
Elisa yang di bawa pergi oleh orang-orang asing itu, hingga kesuatu tempat yang jauh tak bisa dilacak oleh alat apapun. Elisa yang belum juga sadar, hingga dia naik pesawat pun tidak terasa, karena campuran obat bius yang terlalu kuat hingga membuat Elisa tidak bangun-bangun sampai seharian.
Saat Elisa akan bangun, malah di bius lagi dengan saputangan yang didekatkan kehidungnya. Akhirnya Elisa tertidur kembali, sampai 2 hari mereka akhirnya sudah sampai di suatu tempat.
Mansion mewah disuatu pulau yang sangat jauh dari keramaian kota, dan jarang juga orang yang akan datang ketempat tersebut karena jauh dari pemukiman, jalan yang sulit untuk di lalui jika mengunakan kendaraan darat. Hanya bisa dilalui dengan helikopter atau sejenisnya, Elisa di bawa ketempat seperti ini.
"Tuan, saya sudah membawa gadisnya. Saya bawa kemana?" ucap seseorang yang baru keluar dari dalam mobil.
Seorang pria sudah lama berdiri di teras menunggu kedatangannya, membuat senyuman dibibir terlihat dengan sangat jelas.
"Pergilah, biar aku saja yang membawanya." ucapnya seraya membungkuk hormat dan pergi meninggalkan tempat.
Helikopter yang sekarang sudah mati mesinnya, ia dekati dan melihat Elisa sedang tertidur sangat pulas, lebih tepatnya pingsan selama 2 lebih itu, karena perjalanan memakan waktu cukup lama.
"Elisa, kamu akan jadi milikku untuk selamanya." ucapnya dengan senyuman devil.
Langsung ia mengendong Elisa, dan membawa Elisa kedalam mansion. Seperti membawa harta Karun yang berharga, dia sangat hati-hati sekali hingga naik ke atas tangga. Menuju kamar tidurnya, setelah sampai di depan pintu kamar ada seorang pelayan yang membukakan pintu kamarnya tersebut.
Meletakan Elisa di atas ranjang dengan sangat hati-hati dan begitu sangat lembut, tak mau ada goresan apapun yang akan melukai tubuh Elisa ini.
"Dia sangat manis saat tertidur seperti ini, hmph! Ini untuk permohonan maafku, karena sudah menculik mu dari rumah sayang." ucapnya seraya mengecup kening Elisa.
Lalu dia meninggal Elisa yang tidak sadarkan diri ini di dalam kamar sendirian. Saat pria itu keluar pelayannya masih berdiri disana, dan membungkuk hormat kembali padanya.
"Jika dia bangun, segera layani apa yang dia mau, kamu mengerti." ucapnya seraya meninggalkan si pelayan.
"Baik Tuan," jawabnya membungkuk kembali.
Pria itu langsung turun ke bawa, untuk menemui semua anak buahnya, awalnya pada santai melakukan semua aktivitas masing-masing, tapi saat melihat bossnya turun semua langsung sigap berdiri siap.
...----------------...
Berada di Indonesia Andre yang khawatir akan kondisi istrinya yang entah dibawa kemana perginya, Azril yang dilarang untuk ikut dalam misi pencarian, karena kondisi yah saat ini membutuhkan istirahat yang cukup.
"Mas Andre izin aku juga ikut mencari teteh!" Azril yang merengek-rengek untuk ikut mencari tetehnya yang tidak ada kabar selama 3 hari ini.
"Tidak dek, kamu di rumah saja jagain ibu dan ayah. Kondisi kamu juga butuh pemulihan, mas nggak mau ambil resiko bahaya buat kamu." bantah Andre karena tak mau adiknya mengambil resiko.
"Aku juga sangat khawatir akan kondisi teteh, mas Andre tolong izinkan aku." Azril yang memohon.
"Jika kamu memaksa seperti ini. Baiklah, aku akan izinkan, kamu mencari di rumah saja, gunakan kemampuan kamu dalam IT, aku akan pergi mencari keberadaan Elisa, sekarang saya dapat sinyal tentang keberadaan teteh mu yang katanya ada di luar negeri." ucap Andre yang langsung melihat jam tangannya.
"Baik mas, aku akan semaksimal mungkin mencarinya." Azril yang begitu sangat antusias.
"Yaudah aku pergi dulu, jaga ibu dan ayah." ucap Andre yang menepuk punggung adiknya itu.
Glenn yang sudah datang untuk menjemput di rumah orang tua Elisa yang saat ini masih syok, dan ibu dan ayah hanya bisa pasrah. Dengan keadaan Elisa yang entah dimana sekarang ini, Andre dengan pasukan sudah akan pergi.
