Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
120


__ADS_3

Mila melangkahkan kakinya dalam cahaya remang-remang. Airmata nya masih membekas dipipinya. Dia tidak menyangka jika Dimas kekasihnya, tega mengkhianati dirinya. Mila pikir Dimas sangat menyayanginya, menilik bagaimana posesifnya Dimas padanya. Tapi ternyata, Dimas tega berhubungan dengan wanita lain di belakangnya. Saat dia sedang asyik berjalan, sebuah motor sport hitam berhenti di sampingnya, Mila refleks menghentikan langkah kakinya. Dia menatap bingung pada orang yang sedang duduk santai di atas motor sambil menoleh ke arahnya, tapi wajahnya tertutup helm yang belum di buka. Mila mulai waspada, hatinya merasa takut orang itu adalah orang jahat. Dengan segera dia mengeluarkan sebuah pisau dari dalam tasnya dan menodongkannya pada orang itu.


" Siapa kamu ?! Apa kamu mau jahat sama aku ? " Tanya Mila berusaha terlihat berani meski sebenarnya hatinya sangat ketakutan.


" Aku gak takut sama kamu ya ! Aku masih punya mulut untuk berteriak, aku punya tangan untuk memukulmu. Jadi jangan berani macam-macam padaku ! " Teriak Mila dengan nada sedikit bergetar. Orang itupun turun dari motor dan berjalan mendekati Mila. Merasa tidak aman, Mila memundurkan langkahnya. Dengan cekatan, pria itu merebut pisau yang berada di tangan Mila dan membuangnya jauh hingga membuat Mila semakin ketakutan karena kini dia tidak punya senjata lagi. Mila menghembuskan nafas kasar, berusaha menetralkan jantungnya yang masih berdegup sangat cepat.


" Oh kamu mau kita bertarung dengan tangan kosong ? Oke ! Kamu pikir aku takut ? Jangan mimpi ! " Pekik Mila sok berani. Dia mengangkat kedua kepalan tangannya di udara, berlagak hendak memukul lawannya.


" Sini maju ! Satu... dua.... " Hitung Mila sambil mengangkat kedua kakinya bergantian.


" Tiga.. kabuuuuurrr " Teriak Mila sambil berlari meninggalkan pria itu. Tapi, dia kemudian menghentikan gerakan kakinya.


" Kenapa aku seperti lari di tempat ? " Gumam Mila lirih, kepala nya menoleh ke belakang, ternyata pria itu memegang kerah belakang baju Mila hingga Mila tidak bisa kabur.


" Om maaf om... saya gak mau macem-macem. Beneran deh sumpah. Jangan sakiti saya om, saya masih bau kencur belum tahu apa-apa " Ucap Mila sambil cengengesan dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Pria itupun langsung membuka helm nya dan menatap Mila tajam. Mila langsung membuka mata dan mulutnya lebar.


" Tu-tuan " Panggil Mila gugup tapi hanya mendapat seringaian tipis di sudut bibir Asisten Jo.


" Ba-bagaimana bisa Tuan disini lagi ? " Tanya Mila masih berusaha menghilangkan kegugupannya.


" Ini jalan umum, jadi saya bebas disini tanpa harus meminta izin padamu dulu kan ? " Raut wajah Asisten Jo terlihat mengejek Mila.


" Tapi Tuan, anda sudah membuat saya takut " Protes Mila sambil melipat kedua tangannya.


" Takut ?? Kamu bilang tadi kamu tidak takut, jadi orang jangan sok berani ! " Cibir Asisten Jo di dekat wajah Mila.


deg deg deg. Jantung Asisten Jo rasanya sangat berdebar-debar. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya, sedangkan Mila langsung menutup wajahnya.


" Jangan terlalu dekat Tuan, saya takut anda jatuh cinta pada saya " Ucap Mila sambil tangannya masih menutupi wajahnya.

__ADS_1


" Cih ! Jangan terlalu percaya diri " Asisten Jo berdecih sebal.


" Tuan...." Mila membuka kedua tangannya dan tatapan matanya bertemu dengan mata Asisten Jo.


" Cepat ikut aku ! " Perintah Asisten Jo sambil menarik tangan Mila mendekat ke motornya. Mila menatap bingung, saat Asisten Jo sudah duduk di atas motornya.


" Naiklah ! " Mendengar nada tegas itu. Mila dengan segera naik dan duduk di belakang tubuh Asisten Jo. Setelah Mila naik, Asisten Jo langsung melajukan motornya.


