
" Vin.. ada yang mau ayah bicarakan " Kata Tuan Doni saat Davin dan Aluna sudah duduk di ruang keluarga Mansion Alexander.
" Ada apa yah ? " Tanya Davin balik.
" Bagaimana kalau besok kita umumkan ke publik kalau Aluna adalah istri kamu, Nyonya Muda Alexander. Semenjak menikah kan kalian belum mengadakan resepsi "
" Tapi yah .... "
" Diam sayang. Aku tahu kamu mau menolak kan " Davin memotong ucapan Aluna sambil memberi kecupan singkat di pipi Aluna. Seketika Aluna langsung terdiam.
" Aluna, papa mohon dengan sangat, kamu mau ya di perkenalkan ke publik. Kita semua tidak mau kamu jadi bahan gunjingan orang lain." Tuan Bagas memandang dengan wajah memohon membuat Aluna menghembuskan nafas kasar.
" Sayang, lihat aku. " Davin menangkup pipi Aluna menghadapkan wajah Aluna di depan wajahnya.
" Kita melakukan itu karena kita sayang sama kamu. Siapa sih yang rela kalau orang yang dia sayang jadi bahan hinaan padahal gak salah. Termasuk kejadian di toilet tadi " Aluna langsung menatap Davin.
" Darimana kamu tahu ? Kamu memata-mataiku ?" Aluna bertanya dengan kesal.
" Aku tidak memata-mataimu, aku hanya menjaga kamu sayang. Kita tidak akan melakukan resepsi mewah, karena aku takut kamu kelelahan. Jadi besok kita umumkan saja ke publik kalau kamu adalah Nyonya Muda Alexander " Aluna terdiam, namun dari gurat wajahnya terlihat bimbang. Davin pun mengusap pelan pipi Aluna, memberi keyakinan bahwa seharusnya itu yang mereka lakukan.
" Aku sayang kamu. Kamu tahu kan, aku tidak rela jika kamu dihina orang lain " Ucap Davin lembut. Mata Aluna berkaca-kaca saat melihat kesungguhan dari sorot mata Davin.Dia pun akhirnya mengangguk setuju. Davin langsung memeluk Aluna erat.
" Aku mencintaimu sayang " Ucap Davin sambil mengecup puncak kepala Aluna. Aluna pun mengeratkan pelukannya di tubuh Davin. Semua yang disana menghembuskan nafas lega. Memang benar saran Asisten Jo, mendekati orang yang keras kepala harus dengan cara yang lembut. Saat Davin melerai pelukannya, Aluna langsung mengusap airmata di sudut matanya.
" Kamu memangis sayang ? Apa aku salah ? Maafkan aku " Ucap Davin takut. Aluna pun tersenyum simpul sambil menggeleng pelan.
" Aku menangis bahagia karena kamu sudah mencintaiku dengan sangat tulus, padahal aku sangat keras kepala hingga sering menyakitimu " Aluna terisak pelan. Tangan Davin menghapus pelan airmata yang mengalir lagi membasahi pipi Aluna.
" Sayang, aku menerima kamu apa adanya, termasuk sikap keras kepalamu itu. Semua hanya soal waktu, kita perlu adaptasi apalagi kita baru membina rumah tangga pasti cobaan itu ada saja. Yang penting kita harus selalu saling mengerti dan menerima kekurangan pasangan kita. berjuang bersama menjalani rumah tangga ini. Menua dan dewasa bersama. Aku yakin kita pasti bisa sampai maut memisahkan kita " Aluna langsung memeluk erat tubuh Davin, airmata mengalir.
" Terimakasih Mas, aku mencintaimu " Kata Aluna lirih tapi mampu membuat senyum Davin langsung merekah.
__ADS_1
" Aku menyukai panggilan romantismu padaku sayang " Kata Davin bahagia sambil mengecup pipi Aluna pelan.
" Eeheemmm " Suara deheman Nyonya Anita membuat wajah Aluna tersipu malu tapi Davin justru berdecak kesal.
" Wah.. Dunia serasa milik berdua ya, lainnya ngontrak " Sindir Nyonya Anita sambil tersenyum tipis.
" Mom .... " Davin menatap Nyonya Anita.
" Sudah sudah " Tuan Doni mengibaskan telapak tangannya. Menghentikan perdebatan yang akan terjadi antara ibu dan anak itu.
