
"Selamat datang, Tuan Farhan dan keluarga. Suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran Tuan Farhan dan keluarga," sapa Tuan Bagaskara sopan. Semua yang di sapa pun tersenyum simpul. Tuan Davin pun tersenyum menanggapi sapaan Tuan Bagaskara.
"Ini pasti Tuan Davino kan?" tanya Tuan Bagaskara ramah.
"Iya Tuan Bagas. Dia anak bungsu saya yang sekarang menggantikan posisi saya di perusahaan," jelas Tuan Doni. Tuan Davin pun menyalami Tuan Bagas. Kemudian mereka berbincang-bincang. Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan Aluna. Tubuh Davin seketika rasanya membeku. Seluruh darah ditubuhnya terasa berdesir. Dia menatap mata Aluna dalam. Tatapan yang penuh kerinduan. Hampir dua minggu dia tak bertemu Aluna nyatanya dia merasa seperti terjerat belenggu rindu. Aluna pun menatap Tuan Davin penuh arti. Kedua pasang mata itu saling berpandangan tak peduli pada sekitarnya.
"Ehem." Sebuah deheman berhasil memutus pandangan mereka.
"Cie, yang saling merindu. Tuan Bagas bagaimana kalau kita langsung tentukan saja tanggal pernikahan mereka?" canda Nyonya Anita.
"YAH," panggil Tuan Davin lirih namun wajahnya bersemu merah. Sedangkan Aluna justru bersikap seolah tak peduli.
"Bagaimana Aluna?" tanya Tuan Bagas. Mendengar pertanyaan ayah angkatnya itu Aluna hanya menggelengkan kepalanya. Semua yang melihat pun mendesah kecewa. Apalagi raut muka Tuan Davin.
__ADS_1
mungkin memang dia benar-benar bukan jodohku. Batin Tuan Davin sambil menghela nafas panjang.
"Papa kan tau aku sedang fokus buat event di Amerika. Jadi aku gak mau mikirin apa yang bukan menjadi fokus aku pa," tolak Aluna halus. Kemudian berpamitan pergi dari sana.
"Maaf Tuan, anak perempuan saya ini memang keras kepala. Dia itu anak yang mandiri dan susah di atur, beli motor aja dia rela kreditan. saya belikan tidak mau kalau saya bayarkan cicilannya dia akan marah besar bisa satu bulan tidak mau menengok saya. Makanya saya membebaskan dia," jelas Tuan Bagaskara.
"Tidak apa-apa Tuan. Saya juga sudah paham dia itu anak yang tidak mudah menyerah dan tidak mudah di tindas. itulah kenapa saya ingin sekali menjadikan dia anak saya, kalau tidak jadi anak angkat jadi anak mantu juga gak papa," kata Tuan Doni. Davin pun hanya tersenyum menyimak obrolan orang tua itu.
"Tuan Muda. Anda tidak menyusul Nona Aluna?" tanya Asisten Jo.
"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Asisten Jo.
"Kenapa kamu mengikutiku, Jo?" tanya Tuan Davin balik.
__ADS_1
"Saya cuma mau memastikan kalau Tuan baik-baik saja,"
"Astaga Jo. Aku bukan anak kecil lagi yang harus kamu ikuti. Sudah sana kamu kembali ke tempat ayah saja. Aku tidak mau waktu berduaan ku dengan Aluna terganggu karena kehadiranmu, Jo." Tuan Davin bicara dengan nada kesal.
"Tapi Tuan..."
"Sudahlah Jo. Jangan ikuti aku! Jika kamu masih mengikutiku aku kutuk kamu jomblo selamanya,"
"Baik Tuan." Asisten Jo pun kembali ke tempat Tuan Doni dan Tuan Bagas berbincang.
padahal aku ingin sekali melihat bagaimana Tuan Davin dan Nona Aluna melepas rindu. Batin Asisten Jo.
Tuan Davin pun berjalan menyusuri hotel tempat pernikahan itu diadakan. Tatapan matanya celingak-celinguk mencari seseorang yang dia rindukan. Namun Dia tak menemukannya. Dia pun mulai kesal ,namun saat dia melewati Kolam renang di hotel itu dia melihat seseorang yang sedari tadi dia cari sedang berdiri menatap air di kolam itu. Tuan Davin pun berjalan mendekat. Dia menatap gadis cantik yang berdiri di depannya. Gaun yang indah dengan bahu dan punggung mulus yang terekspos. Melihat punggungnya saja Tuan Davin merasa ada yang memanas dari dirinya. Dia menelan salivanya, mencoba berfikir jernih.
__ADS_1
Baru liat punggungnya saja aku sudah panas dingin kaya gini, apalagi kalau aku lihat semuanya ?. Tuan Davin menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran mesumnya.