Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
132


__ADS_3

Asisten Jo duduk di kursi penumpang, dia menyuruh salah satu anak buahnya yang jago menyetir untuk mengendarai mobilnya menuju kota XX, kota yang Aluna tunjukkan. Tiga mobil anak buah Asisten Jo juga mengikuti di belakang mobil Asisten Jo.


"Semoga kamu baik-baik saja," gumam Asisten Jo berkali-kali. Jujur, dia takut hal buruk menimpa Mila.


"Apa masih lama?" tanya Asisten Jo tidak sabar.


"Masih sekitar dua jam Tuan," jawab supir itu sopan.


"Sialan! kenapa lama sekali. Apa kamu bisa lebih cepat? Aku takut kita terlambat!" ucap Asisten Jo khawatir.


"Ini sudah cepat Tuan, kita juga harus tetap menjaga keselamatan kita," sahut sopir itu, Asisten Jo pun kemudian terdiam. Dia teringat ucapan Mila semalam.


Anda tidak merasa ketinggalan ciuman perpisahan dengan saya Tuan, siapa tahu besok anda merindukan saya. Ucapan Mila itu terngiang-ngiang di pikiran Asisten Jo.


"Apa kamu sudah merasa kalau kamu akan pergi? Bolehkan aku berkata jujur kalau aku merindukanmu? bertahanlah, bertahanlah sebentar lagi untukku," Lirih Asisten Jo, dia berusaha menahan airmatanya. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta pada Mila?


Sementara itu, di perusahaan Alexander Group, tepatnya di ruangan Davin, Aluna duduk gelisah. Dia menggigit kuku jari tangannya untuk mengurangi rasa gelisah yang dia rasakan.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Davin lembut sambil berjalan ke tempat Aluna. Aluna tidak menjawab, dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Sayang, kamu tidak kasihan pada baby kita?" tanya Davin lagi, kali ini Aluna hanya diam membisu tanpa melakukan gerakan apapun.


"Sayang, aku tahu kamu begitu khawatir tapi kamu juga harus pikirkan anak kita di dalam,"


"Aku belum tenang kalau Mila belum di temukan," lirih Aluna, nada suaranya terdengar begitu berat.


"Kita berdoa saja semoga Mila baik-baik saja. Sekarang Jo sedang kesana, kita tunggu kabar dari Jo, semoga dia membawa kabar baik. Kamu tahu, Jo sudah berjanji satu hal," Aluna langsung menatap Davin dengan penuh tanya.


"Kalau Mila sudah di temukan, Jo akan menikahi Mila," Aluna terkejut mendengar ucapan Davin.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Aluna tak percaya. Davin mengangguk sembari tersenyum.


"Semoga Jo bisa menemukan Mila dan mereka bisa menikah. Aku tahu Jo adalah orang yang baik."


"Iya sayang, kalau Jo menyakiti Mila, kita kirim saja ke Antartika," ucap Davin membuat Aluna berdecih sebal.


"Selalu aja gitu. Jo, kamu mau ku kirim ke Antartika?!" Aluna menirukan gaya bicara Davin saat mengancam Asisten Jo, membuat Davin merasa begitu gemas kemudian menghujami wajah Aluna dengan ciuman bertubi-tubi.


🍀🍀🍀🍀🍀


Mila membuka kedua kelopak matanya, pandangan matanya menyapu seluruh ruangan yang terasa asing baginya. Dia terkejut saat merasakan tubuhnya susah di gerakkan, ternyata tangan dan kakinya di ikat dengan tali yang terikat dengan tempat tidur. Ikatan itu membuat kedua tangan dan kaki Mila terbuka lebar.


"Kamu sudah bangun bebeb Mila sayang?" ucap Dimas, dia masuk ke dalam kamar sambil menyeringai.


"Apa-apaan kamu Dim!" bentak Mila keras meskipun dalam hati Mila begitu ketakutan.


"Kamu tidak merindukan aku? padahal aku sangat merindukan kamu apalagi panggilan kamu ke aku,sayangku Didim,"


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Karena sampai matipun kamu hanya akan menjadi milikku!" Dimas memegang dagu Mila dengan cukup keras, hingga Mila merintih kesakitan.


"Tidak ada satupun yang boleh memilikimu kecuali aku!" Bentak Dimas, airmata Mila langsung mengalir membasahi pipinya.


"Jangan menangis sayang, aku akan benci airmatamu ini," Dimas mengusap kedua pipi Mila, membuat Mila ketakutan.


"Aku mohon Dim, jangan sakiti aku," mohon Mila dengan terisak, Dimas tersenyum sinis.


"Aku tidak akan menyakitimu, justru aku akan mengajakmu menikmati bagaimana nikmatnya surga dunia itu," bisik Dimas membuat tubuh Mila semakin merinding ketakutan.


