Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 53


__ADS_3

Satu Jam kemudian.


"Sayang, kamu yakin tidak ingin membuka pintu ini?" Suara Davin terdengar sangat frustasi, karena sejak pertengkaran tadi, Aluna masuk kamar dan tidak keluar lagi, membuat Davin menjadi sangat khawatir kepada Aluna dan calon bayi mereka.


"Sayang, aku minta maaf sudah bicara kasar padamu," kata Davin berkali-kali, tangannya tidak sedikitpun lelah mengetuk pintu itu.


"Kenapa, Vin?" tanya Nyonya Anita yang baru datang dengan menggendong baby Nadira yang sedang minum susu dari dot bayi.


"Biasa Mom, ngambek,"


"Ibu hamil itu memang suasana hatinya berubah-ubah. Sudah kamu minggir," usir Nyonya Anita, Davin sedikit menyingkir dari pintu.


"Aluna sayang, buka pintunya ya, baby Nadira ingin sama Mommy nya," panggil Nyonya Anita, tanpa menunggu lama pintu kamar itu terbuka. Aluna menyuruh ibu mertuanya masuk, tetapi tidak dengan suaminya, dia benar-benar melarang Davin untuk masuk.


"Kalian kenapa? Ada masalah apa, Lun?" tanya Nyonya Anita saat mereka sudah duduk di atas kasur.


"Tidak papa, Mom," sahut Aluna sambil menciumi wajah Nadira.


"Jangan berbohong. Mommy tidak akan ikut campur masalah kamu, tetapi saat kamu dan Davin adalah masalah, sebagai orang tua, Mommy ingin memberikan solusi untuk kalian," kata Nyonya Anita lembut. Aluna menghela nafas panjang.


"Mom, aku hanya sedang sakit hati dengan Mas Davin," lirih Aluna, Nyonya Anita menautkan kedua alisnya.


"Kenapa?"


"Aku tahu aku tidak becus menjadi seorang Mommy untuk anak-anakku, aku tahu tidak bisa menggunakan otakku untuk berfikir apa yang terbaik untuk anakku. Apa aku salah Mom, kalau aku hanya berusaha mendukung apa yang menjadi hobi dan bakat Al?" tanya Aluna sedih, bahkan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.


"Apa Davin memarahimu seperti itu?" Aluna mengangguk menanggapi pertanyaan Nyonya Anita, dia mendengar hembusan nafas kasar keluar dari bibir Nyonya Anita. "Dia memang tidak berubah, selalu saja tidak bisa mengontrol emosinya. Apa ini karena Al yang berlatih balapan?" Aluna menoleh ke arah ibu mertuanya itu.


"Mommy tahu?" tanya Aluna tak percaya.


"Ya, Mommy sudah tahu tetapi Mommy diam, karena Mommy juga melihat Al sangat bahagia dengan kegiatannya itu. Akan tetapi Lun, Mommy bukannya mau membela anak Mommy sendiri, tetapi kalau Mommy di posisi Davin pun, pasti Mommy akan merasa khawatir melihat Al yang masih sekecil itu sudah berlatih balapan," kata Nyonya Anita lembut. "Salahnya Davin, dia tidak bisa mengontrol emosinya hingga dia berkata keras padamu dan melukai perasaanmu. Nanti biar Mommy nasehati dia." Nyonya Anita beranjak bangun, tetapi Aluna segera menahan ibu mertuanya itu.


"Jangan Mom, biar masalah ini Aluna selesaikan dengan Mas Davin sendiri saja," pinta Aluna, Nyonya Anita menghela napas panjang.


"Baiklah, biar Mommy suruh Davin masuk dan kalian harus benar-benar menyelesaikan masalah kalian. Kamu tidak mual dekat Davin kan?" tanya Nyonya Anita cemas.


"Tidak Mom," jawab Aluna singkat, entah mengapa dia merasa sangat ingin memeluk suaminya itu.


"Syukurlah," ucap Nyonya Anita lega, dia keluar kamar dan menyuruh Davin untuk masuk.


