Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
133


__ADS_3

"Kenapa lama sekali?!" Asisten Jo duduk gelisah di dalam mobil. Mereka sudah sampai di kota XX tapi mereka harus mencari lagi rumah nenek Dimas yang kemungkinan berada di daerah terpencil.


"Aku berharap ucapan Nona Aluna benar, semoga kita tidak salah jalan," Asisten Jo mengusap wajahnya kasar. Hatinya merasa tak karuan, ingin rasanya dirinya menjerit sekeras mungkin.


"Apa benar ini jalan menuju daerah itu?" tanya Asisten Jo ragu karena jalanan itu hampir menyerupai hutan dimana banyak pohon pinus yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan.


"Benar Tuan, memang jalannya masih penuh pepohonan seperti ini, karena disini masih daerah terpencil," jelas supir itu.


"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya Asisten Jo tak sabar.


"Sekitar sepuluh menitan Tuan,"


"Semoga kita belum terlambat," ucap Asisten Jo lirih. Dia menyandarkan kepalanya, berkali-kali mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar sangat khawatir pada Mila.


Semoga aku benar-benar bisa menemukanmu. Bertahanlah sebentar lagi, kamu harus ingat ada Rayhan dan Ibu yang menunggumu.


Asisten Jo memejamkan matanya, entah mengapa dia merasakan sakit di dalam hatinya. Dia cemas,gelisah,khawatir pada Mila. *Apakah mungkin aku sudah jatuh cinta pada gadis dengan kepercayaan diri tinggi itu?.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀*


"Aku mohon jangan Dim, bunuh aku saja Dim tapi jangan kamu ambil kesucianku yang selama ini ku jaga!" Teriak Mila sekuat tenaga meski tubuhnya sudah sangat lemah.


"Aku tidak akan membunuhmu sayang, mana mungkin aku membunuh orang yang aku sayang. Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang saja," sahut Dimas dengan senyum tipis. Tangannya mengusap pelan pipi Mila, namun mampu membuat tubuh Mila semakin gemetar.


"Jangan takut sayang, kalau kamu sudah merasakannya pasti kamu akan ketagihan,"

__ADS_1


"Jangan Dim, aku mohon jangan lakukan itu," pinta Mila memelas namun Dimas sama sekali tidak peduli. Dimas mengambil gunting di atas nakas di samping kasur, dia menggunting seluruh pakaian Mila hingga kini tak ada satupun benang yang menempel di tubuh Mila. Dimas tersenyum sinis, dia memajukan wajahnya ke samping Mila.


"Ayo kita nikmati permainan kita sayang," bisik Dimas di telinga Mila lalu dia mengecup leher Mila hingga tubuh Mila terasa meremang. Dimas menggerayangi tubuh Mila yang kini hanya bisa pasrah.


Ibu, maafkan Mila tidak bisa menjaga apa yang seharusnya Mila jaga. Tubuhku sudah sangat kotor.


Mila terdiam namun airmata masih terus mengalir dari sudut matanya, Dimas yang melihat Mila terdiam hanya menunggingkan senyumnya.


"Tahan sebentar saja sayang, hanya sakit sesaat setelahnya kamu akan merasakan nikmat," ucap Dimas sambil memaksa senjatanya masuk.


"Saaakiitt," rintih Mila, dia benar-benar kesakitan. Dimas pun berhenti sesaat, namun saat dia hendak memompa tubuh Mila, pintu kamar itu di dobrak paksa. Tubuh Dimas tertarik kemudian terpelanting jauh.


"Bang**t!!!" umpat Asisten Jo sambil memukul kerasa wajah Dimas yang masih penuh lebam karena pertengkaran dengannya kemarin, kini luka itu mulai mengeluarkan darah lagi. Asisten Jo berlari ke atas kasur lalu menutupi tubuh Mila dengan selimut. Saat hendak menutupi tubuh Mila, dia terpaku sesaat melihat darah segar di atas sprei.


