Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 39


__ADS_3

Mila yang sedang menidurkan baby Cacha langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar suara kamar mandi terbuka. Dia melihat Asisten Jo keluar hanya berbalut handuk sebatas pinggang, membuat Mila melongo melihat tubuh sexy suaminya, apalagi dalam keadaan belum kering seperti itu semakin menambah kesan sexy yang membuat Mila tidak sedikit pun berkedip.


"Air liurmu menetes, Mil," kata Asisten Jo, seketika membuyarkan pikiran kotor Mila, dengan reflek Mila mengusap bibirnya.


"Gak usah bohong deh Mas, aku gak mungkin ileran," kesal Mila karena dia tidak merasakan ada jejak air liur di wajahnya.


"Sudah tahu gak ileran, kenapa kamu masih mengelapnya?" tanya Asistsen Jo mengejek.


"Kamu nyebelin Mas, tapi aku sayang," kata Mila sembari menaik turunkan alisnya. Asisten Jo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Bahagia ya, yang udah berhasil sampai puncak walaupun cuma sama Tante Citra, sampai lubang surga aku di anggurin gitu aja," sindir Mila, Asisten Jo menautkan kedua alisnya.


"Siapa yang sampai puncak?" tanya Asisten Jo bingung.


"Ya kamulah! Memang siapa lagi? Aku main aja belum," Mila bicara dengan raut wajah kesal.


"Kapan? Aku barusan mandi kok, cuma sebatas mandi gak lebih. Paling lebihnya gosok gigi," sahut Asisten Jo, dia memakai baju ganti yang telah Mila siapkan.


"Gak usah bohong Mas. Ngapain tadi pas aku manggil kamu, kamu bilang aku sedang konsentrasi. Aku tahu Mas, kamu lagi konsentrasi main solo," cerocos Mila. Asisten Jo terdiam sejenak, tetapi sesaat kemudian di mendekati Mila dan menyentil kening Mila.


"Pikiranmu mesum sekali! Aku tadi tuh lagi nyari kancing kemejaku yang lepas satu," jelas Asisten Jo, Mila menganggukkan kepalanya.


"Aku kira kamu lagi main solo, Mas," kata Mila, dia menunjukkan rentetan gigi-gigi putihnya.


"Makanya, jangan kebanyakan mikir mesum. Nanti ada orang ketusuk jarum aja dikira lagi ketusuk ular kasur," cibir Asisten Jo, dia mengambil alih gendongan baby Cacha dari Mila.


"Anak ayah makin cantik aja, kalau besar jangan genit-genit ya," kata Asisten Jo sambil menciumi pipi bayi Cacha yang mulai terlihat gembul.


"Jangan gitu Mas. Aku merasa tersindir lho Mas," Mila mengerucutkan bibirnya membuat Asisten Jo tersenyum sinis.


"Gak usah monyong-monyong gitu,"


"Barangkali kamu mau cium aku, Mas. Romantis dikit kenapa sih Mas," kesal Mila.


"Romantis itu, Rokok makan gratis?" tanya Asisten Jo menggoda.

__ADS_1


"Ish! Kamu menyebalkan Mas," Mila menghentakkan kakinya kuat.


"Bunda sedang apa?" tanya Nathan yang sedari tadi fokus dengan mobil mainannya.


"Lagi olahraga, kamu mau ikut? Sini," kata Mila asal. Nathan beranjak bangun, dia mengikuti gerakan Mila yang menghentakkan kedua kakinya dengan antusias.


"Satu dua satu dua," hitung Nathan, Mila kembali menghentakkan kakinya dengan tertawa. Asisten Jo pun ikut tertawa melihat tingkah istri dan anaknya itu.


🍀🍀🍀🍀🍀


Dua Bulan kemudian.


Aluna membuka kedua matanya saat jam baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia merasakan perutnya begitu bergejolak, dengan cepat Aluna berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang ada di perutnya. Davin yang sedang tertidur pulas, ikut terbangun saat merasakan gerakan dari Aluna.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Davin, dia masuk ke kamar mandi dan melihat Aluna yang sudah terduduk lemas di samping wastafel.


"Perutku mual sekali, Mas," kata Aluna, saat Davin mendekat dia kembali merasakan mual yang sangat hebat. Davin memijat tengkuk Aluna dengan lembut


"Pergilah Mas. Aku bener-bener gak ingin dekat kamu, Mas," Davin menghentikkan gerakannya, dia menatap bingung ke arah Aluna.


"Enggak! Tapi aku gak mau dekat kamu, Mas," sahut Aluna, dia benar-benar merasa sudah sangat lemas. Davin bukannya menjauh, dia justru membopong tubuh Aluna ala bridal style kembali menuju ke kasurnya.


