
Aluna sedang duduk bersama keluarga Bagaskara, dia sedari tadi bercengkrama melepas rindu dengan keluarga angkatnya itu.
"Alvino kapan pulang, Lun?" tanya papa Bagas sambil duduk di samping mama Resti yang sedang memangku baby Nadira.
"Katanya dua hari lagi, pa. Al sama Nathan belum mau pulang," jawab Aluna. Saat sedang asyik mengobrol, Ronal dan Sisil datang bersama Anindita, putri dari Ronal.
"Aunty Luna," panggil Anin dengan raut wajah bahagia, dia berlari ke tempat aunty nya itu.
"Kamu apa kabar sayang? Aunty kangen banget sama kamu," kata Aluna sambil mencium gemas pipi keponakannya.
"Baik Aunty, Al mana?" tanya Anin sambil celingukan mencari sepupunya.
"Lagi jalan-jalan sama eyang," jawab Aluna sambil tersenyum ke arah ponakannya yang jarang bertemu.
"Tumben Lun, kamu kesini?" tanya Ronal sambil duduk di samping papa Bagas.
"Emang gak boleh kak?" tanya Aluna dengan ketus.
"Jutek amat sih Nyonya Muda Alexander," Aluna hanya mendelik ke arah Ronal.
"Lun, kamu udah gak pengen ikut balapan lagi?"
"Kakak kan tahu aku udah gak mungkin ikut balapan," sahut Aluna dengan kesal.
"Ya, barangkali kamu masih mau ikut. Susah sekali nyari pembalap kaya kamu," ucap Ronal, Aluna tersenyum mengejek ke arah kakaknya itu.
"Iya dong, Neng Salsa tidak mungkin tergantikan," angkuh Aluna sambil menepuk dadanya.
"Tinggal kamu cari lagi saja bibit-bibit baru," saran papa Bagas, Ronal terdiam sesaat namun kemudian dia memyeringai tipis.
"Gak usah senyum gitu kak, aku tahu apa artinya senyuman kakak," tukas Aluna.
"Sok tahu kamu, Lun."
"Aku tahu di otak kakak mau ajari Alvino kan?" tebak Aluna membuat Ronal langsung berdecih sebal.
"Kamu gak asik, Lun!" decih Ronal. Aluna hanya terkekeh, karena ternyata tebakannya benar.
__ADS_1
"Aku yakin Alvino punya bakat kaya kamu, jadi biar aku asah," kata Ronal meyakinkan.
"Kak, Al kan masih kecil, aku gak mau merusak masa kecilnya dengan hal-hal serius seperti itu. Biar saja dia mau seperti apa tanpa aku harus menuntut dia harus begini atau begitu. Kecuali, jadi penerus Alexander Group, karena itu sudah akan menjadi kewajiban dia saat besar nanti," jelas Aluna. Semua tersenyum mendengar jawaban Aluna.
"Seandainya dia sudah besar dan mau jadi pembalap, boleh dong,"
"Terserah dia saja, yang pasti dia harus mendapat izin dari daddy nya," tegas Aluna.
"Lun, kamu tidak ingin ikut mengelola perusahaan milik papa?" tanya papa Bagas, walaupun Aluna hanya anak angkat, namun papa Bagas mencoba bersikap adil pada mereka berdua.
"Tidak pa, aku sekarang hanya ibu rumah tangga, jadi anak yang akan jadi prioritasku. Aku gak mau perhatianku ke anak terbagi pa. Lagipula, Davin belum tentu mengizinkan aku mengelola sebuah perusahaan," tolak Aluna halus, papa Bagas menghembuskan nafas kasar.
"Tapi kalau kamu mau, kamu tinggal bilang ke papa, Lun." Papa Bagas berkata penuh harap kepada Aluna.
"Baik, pa."
Akhirnya mereka kembali berbincang-bincang di selingi beberapa celotehan dari Anindita.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mila sedang bersiap-siap untuk pergi berjalan-jalan sekalian belanja kebutuhan dapur yang mulai menipis. Dia di temani Ayu, salah satu pelayan yang di tugaskan Asisten Jo untuk menjaga Mila dan mengantar Mila kemana pun.
"Sudah Nyonya," jawab Ayu sopan. "Biar, Nona kecil Cacha saya yang gendong, Nyonya," ucap Ayu namun Mila langsung menolaknya.