__ADS_1
"Ayah, ibu jangan khawatir mas Andre pasti bisa menemukan teteh, mas Andre akan melakukan apapun untuk mencarinya." ucap Azril yang menenangkan orang tuanya.
"Kenapa semua ini terjadi pada tetehmu terus yah zril, seakan tak ada habisnya. Gimana mau hidup tentram, dan damai. Jika selalu di usik begini, kalau tahu tetehmu akan menderita seperti ini dengan nak Andre, dulu ibu tolak saja lamarannya. Walau tetehmu menerima yah, ibu hanya mau tetehmu hidup bahagia dan senang. Bukan untuk sengsara, dan menderita begini." ucap Siti seakan menyesal telah menikahkan putrinya dengan pria yang punya banyak sekali musuh seperti Andre.
"Bu, kok ngomong ya gitu sih. Jadi maksudnya ibu bilang kayak gitu apa? apakah ibu telah menyesal gitu, karena telah menikahkan teteh dengan mas Andre, bu ini juga bukan salah mas Andre. Toh, kalau mas Andre gak jadi menikah dengan teteh juga pasti akan ada banyak masalah lainnya yang akan munculkan." jelas Azril.
"Itu bener bu, jangan ngomong kayak gitu lagi. Masalah pasti akan datang, entah itu dari nak Andre yang membawanya atau mungkin dari orang lainnya, jadi jangan salahkan nak Andre dalam masalah ini. Lebih baik kita berdoa agar teteh segera ditemukan." ucap Yusman yang menengahi.
"Tapi, teteh jadi sering di culik dan hilang. Dulu teteh gak punya bekas luka di tubuhnya, coba sekarang badan teteh yang ada sayat pisau, ada goresan bekas kayu, terus nanti apa lagi ayah. Ibu sudah gak tega melihatnya, apa ayah tega melihat putri ayah seperti ini." ucap Siti yang mengadukan semua keluh kesah pada suaminya.
"Iya-iya ayah mengerti apa yang dirasakan ibu, tapi jangan ngomong kayak gitu dong bu, pamali. Ingat ucapan adalah doa, nggak boleh ah! ngomong gak baik gitu." ucap Yusman.
"Ayah gak akan ngerti apa yang ibu rasakan sekarang. Ibu yang mengandung teteh, ibu juga yang merasakan apa yang teteh rasa, ibu tahu jika teteh senang apa tidak, bahagia atau tidak." sambung Siti yang masih saja mengomel karena isi hatinya ingin ia lampiaskan semuanya.
Dua pria itu hanya bisa diam, mendengar apa yang di keluhan dan omelan sang ibu yang seperti tidak ada habisnya itu. Yusman, dan Azril hanya saling pandang, dan menghela nafas panjang, sangat pasrah begitu saja.
...----------------...
Sesampainya Andre di salah satu markasnya. Ia langsung saja keluar dari dalam mobil menuju tangga, dengan langkah panjang dan sangat cepat.
"Tuan anda sudah datang." ucap anak buahnya.
"Bagaimana perkembangan yah? apakah kalian menemukan bukti lainnya, apakah ada yang bisa kalian tahu." ucap Andre yang sangat penasaran.
"Belum ada Tuan, tapi mereka katanya menyelidiki di hotel suatu tempat. Di Swiss, ada seseorang wanita yang di kawal 7 laki-laki, waktu itu wanita berada di kursi roda dengan tubuh yang sudah di tutup dengan jas." penjelasannya.
"Begitukah, lalu apa lagi?" tanya Andre yang sangat penasaran.
Andre langsung saja pergi ke ruangan milik Zever, langsung membuka pintunya. "Zever, dimana kau?" panggilan Andre yang sangat brutal.
"Ada apa?" ucap Zever yang baru keluar dari kamar mandi, dengan pakai handuk setengah badannya, dan kepala yang sedang di gosok pakai handuk kecil.
"Ikut aku sekarang." seraya menarik tanpa lihat situasi dan kondisi.
"Weee, mau dibawa kemana aku?" ujar Zever yang saat ini di tarik keluar kamar.
"Ikut aku ke Swiss.?" ucap Andre yang masih menarik tangan Zever.
"Muka gila kau Andre, kalau kamu mau mengajak ku kesana, seharusnya kamu punya hati lah sedikit." langsung menepis tangan Andre yang menariknya itu.
"Aah! maaf aku tidak melihatnya jika kamu sedang tidak pakai baju." ucap Andre yang baru sadar.
"Kamu kan tahu tadi aku keluar dari mana? dari kamar mandikan, kenapa kamu malah langsung tarik aja." ucap Zever yang agak kesel.
"Cepat segera kamu pakai bajumu." ucap Andre agak marah.
