan Yusman, lalu Elisa mencium tangan ayah dan Andre mencium tangan ibu.


"Bu, nanti ayah sama nak Andre mau ke empang dulu ya, biasalah mau pengecekan sebelum dijual" ucap Yusman yang duduk di sofa ruang tamu.


"Jangan lama-lama loh ayah, kan bentar lagi mau sarapan, kasihan nanti nak Andre mereka mau ke toko katanya. Terus Ayah juga katanya mau ke nikahannya anaknya Pak Samsul, awas lo nanti telat" peringatan Bu Siti pada suaminya.


"Nggak akan lupa bu, bentar doang! Kan cuma ngecek, nak Andre cepat ganti bajumu nanti kita langsung pergi" ucap Yusman menyuruh menantu untuk ganti baju.


"Andre nggak bawa baju lagi ayah, cuman begini doang!" ucap Andre yang mengatakan pada ayahnya.


"Walah piye toh, kamu ini mau nginep kok ndak niat begitu gak bawa baju lagi." ucap Yusman yang menegur menantunya.


"Aku sama mas Andre emang nggak niat mau nginep, kan tadi malam karena ibu sama ayah kemalaman pulang dari pengajiannya, jadi kan kita terpaksa menginap di rumah ayah." ucap Elisa yang langsung nyambung.


"Yaudahlah pakai baju seadanya aja, yuk kita ke empang sekarang, eh bentar deh bapak lepas sarung dulu nanti kotor." ucap Yusman yang bangkit dari sofa menuju kamarnya.


"Eleh si aki-aki satu ini ribet amet hidupnya , lagian ke empang sendiri juga gak apa-apa kan gak usah ajak nak Andre, manja bener biasanya juga pergi itu sendirian aja ini sok-sok ngajak" ucap Siti yang melihat Yusman seperti memanjakan menantunya itu.


"Bu, lagian nak Andre kan jarang datang apa salahnya sih di ajak jalan-jalan ke empang dulu sekalian olahraga pagi, Joging begitu. Lagian nak Andre aja gak protes kok, ibu yang sewot sih. Mendingan ibu bikinin kopi buat ayah, biasa yang pahit" ucap ayah yang meminta kepada istrinya.


"Hmmm, ada mau aja gitu. Yo di tanya dulu dong ayah, anaknya mau gak gitu di ajak ke empang. Terus ini apa-apa mau ke empang kok malah pengen di bikin kopi si ayah?" ucap Siti yang kebinggungan.


"Eh, nak Andre ini mau kok tadi ayah sudah tanya pas di jalan. Ya ke empangnya sambil bawa kopi Bu, lebih nikmat di seruput saat pagi hari" ucap Yusman yang pecinta kopi.


"Iya bu tadi ayah sudah bilang kok kalau mau ke empang dan mengajak Andre buat ikut, lagian apa yang di katakan ayah ada benarnya kok biar bisa Joging di pedesaan yang udaranya masih asri. Tapi ayah nggak baik kalau terlalu sering-sering minum kopi, akan merusak kesehatan jika kopi di minum saat pagi hari begini, di waktu luang saja itu juga jangan di konsumsi setiap hari atau sehari 3x jangan, apa lagi ayah belum sarapan." sahut Andre.


"Noh dengerin menantunya ngomong jangan kebanyakan minum kopi, sedangkan ayah tiap waktu." samber Siti yang langsung berpihak pada menantunya.


Yusman kena metal karena di omongin sama dokter ya secara langsung, tanpa di periksa. Baru ingat kalau menantunya adalah seorang dokter. "Waduh, ayah lupa kalau mantu ayah ini Dokter. Kalau kayak gini ayah di ceramah sampai tua nih, gak jadi bikin kopi dah. Ayah bawa air anget aja, bikinin toh Bu." ucap Yusman yang meminta pada istrinya.


Hehehe Elisa dan Siti langsung tersenyum senang penuh kemenangan, Andre tertawa geli karena ayahnya sudah pucat saat di ceramahi olehnya.


"Nak Andre mau dibikinin juga, minuman buat dibawa ke empang?" tawar Yusman yang kepada menantunya.


"Nggak usah deh ayah, makasih" ucap Andre yang menolak.


"Iya nak biar dibuat sekalian, mau dibikinin apa teh anget, susu atau lainnya? atau kayak ayah air putih anget?" ucap Siti yang menawarkan.


