
Keluarga Alexander dan Bagaskara sedang berkumpul merayakan kepulangan bayi Marvel. Mereka terlihat begitu bahagia. Davin dan Aluna yang baru masuk mansion sedikit tertegun melihat suasana Mansion yang begitu ramai. Ruang keluarga telah dihias sedemikian rupa, dengan balon-balon warna pink dan ucapan " SELAMAT DATANG BABY AQQUEENA ASSYIFA ALEXANDER ". Tak ada keluarga yang tidak bahagia. Davin dan Aluna ikut bergabung bersama mereka.
" Papa mama apa kabar ? " Tanya Aluna sambil memeluk mereka berdua. Mama Resti pun memeluk Aluna erat.
" Baik sayang. Kamu sendiri gimana ? " Tuan Bagas bertanya balik.
" Tentu baik dong ma " Jawab Aluna dengan senyum lebar di bibirnya.
pintar sekali kamu menyembunyikan luka hatimu sayang. Batin Davin sambil menatap lekat wajah Aluna yang sedang tersenyum lebar.
" Kak Ronal apa kabar ? Kenapa kak Sisil pucat sekali ? " Aluna duduk di samping Sisil dan mengusap bahu kakak iparnya itu.
" Gimana enggak pucat Lun ? Gak doyan makan dia, tiap makan muntah terus, paling cuman buah aja yang bisa masuk " Sahut Ronal yang duduk di samping Sisil, mengusap pelan perut Sisil yang masih rata karena baru masuk bulan kedua.
" Sehat-sehat ya kesayangan aunty,, jangan nakal dong di dalam. Jangan bikin mommy mu itu sakit gitu, kalau gak nakal nanti aunty beliin permen ya" Canda Aluna sambil mengusap perut Sisil.
" Auu sakit kak " Rintih Aluna saat Ronal menyentil dahinya cukup kencang. Aluna langsung mengusap dahinya.
" Lagian kamu kok ngomong gitu, masih di perut aja udah di janjiin beli permen " Omel Ronal sambil gantian mengusap perut Sisil.
" Kalau gak boleh ya udah deh,, kesayangan aunty gak boleh beli permen sama daddy kamu, takut giginya gerigis, boleh nya minta jet pribadi atau motor sport terbaru aja, biar bisa balapan sama aunty... Aauuu sakiiit sakiit " Kini giliran telinga Aluna yang menjadi sasaran kekesalan Ronal.
" Amit-amit jabang bayi.. jangan sampai anak kakak bar-bar kaya kamu gitu " Ronal terus mengusap perut Sisil. Semua yang ada disitu hanya tertawa melihat mereka berdua. Bahkan, Davin tidak membantu Aluna sama sekali. Davin justru bahagia melihat Aluna yang bahagia.
" Kapan ya aku bisa nyusul Kak Shania dan Kak Sisil ? " Aluna bertanya dengan nada sedih.
" Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kalau sudah waktunya juga pasti di kasih, yang penting kamu nikmati kebersamaan kamu bersama Davin. Mama juga dulu butuh waktu 2 tahun lebih baru Ronal lahir " Mama Resti memeluk Aluna erat. Dia tahu, Aluna pasti sudah sangat ingin memiliki momongan.
" Iya sayang,, kamu bisa ikut ngasuh baby Queen aja dulu, siapa tahu nanti nular. Shania gak mau pake baby sitter " Nyonya Anita menambahkan. Aluna merasa sangat bahagia mendapat keluarga yang begitu menyayanginya.
" Oh iya. Sekarang baby Queen dimana ? " Tanya Aluna karena tidak melihat kehadiran bayi imut itu.
" Masih bobok di kamar " Aluna bangun hendak menuju kamar Marvel tapi Ronal langsung menahan tangannya.
" Mau kemana ? "
" Ketemu bayi cantik dong, yang cantiknya kaya aku " Kata Aluna percaya diri. Semua menggelengkan kepala melihat Aluna.
__ADS_1
" Ish cantik-cantik jorok belum mandi, mandi dulu gih sana baru gendong baby nya " Suruh Ronal membuat Aluna berdecih sebal.
" Kak .... " Aluna hendak menolak tapi Ronal menggenggam telapak tangan Aluna, menggerakkan jarinya, memberi kode pada Aluna membuat Aluna tersenyum lebar.
" Oke kak " Aluna langsung pergi menuju kamarnya meninggalkan Davin yang masih duduk bersama keluarganya. Davin menatap kepergiaan Aluna yang terlihat begitu bahagia. Dia yakin pasti ada sesuatu yang Aluna dan Ronal sembunyikan darinya. Walau Davin tidak melihat kode tangan mereka tapi Davin bisa melihat mata mereka yang saling menatap penuh arti.