"Tunggu sebentar, aku akan pakai baju dulu. Kamu tunggu disini, aku akan kembali kurang dari 30 menit." ucapnya seraya masuk lagi kedalam kamar.
Mereka langsung pergi menuju tempat tujuan mereka untuk ke markas tim IT, milik Brandon.
...----------------...
__ADS_1
Sesampainya di New York, mereka langsung terjun ke markas besar milik Tuan Brandon, anak buah Brandon saat melihat putra pewaris yah telah tiba, mereka semua langsung mengijinkan Andre masuk, dan mencari keberadaan Elisa dimana. Maura dan timnya juga sudah sampai di markas itu, Andre yang dibuat panik, dan sangat khawatir itu terlukis jelas di wajah, bahkan mulutnya yang tak berhenti-henti berkomat kamit baca doa, agar istri segera ditemukan.
Andre yang sekarang sedang fokus sekali di depan banyak layar komputer, karena pikiran saat ini sudah kosong hanya satu yang dia pikirkan yaitu menyelamatkan istrinya. Jiwa saat ini tak berdaya, karena separuh tidak tak ada disisinya.
Zever dan Maura saat ini hanya bisa jadi penonton melihat perjuangan Andre yang sangat besar, Maura sampai di buat geleng-geleng kepala karena baru pertama kali melihat jendral tertinggi merasa kalang kabut dan gelisah hanya karena seorang wanita.
"Ini pasti karma, dia gak percaya akan cinta dan wanita yang buat dia jauh terpana, bahkan meremehkan soal pentingnya Arti dari sebuah keluarga, dan lihatlah dia dibuat k.o" ucap Zever.
"Hmm kamu bener, aku sampai tidak percaya dia berubah 360 derajat dari sebelumnya. Itu gara-gara Elisa, wanita itu pengaruh sangat kuat juga yah!" ucap Maura.
"Kamu bener sekali, kita harus minta tips dari Elisa." ucap Zever.
"Bagaimana bisa ini terjadi, kamu sekarang belum bisa menemukan dia?" tanya Maura pada Zever yang saat ini melihat Andre di depannya yang sangat sibuk.
"Maura jangan sekarang kamu bicarakan soal itu, aku tak bisa membantu untuk menjawabnya. Kamu juga jangan ganggu dia, karena dia tak akan merespon apapun saat ini, dia akan seperti mayat hidup, karena dia hanya akan mendengarkan kabar dari Elisa. Karena kondisinya sedang kalang kabut, lihat raut wajahnya. Huh, ini terjadi lagi." ucap Zever yang menghela nafas pasrah.
"Ini terjadi lagi emang pernah terjadi sebelumnya?" tanya Maura sangat penasaran.
"Iya, pernah. Itu bukan sekali dua kali yah. Andre dibuat kalang kabut dan sangat cemas seperti ini." penjelasan Zever.
"Kasihan yah elisa, dia harus menikah dengan pria yang banyak musuh." ucap Maura.
"Hati-hati kamu kalau bicara, bukannya kamu juga menyukai Andre kan?" asal tebak.
"Zever, kamu tim unit gabungan kah. Lalu Dimana Xeverio, dia tak ikut denganmu?" tanya Maura mengalihkan pembicaraan, tak mau mendengarkan apapun soal itu.
"Dia punya tim gabungan sendiri, bersama Alex. Kenapa kamu tiba-tiba mencarinya, kau merindukannya?" tebakan Zever menggoda Maura.
"Kau sudah gila ya, aku hanya asal tanya saja, biasanya dia kan selalu mengekori mu, ini hanya bertanya" bantah mentah-mentah Maura.
"Ouh~cuman tanya yah, oke!" ucap Zever yang hanya dengan nada masih menggoda Maura.
"Jangan mulai deh! Lalu apakah tak ada informasi lain terkait keberadaan Elisa, apakah kamu tak bisa membantu apa-apa Zever. Ini sudah dua hari berlalu setelah kejadian itu, apakah kalian tidak mencari di Indonesia dulu, sapa tahu saja masih disuatu tempat pelosok negeri di Indonesia" ucap Maura mengalihkan pembicaraan.
"Sinyal-sinyal terakhir di dapatkan berada di Swiss, otomatis kita harus pergi kesana untuk mencari tahu tentang kebenaran itu." jawab Zever.
"Swiss? Hmmm... Andre akan kesana?" tanya Maura yang sangat penasaran.
"Entahlah! Terserah dia saja mau gimana? Lagi pula Andre adalah ketua dari penyelidikan kasus ini." ucap Zever yang hanya akan ikuti perintah saja.
...----------------...
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Kamis 2 Maret 2023
__ADS_1