"Jangan Dim, aku mohon jangan," pinta Mila, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Kamu boleh sakiti aku, tapi jangan kamu ambil kesucianku. Aku mohon Dim," Dimas berjalan menjauhi Mila, dia duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur. Mila sedikit bernafas lega, dia berharap semoga Dimas benar-benar tidak mengambil kehormatannya secara paksa.


"Aku tidak mungkin tega menyakiti tubuhmu bebeb Mila sayang. Aku hanya ingin membalas rasa sakit hatiku karena kamu berani memutuskanku demi seorang Asisten bos!" Suara Dimas begitu menggelegar di ruangan itu.


"Tidak Dim, aku tidak memutuskanmu karena Tuan Johan, tapi karena kamu mengkhianatiku!" Suara Mila mulai meninggi membuat Dimas tersenyum sinis.


"Bukankah aku sudah minta maaf? Aku hanya khilaf sayang," Dimas mulai merendahkan suaranya.


"Khilafmu itu menyakiti hatiku Dim! harusnya kamu tahu itu, bukankah kamu tahu kalau aku benci dengan yang namanya pengkhianatan," Mila semakin terisak, bagaimana bisa Dimas seolah memojokkan dirinya.


"Mil... kembalilah padaku atau aku akan mengambil kehormatanmu secara paksa!" Ancam Dimas membuat Mila langsung menatap Dimas.


"Jangan Dim, aku mohon jangan. Kamu boleh pukul aku tapi jangan ambil kehormatanku. Bukankah kamu tahu bagaimana aku menjaganya," Mila menggelengkan kepalanga sembari memohon kepada Dimas. Dia benar-benar ketakutan saat ini.


"Kalau aku melukai tubuhmu, kamu masih bisa menyembuhkannya tapi kalau aku mengambil kehormatanmu yang seharusnya menjadi milikku, maka aku yakin tidak akan ada pria yang menerimamu. Hahaha," Mila bergidik ngeri mendengar tawa Dimas yang terdengar menakutkan di telinganya.


"Mila, siapa yang mau sama kamu? anak orang miskin yang di tinggal ayahnya sejak remaja. Setiap hari harus banting tulang demi mencukupi kebutuhan keluargamu apalagi sekarang ada Rayhan, anak kecil yang kamu pungut di jalanan!" Mila menatap Dimas, dirinya begitu sakit mendengar ucapan Dimas walaupun apa yang diucapkan Dimas adalah kenyataan.


"Selama ini aku sudah menerima kamu yang miskin itu! walaupun aku harus selalu bertentangan dengan orang tuaku. Semua aku lakukan demi kamu, tapi apa balasan yang aku dapatkan? Setelah kamu mendapatkan lelaki yang lebih kaya dariku kamu langsung mencampakanku begitu saja!" Teriak Dimas membuat Mila diam, dia hanya merasakan sakit hati karena ucapan Dimas.


"Aku yakin, kamu pasti sudah menyerahkan tubuh sexymu ini untuk lelaki itu kan?!" Tuduh Dimas dengan suara tinggi.


"Enggak Dim, aku tidak ada hubungan apapun dengan Tuan Johan. Kamu harus percaya itu, kita berdua berpisah mungkin karena kita belum jodoh Dim," Mila berusaha menenangkan emosi Dimas, tapi ucapan terakhir Mila justru membuat hati Dimas semakin panas.


"Kalau kita belum berjodoh, maka bagaimanapun caranya aku akan membuat kita berjodoh Mil ! Aku akan membuatmu semakin tidak pantas bersanding dengan Tuan Johan Saputra, anak tunggal Tuan Andri Saputra, tangan kanan Tuan Doni Alexander yang kini sudah pensiun, kamu tahu? Tuan Doni sudah menyiapkan satu perusahaan untuk Tuan Andri dan Johan karena pengabdian mereka," Mila terkejut mendengar ucapan Dimas.


"Kamu pikir, kamu yang miskin ini pantas bersanding dengan dia?! Apalagi jika kehormatanmu sudah terenggut. Aku yakin, Tuan Johan pasti akan langsung meninggalkanmu dengan tatapan jijik," Dimas melangkahkan kakinya mendekati Mila dengan bibir yang menyeringai. Tubuh Mila semakin gemetar ketakutan saat melihat Dimas yang telah dekat dengannya, bahkan kini Dimas sudah bertelanjang dada.


"Aku mohon Dim, jangan lakukan itu Dim, aku mohon," pinta Mila memelas dengan derai airmata di pipinya. Namun, Dimas seolah menulikan telinganya. Dia tidak peduli pada tangisan Mila, yang dia inginkan saat ini adalah membuat Mila harus menjadi miliknya.

__ADS_1


Jahat sekali Author, berhenti pas tegang-tegangnya bikin kepala nyut-nyutan karena penasaran 😅


jangan lupa dukungan buat Author recehan biar makin semangat nulis dan cepat update


__ADS_2