"Iya mas biar sekalian aku bikinin, kok diam aja ngomong napa?" ucap Andre yang diam seribu bahasa.


"Elisa, kamu langsung ke dapur aja, bikinin aja, cepat sana ke belakang. Di dapur masih ada susu, cepat gih bikinin buat nak Andre. Ouhnya, sekalian bikinin air anget buat ayah. Ibu mau ke warungnya bu leha dulu, takut kehabisan sayurnya" ucap Siti yang keluar dari dalam rumah mau beli bahan-bahan dapur untuk sarapan pagi.


"Teteh cepat bikinin, ayah mau berangkat nih ke empang." ucap Yusman.


"Sekarang ayah mau bikin kopi atau teh anget." ucap Elisa yang melihat ayahnya.

__ADS_1


"Kamu mau ayah di marahi sama dokter ya kalau bikin kopi, sama teh manis. Noh, lihat dokternya melihat ayah terus, udah bikinin ayah air anget aja." ucap Yusman.


"Iya udah Elisa bikinin air anget. Mas Andre mau Elisa bikinin susu anget?" tanya Elisa pada suaminya.


"Nggak usah sayang, mas air putih aja biasa nih baru aja minum." ucap Andre yang baru dari meja makan baru minum air.


Pukul 7 pagi, Yusman yang terburu-buru ganti baju karena akan menghadiri acara pernikahan tetangganya di desa sebelah, siti dan Yusman sudah rapi dengan pakaian kondangannya, karena akadnya akan di mulai pagi-pagi.


"Teteh sama nak Andre akan berangkat ke tokonya sekarang, gak siang-siang aja sepulangnya ibu sama ayah?" ucap Siti.


"Nggak bu, katanya mas Andre mau ada kerjaan lagi jadi harus kesana pagi-pagi" ucap Elisa yang melihat Andre sedang mengeluarkan mobilnya.


"Yaudah, kalau gitu! Ayah di kunci dulu pintu rumahnya, semalam kan ayah yang mengunci rumah?" ucap Siti bergantian.


"Iya bentar, ini lagi pake sendal toh bu." ucap Yusman yang baru keluar dari dalam rumah.


"Eleh, udah tua aja sok kayak anak muda. Iki opo ayah, nak Andre yang muda aja gak kayak gini tuh. Ganti ah- ini sabuk macam apa ada lele kayak gini, bikin malu aja." teguran Siti yang melihat penampilan suaminya seperti anak muda.


Elisa hanya tertawa kecil melihat ayahnya tersebut, Siti dan Elisa berjalan kedepan rumah. Masuk kedalam mobil, karena akan di antar oleh Andre ke lokasi tujuan.


Elisa yang duduk di jok depan bersama suaminya, dan ayah-ibunya ada di jok belakang.


"Sayang kamu merasa bau wangi banget gak nih mobil aku?" ujar Andre saat ayahnya masuk ke dalam mobil, malah menggoda ayahnya yang pakai parfum wangi sekali.


"Eh, bau apa si ini. Iya mas bau ikan lele, sama udang ya mas" ucap Elisa yang ikutan candaan suaminya itu.


"Hele, kamu ini nak Andre. Bilang aja iri toh sama ayah, karena ayah sudah wangi walau ayah sudah tua." ucap ayah yusman yang meledek Andre.


Semua tertawa karena tingkah laku keduanya yang saling sindir itu, Andre yang akan menjalankan mesin mobilnya akan segera berangkat menuju lokasi.


"Andre yang lebih tua di sini ayah, buktinya ibu dandan aja Andre sampai gak ngenalin ini ibu atau anak SMA, cantik banget." ucap Andre yang melihat kaca spion.


"Aaah kamu ini nak Andre bisa aja ngomong ya, kenapa! Apakah ibu terlihat masih fress ya kalau dandan." ucap Siti yang antusias.


"Iya bu, natural ibu cantik banget. Kenapa ya dulu bukan ibu yang ketemu andre, malah sama anaknya" ucap Andre yang bercanda.


"Walah, kalau kamu ketemunya ibu dulu nanti gak ketemu sama Elisa toh. Lagian, di bandingkan ibu pasti akan lebih kuat Elisa. Saat ayahnya sakit, lulus SMP dia jadi tulang punggung keluarga. Ikut kerja sama siapa aja, lulus SMK kerja part time. Kalau ibu di masa muda gak kayak gitu, ibu malah lebih suka main sama temen-temen dari pada kerja berat." ucap Siti yang melihat perjuangan Elisa yang tidak pernah bahagia, sejak kecilnya.


