
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi bahkan lebih, tetapi Dinar masih asik tidur bergelung di bawah selimut. Pintu kamar Dinar di ketuk dari luar, Dinar seketika membuka kedua bola matanya.
"Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi? Bukankah Bapak, Ibu dan Lisa masih di rumah sakit?" gumam Dinar bingung. Baru saja Dinar hendak beranjak bangun, suara adiknya berhasil membuatnya terkejut.
"Kak!" pekik Lisa sembari membuka pintu kamar Dinar yang tidak di kunci.
"Kenapa?" sahut Dinar malas, dia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Kakak masih tidur?" tanya Lisa tidak percaya. "Kakak yakin tidak memiliki janji hari ini?"
"Tidak, Kakak tidak memiliki janji apapun. Kakak mau bobok cantik dulu, Lis. Tubuh Kakak rasanya seperti remuk redam," sahut Dinar, dia menarik selimut sampai menutupi lehernya.
"Ya sudah. Tidurlah Kak, nanti kalau Nona Aluna meneleponku lagi, aku bilang saja Kakak tidak memiliki janji apapun," kata Lisa seraya berjalan keluar dari kamar Dinar. Kedua bola mata Dinar yang terpejam langsung terbuka lebar saat dia mendengar Lisa menyebut nama Aluna, Dinar segera membuka selimutnya dan duduk dengan cepat.
"Sekarang jam berapa, Lis?" tanya Dinar menghentikan langkah kaki Dinar yang sudah mencapai ambang pintu.
"Hampir setengah tujuh, Kak." Lisa melihat jam di dinding kamar Dinar. Mendengar jawaban Lisa, Dinar segera membuka semua selimutnya dan berlari ke kamar mandi dengan terburu-buru.
"Kamu kenapa sih, Kak? Seperti sedang di kejar setan aja," tanya Lisa heran.
"Kakak tidak punya banyak waktu lagi," sahut Dinar, dia segera cuci muka dan menggosok giginya tanpa mandi.
"Kakak cepet banget sih, tidak mandi?" tanya Lisa heran.
"Tidak, mandi nanti saja daripada Kakak terlambat. Kamu pulang pakai apa?" Dinar mengucir rambutnya, lalu memakai jaket dan menggendong tasnya.
"Motor, Kak." Lisa menunjukkan kunci motornya, Dinar merebut kunci itu dengan cepat lalu berlari pergi dari rumah.
"Kak! Hati-hati jangan ngebut!" Teriakan Lisa terdengar menggema, tetapi Dinar sudah berada di motornya dan melajukannya dengan cukup kencang. Dinar melajukan motornya menuju ke Peternakan milik Ardian terlebih dahulu, karena kebetulan jalan menuju Bandara melewati Peternakan milik Ardian. Motor Dinar berhenti di depan Peternakan, dia segera berjalan menuju pos satpam yang berada di Peternakan itu.
"Pak, apa Ardian ada di Peternakan ini?" tanya Dinar sembari mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Tuan Ardian dan Tuan Bayu, belum lama baru saja berangkat ke Bandara," sahut Pak Satpam itu.
"Terima kasih, Pak." Dinar segera kembali ke motornya, dia melajukan motornya dengan cepat, jangan sampai dia terlambat, pikirnya. Dinar melihat jam di pergelangan tangan, sepuluh menit lagi jam akan menunjukkan angka tujuh tepat. Dinar semakin melajukan kendaraanya dengan kencang. Namun, saat dia hendak berbelok, dia terkejut melihat seorang anak kecil yang menyeberang begitu saja, Dinar mencoba membanting setir motornya ke kanan agar tidak menabrak anak itu, tetapi tiba-tiba motor Dinar terpental dan Dinar tergeletak di atas aspal.
"Ya Tuhan ...."
