
Davin benar-benar kehilangan semangat hidupnya. Seharian dia hanya tiduran di kamar tanpa sedikitpun meninggalkan kasur itu. Bahkan dia tidak memikirkan urusan kantor sama sekali. Matanya telah sembab karena menangis semalaman. Sudah berulang kali Nyonya Anita mengetuk pintu kamar itu namun Davin tidak membukakannya hingga membuat Nyonya Anita begitu cemas.
" Yah.. bagaimana Davin yah, seharian dia tidak mau keluar sama sekali padahal ibu sudah mengetuk pintu berpuluh-puluh kali. Ibu jadi cemas yah " Ujar Nyonya Anita dengan wajah yang begitu sedih dan cemas saat melihat Tuan Doni masuk ke mansion itu.
" Sabar bu.. nanti biar ayah saja yang memanggil dia " Tuan Doni berusaha menenangkan. Dia kemudian duduk di sofa ruang keluarga untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
" Ada apa yah ? " Tanya Marvel saat masuk ke ruang keluarga. Begitu mendengar seharian Davin mengurung diri di kamar, Marvel langsung berangkat menuju mansion.
" Adikmu Vel.. Dia tidak mau keluar sama sekali. Ibu jadi cemas " Mata Nyonya Anita mulai berkaca-kaca. Kaki Marvel langsung melangkah menuju kamar Davin, begitu sampai di depan pintu kamar, Marvel langsung mengetuk pintu itu sambil memanggil-manggil nama Davin. Namun , sampai lelah tangan Marvel mengetuk tak ada sedikitpun sahutan dari dalam kamar. Marvel langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Sebelum kaki Marvel menyetuh pintu, pintu itu sudah terbuka dan kepala Davin mengintip keluar. Marvel terdiam melihat adiknya terlihat begitu berantakan.
" Selain Jo aku gak mau ketemu siapapun " Ucap Davin singkat lalu menutup kembali pintu itu. Marvel pun menggedor-nggedor pintu kamar itu lagi.
" Sudahlah Vel.. biar adikmu menenangkan dirinya dulu. Kita harus segera mencari keberadaan Aluna " Kata Tuan Doni saat melihat Marvel hendak mengambil ancang-ancang lagi.
" Tapi yah.. Davin belum makan sama sekali, ibu khawatir dia sakit "
" Tenanglah bu..nanti kita cari cara biar Davin mau makan "
__ADS_1
Mereka bertiga pergi meninggalkan kamar Davin, namun begitu menuruni anak tangga yang terakhir mereka melihat kedatangan Asisten Jo. Mereka langsung berjalan cepat ke tempat Asisten Jo.
" Jo.. kamu dapat informasi keberadaan Aluna ? " Mendengar pertanyaan Tuan Doni, Asisten Jo menggeleng pelan. Wajahnya terlihat begitu muram. Mereka langsung menghela nafas berat.
" Masuklah ke kamar Davin Jo, dia hanya mengizinkan kamu saja yang masuk. Seharian ini dia tidak keluar kamar sama sekali " Kata Tuan Doni sedih mengingat keadaan anak bungsunya itu. Asisten Jo langsung berlari menuju kamar Tuan Mudanya itu.
" Tuan... ini saya " Asisten Jo mengetuk pintu beberapa kali. Pintu itu kemudian terbuka, setelah membuka pintu Davin berdiri di depan tempat tidur dan Asisten Jo berdiri agak jauh dari Tuan Mudanya.
" Aku tidak mau basa-basi. Cepat beri informasi apa yang kamu dapat Jo " Davin benar-benar sudah tidak sabar. Asisten Jo masih terdiam, dirinya merasa begitu gugup juga takut. Tapi, dia tetap harus memberitahukannya pada Tuan Davin.
" Maaf Tuan...... " Ucap Asisten Jo lirih sambil menundukkan kepalanya. Davin langsung menatap Asisten Jo dengan tajam. Tangannya mengepal erat mendengar kalimat maaf dari Asisten Jo.