"Biar aku saja gak papa, Yu. Baby Cacha Maricha hehey, belum tentu mau sama siapapun," tolak Mila, dia melangkahkan kakinya keluar rumah di ikuti Ayu di belakangnya yang sedang menahan tawanya mendengar panggilan Mila untuk bayi kecilnya itu. Awalnya dia begitu heran saat pertama kali melihat tingkah dan ucapan Mila yang berada di bawah normal, tapi sekarang semua sudah terbiasa melihat tingkah Mila yang slenge'an itu.
Mereka pun menuju sebuah supermarket yang jaraknya tidak terlalu dari rumah Asisten Jo karena kasihan kepada bayi Cacha. Setelah mobil terparkir di depan supermarket, Mila turun sambil menggendong bayi Cacha. Ayu pun mengikutinya.
"Nyonya, kita mau membeli apa dulu?" tanya Ayu sambil mendorong troli belanjaan saat mereka sudah sampai di dalam supermarket.
"Kamu cari persediaan dapur apa saja yang sudah habis ya," suruh Mila sambil mencari-cari sesuatu yang di inginkan.
"Baik, Nyonya." Ayu pun berjalan mencari segala persediaan dapur yang telah habis. Sedangkan Mila mencari kebutuhannya sendiri yang juga sudah habis. Hampir setengah jam mereka berkeliling dan merasa cukup, mereka pun menuju kasir untuk membayar semua belanjaan itu.
"Apa ada tambahan lagi, Nona?" tanya penjaga kasir itu ramah.
"Mbak, aku mau permen itu ya, yang strawberry sama banana," tunjuk Mila pada beberapa kotak kecil yang terpajang di kasir.
__ADS_1
"Maaf Nona, tapi ini bukan permen," jawab penjaga kasir itu sambil menahan tawanya. Mila menghembuskan nafas kasar.
"Enggak usah meledek mbak, saya tahu apa itu. Pembungkus ular berurat," jawab Mila asal. Ayu yang berdiri di samping Mila, dan penjaga kasir itu tertawa mendengar jawaban Mila.
"Nyonya, anda sudah tahu itu kond*m kenapa anda bilang permen?" tanya Ayu di sela tawanya, beruntung di kasir hanya ada mereka saja.
"Lidahku rasanya kaku kalau manggil nama asli makanya aku bilang permen," sahut Mila, ayu menggelengkan kepalanya, majikannya ini benar-benar sangat menghibur.
"Mau yang rasa apa, Nona?" tanya penjaga kasir itu lagi.
"Ya enak rasa apa mbak? Soalnya saya belum pernah coba," tanya Mila bingung.
"Kalau begitu anda bisa bertanya dulu kepada suami anda," saran penjaga kasir itu, Mila pun mengiyakan. Dia mengambil ponselnya, kemudian mencari nomer ponsel suaminya dan menghubunginya. Cukup lama panggilan itu hanya berdering saja.
"Mas," panggil Mila saat panggilan sudah terhubung. "Kamu suka rasa apa? Strawberry, durian, mint, bumble gum atau banana?" tanya Mila tanpa aba-aba.
"Kamu nanya apa? Rasa apa maksudnya?"
"Permen mas," jawab Mila singkat.
"Aku gak suka permen Mil, bukankah kamu tahu itu," Suara Asisten Jo terdengar begitu ketus.
"Ya udah jawab aja mas, di antara rasa semua itu kamu paling suka yang mana? Kalau kamu gak jawab, aku gak mau kamu tungganggi mas," Mulut Mila benar-benar tidak memiliki rem.
"Mint," jawab Asisten Jo singkat.
"Oke," Mila langsung mematikan panggilan itu begitu saja setelah mendapat jawaban dari suaminya.
"Mbak, suami saya ternyata suka yang mint, kalau begitu saya beli yang mint saja, sepuluh ya mbak," pesan Mila. Ayu dan penjaga kasir itu melongo mendengar ucapan Mila.
"Banyak sekali, Nyonya?" tanya Ayu bingung.
"Aku takut gak cukup Yu. Eh tapi kalau sepuluh kurang gimana? Aku mau dua puluh deh mba, rasanya di campur gak papa," ralat Mila.
"Ya Ampun, Nyonya," Ayu menggelengkan kepalanya namun Mila hanya tersenyum simpul.
Maaf slow update ya
__ADS_1
Author lagi benerin part 100 ke bawah karena banyak alur yang tidak nyambung