"Sayang, aku minta maaf padamu." Davin berjalan cepat mendekati Aluna yang sedang duduk di pinggiran kasur, sedangkan baby Nadira sedang sibuk dengan mainannya.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf, Mas," balas Aluna. Davin segera mendekap erat tubuh Aluna.


"Aku benar-benar sangat ingin memelukmu," bisik Davin lembut, dia berkali-kali mengecup puncak kepala Aluna.


"Aku minta maaf ya, Mas. Sudah keras kepala," ucap Aluna lirih, Davin melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Aluna. Dia menatap lekat kedua bola mata istrinya yang terlihat begitu sedih.


"Aku yang harusnya minta maaf, Sayang. Aku sudah menyakiti hatimu, sudah bicara kasar padamu. Maafkan aku," sesal Davin, Aluna terseyum simpul.


"Aku juga minta maaf sudah menentangmu,"


"Sudah lupakan saja semuanya. Setelah aku pikir-pikir, aku setuju saja kalau Al mau di latih balapan motor asal Ronal benar-benar bisa menjaga keselamatan Al," ucap Davin, Aluna langsung tersenyum sumringah.


"Kamu serius dengan ucapanmu, Mas?" tanya Aluna memastikan. Davin mengangguk dan tersenyum simpul ke arah Aluna.


"Aku mencintaimu," kata Aluna, dia mencium pipi Davin lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Aku tidak salah dengar, Sayang?" tanya Davin tak percaya karena Aluna lebih dulu mencium dan mengatakan cinta padanya. Davin mencium Aluna balik, Aluna memejamkan matanya menikmati ciuman lembut dari bibir Davin, entah mengapa Aluna merasa begitu rindu dengan sentuhan Davin.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Apakah kamu mau melepas rindu denganku?" tanya Davin penuh harap. Aluna mengangguk pelan dengan senyum manis terukir di bibirnya.


"Terima kasih sayang, aku akan melakukannya dengan lembut agar tidak melukai buah hati kita," Davin hendak mencium bibir Aluna lagi, tetapi Aluna langsung menahannya.


"Dia belum paham sayang." Davin mencium leher Aluna dengan lembut, dia tidak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan yang ada, soal baby Nadira, biarkan saja lah, bayi sekecil itu belum tahu apa yang orang tuanya lakukan.


"Mas," Aluna mendesah, membuat gairah di tubuh Davin semakin memanas.


Krucuk krucuk krucuk


Perut Aluna berbunyi, Davin menghentikan kegiatannya begitu saja, dia menatap lekat ke arah Aluna.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Davin dengan nada kesal.


"Iya Mas, aku belum makan. Kamu jangan marah, kita masih bisa melakukannya nanti," sahut Aluna takut.


"Aku kesal bukan karena tidak bisa berolahraga denganmu, tetapi karena kamu belum makan, kasihan anak kita, Sayang," Davin berusaha meredam emosinya. Tanpa banyak bicara, Davin menggendong baby Nadira lalu menarik tangan Aluna pelan.


"Ayo kita makan dulu, aku tidak mau kamu dan anakku kelaparan," ucap Davin, Aluna diam menurut, tetapi senyumnya tidak pernah surut melihat perhatian Davin padanya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Satu minggu telah berlalu, Aluna setiap hari mengunjungi Dinar yang sudah cukup mendingan, sedangkan Ardian masih betah menunggu Dinar, baik siang dan malam, termasuk mengontrol makan Dinar agar tidak terlambat, meskipun Dinar masih bersikap cuek kepada Ardian, tetapi Ardian seolah tak peduli.

__ADS_1


Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, Dinar melihat Ardian yang masih tertidur di sofa, dia tidak habis pikir dengan Ardian yang benar-benar tidak mau pergi dari ruangannya, bahkan soal pakaian dan perlengkapan mandi, Ardian menyuruh seseorang untuk menyiapkan dan mengantarkannya ke rumah sakit. Dinar merasa sangat gelisah, dia ingin sekali ke kamar mandi tetapi dia masih harus berhati-hati dalam bergerak.