"Sa-kit," lirih Mila terbata. Asisten Jo langsung menyelimuti tubuh Mila dan memeluknya erat.


"Berhentilah Tuan, lebih baik anda membawa Nona Mila ke rumah sakit. Nona Mila butuh penanganan segera," ucap salah satu anak buah Asisten Jo berusaha menenangkan bos mereka. Asisten Jo langsung berjalan ke arah Mila, membuat para anak buah Asisten Jo bernafas lega. Jika tidak segera di lerai, mereka yakin pasti sekarang Dimas hanya tinggal nama.


"Ibu sakit," rintih Mila sambil memejamkan matanya merasakan sakit di tubuh juga hatinya.


"Bertahanlah sebentar lagi," Asisten Jo membopong tubuh Mila yang telah lemah.


"Jangan sentuh saya Tuan, saya kotor," ucap Mila lirih, setelahnya dia langsung tak sadarkan diri.


"Jangan biarkan dia lepas ! dia harus mendapat hukuman yang seberat-beratnya!!" titah Asisten Jo kemudian berjalan cepat keluar kamar untuk membawa Mila ke rumah sakit terdekat. Begitu mereka masuk ke mobil, sang supir itu langsung mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sedangkan, Asisten Jo memeluk erat tubuh Mila yang terbalut selimut. Dia menatap Mila dengan penuh sesal.

__ADS_1


"Maafkan aku, maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu," ucap Asisten Jo berkali-kali. Bahkan, kedua mata Asisten Jo sudah mulai basah.


"Kenapa lama sekali!" bentak Asisten Jo tak bisa mengontrol emosinya.


"Ini sudah cepat Tuan, karena ini daerah terpencil jadi jarak ke rumah sakit cukup jauh Tuan," jelas supir itu, Asisten Jo hanya diam tidak menanggapi. Setelah hampir setengah jam perjalanan, kini mereka sampai di rumah sakit. Asisten Jo langsung membawa Mila ke ruang IGD.


"Cepat periksa dia! Jangan lama atau rumah sakit ini aku bakar!" Ancam Asisten Jo membuat dokter dan perawat yang berjaga kalang kabut.


"Silahkan tunggu di luar Tuan," suruh salah satu perawat dengan gugup dan takut. Asisten Jo menurut, dia keluar dari ruangan itu sambil duduk cemas di kursi tunggu. Bayangannya tiba-tiba teringat saat Dimas menindih tubuh Mila dan juga saat dia melihat darah segar di atas sprei.


"Baji***N!!" umpat Asisten Jo marah, dia berdiri kemudian memukul tembok dengan keras untuk meluapkan rasa sakit dan sesal di hatinya. Darah segar yang mengalir di tangannya tidak dia pedulikan. Sesaat kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu. Asisten Jo langsung berjalan mendekati dokter itu.


"Tangan anda berdarah Tuan," Kata dokter itu terkejut melihat darah segar di tangan Asisten Jo.


"Jangan pedulikan aku! Aku tanya bagaimana keadaan dia!" tanya Asisten Jo dengan suara tinggi. Dokter itu menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.


"Maaf Tuan, keadaannya tidak baik Tuan, selaput daranya sudah robek dan kemal***nya membengkak karena di paksa," Asisten Jo mengepalkan tangannya erat.


" Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dia bisa saja mengalami trauma berat Tuan," jelas dokter itu dengan berat.


"Apa aku bisa menjenguknya?" tanya Asisten Jo, dokter itupun mengangguk. Asisten Jo langsung berjalan masuk dan melihat Mila yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


"Maafkan aku sudah terlambat menyelamatkanmu, maafkan aku," sesal Asisten Jo, dia mengecup puncak kepala Mila yang masih terlelap tidur.


maaf baru update, Author harus nulis dan mikir ulang karena naskahnya di tolak.

__ADS_1


salam sayang dari author recehan


__ADS_2