
"Sayang, biar dia ditemani Pak Aji, sekarang kita pulang ya. Apa kamu tidak kasihan pada anak kita?" tanya Davin, dia mencoba merayu Aluna untuk pulang karena mereka sudah dua jam menunggu gadis itu tetapi gadis itu belum juga kunjung sadar.
"Mas, aku akan pulang setelah dia sadar, dia sudah menolongku Mas. Kalau saja dia tidak menolongku, aku yakin pasti saat ini aku yang berada di posisi dia. Apa kamu tidak ingin berterima kasih padanya? Kalau kamu sudah tidak sabar, kembalilah ke kantor Mas, biar aku menunggunya sendiri," sahut Aluna dengan sedikit mengusir. Davin akhirnya hanya diam menemani istrinya itu. Mata Aluna menatap lekat ke arah gadis yang masih terbaring tak berdaya. Tiba-tiba tatapan matanya menangkap tangan gadis itu yang mulai terlihat bergerak perlahan.
"Mas, lihatlah dia sudah sadar," kata Aluna heboh, Davin ikut melihat ke arah gadis yang sedang berusaha membuka matanya perlahan.
"A-aku ha-haus," kata gadis itu terbata, Aluna segera mengambilkan segelas air putih dan membantu gadis itu meminumnya, tak lupa juga Aluna memencet tombol nurse untuk memanggil perawat maupun dokter. Tidak ada lima menit, seorang dokter dan dua orang perawat datang dan segera memeriksa keadaan gadis itu.
"Kondisinya sudah mulai stabil, tinggal luka jahitnya saja yang membuat dia belum bisa bergerak bebas. Dia masih harus banyak istirahat," jelas dokter. Davin dan Aluna mengangguk paham, dokter pun berpamitan setelah selesai melakukan pemeriksaan.
"Nona, maaf saya merepotkan anda," ucap gadis itu lirih, Aluna yang duduk di samping gadis itu menarik senyumnya mendengar ucapannya.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, karena kamu sudah rela terluka demi menyelamatkan aku. Bolehkah aku bertanya siapa namamu?" tanya Aluna lembut.
"Nama saya Dinara Nona, saya biasa di panggil Dinar," sahutnya
"Senang mengenalmu Dinar, aku Aluna dan ini suamiku Davin," Aluna memperkenalkan dirinya dan juga Davin. Davin hanya tersenyum tipis ke arah Dinar.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu tadi berdebat dengan preman-preman itu?" tanya Aluna ingin tahu.
"Sayang dia baru saja sadar, jangan terlalu memberi dia banyak pertanyaan," kata Davin.
"Aku kan hanya penasaran Mas,"
"Iya aku tahu, biarkan dia istirahat dulu nanti kita tanyakan lagi. Dia sudah sadar sekarang saatnya kita pulang, ingat janin di perut kamu," Davin berusaha berbicara dengan lembut tetapi Aluna justru mengerucutkan bibirnya kesal.
"Biar saya jawab tidak apa-apa Tuan, tetapi setelah ini Nona harus berjanji untuk pulang sesuai perintah suami Nona, kasihan janin yang di perut Nona,"
"Baiklah, cepat ceritakan dengan jelas," suruh Aluna, dia memasang telinganya baik-baik.
"Sebenarnya saya baru saja pulang bekerja di minimarket dekat tempat tadi, kebetulan saya baru saja selesai sift malam, saat saya sedang perjalanan pulang menuju kos-kosan. Ketiga preman itu menghadang saya untuk meminta uang karena katanya itu wilayah mereka, siapapun yang lewat harus memberi uang kepada mereka," jelas Dinar.
"Apa kamu setiap hari di palak mereka seperti itu? Kamu pasti setiap hari lewat sana kan?" tanya Aluna penasaran.
"Saya baru tiga hari bekerja di minimarket itu Nona, dua hari sebelumnya saya memberi kepada mereka tapi tadi pagi saya tidak memiliki uang jadi saya tidak memberi uang kepada mereka,"
"Kenapa orang sekitar tidak ada yang membantumu?" tanya Davin penuh selidik.
"Orang sekitar sangat takut kepada mereka, karena mereka bertiga sangat nekat. Bahkan, mereka berani melukai orang-orang yang menentang mereka, itu yang saya dengar dari para warga di sekitar daerah itu,"
"Benar-benar sampah jalanan!" umpat Davin kesal, dia mengepalkan tangannya erat saat teringat bekas tamparan tangan mereka di pipi Aluna.