" Tuan saya takut " Teriak Mila saat Asisten Jo mengendarai motor itu dengan kencang. Dengan spontan, kedua tangan Mila melingkar di perut Asisten Jo. Tapi motor itu langsung berhenti mendadak. Hingga tubuh Mila terhuyung ke depan, dada Mila menempel erat di punggung Asisten Jo, dan Asisten Jo merasakan kehangatan di punggungnya.


" **** !! Kamu bisa tidak pegangan yang benar ? " Bentak Asisten Jo kesal, Mila melepaskan lingkaran tangannya dengan takut.


" Maaf Tuan, saya cuma refleks karena takut. Habisnya saya bingung mau pegangan apa Tuan. Kalau pegangan bahu anda, saya berasa orang tua yang sedang membonceng anaknya. Kalau pegangan besi di belakang pantat saya , kan gak ada Tuan " Ucap Mila beralasan


" Huh ! " Asisten Jo menghembuskan nafas kasar.


" Memang kita mau kemana Tuan ? " Tanya Mila penasaran, namun Asisten Jo tidak menjawab. Dia hanya menstarter motornya lagi. Mila dengan takut memegang jaket Asisten Jo, melihat tangan Mila memegang jaketnya, dengan segera dia menarik tangan Mila dan melingkarkan di perutnya.


Memang jodoh Tuhan itu yang terbaik, Dimas membuat aku patah hati, tapi Tuhan memberi aku pengganti yang lebih baik. Batin Mila hingga tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya di punggung Asisten Jo sambil mengeratkan pelukannya. Senyumnya menghiasi wajah yang tadi sempat menangis.


" Ehem " Suara deheman keras mampu menyadarkan Mila, hingga dengan segera dia kembali mengangkat kepala nya dan melonggarkan pelukannya.


" Ma-maaf Tuan " Ucap Mila gugup. Asisten Jo tidak menanggapi, dia hanya diam sambil tetap melajukan motornya.


Motor Asisten Jo berhenti di sebuah danau di wilayah XX. Begitu turun dari motor, pandangan mata Mila menyapu seluruh area danau itu.


" Anda tahu tempat ini Tuan ? " Tanya Mila bingung, belum sempat Asisten Jo menjawab, Mila sudah berlari mendekat ke danau itu.


" Aaaaaaaaaa Dimaaass aku benci kamu !" Teriak Mila keras.

__ADS_1


" Aku benci kamu yang menghianatiku ! " Teriaknya lagi tapi kemudian tubuh Mila terduduk lemas. Dia menangis, airmatanya mengalir di pipinya.


" Aku sayang kamu tapi kenapa kamu tega mengkhianati cinta yang telah kita rajut lama " Ucap Mila di sela tangisnya. Asisten Jo hanya berdiri diam dibelakang Mila.


" Aku lelah, harus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja " Lirih Mila, Asisten Jo berjalan mendekati Mila kemudian berjongkok di sampingnya.


" Aku tahu kamu hanya sedang menutupi luka hatimu saja " Isakan Mila mulai mereda. Dia menoleh ke samping, menatap Asisten Jo yang sedang menatapnya penuh arti.


" Bagaimana Tuan bisa tahu ? " Tanya Mila sambil masih terisak.


" Aku punya mata batin yang masih berfungsi dengan baik " Mila menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Asisten Jo.


" Sudahlah .. silahkan kamu teruskan tangisanmu, aku menunggu dibelakang " Asisten Jo berdiri hendak melangkahkan kakinya.


" Tuan .... " Panggilan Mila berhasil menghentikan langkah Asisten Jo.


" Apalagi ? Kamu ingin aku memelukmu gitu ? Jangan harap ! "


" Ish Tuan, anda percaya diri sekali. Saya cuma mau bilang kalau saya lapar Tuan " Asisten Jo melongo mendengar ucapan Mila.


" Bisakah Tuan mengantar saya makan. Kalau tidak, takutnya saya akan pingsan Tuan " Tambah Mila membuat Asisten Jo berdecak kesal. Tapi, Asisten Jo menganggukan kepalanya pelan. Mila bangun dan berteriak senang.


" Ayo Tuan, saya sudah lapar, kapan lagi dapat makanan gratisan " Ucap Mila antusias hingga tanpa sadar menggandeng tangan Asisten Jo.


" Astaaagaa...... " Asisten Jo menghembuskan nafas kasar, tapi dia tetap mengikuti langkah kaki Mila.


**sekarang author tambah kisah cinta Asisten Jo dan Mila ya, sambil nunggu baby Davin dan Aluna lahir. Maaf kalau ceritanya masih acak-acakan ya, author masih perlu banyak belajar.


jangan lupa beri dukungan kalian buat Author ya gaes. Biar Author selalu semangat nulis

__ADS_1


salam dari penulis recehan**.


__ADS_2