Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
107


__ADS_3

Asisten Jo mengendarai mobilnya mengelilingi sekitar wilayah Alexander Grup untuk mencari mangga muda pesanan Tuan Davin. Namun dia tidak menemukannya, matanya hanya menangkap gedung-gedung tinggi yang berjajar. Dia mendesah kesal, bagaimana bisa Nona Aluna yang hamil, Tuan Davin yang ngidam tapi dirinya yang kerepotan.


Memang nasib sebagai bawahan. Batin Asisten Jo kesal. Saat dia hampir putus asa karena tidak menemukan satupun pohon mangga, tiba-tiba seperti ada lampu menyala di atas kepalanya.


"Kenapa aku tidak membelinya saja di pasar dan bilang pada Tuan Davin kalau aku yang memetiknya langsung. Tuan Davin mana tahu itu mangga hasil metik di pohon atau di pasar. Kenapa aku sekarang jadi ketularan bodoh," gerutu Asisten Jo sambil memutar balikkan mobilnya untuk menuju ke pasar buah. Namun, belum sampai mobil itu di pasar buah, pandangan mata Asisten Jo menangkap sebuah pohon mangga yang sedang berbuah. Dengan segera dia menghentikan mobilnya.


"Memang Dewi Fortuna sedang berpihak padaku," ucap Asisten Jo sambil tersenyum bahagia. Akan tetapi dia hampir lupa titah sang paduka raja, kalau dia sendiri yang harus memetik buah mangga itu.


Asisten Jo turun dari mobil, dia menatap rumah yang tidak besar tapi tidak kecil itu. Rumah yang sederhana di antara rumah lain di sampingnya. Dengan segera Asisten Jo mendekati rumah itu kemudian mengetuk pintunya.


"Sebeeentaarrr," Terdengar teriakan dari dalam rumah membuat Asisten Jo menghentikan ketukannya. Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan menampilkan sosok wanita yang sederhana dengan kecantikan alami. Asisten Jo terdiam, namun tatapan matanya menatap lekat mata wanita itu.


"Tu-tuan," ucap wanita itu gugup.


"Ini rumahmu? Kenapa kamu tidak bekerja?" tanya Asisten Jo sambil mengamati rumah itu. Rumah yang bersih dan rapi.


"I-iya Tuan. Saya sedang izin Tuan, karena ada kepentingan," jawab Mila gugup. Dia tidak menyangka jika yang mengetuk pintu adalah Asisten Jo. Tangan kanan kepercayaan Tuan Muda Davino Alexander. Yang termasuk dalam jajaran orang yang harus di hormati di kantor. Dia juga salah satu pria tampan yang kadang Mila hadirkan dalam imajinasinya. Jari-jemari Mila saling meremas gugup.


"Apa kamu tidak pernah mempersilahkan seorang tamu masuk?" sindir Asisten Jo membuat Mila langsung tersadar.


"Si-silahkan masuk Tuan," kata Mila gugup sambil memberi jalan untuk Asisten Jo masuk ke rumahnya.


"Sopo ndok (Siapa ndok )?" Seorang wanita paruh baya keluar dengan membawa sapu di tangannya.


"Masya Allah baguse, iki sopo to Mil? Pacarmu po? Lha kok ora mbok kenalke mbek ibuk to duwe pacar bagus gagah ngene iki ( Masya Allah gantengnya, ini siapa si Mil? Kekasihmu? Lha kok tidak di kenalkan ke ibuk sih kalau kamu punya pacar ganteng gagah gini )," Ibu Mila heboh, dia langsung meletakkan sapu di samping kursi kemudian duduk di sebelah Asisten Jo.

__ADS_1


"Bu-bukan bu, dia bukan pacar Mila," sanggah Mila gugup, dia takut Asisten Jo marah padanya. Namun, Asisten Jo hanya diam karena dia tidak mengerti ucapan ibu Mila itu.


"Lha terus iki sopo ( Lha terus ini siapa )?" tanya ibu Mila lagi sambil menepuk pelan bahu Asisten Jo.


"Dia atasan Mila di kantor bu. Orang kepercayaan bos di tempat Mila kerja. Dia gak bisa bahasa jawa bu," jawab Mila masih dengan nada gugup, matanya melirik Asisten Jo yang sepertinya, merasa tidak nyaman.


"Owalah ini wakil bos kamu to. Perkenalkan saya Ibu Eni, ibu nya Mila," ucap Ibu Eni sambil mengulurkan tangannya, Asisten Jo pun menjabat tangan wanita paruh baya itu.