" Mengapa kamu tidak bisa menemukan dia Jo ?! " Tanya Davin kemudian dia berjalan agak menjauh dari Asistennya itu.
" Maaf Tuan.. tapi sepertinya kepergian Nona Aluna benar-benar sudah direncanakan Tuan, karena semua Cctv di sepanjang akses jalan menuju bandara dan di bandara sudah dimatikan Tuan, bahkan saya sudah mencari semua daftar penumpang pesawat tidak ada satupun nama Nona Aluna yang terdaftar " Jelas Asisten Jo. Wajah Davin langsung memerah marah. Dia tidak menyangka akan benar-benar kehilangan jejak Aluna.
" Terus Aluna kemana Jo ?" Davin bertanya lirih. Dia benar-benar tidak bisa berfikir saat ini.
__ADS_1
" Saya sudah mengerahkan semua anak buah saya Tuan ke seluruh penjuru negeri dan ke luar negeri Tuan, semoga Nona Aluna cepat ditemukan " Asisten Jo berusaha menenangkan Tuan Davin.
" Aaaaaaaaaa"
PRANG !!!!
Semua terkejut saat mendengar bunyi kaca pecah, semua langsung berlari menuju kamar Davin. Mereka terdiam saat melihat Davin sedang duduk menjambak rambutnya. Kaca rias di kamar itu pecah dengan kursi nya yang sudah tergeletak jauh.
" Vin.. tenang Vin.. kita akan berusaha mencari keberadaan Aluna " Kata Tuan Doni sambil mendekati Davin sedangkan Nyonya Anita langsung memeluk Davin erat. Airmatanya juga mengalir melihat anaknya terlihat begitu terpukul.
" Mom... aku harus bagaimana ? Aku gak mau kehilangan Aluna mom, aku tahu aku salah. Aku mau minta maaf sama Aluna mom, dia dimana mom " Kata Davin putus asa. Airmatanya sudah menetes di sudut matanya.
" Kamu harus sabar sebentar ya Vin. Kita semua sedang berusaha mencari keberadaan Aluna. Mommy yakin Aluna pasti ditemukan, dia hanya sedang ingin menenangkan diri sebentar dan pasti akan kembali padamu lagi " Davin langsung memeluk ibunya erat. Semua yang melihat pun begitu sedih. Ya.. memang pernikahan mereka baru sebulan tapi rasa sayang Davin ke Aluna benar-benar penuh, meski setiap hari selalu bertengkar tapi baru sebentar kehilangan, Davin sudah benar-benar hancur.
" Aku rindu Aluna mom.. aku rindu dia " Kata Davin berulang kali. Nyonya Anita mengusap punggung Davin berulang kali, mencoba memberi ketenangan pada anaknya.
" Kita semua akan berusaha semaksimal mungkin agar Aluna cepat ditemukan Vin " Marvel angkat bicara meski nadanya terdengar bergetar karena menahan airmatanya. Karena baru kali ini dia melihat adiknya sehancur ini.
__ADS_1
" Aluna...... aku mencintaimu " Bisik Davin lirih sambil memejamkan matanya. Nyonya Anita semakin memeluk Davin erat menyalurkan kekuatan untuk Davin. Sungguh, sebagai seorang ibu dia tidak tega melihat anaknya seperti ini.
Aluna.. kamu dimana ? Pulanglah Nak.. Kasian Davin begitu terluka. Davin memang salah, hukum dia apapun tapi jangan beri dia hukuman dengan meninggalkannya. Davin benar-benar terluka. Pulanglah Nak.. bahkan jika kamu ingin memukul Davin dengan babak belur, tante ikhlas tapi jangan hukum dia seperti ini. Nyonya Anita membatin. Dia benar-benar tidak bisa melihat Davin yang terpuruk.