Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
Ekstra Part 01


__ADS_3

Asisten Jo dan Mila berpamitan pulang setelah malam hampir berganti pagi. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju Apartemen Asisten Jo.


"Kita tidak kembali ke hotel Tuan?" tanya Mila sambil menatap sekelilingnya.


"Aku bukan tuanmu!" ketus Asisten Jo kesal.


"Ma-maaf, maksudku Mas," ralat Mila dengan suara gugup.


"Lebih dekat ke apartemenku daripada ke hotel," jawab Asisten Jo sambil fokus pada jalanan.


"Kenapa tidak di rumahku saja mas, kan lebih dekat lagi," tanya Mila heran, padahal mereka hampir melewati rumah Mila.


"Aku gak mau di ganggu lagi. Kalau ke rumahmu, aku yakin Rayhan langsung menempel padamu," Mila hanya memalingkan wajahnya menatap jalanan. Dia paham maksud perkataan Asisten Jo. Dia berkali-kali menghembuskan nafas kasar, dia sebenarnya masih sangat takut melakukan 'itu' karena dia pernah trauma.


"Aku akan melakukannya dengan penuh cinta. Kalau kamu belum siap, kita bisa menundanya," Asisten Jo berusaha membuat Mila tenang, dia tahu Mila pasti sekarang sedang bimbang.


"Anda yakin Tuan? Anda akan menunggu sampai saya siap?" tanya Mila antusias dengan senyum merekah.


"Ya, tapi aku tidak janji bisa menjaga kekhilafanku atau tidak," sahut Asisten Jo membuat Mila langsung mencebik kesal.


"Kamu menyebalkan sekali, untung tampan kalau gak udah aku jadiin tukang kebun deh," gumam Mila membuat Asisten Jo yang semula senyum langsung memudarkan senyumnya.


"Berani sekali kamu!" bentak Asisten Jo kesal.


"Maaf suamiku sayang, aku bercanda," ucap Mila sambil menunjukkan tanda piece dengan kedua jarinya. Kedua mata Asisten Jo kembali fokus ke jalanan namun bibirnya tersenyum tipis.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Aku mandi dulu mas," pamit Mila sambil berjalan cepat ke kamar mandi.


"hmm,"


Hampir setengah jam Mila di dalam kamar mandi namun dia belum juga keluar membuat Asisten Jo merasa begitu kesal.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" teriak Asisten Jo sambil berkali-kali mengetuk pintu kamar mandi.


"sebentar mas," terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.


"Kalau kamu gak keluar maka aku akan dobrak pintu kamar mandi ini!" ancam Asisten Jo. Mila yang sedang di dalam, jari jemarinya semakin saling meremas kuat. Jujur, dirinya begitu gugup dan juga takut.


"Satu...." terdengar hitungan keras dari luar. Mila langsung membuka pintu kamar mandi itu. Matanya bertemu dengan mata Asisten Jo yang sedang menatapnya tajam.


"Ma-maaf mas," ucap Mila gugup, dia menundukkan kepalanya.


"Aku terima maafmu bila di tempat tidur," kata Asisten Jo sambil mengangkat tubuh Mila, Mila yang belum siap hanya menjerit kaget.


"Turunkan aku mas," perintah Mila sambil meronta. Asisten Jo langsung menurunkan tubuh Mila dengan lembut di atas kasur.


"Kamu suka sekali membuat aku menunggu lama," Asisten Jo mendekati wajah Mila, dia mencium pipi Mila lembut, kemudian beralih ke bibir Mila.


"Aku selalu membayangkan rasanya bibir ini," ucap Asisten Jo di sela-sela ciumannya. Mila pun diam menikmati namun lama-lama dia pun mengimbangi.


"Mass," desah Mila, saat bibir Asisten Jo sudah menyapu lehernya dengan tangan yang bergerilya kemana-mana. Asisten Jo semakin bersemangat saat mendengar desahan-desahan kecil dari bibir Mila. Kini, mereka berdua akhirnya kembali telanjang bulat.