" Sudah waktunya makan malam, Tuan Bagas mumpung anda masih disini bagaimana kalau kita makan malam bersama. " Ajak Tuan Doni dan mendapat anggukan setuju dari Tuan Bagas. Mereka semua pun pergi ke ruang makan. Banyak sekali makanan yang terhidang di meja makan itu. Mulai dari lauk, sayuran, maupun buah sebagai pencuci mulut. Namun, Davin menatap tak selera pada semua makanan itu. Semua piring sudah di isi nasi beserta teman-temannya. Tapi ,piring Davin masih kosong, karena Davin selalu menggelengkan kepalanya saat Aluna hendak mengambilkan nasi untuknya, membuat hati Aluna rasanya dongkol.
" Kamu mau makan sama apa mas ? " Tanya Aluna lembut namun penuh penekanan.
" Sayang... aku pengen makan telur mata sapi setengah matang " Jawab Davin sambil cengengesan. Aluna mencebikkan bibirnya kesal.
" Kenapa gak bilang dari tadi ? " Aluna meletakkan piring di tangannya, kemudian hendak berjalan meninggalkan meja makan.
" Mau gorengin telur. "
" Biar di gorengin Mbok Nah aja. Aku gak mau kamu kenapa-napa " Ucap Davin khawatir. Aluna langsung menangkup pipi Davin.
" Mas Davin sayaaangg .... kamu gak kasian sama Mbok Nah? Udah masak segini banyak masih kamu suruh goreng telur, kerja yang lebih berat dari goreng telur aja aku pernah lakuin. "
" Tapi sayang.... "
" Udah gak usah protes ! Kamu sini aja aku mau gorengin telur dulu " Aluna menekan pipi Davin yang masih dalam tangkupan tangannya hingga Davin meringis kesakitan.
" Sayaangg sakiit " Teriak Davin manja saat Aluna melangkah meninggalkan ruang makan itu. Semua menggelengkan kepalanya melihat tingkah Davin. Entah karena terlalu sayang sama Aluna atau karena efek ngidamnya membuat Davin seperti anak kecil.
" Emm kalian makan malam duluan saja, nanti aku makan sama Aluna aja dibelakang " Ucap Davin sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur menyusul Aluna.
__ADS_1
Begitu sampai di dapur, Davin melihat Aluna yang sedang berdiri di depan kompor yang sudah menyala. Dia pun langsung memeluk Aluna dari belakang hingga Aluna terjengkit kaget.
" Sayang ... aku mau telurnya dua ya " Kata Davin di tengkuk Aluna hingga menciptakan rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuh Aluna.
" Diamlah ! Atau kedua telurmu yang akan aku goreng " Ancam Aluna dengan refleks Davin langsung memegang pusat tubuhnya itu.
" Jangan sayang, ini aset berharga loh " Ucap Davin takut membuat Aluna tertawa lebar. Davin langsung mencium bibir Aluna dan Aluna tidak bisa menolaknya. Davin melepaskan ciumannya, hidungnya mengendus ruangan itu.
" Sayang bau apa ini ? " Tanya Davin sambil hidungnya terus mengendus-endus.
" Astaga... telurnya gosong mas " Teriak Aluna sambil mematikan kompor itu. Dia memukul dada bidang Davin karena kesal.
" Gara-gara kamu tuh telurnya kosong " Ucap Aluna kesal. Davin hanya tersenyum seolah tak bersalah.
" Sini aku makan aja sayang " Kata Davin saat Aluna hendak membuang telur gosong itu.
" Dimakan emang enak ? Kan gosong hitam gini mas " Aluna mengangkat telur itu. Davin mengangguk.
" Coba dulu sini " Davin menerima telur gosong itu, dia memotong sedikit kemudian mencicipinya. Dia mengunyah perlahan, setelah menelannya dia tersenyum lebar.
" Enak sayang.. sini aku makan, aku mau dong dibuatin yang kaya gini lagi dua ya " Kata Davin antusias kemudian memakan telur itu dengan lahap. Aluna menatap tak percaya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Emang kalo ngidam jadi aneh gitu ya
**Adakah yang merindukan Asisten Jo ??
Sabar ya, dia lagi istirahat dulu, bobok ganteng
Author butuh penyemangat nih.
ayo jangan lupa tekan gambar jempol yaa**
__ADS_1