Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
111


__ADS_3

Mila duduk menunduk sambil meremas jas yang masih berada di tangannya. Selalu saja seperti ini, Dimas kekasihnya itu adalah orang yang sangat posesif sekali. Jangankan memegang jas pria seperti ini, menyimpan nomor ponsel pria lain saja bisa membuat dia dan Dimas bertengkar hebat. Mila sama sekali tidak berani menatap wajah kekasihnya itu, karena dia yakin pasti wajah kekasihnya sedang merah padam.


" Jas siapa itu ? Kenapa kamu cium-cium seperti itu? " Tanya Dimas dengan nada tinggi membuat Mila semakin menundukkan kepalanya.


" Bagus ya, aku tinggal keluar kota kamu malah asyik-asyikan selingkuh dirumah. Aku rela meninggalkan pekerjaanku begitu mendengar Rayhan masuk rumah sakit tapi ternyata kamu malah asyik berduaan dengan pria lain. Aku tidak menyangka jika kamu semurahan itu beb ! " Bentak Dimas keras. Dia bahkan tidak peduli sedang berada di rumah sakit. Selalu saja seperti ini, saat dia ketahuan berhubungan dengan pria lain walaupun hanya sebatas berkenalan, Dimas akan langsung mengatai dia 'murahan' begitu saja. Kadang membuat harga diri Mila terasa direndahkan.


" Ma-maaf " Hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulut Mila. Dimas mengeraskan rahangnya.


" Maaf sekarang dan besok kamu ulangi lagi. Harusnya kamu tahu kalau aku seperti ini karena aku takut kehilanganmu "


" Bunda...... " Tangisan dari dalam berhasil menghentikan pertengkaran mereka. Dengan segera mereka berdua masuk ke ruang rawat inap itu.


" Bunda disini sayang " Kata Mila lembut sambil duduk di samping Rayhan.


" Om Dimas " Panggil Rayhan lirih.


" Iya sayang, cepat sehat ya jagoan om." Dimas mengusap kepala Rayhan. Ya, dia menyayangi Rayhan seperti Mila yang begitu menyayangi anak yang terbuang itu. Mereka berdua pun menemani Rayhan, seolah tidak ada pertengkaran di antara mereka.


🍀🍀🍀🍀🍀


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, namun Aluna sama sekali belum bisa tidur. Dia hanya rebahan sambil bergelung selimut. Dia menoleh, melihat Davin yang sudah terlelap karena kelelahan sehabis melewati malam panas mereka.


krucuk krucuk


Perut Aluna berbunyi, membuat dia mengelus perutnya lembut.


" Adek laper ?" Ucap Aluna lirih sambil tersenyum bahagia. Dia bangun pelan-pelan agar tidak mengganggu tidur suaminya itu. Kemudian dia memungut dan memakai pakaiannya yang tercecer di lantai begitu saja. Aluna keluar kamar lalu berjalan menuju dapur. Sesampai di dapur, dia melihat-lihat apa yang kira-kira bisa dia makan, tiba-tiba pikirannya terbayang akan nasi pecel dengan sambal kacang pedas yang begitu menggugah selera. Diapun menelan ludahnya, begitu bayangan nasi hangat dengan sayuran rebus di tambah sambal kacang yang pedas. Aluna pun langsung membuka kulkas besar yang ada di dapur itu, mencari sayuran yang sekiranya bisa direbus dan juga perlengkapan membuat sambal kacangnya. Begitu mendapat sayuran yang di inginkan, Aluna langsung mencuci bersih kemudian merebus sayuran itu. Selama menunggu sayurannya matang, Aluna membuat sambal kacang yang pedas. Namun, saat dia sedang menggoreng cabai untuk sambalnya, dia lupa mengecilkan nyala api kompor hingga cabai yang terkena minyak panas itu bertebangan kemana-mana bahkan ada yang sampai mengenai tangan Aluna.

__ADS_1


" Oh Sial !!! Bagaimana bisa jadi kaya gini " Umpat Aluna sambil mengecilkan api kompor, tangannya sedikit memerah di beberapa bagian karena terkena cipratan cabai yang mengandung minyak panas itu. Setelah cabai itu matang, dia menggoreng kacang tanahnya. Kemudian mengulek mereka bersama dengan gula jawa, garam dan tak lupa sedikit penyedap rasa. Aluna sengaja mengulek bumbu kacang itu agar cita rasanya menjadi lebih enak.


" Sayang kamu sedang apa ? " Aluna membalikkan badannya dan melihat Davin yang terlihat begitu khawatir. Aluna mengulas senyumnya kemudian melanjutkan kegiatannya.


" Aku pengen makan nasi pecel " Jawab Aluna sambil mengangkat sayuran yang telah matang itu.


" Kenapa kamu tidak membangunkanku? Kita bisa nyari di luar atau suruh Mbok Nah membuatnya " Kata Davin sambil berjalan mendekat ke tempat Aluna.


