
"Bangunlah Mil," suruh Dimas sambil memegang bahu Mila.
"Jauhkan tanganmu dari tubuhku Dim. Gara-gara kamu aku jadi bertengkar dengan suamiku, Dim. Kamu puas sekarang?!" teriak Mila dengan airmata menetes di pipinya.
"Maafkan aku, Mil. Aku tidak tahu jika keadaanya jadi seperti ini. Aku akan membantumu Mil," kata Dimas mantap, Mila langsung menatap tajam wajah Dimas.
"Kamu mau membantu apa Dim? Yang ada suamiku akan semakin salah paham padaku," Mila menunduk, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Biar aku bantu menjelaskan semuanya pada suamimu, aku janji. Aku benar-benar minta maaf Mil, aku tidak menyangka jika semua akan jadi seperti ini," Dimas sangat merasa bersalah. Mila langsung berdiri, dia langsung duduk di motornya dan mengendarai motornya, pergi meninggalkan Dimas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dimas hanya terdiam menatap kepergian Mila.
Mila yang baru saja sampai di rumahnya langsung berjalan masuk ke dalam rumah, dia berjalan masuk ke kamarnya namun tak melihat keberadaan suaminya.
"Nyonya sudah pulang?" tanya Santi sambil menggendong baby Cacha yang sedang tidur.
"Iya, San. Apa Tuan sudah pulang?" tanya Mila ragu, Santi menatap wajah Mila yang masih terlihat bekas airmata di sana.
"Barusan Tuan pulang hanya untuk mengambil baju saja, Nyonya. Katanya dia ada perjalanan bisnis ke luar kota selama seminggu," jelas Santi, raut wajah Mila langsung terlihat begitu sedih.
"Aku kira dia akan berangkat besok," bohong Mila, sebenarnya Asisten Jo tidak ada perjalanan bisnis namun Mila tidak ingin pembantunya ini tahu kalau mereka sedang bertengkar.
"Sini San. Baby Cacha biar aku kelonin, terima kasih ya," ucap Mila sambil mengambil bayi Cacha dari gendongan Santi.
"Oh iya, Nathan sudah pulang?" tanya Mila lagi.
"Belum Nyonya, bukankah biasanya Tuan kecil Nathan pulang jam sepuluh sedangkan Tuan Rayhan pulang jam satu," Mila menepuk keningnya karena dia lupa jadwal sekolah kedua anaknya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya," pamit Santi, dia berjalan ke luar dari kamar Mila. Sedangkan Mila langsung menidurkan baby Cacha di atas kasur.
"Maafkan bunda sayang," gumam Mila sambil mengusap wajah baby Cacha dengan lembut. Tiba-tiba Mila teringat kalau ponselnya mati, dengan segera Mila langsung mengisi daya ponselnya dengan tidak sabar. Sembari menunggu ponselnya terisi, Mila masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian, dia keluar dengan wajah yang lebih segar, dia melihat baby Cacha yang masih tertidur lelap di atas kasur.
"Pulas sekali tidurmu, Nak," bisik Mila dengan senyum tipis di bibirnya. Dia berjalan menuju ke tempat ponselnya, dia melihat ponsel itu telah terisi dua puluh persen. Tanpa menunggu lama, Mila langsung menghidupkan ponsel itu.
"Kamu di mana, Mas?" gumam Mila sembari menunggu ponselnya menyala. Setelah ponsel itu menyala, Mila langsung menghubungi nomer suaminya namun panggilan itu tidak menyambung sama sekali. Berpuluh-puluh kali dia mencoba menghubunginya, namun semua gagal. Mila menghembuskan nafas kasar. Dia langsung mencari nomer Aluna, hanya Aluna yang bisa dia hubungi saat ini.
"Lun," sapa Mila lirih dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kamu kenapa, Mil?"
"Apa suamimu ada perjalanan bisnis keluar kota?" tanya Mila pelan.
"Tidak, Memang kenapa?"