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Ardian sedang berada di Bandara bersama Bayu, Aluna dan Davin, sedangkan orang tua mereka sudah kembali ke Jakarta terlebih dahulu. Ardian duduk gelisah semenjak Aluna mengatakan kalau dia sudah membuat Dinar harus memilih untuk mengambil sebuah keputusan. Ardian melihat jam di pergelangan tangannya, lima menit lagi jam tujuh, tetapi tidak ada sedikitpun tanda-tanda kedatangan Dinar hingga membuat Ardian menghela napas berat.
"Kak, dia tidak akan datang, harusnya Kakak tidak perlu menemuinya lagi, karena dia sudah menolakku, Kak," ucap Ardian pasrah.
"Mungkin dia sedang dalam perjalanan, kita tunggu lima menit. Kakak yakin kalau Dinar sebenarnya sudah jatuh cinta padamu," sahut Aluna meyakinkan.
"Sudahlah, Kak. Aku tidak akan pernah berharap lagi, mungkin memang dia bukan jodohku, Kak. Kalau dia mengandung anakku, yang terpenting aku masih bisa bertemu anakku kelak." Ardian mengusap wajahnya kasar, membuat Aluna menjadi tidak tega.
"Kenapa kamu selalu merasa yakin kalau Dinar sedang mengandung?" tanya Aluna heran.
"Entahlah, Kak. Karena aku selalu merasa kalau sebentar lagi, aku akan menjadi seorang ayah," jawab Ardian pelan.
"Yang sabar, Ar. Kalau kalian berjodoh, kalian pasti akan bersama, entah bagaimanapun jalannya," ucap Bayu ikut menenangkan hati Ardian.
Pengumuman keberangkatan pesawat telah berbunyi, Ardian semakin menghela napas panjang. Dinar benar-benar tidak datang, Ardian hanya bisa mendesah kecewa. Mereka berempat segera berdiri, baru saja Ardian dan Bayu melangkahkan kakinya satu langkah, telinga Ardian samar-samar mendengar seseorang yang memanggil namanya.
"Ardian, tunggu!" Ardian dan Bayu berhenti, mereka berbalik dan melihat Dinar yang sedang berjalan ke arahnya. Mereka semua terkejut melihat Dinar yang berjalan terpincang, bahkan Ardian bisa melihat bercak darah cukup banyak tercetak di celana jeans Dinar yang berwarna putih.
"Syukurlah aku belum terlambat," ucap Dinar lega, dia berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena berjalan cepat tadi.
"Yang terpenting aku tidak terlambat," ucap Dinar, dia menghela napas panjang. "Hati-hati, Ar. Aku mencintaimu dan aku akan menunggumu pulang," kata Dinar berat. Semua hanya terdiam sesaat, tetapi Ardian segera menangkup kedua pipi Dinar dengan tangannya.
"Aku tidak akan kemana-mana. Bayu yang akan ke Amsterdam," ucap Ardian, kedua bola mata Dinar seketika membulat sempurna.
"Jadi, kalian mengerjaiku?" tanya Dinar kesal. "Aku tidak menyangka kalian setega itu!" bentak Dinar marah, dia menghempaskan tangan Ardian dari pipinya. Dinar berbalik hendak pergi, tetapi Ardian langsung memeluk tubuh Dinar dari belakang dengan erat.
"Aku berangkat dulu ya, takut ketinggalan pesawat. Aku menunggu undangan dari kalian berdua," pamit Bayu, dia juga berpamitan dengan Davin dan Aluna. Selepas kepergiaan Bayu, Dinar berusaha meronta agar pelukan Ardian di tubuhnya terlepas, tetapi Ardian justru mengeratkan pelukan itu.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja," bisik Ardian, Dinar akhirnya hanya terdiam, membiarkan tubuhnya di peluk Ardian dari belakang.
"Apa kamu tidak malu di lihat banyak orang? Bahkan aku malu dengan Nona Aluna dan Tuan Davin yang sedang melihat kita," kata Dinar ketus, Davin dan Aluna berusaha menahan tawanya, sedangkan Ardian melepas pelukannya dan membalik tubuh Dinar agar menghadap ke arahnya.