"Loh kok nangis si bu, udah cantik loh" ucap Elisa yang menenangkan ibunya.


"Uwis toh bu, malah nangis toh pien. Ayah sekarang udah sehat lagi, si teteh juga udah ada pawangnya. Lagian di banding teteh yang dulu yang item kurus kering, coba lihat setelah menikah sama nak Andre. Cantik, kulit putih, agak berisi, terus lihat tuh dulu boro-boro beli perhiasan buat makan aja susah. Tapi tangan Elisa, bling-bling gitu berkilauan gitu, telinga juga punya anting." ucap Yusman yang membandingkan Elisa yang sebelum glow up dengan yang sekarang.


"Iya, cukup mengucapkan Alhamdulillah saja, semua ini dari Allah. Mengirimkan malaikat terbaiknya, yaitu nak Andre. Terimakasih ya nak, udah mau jadi bagian keluarga kecil kami yang sederhana." ucap Bu Siti yang mengusap air mata dengan tisu yang di berikan Elisa.


"Andre bukan malaikat bu, Andre hanya manusia biasa. Buktinya masih banyak salah sama ibu, ayah dan Elisa, gak sesempurna itulah Andre" ucap Andre yang menimpalinya.


Sesampainya di tempat tujuan ibu dan ayahnya, sudah banyak tamu undangan yang hadir. Melihat mobil Andre, semua menoleh ke arah mobil tersebut. Siti dan Yusman keluar dari mobil, dan langsung mendatangi tempat.


"Pak Yusman sama Bu Siti, kirain pengantin yang datang sendiri" ucap ibu-ibu.


"Hahha bisa aja nih, kebetulan mantu saya ke jalan sini jadinya sekalian nebeng" ucap Siti yang langsung gabung sama ibu-ibu disitu.

__ADS_1


Sedangkan Andre langsung lurus menuju tujuan di toko kue yang saat ini tutup sementara karena rusak parah, Elisa meliburkan semua pekerjaan pada hari itu dan seminggu kedepannya.


"Tuh mas kayak gini, parah banget kan. Aku gimana gak syok coba, nggak tahu siapa orang yang udah tega bener ngancurin toko kue aku, dia punya masalah hidup apa ya dia sama aku" ucap Elisa yang memperlihatkan acak adulnya toko kue miliknya itu.


"Yaudah Sayang, nanti tinggal di beresin aja. atau nanti kita bikin tempat agak gedean, nanti kayak dibikin restoran kue, atau istana aneka kue. Biar kalau ada yang mau makan di tempat juga enak, terus kalau banyak warna variasi rasa menarik. Apa lagi kamu sekarang sudah banyak varian kue kering kan. Jadi kalau ada orang yang pengen mau makan di sini, atau icip-icip gitu bisa. Buat tempat nongkrong juga bisa, nanti kita bikin kayak gitu aja gimana apakah kamu setuju?" saran masukan Andre.


"Boleh juga tuh idenya, biar nanti jangan dikatain kue aku basi atau kadaluarsa lagi deh! Kita bikin kayak tempat cafe-cafe gitu iyakan Mas, itu tempat yang lagi ngetren jaman sekarang, aku suka itu mas." ucap Elisa yang setuju dengan ide dari Andre.


"Ya udah kalau kamu pengennya kayak gitu, mungkin butuh waktu sebulan atau dua bulan buat renovasi tempatnya, nantilah aku suruh tukang bikin tempat yang agak gedean di sini, nanti minta di rombak lagi dan nanti aku bilang sama asitektur ya buat di bikin apa gitu biar bagus" ucap Andre yang menurutinya.


Setelah merencanakan renovasi toko kue, tiba-tiba Andre mendapat telfon dadakan dari Try Rochman untuk segera ke rumah sakit karena ada masalah yang harus di selesaikan oleh andre. Akhirnya mereka ke rumah rumah sakit segera karena panggilan tersebut seperti kepanikan, Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ada apa ya mas, kok dokter try kayak panik gitu. Terus kenapa kita disuruh nonton berita terkini, ada-ada aja deh! Ini berita soal perselingkuhan lalu di bunuh, dan kecelakaan bahkan korban permeerrkkoosaann. Jadi apa yang harus kita tonton dan pendengarkan, aneh benget." Dumal Elisa yang dengan muka juteknya.