" Jam segini mana warung pecel yang masih buka, kalau nyuruh mbok nah kasian, ini waktunya orang istirahat "


" Kamu kan bisa membangunkanku untuk menemanimu " Davin melingkarkan kedua lengannya di perut Aluna, dia memeluk Aluna dari belakang kemudian mencium mesra pipi Aluna membuat Aluna menjadi salah tingkah.


Namun, saat Davin melihat tangan Aluna yang memerah di beberapa bagian, raut wajahnya langsung menunjukkan kemarahan. Dia melepas pelukannya begitu saja.


" Kenapa tanganmu merah-merah seperti ini ?! " Bentak Davin marah tapi Aluna seolah menulikan telinganya.


" Terkena cipratan cabai " Jawab Aluna santai sambil meneruskan kegiatannya.


" Bagaimana bisa ! Kenapa kamu begitu ceroboh sekali. Kamu punya mulut, bisa bicara kenapa gak bilang minta dibikinin aja, kamu lihat, karena kecerobohan kamu itu tangan kamu jadi luka merah seperti ini ! " Omel Davin membuat Aluna mencebikkan bibirnya kesal.


" Ini cuma luka ringan, jadi gak perlu berlebihan. Luka seperti ini bukan apa-apa untukku "


" Tapi sayang..... "


" Sudah diamlah, aku lapar mau makan bukan mau berdebat. Kalau kamu mau marah-marah silahkan kembali saja ke kamar " Usir Aluna. Davin langsung memeluk tubuh Aluna lagi sembari mengecup puncak kepala Aluna dengan pelan.


" Aku cuma khawatir sama kamu sayang " Kata Davin lirih membuat Aluna terdiam. Aluna langsung membalas pelukan suaminya itu.

__ADS_1


" Maafkan aku yaaa dan makasih sudah khawatir sama aku " Balas Aluna sambil mengeratkan pelukannya. Davin tersenyum simpul.


" Nasi pecelnya sudah matang ? " Tanya Davin sambil melerai pelukannya. Aluna mengangguk pelan.


" Ayo kita makan malam bersama sayang habis itu kita obati lukamu, apa kamu mau makan malam pakai lilin ? Supaya kita terlihat seperti sedang canddle light dinner. Biar terkesan romantis " Goda Davin sambil menaikturunkan alisnya, dengan segera Aluna langsung memukul dada bidang Davin.


" Auu sakit sayang " Davin berpura-pura kesakitan membuat Aluna semakin kesal.


" Cih ! cowok kok lembek " Cibir Aluna sambil berjalan menuju meja makan yang ada di dapur. Davin mengekor di belakang Aluna, saat Aluna duduk diapun ikut duduk di sampingnya. Alun menaruh nasi hangat dan juga sayuran rebus, lalu dia menuangkan sambal kacang di atasnya. Kemudian Aluna memakan nasi itu dengan lahap, membuat Davin yang duduk di sampingnya, menelan ludahnya berkali-kali.


" Kamu mau ? " Tanya Aluna sambil menyodorkan nasi pecel yang berada di tangannya. Dengan semangat empat lima, Davin langsung membuka mulutnya dan melahap nasi itu.


" Enak sekali sayang. Aku mau lagi " Kata Davin antusias. Akhirnya nasi di piring itu habis oleh mereka berdua bahkan mereka sampai nambah tiga piring.


" Aku kenyang sekali " Ucap Davin sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Perutnya rasanya begah karena kekenyangan.


" gimana gak kenyang, kamu menghabiskan dua piring sekaligus " Sahut Aluna sambil membawa piring itu ke tempat cucian piring.


Aluna mencuci tangannya terlebih dahulu, namun saat dia hendak mencuci piring itu, dia terkejut saat merasakan tubuhnya terangkat.


" Kamu gak perlu mencucinya sayang, ini sudah malam waktunya istirahat. Ayo kita ke kamar, obati lukamu kemudian tidur " Kata Davin sambil membopong Aluna menuju kamarnya. Aluna mengalungkan tangannya di leher Davin lalu mengecup pelan leher itu. Tubuh Davin meremang, serasa ada gelayar aneh di tubuhnya.


" Kamu ingin olahraga lagi sayang ? " Goda Davin, Aluna tidak menjawab namun wajahnya merona membuat Davin menjadi begitu gemas.


" Ayo kita lakukan pelan-pelan lagi sayang, mungkin baby nya sudah rindu dengan daddy " Kata Davin sambil merebahkan tubuh Aluna di atas kasur dengan lembut. Davin pun langsung menyerang bibir Aluna dengan bibirnya, hingga akhirnya malam panas itupun terjadi lagi.


jangan lupa votenya gaess,, buat penambah semangat author

__ADS_1


salam dari author recehan


__ADS_2