
Ruangan VVIP.
Ardian sedang duduk di samping Dinar dengan membawa nampan makanan di tangannya. Sudah hampir satu jam makanan itu berada di samping Dinar, tetapi tidak sedikitpun tersentuh oleh tangan Dinar.
"Makanlah sekarang juga atau aku akan menyuapimu dengan caraku," ancam Ardian, dia sedari membujuk Dinar untuk makan tetapi Dinar selalu menutup rapat mulutnya.
"Bukankah sudah ku bilang, pergilah dari sini," usir Dinar, raut wajahnya menampilkan ketidaksukaan kepada Ardian, tetapi Ardian tetap duduk santai di samping Dinar.
"Aku tidak akan pergi dari sini sampai kamu sembuh," kata Ardian mantap.
"Kamu yakin? Kamu tidak mandi? Kamu tidak berganti pakaian? Jorok sekali!" cibir Dinar, Ardian menarik sudut bibirnya.
"Memang kenapa? Walaupun aku bersih kamu tidak akan memelukku bukan?" tanya Ardian menggoda, Dinar mencebikkan bibirnya kesal.
"Dalam hitungan ketiga kalau kamu tidak mau makan, maka aku akan...." Ardian tidak meneruskan kata-katanya. Dia memajukan wajahnya mendekati wajah Dinar, jantung Dinar terasa berdebar-debar, dengan cepat Dinar memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak berani menatap Ardian yang sudah begitu dengannya, bahkan jarak mereka tidak lebih dari lima centi.
"Jangan terlalu dekat!" kata Dinar sambil mendorong tubuh Ardian, tetapi tubuh Ardian tidak bergeser sedikit pun. Suara Dinar terdengar begitu gugup membuat seringai tipis di bibir Ardian semakin terlihat jelas.
"Makanlah atau aku akan menyuapimu dengan mulutku," bisik Ardian mengancam, Dinar langsung menoleh ke arah Ardian tetapi karena jarak mereka yang sangat dekat, bibir Dinar tanpa sengaja menempel di pipi Ardian, membuat senyum Ardian langsung terbit begitu saja.
"Kamu agresif sekali," ucap Ardian menggoda, Dinar kembali memalingkan wajahnya yang telah merona merah.
"Pergilah!" usir Dinar untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar malu kepada Ardian.
"Tidak! Aku tidak akan pernah pergi dari sini," Ardian bersikukuh.
"Aku tidak mau kekasihmu marah dan salah paham. Aku tidak mau di cap sebagai pelakor," kata Dinar pelan. Tangan Ardian menangkup pipi Dinar dan memaksanya menatap ke arahnya. Tatapan mata Dinar dan Ardian bertemu, mereka saling menatap lekat dalam tatapan mata yang begitu menghanyutkan.
"Aku tidak memiliki kekasih, aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu." Dinar tidak menjawab, dia masih terpesona dengan tatapan mata Ardian. Tanpa sadar, Ardian memajukan wajahnya mendekati wajah Dinar, dia mencium bibir Dinar dengan lembut. Dinar pun refleks memejamkan kedua matanya.
"Ardian!"
Ardian terjengkit kaget saat mendengar seseorang masuk ke ruangan itu dan meneriaki namanya, dia langsung melepaskan ciumannya dari bibir Dinar, sedangkan Dinar memalingkan wajahnya karena merasa begitu malu, hatinya pun berkali-kali mengumpati dirinya sendiri yang sudah bertingkah bodoh.
"Dasar adik durhaka!" bentak Ronal, dia mendekati Ardian lalu menjewer telinga Ardian dengan kencang hingga Ardian berteriak kesakitan.
"Kak, telingaku putus Kak!" Teriak Ardian sambil berusaha melepaskan jeweran telinga Ronal di telinganya.
"Kamu itu punya otak apa tidak?! Suruh jagain orang sakit malah di ajak mesum!" omel Ronal tanpa melepaskan jeweran telinganya.
"Kak, sakit Kak." Suara Ardian terdengar seperti sedang menahan tangis, membuat Ronal menjadi tak tega. Ronal dengan segera melepas jeweran tangannya dari telinga Ardian. Dia melihat telinga Ardian yang sudah terlihat sangat merah.
"Kakak terlalu kencang ya," kata Ronal seolah tak bersalah, Ardian hanya berdecih sebal.
