Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
38


__ADS_3

"Tidak baik seorang gadis perawan malam-malam sendirian di tempat sepi seperti ini," kata Davin. Aluna yang sedang melamun pun terjengkit kaget.


"Ngapain sih elo kesini?! " tanya Aluna jutek.


"Aku sudah bilang kan? Telinga ku panas dengar kamu bilang loe-gue," kata Davin protes.


"Pergilah! Gue eh aku lagi pengen sendiri," usir Aluna namun Davin tetap berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Dua minggu tidak bertemu, kamu masih jutek saja ternyata. Aku kira kamu sudah berubah menjadi anak yang lemah lembut. Apalagi melihat kamu memakai gaun kaya gini harusnya kamu bersikap lebih feminim,"


"Sorry seperti apapun penampilanku, aku tetap akan menjadi diriku sendiri! Aku tidak suka berpura-pura menjadi orang baik di depan orang lain!"


"Ya, itu yang aku suka dari kamu. Kamu itu apa adanya." Tubuh Aluna membeku mendengar ucapan Davin yang tiba-tiba itu.


"Gak usah sok manis! Mana Tuan Davino Alexander yang terhormat? Mana Tuan Muda yang suka menindas?! Tidak usah pura-pura baik karena aku tahu betapa buruknya kamu," kata Aluna dengan sinis. Davin hanya terdiam mendengar perkataan Aluna. Dia tidak menyangka jika Aluna memang benar-benar tidak menyukainya.

__ADS_1


"Jangan bicara omong kosong tentang cinta!"


"Aku awalnya juga tidak menyadari namun saat aku sadar tentang perasaanku. Aku tidak bisa lagi menyangkalnya kalau aku..." Davin menjeda kalimatnya. Tubuh Aluna berdesir, baru kali ini ada lelaki yang mengungkapkan perasaannya padanya dan sialnya kenapa lelaki itu adalah lelaki yang selalu membuatnya marah. Namun, Aluna tidak dapat memungkiri, dua minggu tidak bertemu dengan Davin, dia seringkali teringat semua tentang Davin. Memang benar kata orang ,cinta dan benci itu beda tipis.


"Hentikanlah omong kosongmu itu!" bentak Aluna kemudian dia berjalan meninggalkan Davin. Namun, baru lima langkah dia berjalan langkahnya terhenti saat dia merasa tubuhnya di peluk dari belakang. Aluna mematung, darah dalam tubuhnya terasa berdesir bahkan jantungnya pun berdetak begitu cepat.


"Lepaskan!" Aluna meronta, berusaha melepaskan pelukan Davin namun Davin justru semakin memeluknya erat. Aluna merasa walaupun tubuhnya menerima namun hatinya masih belum merasa mantap.

__ADS_1


"Aku mohon, biar aku memelukmu sebentar saja," pinta Davin memelas. Aluna pun hanya diam. Davin semakin memeluk erat Aluna dari belakang. Dia letakkan dagunya di puncak kepala Aluna. Mereka berdua membisu, sama-sama saling menikmati pelukan itu. Aluna memejamkan matanya menikmati kenyamanan yang hatinya rasakan.


"Aluna, aku serius dengan ucapanku. Aku tidak mau kamu menjadi milik orang lain. Saat aku mendengar tentang pernikahan, aku pikir kamu lah mempelai wanita hari ini, padahal aku baru saja menyadari perasaanku saat kamu pergi dariku. Hingga aku menguatkan hatiku kalau kamu bukan jodohku. Namun, sekarang aku yakin kalau kamu adalah tulang rusukku yang hilang. Aluna, aku sudah tidak mau bermain-main. Maukah kau menikah denganku?" kata Davin. Aluna langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia belum percaya dengan apa yang Davin ucapkan. Dia pun membalikkan badannya. Matanya menatap lekat ke dalam mata Davin, mencari kebohongan di sana namun Aluna justru kesungguhan yang Aluna lihat, ada tatapan penuh cinta di sana. Aluna pun terhanyut dalam tatapan mata itu. Davin menatapnya begitu lekat, hingga tanpa sadar Davin memajukan wajahnya. Aluna merasakan jarak yang begitu dekat, merasakan tubuhnya memanas. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas Davin di pipinya. Dia ingin menghindar namun tubuhnya justru berkhianat. Davin mengecup bibir Aluna dengan lembut. Bukan seperti saat Davin memaksa mencium Aluna waktu pertama kali. Kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman. Aluna pun terhanyut dalam kelembutan yang Davin berikan, hingga beberapa menit adegan itu terjadi Aluna tersadar kemudian dia mendorong tubuh Davin dengan kasar.


__ADS_2