Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
29


__ADS_3

Davin masuk ke kamarnya dengan hati yang gelisah. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap langit-langit kamarnya. Entah mengapa, dia terngiang-ngiang percakapan ibunya dan Aluna tadi.


"Apa memang aku sudah jatuh cinta dengan Aluna? Tapi mana mungkin aku jatuh cinta dengan cewek yang sangat bar-bar seperti dia. Lagian Aluna tidak masuk kriteria wanita idamanku,"Tuan Davin bermonolog sendiri. Kemudian menghela nafasnya panjang.


"Ngapain mikirin dia. Bukankah sebentar lagi dia juga akan menikah? Tanggal dua lima berarti masih sekitar dua minggu lagi ya. Ngapain mikirin calon bini orang sih," gerutu Tuan Davin. Kemudian dia berusaha memejamkan matanya tapi percuma. Matanya terpejam tapi pikirannya berkelana kemana-mana. Tuan Davin pun akhirnya beranjak bangun untuk membersihkan dirinya.


-------------@@@@------------


Tengah malam Tuan Davin terbangun saat merasakan perutnya yang sangat lapar. Dia pun turun ke dapur untuk mengambil makanan. Sesampai di anak tangga yang terakhir entah mengapa perasaannya ingin sekali melihat Aluna. Akhirnya, dia berjalan menuju kamar Aluna. Dia berdiri lama di depan kamar Aluna dan menatap pintu kamar itu. Perasaannya tiba-tiba terasa tak menentu. Saat dia membalikkan tubuhnya dia terkejut melihat sesosok perempuan di depannya dengan mata yang menatap tajam.


"Moommmyy setaann," teriak Davin.


"Setan? Dimana Tuan? Anda jangan bercanda!" Aluna juga ikutan heboh. Dia kemudian memeluk Davin erat.

__ADS_1


"Dimana ada setan Tuan? Anda jangan bercanda," kata Aluna. Tubuhnya terasa bergetar begitu hebat bahkan airmatanya sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Sedangkan Davin terdiam membisu. Dia merasakan jantungnya berdebar begitu cepat saat merasakan Aluna memeluknya erat. Bahkan dia merasakan ada sebuah perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya hingga darah di tubuhnya terasa berdesir. Tanpa sadar, dia pun membalas pelukan Aluna erat lalu mengecup puncak kepalanya.


"Tenanglah, setannya sudah pergi," kata Tuan Davin lirih berusaha menenangkan tubuh Aluna yang masih gemetaran.


"Kamu yakin setan itu sudah pergi?" tanya Aluna sambil masih terus memeluk Davin erat.


"Ya, jadi tenanglah," jawab Davin. Aluna pun membuang nafasnya lega. Dia merasakan tubuhnya begitu nyaman dan hangat. Dia pun memejamkan matanya merasakan kenyamanan itu


"Ngapain sih elo meluk-meluk gue?" Aluna protes dengan nada lirih karena dia tidak ingin Tuan Doni dan Nyonya Anita itu mendengar.


"Elo yang meluk gue duluan bukan gue yang meluk elo," sanggah Davin tidak terima.


"Lah elo teriak setan-setan kan gue refleks karena takut," Aluna berusaha membela diri.

__ADS_1


"Davin dan Aluna. Jelaskan apa yang terjadi kenapa kalian berdua berpelukan tengah malam seperti ini? tanya Nyonya Anita.


"Jawab," Ada nada yang begitu tegas dari perintah Tuan Doni hingga Aluna terjengkit kaget. Aluna merasakan hatinya seperti di cubit karena perintah tegas dari Tuan Doni. Tubuhnya mulai gemetar lagi, Davin yang melihat Aluna pun mulai kasian.


"Ini tidak seperti yang ayah kira," kata Davin dengan mata yang masih menatap Aluna lekat.


"Apa kamu pikir ayah tidak tau? Kalian berdua sudah dewasa mana mungkin berpelukan tengah malam seperti ini kalian tidak macam-macam," Aluna mengangkat kepalanya mendengar tuduhan Tuan Doni. Hatinya merasa begitu begitu sakit mendengar tuduhan itu.


"Maaf Tuan, tetapi memang benar tidak terjadi apa-apa antara saya dan Tuan Davin, Tuan. Semua hanyalah salah paham," Aluna berusaha menjelaskan meski dengan nada gemetar.


"Salah paham yang bagaimana? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aluna, aku bisa memberi tahu Ronal tentang yang terjadi tadi," ancam Tuan Doni. Davin pun menatap tajam ayahnya.


"Yah, apa yang ayah lihat tidak lseperti yang ayah pikir," kata Davin dengan menahan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2