
Davin berlari melewati lorong rumah sakit. Dia merasa begitu cemas saat mendengar Aluna tertabrak sebuah motor satu jam yang lalu. Dia baru mengetahui saat ayahnya menelfonnya, Davin yang kebetulan sedang rapat memang sengaja mematikan ponselnya sampai rapat selesai. Begitu sampai di ruang rawat Aluna. Dia langsung membuka pintu itu, dia melihat Aluna yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan beberapa luka di tubuh dan wajahnya. Kebetulan ada dokter yang sedang memeriksa dan juga ada ayah ibunya. Sedangkan Tuan Bagas dan istrinya serta Ronal sedang dalam perjalanan pulang. Davin lalu berjalan mendekat.
" Bagaimana keadaan istri saya dok ? " Tanya Davin cemas. Dia menatap mata Aluna yang juga sedang menatapnya dengan sendu.
" Nona Aluna hanya mengalami luka-luka dan nanti akan segera sembuh. Hanya saja.... " Dokter itu menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
" Nona Aluna mengalami keguguran karena memang kondisi kehamilannya yang masih sangat rawan " Semua terkejut mendengar ucapan dokter itu termasuk Aluna sendiri. Karena tak ada yang tahu kalau Aluna hamil.
" Keguguran ? Bagaimana bisa keguguran sedangkan istri saya tidak hamil dok ?" Tanya Davin bingung.
" Sebenarnya dalam rahim istri anda ada janin yang baru terbentuk jadi wajar kalau Nona Aluna belum merasakan gejala kehamilan. Meskipun kalian menikah baru satu bulan tapi karena saat kalian menikah Nona Aluna sedang dalam masa subur jadi janin itu bisa langsung terbentuk. Namun karena hentakan yang kuat, janin itu tak bisa diselamatkan " Mendengar penjelasan Dokter itu, tubuh Aluna langsung terasa melemas. Airmatanya jatuh mengalir, dia tidak menyangka jika dia harus kehilangan janin yang belum disadarinya sudah hadir di rahimnya. Dia mengusap perutnya pelan. Dia terisak, rasa sakit di tubuhnya nyatanya tidak sebanding dengan rasa sakit karena kehilangan janinnya. Davin menatap Aluna tajam ,tangannya mengepal erat. Kedua orang tua Davin berusaha menenangkan Aluna. Dokter itupun kemudian pamit keluar.
" Puas kamu ! " Bentak Davin marah. Aluna dan kedua orang tua Davin terkejut mendengar bentakan Davin yang begitu menggema di ruangan itu.
" Apa-apaan kamu Vin ! Istri kamu sakit kamu malah membentaknya " Tuan Doni marah saat mendengar Davin yang justru membentak Aluna.
__ADS_1
" Aku sudah bilang hormati aku sebagai suamimu ! Asal pergi saja tanpa mau mendengarkan ucapan suamimu. Sekarang kamu kaya gini bahkan harus kehilangan calon anak kita yang selalu aku tunggu-tunggu. Puas kamu sudah bikin aku sakit hati. PUAS !! " Bentak Davin lagi, bahkan airmata Davin sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Setiap malam Davin selalu berdoa agar lekas diberi momongan nyatanya kini dia harus kehilangan calon buah hati yang ditunggunya sebelum mereka tahu kehadirannya. Aluna semakin terisak, rasa sakit di tubuhnya dan kehilangan calon buah hatinya kini ditambah bentakkan Davin yang menyalahkannya tanpa peduli keadannya kini memupuk menjadi satu. Seolah berhasil meremukkan hati Aluna menjadi hancur lebur. Aluna tak bicara sepatah katapun ,dia hanya menangis dan menangis merasakan sakit yang teramat dalam.
" Jaga bicara kamu vin. lihat keadaan istrimu jangan asal menyalahkan ! " Tuan Doni mulai membentak Davin , dia merasa marah karena Davin yang tak mampu menjaga emosinya hingga menyakiti perasaan istrinya. Davin tersenyum sinis. Entah kenapa rasa cintanya kepada Aluna terkalahkan oleh rasa kecewanya karena kehilangan calon buah hati mereka.
" Itu semua karena kecerobohannya dan kebodohannya sendiri ! " Kata Davin kasar kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Aluna.
Setelah kepergian Davin , airmata Aluna semakin mengalir deras, sungguh dia tidak sanggup terluka sekaligus seperti ini. Baru sebulan mereka berumah tangga namun keadaan sudah mengecewakannya. Aluna berusaha menguatkan hatinya sendiri namun nyatanya rasa sakit itu mengalahkan kekuatan hatinya. Kedua orang tua Davin mencoba menenangkan Aluna, dan berkali-kali minta maaf atas sikap Davin, Aluna pun tidak menjawab, dia hanya diam sambil menangisi nasibnya. Hingga saat dia telah lelah menangis diapun tertidur.
----------@@@@@@--------
" Papa..Mama.. Kak Ronal..Kak sisil.. " Panggil Aluna pelan. Tubuhnya masih begitu lemah.
" Gimana keadaan kamu Lun ? Apa semua luka-luka ini masih terasa sakit ? " Tanya Ronal khawatir. Aluna menggeleng pelan.
" Bukan tubuh aku kak.. tapi hati aku.. " Kata Aluna lirih. Airmatanya kembali mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
" Bagaimana bisa ? " Tanya Tuan Bagas belum paham. Aluna pun menceritakan semuanya ,tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Setelah mendengar cerita Aluna, Tuan Bagas mengepalkan tangannya erat sedangkan Rahang Ronal mengeras karena marah. Dia tidak menyangka jika Davin bisa setega itu bahkan tidak peduli pada keadaan Aluna.
" Kurang ajar kamu Davin.. kamu memang harus diberi pelajaran ! " Ronal beranjak bangun hendak mencari Davin karena setelah kepergian Davin tadi siang, dia belum kembali lagi.
" Jangan kak " Cegah Aluna memegang lengan Ronal.
" Kenapa sayang ? Biar kakakmu memberi pelajaran pada pria tak berhati itu. Berani sekali dia menyakiti anak perempuan papa " Kata Tuan Bagas penuh amarah. Aluna menagis melihat kepedulian Tuan Bagas padanya, padahal dia hanyalah anak angkat.
" Sudah biarkan saja kak.. mungkin karena dia sedang kecewa " Aluna berusaha membela Davin. Ronal justru semakin marah.
" Orang kaya gitu masih kamu bela ?! " teriak Ronal karena marah.
" Biarkan saja kak... tapi aku mohon sama kakak dan papa satu hal....... " Aluna terdiam. Dirinya merasa begitu bimbang tapi dia harus memantapkan hatinya.
" bawa aku pergi jauh dari sini " Kata Aluna lirih sambil meneteskan lagi airmatanya yang tadi telah berhenti.
__ADS_1