Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 57


__ADS_3

Hari ini, Dinar sudah di perbolehkan pulang. Aluna dan Davin sengaja menjemput Dinar untuk membawa ke mansion terlebih dahulu sebelum mengantarnya pulang ke Bandung. Begitu sampai di mansion, Dinar sangat terpukau melihat mansion Alexander yang sangat mewah.


"Ayo kita masuk," ajak Aluna, Dinar yang masih terpukau hanya diam mengikuti langkah kaki Aluna dan Davin yang memasuki mansion.


"Besar sekali, Nona. Bahkan, rumah saya tidak seluas ini," kata Dinar, saat mereka sudah masuk di ruang tamu.


"Rumah itu bukan tergantung besar kecilnya, yang penting kita nyaman tinggal di dalamnya. Duduklah dulu," suruh Aluna, Dinar segera duduk di karpet.


"Duduklah di atas, jangan di bawah situ," perintah Davin yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa.


"Maaf Tuan. Saya tidak pantas duduk di sofa sebagus ini," kata Dinar lirih, Aluna tersenyum tipis.


"Duduklah di atas sofa, dan aku tidak suka di bantah," perintah Aluna tegas, Dinar berdiri dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang bahkan lebih empuk dari pada kasur di kamarnya.


"Felis, kamu buatkan minum untuk tamu kita ya." Felisa mengangguk pelan, lalu beranjak pergi menuju dapur.


"Dinar, nanti siang biar keluargaku mengantar kamu pulang ke Bandung ya, kebetulan kami berencana akan liburan. Jadi, kami ingin berkunjung ke rumahmu sekalian menjenguk orang tuamu," kata Aluna lembut.


"Baik Nona, tapi maaf kalau rumah saya sangat sederhana," sahut Dinar pelan.


"Tidak apa-apa. Jangan terlalu di pikirkan,"


"Mommy," Aluna menoleh ke arah pintu dimana Alvino berdiri bersama Ronal dan keluarga Bagaskara.


"Kalian sudah datang?" tanya Aluna heboh, dia segera bangun dan berjalan cepat menuju keluarga angkatnya.


"Sayang, pelanlah. Kamu harus ingat anak kita," teriak Davin karena melihat Aluna yang terlalu heboh.


"Dasar bucin!" cibir Ronal sembari mendudukkan tubuhnya di samping Davin.


"Diamlah!" ketus Davin.


"Apa kamu yang bernama Dinar?" tanya Tuan Bagas.


"I-iya Tuan," sahut Dinar gugup.


"Terima kasih kamu sudah menolong putri saya, hingga kamu sendiri harus terluka," kata Tuan Bagas tulus. Dinar menganggukkan kepalanya perlahan.


"Dinar, aku sekeluarga berencana akan ikut keluarga Alexander untuk mengantarmu pulang, apa boleh?" tanya Ronal, Dinar kembali mengangguk, dia benar-benar merasa gugup dan minder.


"Mertua kamu mana, Lun?" tanya Mama Resti.


"Masih di kamar, main sama Nadira," jawab Aluna sambil menuntun Alvino untuk duduk di kursinya.


"Mommy apa Al akan punya adik lagi?" tanya Alvino, dia duduk di antara Aluna dan Davin.


"Iya Sayang. Al senang mau punya adik lagi?" tanya Aluna balik.

__ADS_1


"Yes Mom. Kata Om Ronal, kalau Al punya adik lagi, Al bakalan lebih bebas latihan balapan," sahut Alvino polos. Aluna langsung menatap tajam ke arah Ronal.


"Kak Ronal," panggil Aluna penuh penekanan, bahkan kedua mata Aluna terlihat menatap tajam ke arah Ronal yang pura-pura tidak tahu.


"Al, Daddy mengizinkan kamu latihan, tetapi kamu harus ingat kalau kamu harus selalu berhati-hati," nasihat Davin, Alvino langsung memeluk Davin dan mencium pipi Davin berkali-kali.