"Menurut Kakak?" tanya Ardian kesal, dia masih terus mengusap telinganya untuk mengurangi rasa panas yang menjalar di sana.
"Kamu yang bernama Dinar?" tanya Ronal. Dinar menoleh ke arah Ronal, tetapi dia langsung menundukkan kepalanya.
"I-iya Tuan," jawab Dinar gugup.
"Ish! Jangan panggil aku Tuan, panggil saja Kak Ronal. Satu hal lagi, tidak perlu gugup begitu, aku tidak akan menggigitmu," kata Ronal lembut.
__ADS_1
"Jangan percaya sama dia! Dia kalau lagi garang suka gigit sembarangan." Ardian menimpali.
"Mulutmu!" kata Ronal penuh penekanan, dia menatap tajam ke arah Ardian yang sedang menunjukkan rentetan gigi-gigi putihnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ronal kepada Dinar.
"Sudah mendingan Kak, hanya tinggal luka jahitnya saja yang sakit," jawab Dinar masih dengan menunduk.
"Semoga lekas membaik ya. Aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolong adikku." Dinar menautkan kedua alisnya, bingung dengan perkataan Ronal. "Aluna, dia adikku," sambung Ronal menjelaskan, karena dia tahu Dinar tidak paham.
"Wah, Nona Aluna itu adik, Kak Ronal?" tanya Dinar tak percaya. "Tapi kenapa pria menyebalkan ini bilang Nona Aluna kakak satu-satunya?" tanya Dinar heran.
"Tidak usah mengatai aku menyebalkan, nanti jatuh cinta terus bucin baru tahu rasa kamu," protes Ardian.
"Aku jatuh cinta sama kamu? Ogah!" teriak Dinar lantang.
"Jangan bilang ogah begitu, kemakan omongan sendiri nanti loh." Ardian benar-benar pintar menyulut emosi Dinar.
"Diamlah! Aku pusing mendengar ocehanmu," ketus Dinar, sedangkan Ronal hanya menatap dengan senyum ke arah mereka berdua.
"Kayaknya sejarah Davin dan Aluna bakal terulang,"
"Maksud Kakak?" tanya Ardian dan Dinar bersamaan sembari menatap ke arah Ronal. Senyum di bibir Ronal semakin terlihat melebar.
"Kalian kompak sekali? Jangan-jangan kalian berjodoh," goda Ronal.
"Jangan Kak, lihat wajahnya saja aku sudah males," kata Dinar, dia memalingkan wajahnya kesal.
"Silahkan, aku tidak takut dan aku tidak akan pernah kangen sama kamu," ucap Dinar menantang.
"Sudah-sudah. Dinar makanlah terlebih dahulu, setelah ini ada hal penting yang akan aku bicarakan denganmu," suruh Ronal, Dinar segera mengambil alih makanannnya dari tangan Ardian, lalu memakannya dengan tenang.
"Mau bicara apa, Kak?" tanya Ardian, tanpa mengalihkan pandangannya dari gerak-gerik Dinar yang sedang mengunyah makanannya.
"Kamu tidak perlu tahu," kata Ronal santai, dia berjalan menuju ke sofa, lalu mendudukkan tubuhnya di atas sofa itu. Baru saja Ronal duduk, ponselnya terdengar berdering, Ronal segera mengambil ponselnya dari saku jaketnya.
"Aluna?" gumamnya sembari mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Aluna meminta video call dengan dirinya.
"Hallo kelinci kecil," sapa Ronal saat panggilan video itu sudah terhubung.
"Aku bukan kelinci kecil lagi, aku sudah emak-emak kalau kakak lupa." Suara Aluna terdengar ketus.
"Sensi amat sih ibu hamil," ledek Ronal.
"Kakak tahu aku hamil?! Siapa yang memberitahu Kakak?" tanya Aluna penuh penekanan.
"Ardian," jawab Ronal santai.
"Dasar adik durhaka! Mulutnya ember sekali dia," kata Aluna kesal.
"Aku mendengarmu, Kak," teriak Ardian yang masih setia duduk di samping Dinar.
__ADS_1
"La kok ada suara Ardian? Apa dia tidak menjaga Dinar?" tanya Aluna bingung.
"Aku sekarang sedang di rumah sakit, di ruangan Dinar di rawat," jawab Ronal, wajah Aluna terlihat terkejut.