"Aku mencintaimu juga," ucap Ardian lirih. Dinar justru mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Siapa yang mencintaimu? Justru aku membencimu pria menyebalkan!" Ardian tersenyum simpul mendengar ucapan Dinar.
__ADS_1
"Matamu tidak akan pernah bisa berbohong, Dinara Efendi." Dinar langsung memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan mata dengan Ardian. Namun, justru itu membuat Ardian semakin melebarkan senyumnya.
"Buat apa kamu jauh-jauh kesini, sepagi ini bahkan kamu sampai terluka seperti ini, kalau bukan karena kamu mencintaiku," ucap Ardian menggoda.
"Buat ...." Dinar tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Itu karena Nona Aluna mengatakan kamu akan ke Amsterdam dan tidak akan kembali lagi!" sambung Dinar berusaha mengelak.
"Maafkan aku, Dinar. Kalau aku tidak bicara seperti itu, aku yakin kamu pasti masih bimbang dengan perasaanmu," ucap Aluna yang sedari tadi menatap mereka.
"Tidak apa, Nona," sahut Dinar pelan.
"Persiapkan dirimu, dua minggu lagi aku akan membuatmu menjadi milikku sepenuhnya. Kita akan terikat dalam satu ikatan yang sah." Kedua bola mata Dinar kembali melebar saat mendengar ucapan Ardian yang mengejutkan.
"Kamu yang benar saja?!" protes Dinar tak percaya.
"Mau tidak mau, kamu harus mau. Semalam aku sudah meminta izin pada kedua orang tuamu untuk meminangmu dan mereka sudah setuju,"
"Kamu ...."
"Sudah, sekarang kita obati lukamu ini, jangan sampai menjadi infeksi." Ardian membopong tubuh Dinar ala bridal style, Dinar yang terkejut hanya bisa menjerit hingga mereka menjadi pusat perhatian.
"Bagaimana dengan motorku?" tanya Dinar, saat mereka sedang berjalan menuju parkiran. Aluna dan Davin mengikut di belakang mereka dengan perasaan bahagia.
"Biar nanti salah seorang karyawanku yang mengambilnya," sahut Ardian santai. Dia menurunkan tubuh Dinar saat sudah sampai di samping mobilnya. Namun, begitu Dinar sudah berdiri tegak, tiba-tiba dia mengernyit kesakitan sembari memegang perut bagian bawah karena dia merasakan begitu nyeri disana.
"Kamu kenapa?" tanya Ardian khawatir, Aluna dan Davin yang hendak masuk ke mobil mereka, mengurungkan niatnya dan berjalan mendekati Dinar dan Ardian.
"Kenapa?" tanya Aluna saat dia melihat Dinar yang sedang mengernyit dan Ardian yang nampak begitu cemas.
"Perutku sakit sekali," desis Dinar sembari memegangi perutnya yang merasakan begitu nyeri.
"Dinar, kamu berdarah!" pekik Aluna saat melihat darah tercetak di celana yang menutupi pusat tubuh Dinar.
"Ya Tuhan," ucap Dinar lirih, tetapi kemudian dia tidak sadarkan diri, beruntung Ardian berada di dekatnya, jadi Ardian bisa menangkap tubuh Dinar sebelum jatuh. Perasaan Ardian mendadak semakin cemas, dia segera membawa tubuh Dinar masuk. Davin langsung duduk di belakang kemudi dengan Aluna di sampingnya. Davin melajukan mobil itu menuju rumah sakit yang terdekat.
"Semua pasti baik-baik saja," ucap Aluna berusaha menenangkan Ardian, walaupun di dalam hatinya dia juga merasa cemas.
__ADS_1
"Aku takut, Kak." Mata Ardian terlihat berkaca-kaca, Aluna bisa melihat kecemasan yang sangat besar dari raut wajah Ardian, dia beralih menatap ke arah Dinar yang masih memejamkan kedua bola matanya dengan wajah pucat.
Aku mohon bertahanlah, kamu harus baik-baik saja. Jangan sampai kamu membuat Ardian terluka.