" Aku ke kamar dulu yaa,, mau bersihin badan juga " Pamit Davin sambil berlalu ke kamarnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aluna yang hendak masuk ke kamar mandi, tubuhnya terasa ditarik kemudian di himpit di tembok. Satu kaki Davin dimasukkan ke sela-sela kedua kaki Aluna, dan kedua tangan Aluna di cekal Davin di atas kepala Aluna. Aluna memberontak tapi dia kalah tenaga.
" K-Kenapa ? " Tanya Aluna gugup karena jaraknya yang begitu dekat dengan Davin. Bahkan, dada Davin mulai menempel di dada Aluna.
" Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku sayang "
" Menyembunyikan apa ? " Davin menyeringai tipis melihat Aluna yang memalingkan wajahnya. Saat seperti ini dia tahu kalau Aluna sedang berbohong.
" Tatap wajahku sayang, agar aku tahu kamu berbohong atau tidak " Namun Aluna sama sekali tidak berani menatap Davin.
" Katakan dulu sejujurnya atau aku tidak akan membuat kamu tidak bisa keluar kamar sampai besok pagi " Ancam Davin sambil bibirnya mulai mengeksplor leher Aluna. Tubuh Aluna mulai meremang, gejolak di tubuhnya mulai naik.
" Daviin ahh.... jangan seperti ini " Ucap Aluna di selingi desahan karena rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
" Bicaralah yang jujur sayang " Bibir Davin mulai menjelajah kemana-mana. Aluna benar-benar tidak tahan.
" Oke aku akan jujur tapi lepaskan aku " Pinta Aluna sambil menahan gejolak itu.
" Kamu serius sayang ? " Davin memastikan. Aluna mengangguk pelan. Kemudian Davin melepaskan Aluna.
" Aku....emm " Aluna menggigit bibir bawahnya. Dia ingin bicara tapi takut Davin akan marah.
" Aku apa sayang ? " Tanya Davin mengintimidasi.
" Aku tiga hari lagi mau balapan " Ucap Aluna lirih.
" Dimana ? " Davin menatap wajah Aluna lekat.
__ADS_1
" Di Arena XX " Jawab Aluna gugup, dia tidak berani menatap Davin.
" Oke " Aluna mendongak mendengar ucapan Davin yang langsung mengiyakan. Aluna kira Davin akan menolaknya mentah-mentah. Aluna langsung tersenyum mendengar persetujuan Davin.
" Tapi aku punya syarat " Kata Davin dengan seringaian tipis membuat Aluna memudarkan senyumannya.
" Cih ! apa syaratnya ? " Aluna berdecih sebal pada suaminya itu. Melihat wajah Davin yang licik membuat perasaan Aluna tidak enak.
" Kamu boleh balapan asal kamu menang tapi kalau kamu kalah, kamu harus berhenti balapan "
Deg. Aluna terdiam, hatinya merasa bimbang. Ya, hampir di setiap balapan dia menang tapi kemungkinan kalah kan bisa saja. Bagaimana kalau dia kalah ? Sedangkan balapan sudah menjadi separuh hidupnya. Aluna menghirup nafas panjang kemudian menghembuskan perlahan.
" Bagaimana sayang ? " Pertanyaan Davin mampu membuat kesadaran Aluna kembali.
" Emm,, boleh syarat lainnya saja ? " Aluna berusaha menawar. Davin tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya. Aluna mendesah sebal.
" Oke deh, aku setuju " Aluna bicara dengan berat hati. Senyum di wajahnya benar-benar hilang. Ya, dia telah bersuami dan dia harus menurut pada suaminya. Davin semakin melebarkan senyumnya mendengar keputusan Aluna.
" Mau kemana sayang ? " Tanya Davin saat Aluna hendak melangkahkan kakinya.
" Mandi, tubuhku sudah sangat lengket "
" Ayo mandi bersama, tubuhku juga sudah sangat lengket " Ajak Davin sambil menaik-turunkan alisnya membuat Aluna berdecak kesal.
" Kamu mandiri sendiri saja, kita gantian " Aluna menolak, karena dia tahu apa tujuan otak mesum suaminya itu.
" Mandi bareng aja sayang biar cepat " Kata Davin sambil menarik tubuh Aluna masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
" Yang ada malah jadi lama ! " Cibir Aluna kesal namun dia tetap menurut saja. Dan beberapa saat kemudian kamar mandi itu di penuhi desahan dan erangan keduanya.
Maaf lagi agak slow update ya
author lagi agak sibuk di dunia nyata
jangan lupa beri kritik dan saran buat author agar cerita author yang abal-abal ini bisa menjadi lebih baik lagi ya
happy reading gaes
__ADS_1