"Bagaimana bisa?!" Suara Aluna terdengar meninggi hingga Mila sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kamu bisa pelan enggak sih Lun? Aku bisa tuli dengar teriakanmu itu," cibir Mila kesal. Terdengar kekehan dari seberang, membuat Mila semakin mencebik kesal.
"Aku hanya terkejut Mil. Memang kenapa Jo bisa pergi dari rumah?" tanya Aluna menyelidik.
"Gara-gara dia mergoki aku lagi ketemuan sama Dimas,"
"What?!" Mila kembali menjauhkan ponselnya, dia mengumpati Aluna yang sedari tadi berteriak.
__ADS_1
"Bisakah kamu sedikit pelan, Nyonya Muda Alexander. Baby Cacha Maricha Hehey sedang tidur," ketus Mila.
"Maaf sudah mengganggu tidur anak kambingmu itu,"
"ALUNA!" teriak Mila keras. Oee oeee bayi Cacha langsung menangis membuat Mila langsung kelimpungan. Dia langsung merebahkan tubuhnya di samping bayi Cacha dan menyusuinya.
"Lun, bantu aku dong," pinta Mila memelas sambil masih menyusui bayi Cacha.
"Memang bagaimana bisa Jo salah paham sama kamu?" tanya Aluna, Mila pun langsung menceritakan kejadian tadi, tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Salah kamu sendiri, Mil. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memberi tahu suamimu," Aluna menyalahkan Mila begitu saja.
"Aku kan sudah mau menghubungi suamiku, tapi pesan Dimas sampai terlebih dahulu, dengan ancaman seperti itu siapa yang tidak kalang kabut coba?!" Mila berusaha membela dirinya walaupun dia menyesal kenapa dia tidak memberi tahu suaminya sejak malam itu.
"Kalau saran aku, kamu tidak usah mencari suamimu dulu. Biarkan dia menenangkan dirinya dulu, siapa pun pasti akan marah kalau berada di posisi Jo. Dia butuh waktu sendiri Mil. Kamu juga bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa sekecil apapun masalah yang kamu hadapi, kamu harus terbuka dengan suamimu," nasihat Aluna dengan panjang lebar, sedangkan Mila hanya diam mendengarkan.
"Tapi aku takut Mas Johan bakal lama marah sama aku, Mil," kata Mila lirih.
"Aku yakin pasti gak akan lama, Mil. Aku tahu Jo begitu sayang sama kamu dan anak kamu, aku yakin dia pasti tidak bisa lama-lama jauh dari kalian," Mila menghela nafas panjang mendengar ucapan Aluna. Memang ucapan Aluna ada benarnya juga, mungkin sekarang waktunya mereka untuk menyendiri saling instropeksi diri dulu.
"Ya sudah Lun, aku matikan dulu ya. Terima kasih atas nasihatnya," kata Mila, setelah mendengar sahutan dari Aluna, Mila langsung mematikan panggilan itu.
"Huh! Kamu di mana, Mas? Aku kangen," gumam Mila sambil mengusap airmata di sudut matanya.
Sedangkan di sebuah kamar hotel, Asisten Jo yang telah memesan kamar selama seminggu ke depan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar itu, bayangan saat Mila dan Dimas tadi kembali menari di otaknya, membuat Asisten Jo mengepalkan tangannya erat.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia sudah keluar dari penjara?! Bagaimana bisa mereka berdua bertemu? Huh! Apa itu yang membuat Mila tadi pagi begitu cuek padaku?" Asisten Jo bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku harus menyelidiki semuanya," ucap Asisten Jo lirih. Dia mengambil tablet kerjanya dan menghubungi Davin karena Asisten Jo mematikan ponselnya. Asisten Jo meminta izin kepada Davin kalau dia ada urusan jadi dia tidak bisa kembali ke kantor, Davin pun hanya mengiyakan meskipun dia sedikit kesal kepada Asisten Jo yang bertingkah semaunya sendiri.