
" Sayang aku merindukanmu " Ucap Davin sumringah sambil berjalan mendekati Aluna namun Aluna memundurkan langkahnya.
" Sayang... apa kau tak merindukanku ? " Tanya Davin kecewa karena dia melihat Aluna yang menghindarinya.
" Jangan mendekat. Selamat kamu sudah menemukan penggantiku " Ucap Aluna lirih. Davin mengerutkan kedua alisnya.
" Menemukan pengganti ? maksudnya ? " Tanya Davin bingung. Aluna menunggingkan senyum sinisnya.
" Gak usah pura-pura be*o !! " Teriak Aluna keras. Asisten Jo menghela nafas panjang karena kesalah pahaman di antara Tuan dan Nona Mudanya.
" Sayang, aku benar-benar tidak menemukan penggantimu, bahkan tidak ada sedikitpun niatku untuk mencari penggantimu sayang. Kamu harus percaya itu " Davin berusaha meyakinkan Aluna.
" Siapa wanita itu ? " Tanya Aluna sambil dagunya menunjuk pada wanita yang sedang melihat perdebatan mereka.
" Itu Nona Clara, dia klien ku. Kita baru saja melakukan pertemuan di Restoran ini. Kamu jangan salah paham sayang " Davin berjalan semakin mendekati Aluna, namun Aluna justru berlari menghindari Davin yang mengejarnya. Begitu sampai di jalan Aluna terus berlari tanpa melihat kanan kiri. Davin pun mempercepat laju lari nya.
Ttttttiiiiinnnnnnn bunyi klakson terdengar begitu keras ditelinga Aluna, membuat Aluna dengan reflkes menutup kedua telinganya. Entah mengapa tubuhnya mendadak kaku, tak bisa di gerakkan. Begitu mobil itu sampai didekatnya Aluna memejamkan kedua matanya.
jika memang nafasku memang harus berakhir saat ini, aku berharap semoga Davin bahagia dan mau memaafkanku
" Aluunaaa awaasss " Teriakan Davin begitu keras. Aluna merasa tubuhnya tertarik, dia pasrah jika memang Tuhan mengambil nyawanya saat ini.
" Kamu baik-baik saja sayang ? " Aluna membuka matanya lebar dan merasakan tubuhnya sedang di peluk erat. Nafas Davin terdengar begitu ngos-ngosan. Tubuh Aluna menegang, darahnya berdesir saat merasakan Davin sedang memeluknya saat ini. Ya, tidak bisa dipungkiri kalau Aluna sangat merindukan pelukan Davin. Aluna memejamkan matanya kembali merasakan pelukan Davin yang terasa begitu hangat di tubuhnya.
" Aku sangat takut kehilanganmu sayang " Airmata Aluna lolos begitu saja mendengar ucapan Davin. Dia kini sadar kalau Davin benar-benar menyayanginya. Aluna semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Davin. Dengan lembut Davin mengusap rambut Aluna, memberi ketenangan pada Aluna karena Davin tahu Aluna saat ini pasti sedang shock.
__ADS_1
" Tuan.. Nona ... Anda baik-baik saja ? " Tanya Asisten Jo khawatir karena melihat mereka yang hampir tertabrak, telat lima detik saja Tuan Davin menarik tangan Aluna, maka entah apa yang akan terjadi pada Aluna.
" Baik Jo " Jawab Davin pelan sedangkan Aluna hanya diam sambil terus memeluk Davin.
" Pak Davin, apa dia kekasih anda ? " Tanya Clara yang ikut menyusul mereka. Aluna langsung melerai pelukannya dan mengusap airmatanya. Dia menatap wanita cantik di depannya yang sedang tersenyum padanya.
Davin langsung merangkul Aluna dan menatap Asisten Jo serta Clara.
" Perkenalkan Nona Clara, ini Aluna istri saya " Clara terkejut mendengar ucapan Davin.
" Bukankah anda belum menikah ? " Tanya Clara bingung.
" Sebenarnya saya sudah menikah sekitar enam bulan lalu, hanya saja pernikahan saya baru dihadiri keluarga karena istri saya tidak mau dipublikasikan " Jelas Davin, tangannya merangkul pundak Aluna.