"Pelan-pelan mas," ucap Mila takut.


"Aku akan melakukannya dengan penuh cinta," Bisik Asisten Jo membuat tubuh Mila kembali meremang. Saat Asisten Jo hendak memasukkan adiknya, dia menghentikan kegiatannya. Dia terdiam sesaat membuat Mila menjadi bingung.


"Kenapa mas?" tanya Mila kecewa karena Asisten Jo turun dari tubuhnya.


"Sebentar," jawab Asisten Jo singkat sambil berjalan mendekati nakas. Mila hanya menatap apa yang di lakukan Asisten Jo. Satu menit kemudian, Asisten Jo kembali menindih tubuh Mila.


"Kenapa cepat sekali mas?" tanya Mila heran.


"Aku lupa mematikan ponselku. Aku tidak ingin ada yang mengganggu kita lagi," jawab Asisten Jo sambil kembali mencium bibir Mila.


"Kamu sudah siap?" Mila mendesah kesal saat mendengar pertanyaan Asisten Jo.

__ADS_1


"Aku sudah siap dari tadi mas!" ketus Mila membuat Asisten Jo menjadi gemas.


"Kamu tidak sabaran sekali," goda Asisten Jo kembali mencium bibir Mila.


"Tahan sebentar ya, katanya sakitnya cuma di awal setelah itu akan nikmat," bisik Asisten Jo sambil memasukkan pelan adik kecilnya.


"Mas, sakit," rintih Mila. Asisten Jo diam sesaat, membiarkan tubuh Mila menerima terlebih dahulu. Setelah Mila merasa tenang, Asisten Jo memompa perlahan tubuh Mila. Malam menjelang pagi itu menjadi malam yang penuh desahan dan erangan mereka berdua.


Ternyata rasanya seenak ini, pantas saja Tuan Muda selalu ingin melakukannya. Benar-benar membuat ketagihan. Batin Asisten Jo sesaat setelah tubuhnya ambruk karena telah mencapai pelepasan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sedangkan di tempat lain, Davin sedang menjadi ayah siaga untuk putra pertamanya. Dia setia menunggu Aluna yang sedang menyusui buah hatinya.


"Sayang," panggil Davin lirih sambil menatap putranya yang sedang menghisap makanannya dengan kuat.


"Apa aku sudah tidak bisa menikmati itu?" Aluna menoleh mendengar pertanyaan Davin, dia melihat mata Davin yang sedang menatap lekat ke arah dua bukit kembarnya yang terbuka satu.


"Kalau kamu mau gak papa mas, biar kamu jadi tambah besar dan sehat," ketus Aluna. Dia merasa kesal mendengar pertanyaan konyol dari Davin.


"Benarkah? Aku bisa sebelahan sama baby Al. Itu kan ada dua, Al kanan aku kiri," jawab Davin tanpa dosa. Aluna mencubit lengan Davin dengan gemas.


"Kamu masih waras gak si mas?!" sewot Aluna.


"Aku cuma bercanda sayang," ucap Davin sambil mencium pipi Aluna lembut. Marah Aluna seketika langsung menghilang.


"Tapi kalau beneran boleh, aku dengan senang hati akan melakukannya," canda Davin dengan tertawa lebar.


"Mas!" teriak Aluna tertahan dengan nada kesal. Davin hanya terkekeh geli.


"Aku mencintaimu," ucap Davin sambil mencium lembut bibir Aluna. Wajah Aluna langsung merona merah.


Setelah baby Al tertidur lagi, Davin merebahkan tubuhnya dibelakang Aluna. Melingkarkan tangannya di perut Aluna, sedangkan tangan Aluna memeluk lembut tubuh bayi mungil itu.

__ADS_1


"Terimakasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa sayang. Aku sangat-sangat mencintaimu," bisik Davin lirih.


"Aku juga mencintaimu mas," balas Aluna. Davin tersenyum lebar, jarang sekali Aluna mengatakan ucapan cinta. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Kini, mereka bertiga terlelap bersama-sama.


__ADS_2