Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
72


__ADS_3

Tuan Bagas dan Ronal sudah berpamitan pulang sedangkan Aluna akhirnya kembali tinggal di Mansion Alexander. Tuan Doni dan Nyonya Anita berpamitan ke kamar karena sengaja memberi waktu Davin dan Aluna untuk berdua. Asisten Jo pun ikut berpamitan.


" Sayang kita ke kamar aja ya. Kamu pasti lelah kan " Ajak Davin halus. Aluna diam, dia hanya menatap wajah Davin lekat. Sedari tadi Aluna melihat Davin yang tersenyum lebar. Jelas sekali ada rona kebahagiaan di wajah Davin.


" Sayang ...." Panggil Davin lagi namun Aluna sama sekali tidak menjawab. Davin langsung membopong Aluna menuju kamarnya.


" Aaaaaa " Teriak Aluna saat merasa tubuhnya terangkat. Davin hanya tersenyum.


" Pegangan yang kuat sayang, atau kamu akan jatuh saat naik tangga nanti " Perintah Davin karena Aluna tidak mau berpegangan. Aluna lalu melingkarkan tangannya di leher Davin dan membenamkan wajahnya di dada bidang Davin. Melihat tingkah Aluna, Davin tersenyum simpul. Dia lalu membopong Aluna ke kamarnya. Kamar yang dulu mereka tempati.

__ADS_1


Davin mendudukkan Aluna di pinggiran tempat tidur, kemudian dia pun duduk di samping Aluna. Dia menatap Aluna dalam, dia merasa begitu bahagia karena Aluna bersedia memaafkannya dan memberi dia kesempatan lagi. Aluna yang merasa sedari ditatap mulai tidak nyaman. Dia melihat Davin yang selalu tersenyum ke arahnya.


"Sayang .... " Panggil Davin lembut. Aluna menoleh menatap lekat mata Davin.


" Aku mencintaimu .... terima kasih sudah memberikan aku kesempatan lagi " Kata Davin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Aluna. Bahkan kini jarak wajah mereka tidak lebih dari lima centimeter. Hembusan nafas Davin menerpa lembut pipi Aluna. Satu tangan Davin memegang tengkuk Aluna. Davin semakin memajukan wajahnya dan dia memejamkan matanya berusaha meresapi segala rasa. Namun, saat bibirnya hampir menempel di bibir Aluna, dia merasakan sebuah telapak tangan menahannya. Dia membuka matanya dan melihat Aluna yang sedang menatap matanya tajam.


" Aku bersedia tinggal disini bukan berarti aku sudah memaafkanmu begitu mudah. Maaf, hatiku belum sepenuhnya siap untuk kembali " Jawab Aluna sambil menjauhkan tubuhnya dari tubuh Davin.


" Hatiku sudah terlalu sakit dan tidak semudah itu sembuh " Tambah Aluna dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia sudah berusaha memaafkan Davin namun bayangan waktu di rumah sakit itu berkali-kali menghantuinya. Dia memang meminta tinggal karena dia tidak mau kehilangan Davin tapi dia juga masih merasa sakit karena perkataan Davin waktu itu.

__ADS_1


" Maafkan aku .... " Davin menyesal. Dia tidak menyangka jika perkataannya waktu itu benar-benar melukai perasaan Aluna.


" Aku bisa memaafkanmu tapi untuk melupakan segala rasa sakit di hatiku itu sangat sulit. Aku ingin kamu memberi waktu padaku untuk menata hatiku agar bisa menerima kamu kembali " Aluna memalingkan mukanya tidak berani menatap Davin. Dia masih harus meyakinkan perasaanya sendiri.


" Ketika kamu memecahkan sebuah gelas dan dia pecah kamu takkan mungkin bisa menyatukannya kembali utuh seperti semula. Seperti hatiku, Aku hanya sedang berusaha agar gelas itu bisa kembali rekat meski tak bisa kembali sempurna seperti semula. Mengertilah, aku benar-benar sedang berusaha " Ada nada sedih dalam perkataan Aluna. Davin terdiam, namun dia berusaha untuk memahami Aluna meski dia harus kecewa. Dia hanya perlu bersabar menunggu sampai Aluna benar-benar siap kembali padanya.


" Aku akan menunggunya. Aku akan menunggu waktu itu tiba sampai kamu bersedia dan siap sepenuhnya menerima aku " Davin memegang kedua bahu Aluna dan mengusapkan tangannya pelan.


" Bolehkah aku memelukmu sebentar saja ? Aku hanya ingin melepas rinduku walaupun sedikit " Pinta Davin. Aluna mengangguk pelan, Davin pun memeluk erat tubuh Aluna. Dia benar-benar bahagia bisa berada di samping Aluna meski Aluna belum bisa menerima sepenuhnya. Tapi dia akan terus berusaha mengobati segala luka yang sudah dia torehkan di hati Aluna. Kemudian, mereka berdua pun tidur berbagi ranjang tapi dengan guling di tengahnya sebagai pembatas. Aluna masih membangun benteng yang kokoh dalam hubungannya dengan Davin. Davinpun mencoba mengerti, dia hanya harus berusaha sekuat mungkin menghancurkan benteng kokoh itu.

__ADS_1


__ADS_2