" Saya tidak peduli istri saya dari kalangan apapun. Karena saya mencintai dia dengan setulus hati " Aluna menatap mata Davin, hatinya berbinar saat melihat kesungguhan di wajah Davin.
" Sayang kamu tidak apa-apa ? " Tanya Mama Resti begitu khawatir.
" Tidak papa ma " Aluna memeluk mamanya itu.
" Tuan Bagas, Tuan Ronal " Panggil Clara sopan.
" Oh Nona Clara " Sahut Ronal datar.
" Papa senang kamu baik-baik saja sayang " Clara menatap mereka penuh tanya.
__ADS_1
" Tuan Bagas, kalau boleh tau Aluna itu siapa ? " Tanya Clara karena saking penasaran.
" Oh iya Nona Clara, ini Aluna anak perempuan saya " Jawab Tuan Bagas dengan senyum di bibirnya. Clara terdiam, dia tidak menyangka jika Aluna adalah anak perempuan Tuan Bagas yang selama ini disembunyikan. Publik hanya mengetahui kalau Tuan Bagaskara memiliki seorang anak perempuan namun identitasnya di sembunyikan dengan rapat.
" Salam kenal Nona Aluna, saya Clara klien Tuan Davin. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda, Nona Muda keluarga Bagaskara yang identitasnya disembunyikan. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu anda, dan maafkan saya sudah membuat kesalahpahaman di antara anda dan Tuan Davin " Kata Clara sopan. Dia mengaku kalah, dia menyerah dan tidak akan mengganggu hubungan Davin dan Aluna. Aluna menanggapi ucapan Clara dengan senyuman kemudian menyalami tangan Clara. Setelah itu, Clara pun berpamitan.
" Sayang... kamu mau ya pulang ke mansion Alexander " Pinta Davin memelas. Aluna membisu, dia bingung harus menjawab apa.
" Sayang ... apa kamu tidak merindukan baby Queen. Dia kangen lo pengen di gendong aunty nya " Davin berusaha merayu Aluna. Mendengar nama baby Queen, Aluna tersenyum tipis. Ya , dia memang sangat merindukan bayi kecil itu.
" Kamu masih ingat kan kata-kata kakak tadi Lun ?" Tanya Ronal sambil menatap dalam mata Aluna. Aluna pun paham arti tatapan mata kakaknya itu.
" Oke aku mau pulang sama kamu " Davin langsung mencium pipi Aluna begitu mendengar Aluna mau pulang bersamanya.
Dia memeluk Aluna erat.
" Terimakasih sayang, aku mencintaimu " Dengan refleks Davin mengecup bibir Aluna membuat wajah Aluna seketika merona merah. Apalagi keluarganya yang menatap Aluna bahagia.
" Sudah sana lanjutin dirumah aja. Kasian disini ada jomblo " Ledek Ronal sambil melirik Asisten Jo yang berdecak kesal.
" Walaupun saya jomblo, setidaknya saya jomblo berkelas Tuan " Sanggah Asisten Jo sambil menatap jengah Ronal. Semuapun hanya tertawa meledek.
Aluna akhirnya pulang bersama Davin, kembali ke Mansion Alexander. Sesampainya di mansion Alexander, Aluna disambut hangat oleh keluarga Alexander. Mereka sangat bahagia karena Aluna mau kembali ke mansion itu lagi. Mereka pun mengobrol, saling melepas rindu, terutama dengan baby Queen. Dengan bahagia Aluna menggendong baby Queen. Aluna merasakan nyeri di perut bawahnya tapi dia bersikap biasa saja.
" Sayang ayo kita kekamar, melepaskan rindu kita berdua " Bisik Davin di telinga Aluna membuat tubuh Aluna meremang. Aluna tahu maksud 'melepaskan rindu' yang Davin ucapkan. Mereka berdua pun berpamitan ke kamar. Aluna pun tidak bicara pada Davin kalau perutnya sedikit nyeri, mungkin tamu bulanannya akan datang.
__ADS_1