"Mas, jaga bicaramu," ketus Aluna.
"Aku belum terima saja dia berani menampar istri tercintaku. Aku yang suamimu saja menjagamu dengan sepenuh hati, jangan sampai sedikitpun terluka. Mereka dengan kurang ajarnya menyakiti kamu, pokoknya mereka harus mendapat hukuman yang setimpal," geram Davin, Aluna menghembuskan napasnya kasar.
"Mas, sudahlah. Ini hanya tamparan dan aku masih baik-baik saja,"
"Tamparan seperti itu kamu bilang HANYA?!" Suara Davin mulai terdengar meninggi. Aluna langsung memasang wajah kesal.
__ADS_1
"Tuan, jaga emosi anda," Asisten Jo yang baru saja masuk berusaha menenangkan Davin. "Jangan sampai saat anda emosi anda meluapkan ke semua orang termasuk kepada Nona Aluna," Davin terdiam mendengar ucapan Asisten Jo. Dia melihat ke arah Aluna yang sudah memasang wajah marah.
"Maaf sayang, aku sudah berbicara keras padamu," Davin mendekati Aluna lalu mencium lembut pipi Aluna. Dinar hanya menatap mereka tanpa membuka suaranya.
"Apa ada keluarga yang bisa kamu hubungi?" tanya Davin. Dinar langsung menggeleng cepat.
"Saya disini sendirian, keluarga saya di kampung semua," jawab Dinar lirih.
"Nona, sebaiknya anda pulang saja. Kebetulan sekali adik anda sedang di mansion Alexander karena barusan mengantar Tuan kecil Alvino dan Nathan pulang sekolah. Biar Tuan Ardian yang menjaga gadis ini, anda harus ingat kesehatan janin anda," kata Asisten Jo sopan. Aluna menganggukkan kepalanya setuju.
"Ayo sayang, kita pulang," ajak Davin, Aluna pun berpamitan kepada Dinar untuk pulang terlebih dahulu.
Selepas kepergian mereka bertiga, Dinar menatap langit-langit kamar rumah sakit tempatnya di rawat. Dia menghela napas panjang.
"Bagaimana caraku membayar biaya rumah sakit ini? Sedangkan untuk makan saja aku masih bingung," gumam Dinar lirih. "Bapak sama Ibu sedang apa ya? Aku jadi kangen mereka, tetapi kalau mereka tahu aku terluka seperti ini, pasti mereka akan sangat khawatir," Dinar lalu memejamkan matanya karena dia masih merasa pusing di kepalanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mansion Alexander.
"Ar, kamu dimana?" teriak Aluna memanggil Ardian begitu dia sudah masuk ke dalam mansion sedangkan Davin dan Asisten Jo kembali ke kantor karena mereka kedatangan tamu penting.
"Bagaimana keadaan kamu Lun? kamu baik-baik saja kan? Janinmu juga baik-baik saja kan? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu," Mila memberondong Aluna dengan pertanyaan.
"Aku baik-baik saja Mil, terima kasih sudah sangat mengkhawatirkanku," ucap Aluna, mereka berdua langsung berpelukan erat.
"Aku sangat takut Lun," Suara Mila terdengar parau karena menahan tangisnya.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Mila sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Aluna.
"Dia sudah sadar Mil, namanya Dinar. Dimana Ardian?" tanya Aluna saat dia teringat akan menyuruh Ardian menemani Dinar di rumah sakit.
"Sedang bermain bersama Al dan Nathan," jawab Mila, Aluna bergegas masuk dan mencari Ardian.
"Kak, sudah pulang? Bagaimana keadaan Kakak?" tanya Ardian begitu dia melihat keberadaan Aluna.
"Kakak baik-baik saja. Bolehkah Kakak meminta bantuanmu, Dek?" tanya Aluna penuh harap.
"Minta bantuan apa, Kak?"
"Bisakah kamu menemani Dinar? Gadis yang menolong Kakak, dia sendirian tidak ada yang menemani," pinta Aluna. Ardian menghembuskan napas kasar.
"Baiklah," jawab Ardian malas. Dia mengambil kunci motornya lalu bergegas menuju ke rumah sakit setelah Aluna memberi tahu di ruangan mana Dinar dirawat.
"Mommy, apa Mommy sakit?" tanya Alvino, Aluna mendekat ke arah Alvino lalu mencium pipi Alvino dengan gemas.
"Sayang, Mommy sangat merindukanmu. Kenapa kamu betah sekali tinggal sama Om Ronal?" tanya Aluna.