"Ada perlu apa pak wakil bos kemari?" tanya Ibu Eni membuat Mila tersadar kalau dia belum bertanya ada hal apa yang membuat orang kepercayaan Tuan Muda itu datang ke rumahnya.


"Begini bu, maksud kedatangan saya kemari, saya ingin meminta buah mangga muda yang ada di halaman rumah ibu, buat Tuan Muda saya yang sedang ngidam," Mila membuka mata dan mulutnya lebar mendengar perkataan Asisten Jo.


"Aluna hamil?" tanya Mila tak percaya. Asisten Jo menatap tajam mata Mila membuat wajah Mila langsung tertunduk sakit.


"Maksud saya, Nyonya Muda Alexander." Mila meralat kata-katanya.


"Iya Bu," jawab Mila lirih.


"Lama sekali dia gak kesini? bocah wedok neng pacakane koyo cah lanang, petakilan seneng balapan. Sak iki piye kabare ? (Anak cewek tapi penampilannya kaya cowok, petakilan suka balapan. Sekarang bagaimana kabarnya )?" Asisten Jo tidak menjawab karena dia tidak paham ucapan Ibu Eni itu.


"Baik bu, sekarang sudah jadi istri pemilik perusahaan Alexander bu, dia sekarang sudah jadi Nyonya Muda," Ibu Eni terkejut mendengar ucapan Mila.


"Wahh, beruntung sekali. Siapa tahu kamu nanti juga berjodoh sama Cah bagus ini Mil," ucap Ibu Eni membuat wajah Mila merona merah. Sedangkan Asisten Jo hanya menghela nafas panjang.


semoga aja ucapan ibu jadi kenyataan , aku yo mau punya suami ganteng gini.

__ADS_1


"Maaf bu, saya tidak punya banyak waktu, apa saya boleh meminta buah mangga mudanya?" tanya Asisten Jo sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Boleh Tuan, mari." jawab Mila sambil mengantar Asisten Jo keluar. Begitu sampai di luar, Asisten Jo menatap pohon mangga di depannya itu.


"Bagaimana cara saya memetiknya sedang saya tidak bisa memanjat " gumam Asisten Jo namun masih bisa di dengar Ibu Eni dan Mila.


"Biar saya petikkan Tuan, saya bisa memanjat," Mila menawarkan diri. Wajah Asisten Jo langsung sumringah.


"Kalau buat orang ngidam, kalau dia meminta pak wakil bos yang memetiknya maka pak wakil bos sendiri yang memetiknya," ucapan Ibu Eni berhasil melunturkan senyum Asisten Jo.


"Tuan saya punya ide," Asisten Jo langsung menatap Mila lekat membuat Mila salah tingkah.


"Jangan tatap saya seperti itu Tuan, saya malu," Mila menutup wajahnya membuat Asisten Jo berdecak kesal.


"Ini bukan waktunya main-main," ucap Asisten Jo membuat Mila menjadi gugup.


"Tuan , jika Tuan Muda menginginkan anda yang memetiknya bagaimanapun caranya, bagaimana kalau kita gunakan galah saja. Saya punya galah di belakang rumah biar saya ambilkan," kata Mila sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya. Asisten Jo pun merasa lega. Beberapa saat kemudian, Mila keluar dengan membawa galah panjang di tangannya.


"Ini Tuan," ucap Mila sambil menyerahkan galah itu. Dengan segera Asisten Jo langsung memetik mangga muda itu dengan galah walaupun sedikit susah payah.


"Terima kasih banyak bu, ini uangnya," Asisten Jo langsung menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan.


"Tidak usah Tuan," tolak Mila halus.


"Tapi Mil? Kita lagi butuh uang buat tambahan modal jualan besok. Kamu kan belum gajian," Bisik Ibu Eni namun telinga Asisten Jo masih bisa mendengar dengan baik.

__ADS_1


"Ini diterima saja, apa kurang? Kalau kurang nanti saya tambah," Ibu Eni langsung mengambil uang di tangan Asisten Jo.


"Tidak Tuan, segini saja sudah cukup, terimakasih banyak. Semoga neng Aluna dan calon bayinya selalu diberi kesehatan. Dilancarkan segala urusannya. Diberi kemudahan saat melahirkan nanti," Doa ibu Eni tulus. Mila dan Asisten Jo hanya mengamini. Asisten Jo kemudian berpamitan, dia masuk ke mobil dan melajukan mobil itu menuju Alexander grup namun tak lupa dia membeli sambal rujak terlebih dahulu.


__ADS_2