"Pasti ada alasannya Elisa, karena try belum pernah sepanik ini sebelumnya. Aku juga tidak mengerti kenapa tapi aku punya firasat gak enak, semoga baik-baik saja" ucap Andre yang merasakan hal yang tidak baik.


Sesampainya di rumah sakit Andre bergegas menemui try di ruang rapat, disana sudah banyak dokter dan perawat yang sudah hadir menunggu kedatangan Andre.


"Ada apa Tri, kenapa kamu hubungi ku dengan tergesa-gesa seperti itu, ada masalah yang cukup serius?" ucap Andre.


"Tentu saja ada makanya aku menghubungi mu, kalau tidak ada mana mungkin aku menghubungimu. Biasanya aku tangani sendiri, tapi ini cukup serius. Karena ini menyangkut kepentingan keselamatan kehidupan masyarakat yang membutuhkan pertolongan kita. Lihat ini, dan kamu bisa menyimpulkan sendiri." Ucap Try yang langsung menampilkan tayangan gunung meletus dan erupsi lahar panas, longsor dan angin kencang dengan badai yang cukup kuat.


"Apa semua itu? Dimana semua tempat itu terjadi, lalu apakah ada tim-tim medis." ucap Andre yang ikutan panik karena kepikiran soal korban dari semua kejadian tadi.


"Aku dapat telepon dari dokter Lukman, bawa mereka ada di tempat bencana gunung meletus di daerah C dan katanya membutuhkan tenaga medis lebih banyak, dokter Lukman kewalahan dengan korban. Walaupun sudah ada beberapa tenaga medis yang membantu tapi masih kurang, banyak yang sudah digerakkan tapi masih kekurangan obat dan tenaga. Apakah kita bisa membantunya, dan mengirimkan seluruh pasukan medis kita ke berbagai daerah yang terkena musibah tersebut.


"Oke! Aku juga akan mencoba membagi tim untuk membantu relawan-relawan yang lainnya, dan tenaga medis di sini harus di sisakan. Untuk nanti jika ada korban yang parah langsung di kirim kesini untuk mendapat perawatan lebih baik, dan obat yang jauh lebih lengkap." ucap Andre.


"Aku akan mengumpulkan para dokter dan beberapa yang senggang ataupun shift yang akan bekerja nanti, di tim-tim gabungan kita juga membutuhkan banyak perawatan obat. Karena disana pasti akan banyak membutuhkan obat-obatan untuk setiap gejala kan" ucap Try.


"Mas Andre aku juga ikut ya, aku nanti bantuin tenaga obat deh!" usulan Elisa yang ingin ikut membantu.


"Sayang! Ini masalahnya bencana loh kamu nanti—" belum sempat dilanjutkan Andre langsung di tahan oleh Elisa. Mencoba menyakinkan suaminya jika dirinya adalah bagian tim obat yang pernah ikut dalam pelatihan khusus di New York, jadi elisa juga tahu tipe obat dan dosisnya.


"Mas aku pengen bantuin, boleh ya. Lagian Elisa juga pernah ikut bergabung di pelatihan, sayang dong sertifikat yang Elisa dapat dari pelajar di New York." ucap Elisa.


Akhirnya Andre luluh dengan apa yang di katakan oleh sang istri. "Baiklah, jika itu sudah jadi keputusan terakhir kamu, tapi nanti apakah kamu sanggup akan banyak korban dan mayat yang akan kamu hadapi nantinya."


"Kamu tenang aja, aku pernah ikut latihan militer dengan kak Zever dan pernah ikut tim penyelamat kamu, banyak tuh mayat yang aku lewati. Kau jangan khawatir ya, aku kuat kok tidak usah panik. Kamu hanya perlu percaya sama aku, aku pasti bisa" ucap Elisa yang menenangkan Andre.


"Iya deh ya nanti kamu akan ikutin siapa, akan kita remukan lagi sama orang-orang yang mau jadi relawan buat masuk ke tim-tim gabungan ini, sabar yah!" ucap Andre yang menepuk kepala Elisa lembut.


Karena tim gabungan belum di tentukan karena banyak dokter yang shift malam, jadi harus menunggu Dokter shift di panggil ke rumah sakit mendadak.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Kamis 22 Desember 2022


__ADS_2