"Bisa pipis di celana kalau begini," gumam Dinar, dia bangun perlahan dengan menahan rasa sakit di bekas jahitan, sebenarnya luka jahit itu tidak terlalu besar dan dalam tetapi mampu membuat Dinar tidak bebas bergerak.


Dinar menurunkan kakinya dengan perlahan, dia terlihat berkali-kali mengernyit kesakitan tetapi dia tahan. Satu tangannya memegang tiang infus sedangkan satu tangannya memegang pinggiran brankar. Dinar menghembuskan napasnya kasar.


"Aku pasti bisa," ucap Dinar bersemangat sambil berjalan perlahan ke kamar mandi.


"Bukankah mulutmu bisa berkata aku minta tolong?" Tubuh Dinar terjengkit kaget, dia melihat Ardian yang sudah berdiri di depannya dengan bersidekap, wajah Ardian terlihat begitu kesal.


"Kamu kenapa seperti hantu? Tidak bersuara sama sekali," cebik Dinar kesal. Dinar barusan sedang fokus menatap ke lantai itu sebabnya dia tidak melihat Ardian yang sudah terbangun dan berjalan ke arahnya.


"Justru kalau hantu itu bersuara tapi tidak berwujud. Kamu tidak kasihan padaku? Wajah tampanku kamu samakan dengan hantu,"


"Percaya diri sekali!" cibir Dinar, Ardian menunggingkan senyumnya.


"Kamu mau kemana? Biar aku bantu," tawar Ardian.


"Tidak perlu!" tolak Dinar mentah-mentah. "Aku bisa sendiri. Aku hanya mau buang air kecil," sambung Dinar.


"Aku antar," tawar Ardian lagi.


"Aku bisa sendiri, apa telingamu tidak bisa mendengar dengan baik?" Dinar bertanya dengan ketus.


"Galak sekali." Ardian menggelengkan kepala mendengar Dinar yang begitu ketus. Dia hanya melihat Dinar yang sedang berjalan perlahan.


"Pelan-pelan, kamu harus ingat ada luka jahit yang harus kamu jaga," ucap Ardian, dia memegang tangan Dinar yang tidak di infus. Dinar menatap Ardian sesaat, sepersekian detik kemudian, dia menghempaskan tangan itu dengan kasar. Ardian menghela napas panjang.


"Aku hanya ingin menolongmu, apa aku salah?" tanya Ardian, Dinar menghentikan langkahnya, dia terdiam posisinya.


"Aku tidak butuh bantuanmu dan belas kasihanmu. Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi dari kemarin? Pergilah, aku bisa sendiri," usir Dinar dengan suara datar.


"Kenapa? Aku berniat tulus membantumu, sebagai permintaan maafku atas kesalahanku,"


"Kamu sudah aku maafkan, jadi aku mohon pergilah, dan sampaikan kepada Nona Aluna, terima kasih sudah mau membantuku selama aku di rawat," kata Dinar getir.


"Baiklah jika memang itu kemauanmu," kata Ardian, dia berjalan pergi meninggalkan ruangan Dinar. Setelah pintu ruangan tertutup, Dinar meremas kuat tiang infus itu, matanya mulai terlihat berkaca-kaca.


"Aku bisa sendiri, aku tidak butuh belas kasihan orang lain. Aku takut salah mengartikan kebaikanmu," gumam Dinar, dia berjalan perlahan ke dalam toilet, sedangkan Ardian tidak benar-benar pergi dari ruangan itu, dia berdiri di depan pintu dan melihat Dinar yang sedang tertatih sendiri ke kamar mandi.


"Kenapa kamu keras kepala sekali? Apa aku salah bila aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku? Aku memang belum mencintaimu saat ini, tapi aku akan berusaha membuka hatiku untukmu. Tidak bisakah kamu bersabar sebentar saja?" gumam Ardian, dia benar-benar membiarkan Dinar sendirian.

__ADS_1


__ADS_2