"Yes, Dad. Al sayang Daddy, tetapi Daddy lebih sayang Mommy," ceplos Alvino.


"Siapa yang mengajari kamu bicara seperti itu?" tanya Aluna sembari mengerutkan keningnya.


"Om Ronal," jawab Alvino singkat.


"Kak!" pekik Aluna kesal. Ronal hanya diam dengan senyum tak berdosanya.


Beberapa saat kemudian, Tuan Doni dan Nyonya Anita datang bersama baby Nadira. Mereka pun asyik mengobrol, karena jarang sekali mereka berkumpul lengkap seperti ini.


Sehabis duhur, mereka melakukan perjalanan menuju ke Bandung karena takut akan kemalaman. Sepanjang perjalanan Dinar hanya terdiam mendengarkan obrolan-obrolan mereka. Setelah hampir tiga jam perjalanan, mobil mereka berhenti di sebuah rumah bercat putih yang sangat sederhana.


"Ini rumah kamu?" tanya Aluna, Dinar mengangguk perlahan.


"Iya Nona," jawab Dinar sopan. Mereka semua pun turun dari mobil masing-masing. Para tetangga Dinar menjadi heboh, karena Dinar kedatangan tamu dengan menggunakan empat buah mobil yang sangat mewah. Banyak tetangga Dinar yang berbisik-bisik, tetapi Aluna dan keluarganya seolah tak peduli.


"Kak Dinar," teriak Lisa dari dalam rumah. Dinar segera menyambut pelukan adiknya.


"Ibu sama Bapak dimana?" tanya Dinar setelah melerai pelukannya.


"Syukurlah. Lisa, kenalkan ini Nona Aluna dan Tuan Davin beserta keluarga mereka," kata Dinar sopan. Lisa membungkuk hormat.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa Lisa. Mereka tersenyum simpul. Setelah itu, mereka semua masuk ke dalam rumah Dinar yang ternyata sudah di bersihkan.


"Maaf Tuan, Nyonya. Kalian hanya bisa duduk di karpet," ucap Ibu Dinar tidak enak hati karena melihat mereka yang ternyata orang-orang kaya.


"Tidak apa, Bu. Justru kita malah senang karena bisa duduk selonjor," sahut Tuan Doni, mereka pun duduk di karpet hingga memenuhi ruang tamu di rumah Dinar. Bahkan, Aluna tidur rebahan di atas karpet itu karena dia merasa sangat lelah, meskipun tadi di perjalanan mereka beberapa kali berhenti.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Davin khawatir.


"Iya Mas, aku hanya mengantuk," jawab Aluna, dia terlihat berkali-kali menguap.


"Kamu bisa tidur di sini?" tanya Davin, Aluna langsung mencubit paha Davin dengan cukup keras hingga Davin meringis kesakitan.


"Tentu saja bisa. Kamu lebih baik diamlah, Mas. Aku mau tidur," suruh Aluna. Davin pun terdiam, sedangkan Aluna memejamkan matanya.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Kamu kenapa sangat gelisah begitu sih, Ar?" tanya Bayu yang sedari tadi melihat Ardian berjalan mondar-mandir.


"Keluarga Bagaskara dan Alexander sudah di rumah Dinar, Bay," jawab Ardian.

__ADS_1


"Lha memang kenapa? Kamu tidak menyusul kesana?" tanya Bayu heran. Ardian menggelengkan kepalanya perlahan, raut wajahnya menampilkan keraguan.


"Aku sudah mengatakan pada Dinar, tidak akan menemuinya lagi." Ardian menghela napas panjang.


"Ar, aku sudah memiliki sedikit bocoran tentang pemberi bantuan di keluarga Dinar," kata Bayu, Ardian langsung menatap lekat ke arah Bayu.


"Siapa?" tanya Ardian tak sabar.


"Aku tak tahu dia siapa, yang aku tahu. Dia merupakan seorang pengusaha sukses, memiliki banyak anak cabang perusahaan," jawab Bayu pelan.