"Kak Ronal kok bisa di ruangan Dinar?" tanya Aluna bingung.
"Ya bisa lah. Kamu menghubungi kakak, ada perlu apa?" tanya Ronal lagi, Aluna menepuk keningnya pelan.
"Aku hampir saja lupa kan. Aku nelepon Kakak itu karena aku mau memarahi Kakak." Suara Aluna terdengar mulai meninggi.
"Memarahi kenapa? Memang Kakak punya salah apa sama kamu?"
"Kakak ngapain ngajarin Al latihan balapan? Dia tuh masih kecil, Kak. Pantesan aja Kakak rajin banget jemput Al di sekolah," omel Aluna.
"Ardian yang ngadu ke kamu?" tanya Ronal, dia menatap tajam ke arah Ardian.
"Bukan aku kak! Aku tidak pernah ngadu ke Kak Aluna," bantah Ardian.
"Al yang bilang sendiri," sahut Aluna. "Katanya di suruh om Ronal tidak boleh bilang mommy dan daddy. Kamu ngajarin Al bohong Kak." Aluna bicara seolah dirinya sangat kecewa.
"Dasar bocah cilik. Susah banget di ajak bohong," gerutu Ronal.
"Aku belum tuli, Kak," ketus Aluna.
"Iya aku minta maaf ya. Aku punya kabar penting untukmu," kata Ronal.
"Kabar apa?"
"Nanti saja. Sepulang dari sini, Kakak mampir ke Mansion Alexander. Sekarang Kakak tutup dulu ya. Bye kelinci kecil," ucap Ronal, dia lalu mematikan panggilan itu. Ronal menatap ke arah Dinar yang baru saja menghabiskan buburnya, Ardian dengan telaten mengambilkan air putih untuk Dinar. Ronal yang melihat mereka hanya tersenyum simpul.
"Dinar, setelah kamu sembuh, bolehkah aku sekeluarga bertamu ke rumahmu?" tanya Ronal, dia beranjak bangun dan mendekati mereka berdua. Dinar menatap Ronal dengan raut bingung. "Aku hanya ingin bersilaturahmi saja, sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menolong Aluna," sambung Ronal. Dinar menganggukkan kepalanya pelan.
"Boleh saja Kak, tapi maaf rumah saya kecil bahkan lebih kecil dadi gubuk," sahut Dinar pelan.
"Jangan bicara seperti itu. Rumah indah itu tidak tergantung dari besar kecil ukurannya, tetapi seberapa nyaman kita tinggal di dalamnya. Aku pamit dulu Ar, ada perlu sama Aluna," pamit Ronal. Ardian dan Dinar hanya mengiyakan.
"Kamu tidak curiga?" tanya Ardian begitu Ronal sudah keluar dari ruangan itu.
"Curiga kenapa?" Dinar justru bertanya balik.
"Kak Ronal dan keluarga Bagaskara mau bertamu ke rumahmu. Apa kamu tidak curiga kalau Kak Ronal mau melamar kamu untukku?" Ardian menyeringai tipis sedangkan Dinar membuka kedua bola matanya lebar.
"Kamu yang benar saja?!" pekik Dinar tak percaya, Ardian langsung tertawa keras.
"Tidak usah percaya diri! Aku belum akan melamarmu sebelum kamu menerimaku," kata Ardian, Dinar menghembuskan nafas lega. "Tapi kalau Kak Ronal sudah melamarkanmu untukku, aku juga bersedia menjadi suamimu walaupun kamu tidak mencintaiku," sambung Ardian, tangan Dinar langsung memukul tubuh Ardian.
"Memang kamu mencintaiku?" tanya Dinar, Ardian hanya diam tidak menjawab.
"Cinta bisa tumbuh karena terbiasa, aku hanya ingin bertanggung jawab atas perbuatanku padamu," jawab Ardian, Dinar tersenyum sinis ke arah Ardian.
"Aku tidak butuh pertanggungjawabanmu, aku juga tidak suka di kasihani. Bukankah aku sudah bilang lupakan kejadian malam itu, anggap aja kita hanya melakukan one night stand jadi kamu tidak perlu merasa bersalah," papar Dinar, Ardian menatap lekat kedua bola mata Dinar yang menyiratkan luka.
__ADS_1