"Kata Om Ronal, aku harus banyak belajar dan berlatih agar bisa menjadi pembalap hebat seperti Mommy," jawab Alvino jujur. Kedua bola mata Aluna langsung melebar.
__ADS_1
"Kamu di ajari jadi pembalap oleh Om Ronal?" tanya Aluna menyelidik. Alvino mengangguk cepat.
"Kata Om Ronal jangan bilang sama Daddy dan Mommy, nanti Al dimarahi Daddy dan Mommy," Aluna menunggingkan senyumnya mendengar ucapan Alvino.
"Terus kenapa kamu bilang sama Mommy?"
"Kata Grandpa Bagas, kita tidak boleh berbohong," jawab Alvino polos. Aluna mengusap puncak kepala Alvino.
"Kamu memang anak pintar, tetapi Al jangan bilang daddy dulu ya, biar nanti Mommy yang bilang sama daddy," kata Aluna lembut. Alvino menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Awas saja Kak Ronal, berani sekali mengajari Al balapan di usia sekecil ini. Pantas saja dia sangat rajin menjemput Al di sekolah. Batin Aluna kesal.
Ardian yang baru saja sampai di rumah sakit langsung menuju ke ruang VVIP di mana Dinar di rawat.
"Ardian," langkah kaki Ardian terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Dia berbalik dan melihat Marvel yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kak Marvel," panggil Ardian balik.
"Kamu mau kemana?" tanya Marvel saat dia sudah berdiri di samping Ardian.
"Aku disuruh menemani gadis yang sudah menolong Kak Aluna. Kata kak Aluna dia hanya sendirian disini," jawab Ardian.
"Ya sudah ayo, kebetulan sekali aku juga mau jenguk dia," ajak Marvel. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ruangan Dinar. Begitu mereka masuk ke ruangan Dinar, mereka berdua melihat Dinar yang sedang tertidur lelap, tetapi Ardian belum melihat wajah Dinar.
"Aku mau kencing dulu Kak," kata Ardian sambil masuk ke kamar mandi di ruangan itu. Marvel pun mengiyakan, dia berjalan mendekati brankar dimana Dinar terbaring disana. Merasa ada yang mendekat, Dinar membuka kedua bola matanya perlahan. Dia menatap ke arah Marvel yang juga sedang menatapnya.
"Dokter," panggil Dinar pelan, Dinar hendak duduk tetapi Marvel langsung menahannya.
"Tiduran saja, kamu belum di perkenankan banyak bergerak," suruh Marvel, Dinar pun kembali terdiam dala posisinya. "Perkenalkan saya Marvel, kakak ipar Aluna," Marvel memperkenalkan diri.
"Nama saya Dinara, Dok. Panggil saja Dinar," balas Dinar ramah.
"Bagaimana keadaanmu, Dinar?" tanya Marvel lembut.
"Sudah mendingan Dok, hanya saja masih sakit di bekas jahitannya," jawab Dinar dengan senyum manis.
"Tentu saja, itu luka baru. Jadi, sementara kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu agar luka itu tidak terbuka lagi," nasihat Marvel, Dinar menganggukkan kepalanya paham. "Dinar, terima kasih ya kamu sudah menolong Aluna,"
"Sama-sama, Dokter. Nona Aluna juga sudah menolong saya. Saya justru sangat bersyukur karena saya yang terkena luka tusukan, seandainya saja Nona Aluna yang terkena pisau itu, saya pasti akan sangat menyesal karena membuat Nona Aluna dan calon buah hatinya terluka," ucap Dinar, kedua mata Marvel terlihat membola setelah mendengar ucapan Dinar.
"Calon buah hati? Apa Aluna sedang hamil lagi?" tanya Marvel tak percaya.
"Dokter tidak tahu? Tadi Nona Aluna dan suaminya mengatakan kalau Nona Aluna sedang hamil anak ketiga mereka," terang Dinar. Marvel menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan, dasar pasangan mesum!" cibir Marvel, sepertinya julukan pasangan mesum sudah menjadi julukan resmi untuk mereka berdua.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka, Ardian keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan hajatnya, dia berjalan mendekati brankar lalu berdiri di samping Marvel.
"Kak Mar...." Ucapan Ardian terhenti seketika saat dia menatap ke arah Dinar yang juga sedang menatapnya dengan terkejut.
__ADS_1
"KAMU!" pekik Ardian dan Dinar bersamaan sedangkan Marvel hanya menatap bingung ke arah mereka berdua.