Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
70


__ADS_3

Aluna berjalan kembali ke Mansion Alexander. Dia sebenarnya tidak berniat kembali ke Mansion itu dan akan menyuruh kakaknya untuk menjemput di depan pemakaman. Namun, saat dia menghubungi Ronal, kakak angkatnya itu tidak mengangkat panggilan Aluna sama sekali bahkan nomer ponsel Tuan Bagas juga sama saja. Setelah sampai di pelataran Mansion itu, Aluna berjalan mengendap-endap menuju mobil Tuan Bagas. Begitu sampai di samping mobil Tuan Bagas, Aluna membuka maskernya kemudian membuang nafas kasar.


"Huh aman," Aluna mengusap-usap dadanya, tangan kirinya kemudian membuka pintu mobil itu. Namun, begitu pintu mobil itu terbuka, tubuh Aluna langsung menegang dan jantungnya berdetak begitu cepat. Dia melihat Davin sedang duduk di kursi penumpang itu sambil tersenyum tipis. Aluna diam membisu, tubuhnya tidak bergerak sama sekali bahkan pandangan matanya tidak lepas dari mata Davin yang sedang memandangnya.


"Apa kabar, Sayang?" sapa Davin lembut. Mendengar sapaan Davin, Aluna langsung sadar dari keterkejutannya. Dia langsung berlari menghindari Davin tetapi secepat kilat Davin langsung mengejar Aluna. Semua keluarga yang berada di sana menatap mereka dari teras Mansion itu. Begitu sampai di tengah pelataran Mansion, langkah kaki Aluna terhenti saat Davin mencekal tangan Aluna untuk menahan Aluna. Aluna berhenti namun dia tidak menoleh ke arah Davin sama sekali.


"Maafkan aku," ucap Davin penuh sesal. Dia menarik tubuh Aluna masuk ke dalam dekapannya. Aluna masih terdiam, dia benar-benar seperti orang yang hilang kesadaran.

__ADS_1


"Aku minta maaf sayang, aku sudah sangat menyakiti perasaanmu," bisik Davin lirih di telinga Aluna. Bahkan, sudut mata Davin mulai terlihat meneteskan airmata.Aluna meronta, berusaha keras melepas pelukan Davin tetapi pelukan Davin di tubuh Aluna semakin terasa erat. Aluna menginjak kaki Davin dengan sekuat tenaga hingga Davin refleks melepaskan pelukannya dan berteriak kesakitan. Aluna langsung mencoba lari tapi Davin memegang kaki Aluna dan bersimpuh di kaki Aluna. Semua menatap tidak percaya pada tindakan Davin, sedangkan tubuh Aluna kembali terasa kaku untuk bergerak.


"Aku mohon maafkan aku, Sayang. Kamu boleh pukul aku sepuas kamu tapi jangan pernah kamu tinggalkan aku lagi," Suara Davin terdengar begitu parau karena menahan airmatanya.


"Aku sadar, aku sudah sangat menyakiti perasaanmu. Aku bersalah karena sudah menyalahkan kamu atas kepergiaan calon anak kita dan aku juga tidak peduli pada keadaanmu. Aku benar-benar minta maaf padamu," Airmata Davin mulai terlihat menetes dari sudut matanya. Dia memang seorang lelaki tetapi entah mengapa jika itu menyangkut tentang perasaannya pada Aluna, dia menjadi begitu cengeng.


"Cukup sekali aku kehilanganmu dan aku tidak ingin kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Aku lebih rela jika kamu memukul tubuhku sepuas kamu asal jangan pernah sekalipun kamu pergi dari sisiku lagi. Aku benar-benar minta maaf," Suara Davin terdengar begitu lirih, melihat respon Aluna yang hanya diam membuat Davin takut Aluna tidak akan pernah memaafkannya. Tiba-tiba, tubuh Aluna terduduk lemah di samping Davin, kedua tangan Aluna menangkup wajahnya lalu terdengar isak tangis dari bibir Aluna.

__ADS_1


"Aku benci kamu. Aku benci kamu, hiks hiks," ucap Aluna di sela tangisnya. Aluna membuka tangkupan tangannya lalu memukul dada bidang Davin berkali-kali sedangkan Davin hanya diam tidak menghindar. Dia ingin Aluna melampiaskan segala rasa sakit yang pernah dia torehkan.


"Aku benci kamu, hiks hiks," Tangisan Aluna mulai terdengar melemah. Kedua tangan Davin kemudian mendekap erat tubuh Aluna. Aluna tidak menolak pelukan itu namun tangannya masih terus memukul dada Davin.


"Aku benci kamu! Aku benci saat kamu menyalahkan aku begitu saja. Aku benci saat kamu menyalahkan aku karena kepergian calon buah hati kita. Kamu pikir aku juga tidak terluka waktu kehilangan calon buah hati kita?!" teriak Aluna. "Aku benci saat kamu begitu egois! Kamu sakiti hati aku padahal semua jiwa dan ragaku lebih sakit dari pada kamu. Kamu menyalahkan aku begitu saja tanpa peduli keadaanku dan kamu berfikir kamulah yang paling terluka saat itu, padahal seharusnya akulah yang paling terluka disini," Davin semakin mempererat pelukannya. Airmatanya mulai mengalir saat mendengar semua ungkapan hati Aluna.


"Aku tahu aku salah dan aku sangat menyesal karwna sudah egois, tidak bisa mengontrol emosiku hingag akhirnya aku begitu melukai perasaanmu," lirih Davin sambil memeluk erat tubuh Aluna. Davin memejamkan matanya sambil mengecup kening Aluna lama, menyalurkan segala rasa kasih sayang untuk mengobati segala luka. Hatinya merasa begitu sakit saat melihat Aluna terluka, apalagi Aluna terluka karena dirinya. Davin benar-benar menyesal. Aluna menghentikan pukulan tangannya di dada Davin tetapi airmatanya belum surut dari sudut matanya.

__ADS_1


" Aku mencintaimu, Sayang. Aku janji tidak akan lagi.menyakitimu," bisik Davin, dia semakin memeluk Aluna erat, hatinya benar-benar takut kehilangan Aluna lagi.


__ADS_2