
" Tuan... saya mohon maafkan saya Tuan.. saya berani bersumpah kalau saya dan Tuan Davin tidak melakukan macam-macam. Saya memeluk Tuan Davin karena saya refleks waktu Tuan Davin berteriak setan Tuan " Aluna berusaha menjelaskan.
" Terus setannya kemana ? " Tanya Nyonya Anita dengan senyum mengejek .
" Mom.. Yah.. sudahlah pokoknya aku dan Aluna tidak melakukan apa-apa, semua terjadi karena refleks terkejut saja. Udahlah mom..yah.. kasian Aluna dan juga jangan suka ngadu sama cowok jeleknya itu nanti dikira aku perusak hubungan orang " Sewot Tuan Davin lalu berlalu pergi ke kamarnya. Dia bahkan lupa tujuannya ke dapur tapi ketika sampai di tangga dia seperti melupakan sesuatu kemudian berbalik arah kembali ke kamar Aluna. Di depan kamar Aluna dia melihat Aluna yang masih menunduk dan kedua orang tuanya sedang menatap Aluna tajam. Davin pun mendekat dan menggenggam tangan Aluna erat kemudian menuntun Aluna masuk ke kamarnya.
" Sudah sana masuk.. jangan pedulikan jurangan kamu itu " Kata Davin sambil membuka kamar Aluna dan menyuruh Aluna masuk. Setelah Aluna masuk dia lalu menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Kemudian Davin kembali ke kamarnya tapi ketika sampai di samping kedua orang tuanya dia berhenti dan menatap mereka berdua lekat.
" Mom..Yah.. sudah sana pada tidur udah malem. Begadang itu gak baik buat orang tua " Kata Davin sambil berlalu pergi.
__ADS_1
" Dasar anak kurang ajar ! " Umpat Tuan Doni namun Davin tak menghiraukannya. Selepas kepergian Davin ,Tuan Doni dan Nyonya Anita tersenyum simpul.
" Lihatlah yah.. anakmu itu persis seperti kamu, sudah cinta namun tidak mau mengakui " Sindir Nyonya Anita.
" Dia juga anak kamu bu " Tuan Doni membela diri . Kemudian kedua orang tua itupun masuk kembali ke kamarnya.
----------@@@@----------
" Kenapa pelukannya terasa begitu nyaman..." Kata Aluna lirih. Diapun menggelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh di otaknya.
__ADS_1
" Jangan-jangan aku mulai gak waras lagi " Kata Aluna lagi. Dia tidur terlentang sembari memejamkan matanya namun kejadian itu terbayang lagi seolah dia memang datang untuk menggoda. Saat dia sedang mencoba tidur tiba-tiba ponselnya berbunyi, diapun melihat layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon. Dia tersenyum sumringah saat tau siapa yang menelfon.
" Hallo kak " Sapa Aluna dengan suara yang bahagia.
" Lun... Kakak kecelakaan " Jawaban dari sebrang telfon itu mampu membuat senyum Aluna hilang seketika. Wajah yang sebelumnya ceria kini langsung suram. Bahkan mata Aluna nampak berkaca-kaca.
" Bagaimana keadaan kakak? " Tanya Aluna khawatir. Suaranya serak karena menahan airmatanya.
" Gak terlalu baik Lun.. kamu bisa nemenin kakak disini engga ? Nanti biar kakak yang izin sama bos kamu " Jawab Ronal pelan. Aluna mengangguk meski Ronal tidak melihat jika Aluna mengangguk.
__ADS_1
" Iya kak... habis ini Luna siap-siap dulu kak " Kata Aluna pelan. Setelah Ronal mengiyakan Aluna pun mematikan telfonnya. Kemudian dia bersiap-siap membawa baju yang cukup banyak karena sepertinya dia bakalan lama cuti bisa jadi dia justru akan mengundurkan diri jika memang dia tidak bisa mengambil cuti lama.
Kenapa cobaan datang terus-menerus? Apa salahku Ya Tuhan..semoga kak Ronal baik-baik saja. Batin Aluna. Diapun bersiap-siap karena dia yakin saat ini pasti Ronal sedang menghubungi majikannya.