"Aku bikinin kamu teh hangat ya," ucap Davin tapi Aluna tidak menanggapi, dia memijat kepalanya yang terasa berdenyut sakit.


Davin masuk membawa segelas teh hangat, dia menyodorkan kepada Aluna. Aluna meminum teh itu dengan segera.


"Mas, kayaknya aku masuk angin deh. Kamu sih, ajak aku begadang terus," kata Aluna dengan manja, membuat Davin menjadi sangat gemas.


"Habis kamu udah kaya candu buat aku," kata Davin, dia mendekatkan wajahnya hendak mencium Aluna tetapi Aluna langsung menutup mulutnya karena dia kembali merasakan mual yang hebat.


"Jangan dekat-dekat Mas. Aku benar-benar mual mencium bau kamu," usir Aluna, Davin pun agak menjauh dari tubuh Aluna. Bahkan, Davin akhirnya tidur di sofa karena Aluna yang selalu mual saat dekat dengan dia.


Pagi hari, Asisten Jo yang menyambut Davin di samping mobilnya merasa heran karena melihat Davin yang terlihat begitu kesal.


"Selamat pagi Tuan Muda," sapa Asisten Jo sopan tetapi Davin tidak menjawab, dia masuk begitu saja ke dalam mobil. Asisten Jo pun ikut masuk dan duduk di belakang setir kemudi. Mobil itu melaju meninggalkan mansion Alexander.

__ADS_1


"Anda kenapa Tuan?" tanya Asisten Jo yang sudah sangat penasaran dengan suasana Davin yang terlihat buruk.


"Aku kesal Jo. Aluna tuh aneh banget, rasanya bener-bener pengen aku remas," sahut Davin, jari jemarinya saling meremas karena saking gemasnya.


"Memang Nona Aluna kenapa? Bukankah Nona sudah tidak keras kepala?" tanya Asisten Jo bingung.


"Tidak, dia sudah jinak sekarang Jo. Kamu kan sudah tahu sendiri Jo," Davin bicara dengan kesal.


"Lalu kenapa anda terlihat begitu kesal? Padahal anda sangat bucin kepada Nona Aluna," tanya Asisten Jo heran. Davin menghela nafas panjang, dia menyandarkan kepalanya di kursi mobil lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aluna sedang masuk angin, mungkin karena aku sering begadang akhir-akhir ini," Asisten Jo mendengarkan ucapan Davin dengan seksama. "Tetapi kalau aku mijit dia atau dekat dia, dia langsung ngusir aku, bahkan aku sampai harus tidur di sofa," keluh Davin, Asisten Jo terdiam sesaat mencermati ucapan Davin.


"Dia benar-benar aneh, bahkan segala keperluan aku, aku siapin sendiri karena Aluna benar-benar tidak.mau.menyentuh barang-barangku," Asisten Jo mendengar hembusan nafas kasar dari Davin. Mendengar keluh kesah Davin pagi ini, membuat Asisten Jo tersenyum simpul.


"Kenapa kamu malah tersenyum, Jo? Kamu mengejekku?" tukas Davin.


"Tidak, mana berani saya mengejek anda Tuan Muda," elak Asisten Jo. "Tuan, anda tidak lupa kan? Tentang pepatah 'karma tidak akan pernah lupa jalan pulang dan karma tidak akan pernah salah jalan' ?" tanya Asisten Jo dengan suara yang terdengar mengejek di telinga Davin.


"Maksud kamu?" Davin mengerutkan keningnya.


"Bisa jadi ini adalah karma yang anda tunggu-tunggu, karena saya merasakan hal seperti itu waktu istri saya hamil baby Cacha," jelas Asisten Jo dengan tersenyum.


"Maksud kamu Aluna hamil?" tanya Davin belum paham


"Bisa jadi Tuan,"


"Mana mungkin Jo. Bahkan, Nadira saja baru berusia tiga bulan," kata Davin tak percaya.


"Selama Tuhan menghendaki, tidak ada yang tidak mungkin, Tuan. Apakah Nona Aluna sudah melakukan progam KB, Tuan?" tanya Asisten Jo memastikan. Davin terdiam mendengar pertanyaan Asisten Jo.


"Tapi Jo...." Davin terlihat ragu.


"Tapi apa Tuan? Anda bermain menggunakan pengaman?" tanya Asisten Jo memojokkan.


"Aku mana pernah pake pengaman, aku bermain dengan istriku bukan dengan wanita sembarangan,"ketus Davin, suasana hatinya menjadi semakin buruk setelah mendengar pertanyaan dan ucapan Asisten Jo yang terasa mengganjal di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2