
Dinar merebahkan tubuhnya tengkurap sembari memeluk guling yang berada di sampingnya. Airmata Dinar yang sedari tadi mengalir, belum sedikitpun surut. Hati Dinar benar-benar telah hancur, bahkan harga dirinya telah terinjak. Kini, dia merasa dirinya sangat rendah di mata siapapun.
"Akankah ada waktu untukku bahagia?" gumam Dinar, dia teringat penolakannya tadi untuk Ardian. Jujur, Dinar menyesal telah mengambil keputusan begitu saja tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Dia merutuki kebodohannya sendiri, apa yang dia cari lagi? Ardian sudah baik padanya meski Dinar selalu memasang wajah menyebalkan, bahkan Ardian akan bertanggung jawab karena kesalahannya yang sudah merenggut kesucian Dinar. Kenapa dirinya langsung menolak Ardian mentah-mentah. Sekarang, akankah ada pria yang menerima dirinya yang sudah tidak suci lagi.
Dinar mengembuskan napas kasar berkali-kali. Dia berusaha mengusap airmata yang masih saja mengalir. Dinar beranjak bangun hendak menuju ke kamar mandi, tetapi ketukan pintu berhasil mengurungkan langkah kaki Dinar. Dia berjalan ke luar kamar untuk membukakan pintu. Saat pintu telah terbuka, Dinar melihat Aluna dan Davin yang sedang berdiri tersenyum ke arahnya.
"Hai Dinar," sapa Aluna lembut.
"Tuan, Nona," balas Dinar membungkuk hormat.
"Bolehkah aku bicara sesuatu padamu?" tanya Aluna, Dinar mengangguk pelan. Dia nempersilakan Aluna dan Davin masuk ke rumahnya.
"Jangan repot-repot. Aku hanya mampir sebentar." Aluna menahan tangan Dinar yang hendak pergi. Dinar segera duduk di samping Aluna, meski hatinya merasa sedikit resah, tetapi Dinar mencoba terlihat tenang.
"Ada apa, Nona?" tanya Dinar gugup.
"Dinar, aku sudah mendengar kejadian tadi pagi dari Ardian. Kamu yakin akan keputusan kamu menolak Ardian?" tanya Aluna tanpa basa-basi. Dinar membisu, dia memang sudah menolak Ardian, tetapi kenapa sekarang dia merasa menyesal dengan keputusannya itu.
"No-Nona ...."
"Tidak usah kamu jawab, karena aku sudah tahu jawabannya," sela Aluna, Dinar menatap heran ke arah Aluna.
"Tahu apa, Nona?" tanya Dinar bingung.
"Aku tahu kamu sebenarnya sudah jatuh hati pada Ardian, hanya saja kamu masih bimbang," tebak Aluna. Dinar kembali membisu, memang benar apa yang di katakan Aluna, kalau Ardian sudah berhasil masuk ke dalam hatinya.
"Bagaimana dengan Rangga? Apa kamu masih mencintainya?" tanya Aluna, Dinar langsung menggeleng cepat.
"Saya dan Kak Rangga hanyalah sebatas masa lalu yang takkan mungkin menjadi masa depan," jawab Dinar lirih. Aluna dan Davin tersenyum tipis.
"Kenapa Nona menebak saya sudah jatuh hati pada adik Nona. Apa Nona yakin tebakan Nona itu benar?" tanya Dinar setengah meledek.
__ADS_1
"Aku hanya menebak saja, tetapi aku yakin tebakanku pasti benar meski tidak seratus persen. Waktu aku bertanya tentang perasaanmu ke Ardian kamu susah sekali menjawab, tetapi saat aku bertanya tentang perasaanmu ke Rangga, kamu langsung bisa menjawab begitu saja," terang Aluna, Dinar hanya berani menundukkan kepalanya.
"Dinar, kamu tahu? Kita memiliki kepribadian yang sama, jadi tanpa kamu bicara pun, aku bisa tahu apa yang ada di hati dan pikiranmu,"
"Saya belum yakin pada perasaan saya, Nona. Saya ingin sendiri saja, saya sudah tidak pantas untuk siapapun. Bila nanti saya mengandung anak Ardian, saya yakin bisa membesarkannya sendiri," ucap Dinar lirih.
"Kamu mungkin bisa membesarkan sendiri, tetapi kamu jangan pernah lupa kalau seorang anak juga membutuhkan sosok seorang ayah," sarkas Davin yang sedari tadi diam. Dinar semakin menunduk, dia benar-benar merasa bingung saat ini.
"Pikirkanlah semuanya dengan matang. Jika memang kamu sudah tidak memiliki perasaan pada Rangga, maka kamu katakan sejujurnya pada Rangga, karena dia sepertinya masih mengharapkanmu. Jika memang kamu mencintai Ardian, maka temuilah dia, karena dia akan pergi jauh dan entah kapan akan kembali." Dinar mendongak, menatap lekat ke arah Aluna yang terlihat begitu sedih.
"Maksud Nona?" tanya Dinar tidak paham.
