Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
80


__ADS_3

Mansion Alexander


Davin melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Begitu sampai kamar dia mencari Aluna namun Aluna tak terlihat.


" Sayang .... " Teriakan Davin menggema, hingga saat dia sampai di depan kamar mandi, pintu kamar mandi itu terbuka. Aluna keluar menggunakan jubah mandi dengan handuk kecil menggantung di lehernya. Davin menelan salivanya kasar.


" K-kamu sudah pulang ? " Tanya Aluna gugup, karena Davin memergoki dia yang hanya memakai jubah mandi. Davin berjalan mendekati Aluna dengan seringai tipis di bibirnya. Aluna pun mundur ingin menghindari Davin.


" Tentu saja sudah sayang, bukankah kita bekerja di kantor yang sama ? " Davin balik bertanya, dia masih berjalan mendekati Aluna. Merasa situasi tidak aman, Aluna langsung membuka pintu kamar mandi lagi dan hendak masuk ke dalamnya. Namun, dengan cepat Davin langsung menarik tangan Aluna dan membawanya masuk dalam dekapannya.


" Aku cuma ingin memelukmu saja " Ucap Davin saat Aluna hendak melepaskan pelukannya.


" Aku sangat lelah hari ini, biar aku memelukmu sejenak untuk menghilangkan rasa lelahku " Aluna diam, dia membiarkan Davin memeluknya. Davin langsung mencium bibir Aluna lembut membuat Aluna terbuai. Davin benar-benar tak tahan, apalagi melihat Aluna yang hanya memakai jubah mandi, akan tetapi Davin harus menahannya sampai Aluna bersedia dengan sendirinya. Davin tidak mau Aluna akan membencinya dan meninggalkan dia lagi.


Mereka masih berciuman saling bertukar saliva. Aluna pun mulai menikmati dan mengimbangi ciuman Davin membuat Davin semakin ingin menelanjangi Aluna. Mereka saling menikmati, Davin kemudian melepas handuk kecil di leher Aluna dan memegang tengkuk Aluna, Aluna langsung melepaskan ciuman mereka dan mendesis sakit, membuat Davin langsung menghentikan gerakan tangannya dan dan menatap Aluna tajam.


" Kenapa ? " Tanya Davin sambil berusaha menjauhkan tangan Aluna yang menutupi lehernya.

__ADS_1


" Gak papa, aku mau ganti baju dulu, badanku sudah terasa dingin " Kata Aluna sambil berlari ke tempat pakaian, setelah dia menemukan piyamanya, dia langsung memakainya. Davin hanya menatap Aluna dengan tatapan menyelidik. Dia berjalan mendekati Aluna yang sedang mengacingkan piyamanya. Saat sudah di belakang Aluna, Davin melihat leher Aluna memerah. Dia langsung menghentikan gerakan tangan Aluna yang hendak menggerai rambutnya.


" Lepasin .... Aku mau sisiran " Aluna berusaha menjauhkan tangan Davin tapi Davin justru menarik dengan pelan piyama yang menutupi leher Aluna.


"Leher kamu kenapa merah kaya gini ? " Tanya Davin dengan nada cukup tinggi.


" Gak kenapa-kenapa. Mungkin di gigit nyamuk jadi meninggalkan bekas merah " Aluna mencari alasan, dia lalu berjalan ke tempat tidur dan merebahkan dirinya disana. Davin pun mengikuti.


" Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi ! Aku tahu itu seperti luka bakar " Davin mulai emosi, karena Aluna seperti menutupi sesuatu.


" Jawab dengan jujur ! Leher kamu kenapa begitu atau akan menelanjangi kamu saat ini juga " Mendengar ancaman Davin Aluna langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.


" Tadi gak sengaja kena kuah bakso saat makan " Aluna sengaja berbohong karena dia tidak mau Davin tahu kejadian sesungguhnya.


" Jangan bohong !! Aku tahu kamu bukan orang yang seceroboh itu ! " Bentak Davin kesal. Dia tahu Aluna sedang berbohong padanya.


" Aku ngantuk, mau tidur " Aluna memejamkan matanya. Sedangkan Davin langsung pergi ke luar kamar. Melihat Davin yang telah pergi, Aluna menghembuskan nafas lega. Kemudian, dia memejamkan matanya untuk tidur karena dia merasa tubuhnya sangat lelah.

__ADS_1


Aluna yang sudah terlelap tidak mengetahui Davin masuk lagi ke kamar sambil membawa salep untuk luka bakar. Melihat Aluna yang sudah terlelap, Davin langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Aluna, saat dia membuka piyama bagian leher Aluna, dia melihat luka bakar cukup lebar dari leher bahkan sampai bahu dan dada bagian depan. Davin mengepalkan tangannya erat, dia tidak habis pikir bagaimana bisa Aluna menutupi luka itu. Davin pun dengan telaten memberi salep di luka bakar itu. Saat dia mengusap luka bagian depan, imannya di uji saat melihat leher dan bagian depan tubuh Aluna. Namun sekuat tenaga Davin berusaha menahan, meski ada yang belingsatan di dalam sana. Tubuhnya pun mulai memanas.


" Eeghhh sakit " Aluna meleguh dalam tidurnya saat tangan Davin menyentuh luka itu. Davin pun semakin merasa tak karuan.


" S**T !!! Gue harus main solo dulu kalau begini " Umpat Davin kesal sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sedangkan Aluna kembali terlelap dalam tidurnya.


Setengah jam kemudian, Davin keluar dengan tubuh yang sudah bugar. Dia melihat Aluna masih terlelap dalam tidurnya. Dia tersenyum melihat Aluna yang begitu cantik meski tanpa polesan make up. Tapi saat dia teringat luka Aluna, dia mengepalkan tangannya erat. Dia lalu mencari ponselnya dan menghubungi Asisten Jo.


" Jo .... cari tahu bagaimana Aluna bisa terkena luka bakar di lehernya " Perintah Davin begitu panggilan itu terhubung.


"Luka bakar di leher ? "


" Ya... Aluna bilang tidak sengaja terkena kuah bakso, tapi saat aku melihat luka itu, aku yakin itu terluka karena disiram bukan karena tidak sengaja "


" Baik Tuan... nanti akan saya cari tahu " Davin langsung mematikan panggilan suara itu. Dia duduk bersandar di samping Aluna. Satu tangannya mengusap kepala Aluna dengan lembut.


" Kamu memang terbiasa melakukan apapun sendiri dan bisa menjaga dirimu sendiri. Tapi aku takkan membiarkan satu orang pun melukaimu, siapapun yang melukaimu maka dia harus berhadapan denganku. Aku takkan rela kamu terluka, cukup dulu kamu terluka karena aku. Dan sekarang aku akan berusaha keras menebus segala kesalahanku " Kata Davin lirih. Hatinya mencelos saat mengingat bagaimana dia menorehkan luka pada hati Aluna. Dia akan berusaha semampu mungkin untuk menyembuhkan luka hati Aluna meski harus dengan kesabaran ekstra.

__ADS_1


__ADS_2