"Apa kamu mendapat informasi apa tujuannya membantu keluarga Dinar?"


"Katanya, karena Dinar adalah masa lalunya. Dua hari lagi, dia akan pulang kesini untuk bertemu Dinar," ucap Bayu, Ardian langsung bergegas pergi keluar dari ruangannya.


"Kamu mau kemana, Ar?" teriak Bayu saat melihat Ardian menaiki motornya.


"Ke rumah Dinar, aku harus bertemu dia," sahut Ardian, dia melajukan motornya kencang menuju ke rumah Dinar. Selama perjalanan, Ardian merasa gelisah, dia benar-benar takut Dinar akan menjadi milik orang lain. Dia harus segera memastikan kalau Dinar bersedia menerimanya, atau Ardian akan menyesal seumur hidupnya.


Setelah dua puluh menit perjalanan, motor Ardian berhenti di depan rumah Dinar. Dia tidak melihat satu pun mobil keluarganya yang terparkir di halaman rumah Dinar. Ardian bisa menebak, pasti sekarang mereka sudah berada di hotel. Ardian berjalan mendekati pintu, lalu mengetuk pintu itu dengan perlahan.


"Sebentar." Terdengar teriakan dari dalam rumah, dan Ardian sangat mengenal suara siapa itu. Jantungnya tiba-tiba terasa berdebar kencang, bahkan dia merasa begitu gugup.


"Siapa?" tanya Dinar. Begitu dia membuka pintu, tubuhnya langsung menegang saat melihat sosok yang beberapa hari terakhir ini selalu mengganggu pikirannya, kini berdiri dengan tersenyum manis di depannya.


"Hai, gadis jutek," sapa Ardian.


"Ka-kamu kenapa bisa disini?" tanya Dinar gugup.


"Tentu bisa, aku memakai motor. Apa kamu tidak akan mempersilakan aku masuk?" sindir Ardian.


"Ma-maaf. Mari masuk," suruh Dinar, dia benar-benar salah tingkah, apalagi sedari tadi Ardian menatapnya dengan lekat. Ardian segera masuk dan duduk selonjor di atas karpet, sedangkan Dinar segera masuk untuk membuatkan minum. Beberapa saat kemudian, Dinar keluar dengan membawa sebuah cangkir di tangan kanannya.


"Silakan diminum," suruh Dinar, dia meletakkan satu gelas kopi hitam untuk Ardian.


"Apa kopi ini manis?" tanya Ardian ragu.


"Tidak, dua sendok bubuk kopi dengan satu sendok teh gula pasir," jawab Dinar santai. Ardian menatap bingung ke arah Dinar, bagaimana bisa Dinar tahu seleranya.


"Tidak perlu bingung aku tahu darimana, karena Nona Aluna sering memberitahuku apa kesukaanmu dan apa yang tidak kamu sukai." Jawaban Dinar justru membuat Ardian semakin mengerutkan keningnya.


"Kak Aluna mengatakan itu semua padamu?" tanya Ardian tak percaya, Dinar mengangguk pelan. "Apa kamu tidak curiga kenapa Kak Aluna mengatakan tentangku padamu?"


"Tidak! Memang apa yang mau aku curigai?" Dinar bertanya balik.


"Ya barangkali Kak Aluna berencana menjadikan kamu adik iparnya, jadi dia memberitahumu segalanya tentang aku," sahut Ardian santai.


"Percaya diri sekali!" ketus Dinar sembari memukul lengan Ardian karena gemas, Ardian hanya tertawa sambil mengusap lengannya. Namun, jauh di dalam lubuk hati Dinar, dia membenarkan ucapan Ardian. Untuk apa Nona Aluna memberi tahu dirinya tentang Ardian sampai sedetail itu, jika bukan karena maksud tertentu, hati Dinar mendadak menjadi sangat gelisah.

__ADS_1


__ADS_2