"Ardian besok akan ke Amsterdam dan entah kapan akan kembali. Jadi, kamu harus segera mengambil keputusan yang matang. Jika besok kamu tidak datang, aku anggap keputusanmu pagi tadi adalah keputusanmu yang mantap, dan aku tidak akan mengizinkan Ardian untuk kembali ke sini," kata Aluna sedikit mengancam.
"Bukankah Ardian sudah memiliki usaha peternakan yang sukses disini?" tanya Dinar.
"Ya, tetapi aku tidak peduli sesukses apapun usaha Ardian saat ini. Bagiku, kebahagiaan adikku satu-satunya adalah yang paling penting. Lagipula, soal peternakan masih ada Bayu yang bisa menghandle semuanya," sahut Aluna tegas.
"Baiklah, aku pamit dulu, Dinar. Aku ada urusan lain. Semoga kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Satu hal lagi, segera selesaikan urusanmu dengan Rangga, aku tahu Rangga sudah menunggumu." Dinar mengerutkan keningnya, sebelum Dinar bertanya, Rangga sudah terlebih dulu masuk ke ruang tamu itu.
"Bagaimana Anda bisa tahu kalau saya disini?" tanya Rangga heran.
"Aku lihat pakai mata batinku," seloroh Aluna. Davin langsung mencium pipi Aluna dengan lembut.
"Kamu kenapa jadi ketularan si Jo?" Aluna hanya tersenyum tipis.
"Ingat Dinar, waktumu hanya sampai jam tujuh pagi," ucap Aluna sebelum berpamitan pulang. Davin dan Aluna pergi dari rumah Dinar, karena mereka ingin memberi waktu untuk Dinar dan Rangga menyelesaikan masalah mereka.
Setelah kepergian Davin dan Aluna, Rangga duduk di samping Dinar. Mereka berdua saling diam, tanpa ada satupun yang terlihat akan membuka suaranya.
"Dinar, aku mau minta maaf sama kamu," ucap Rangga lirih setelah hampir lima belas menit mereka saling diam.
__ADS_1
"Minta maaf untuk apa?" tanya Dinar seolah tak tahu.
"Aku sudah menyakitimu dan menuduhmu yang bukan-bukan," sahut Rangga pelan.
"Tidak perlu meminta maaf, Kak. Semua yang Kakak katakan memang kenyataan dan itu bukan sebuah tuduhan, Kak," ucap Dinar getir. "Kak, aku minta maaf kalau aku banyak salah sama Kakak, aku akan selalu mendoakan semoga Kakak mendapat jodoh yang terbaik,"
"Dinar," panggil Rangga, dia meraih tangan Dinar dan menggengamnya erat. "Aku masih sayang padamu, tidak ada lagi kah kesempatanku untuk memilikimu? Aku akan menerima kamu walaupun kamu sudah tidak suci lagi." Dinar langsung menggeleng cepat.
"Maaf Kak, aku tidak bisa. Banyak gadis yang lebih baik daripada aku, Kak," tolak Dinar halus.
"Apa kamu mencintai Ardian karena dia yang sudah mengambil kesucianmu?" tanya Rangga menebak.
"Tidak, aku juga belum yakin perasaanku pada Ardian. Aku hanya ingin memantapkan hatiku terlebih dahulu. Aku hanya menganggap kamu sebagai Kakak tidak lebih," ujar Dinar mantap. Rangga menghela napas panjang.
"Baiklah kalau begitu, semoga kamu bahagia," ucap Rangga tulus.
"Semoga Kakak juga bahagia dan bisa menemukan wanita terbaik untuk Kakak," balas Dinar, dia melepaskan genggaman tangan Rangga darinya.
"Bolehkah aku memelukmu sekali saja? Sebelum aku kembali ke Paris," pinta Rangga, Dinar menggangguk pelan. Tanpa menunggu lama, Rangga langsung menarik tubuh Dinar masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu harus janji kalau kamu akan selalu bahagia," bisik Rangga, Dinar hanya mengiyakan.
"Apa kamu besok akan menemui Ardian? Aku dengar dia akan ke Amsterdam," tanya Rangga sembari melerai pelukannya.
"Entahlah Kak. Aku akan memantapkan hatiku terlebih dahulu," sahut Dinar lirih.
"Aku harap kamu segera memberi keputusan yang tepat agar tidak menyesal. Kamu harus tahu, jangan pernah sia-siakan orang yang menyayangimu dengan tulus, karena kamu akan merasa dia sangat berharga saat dia sudah tidak lagi di samping kita," nasihat Rangga.
"Iya Kak, aku akan memantapkan hatiku agar tidak salah mengambil keputusan," ucap Dinar. Rangga akhirnya berpamitan pada Dinar.
Selepas kepergian Rangga, Dinar segera masuk ke kamar, dia merebahkan tubuhnya begitu saja dan menatap kosong ke arah langit-langit kamar, hatinya benar-benar bimbang saat ini. Dia memang sudah mulai jatuh cinta dengan Ardian, tetapi hatinya belum sepenuhnya yakin.
__ADS_1
"Ya Tuhan, beri aku petunjuk, keputusan apa yang harus aku ambil." Dinar mengusap-usap wajahnya untuk mengurangi kegelisahan yang menyelimuti hatinya saat ini.