Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
74


__ADS_3

Seharian ini Aluna duduk berbincang dengan ibu mertua dan kakak iparnya itu. Sedangkan para lelaki sudah berangkat bekerja termasuk Tuan Doni yang masih meninjau perusahaan yang kini sudah dipimpin oleh Davin.


" Keadaan kamu sudah baik-baik saja kan Lun ?" Tanya Nyonya Anita sambil mengusap bahu kiri Aluna.


" Alhamdulillah sudah mom- eh bu " Jawab Aluna sedikit gugup. Nyonya Anita tersenyum melihat kegugupan Aluna.


" Kamu boleh memanggil mommy seperti Davin " Kata Nyonya Anita sambil tersenyum. Sebenarnya, Aluna sangat penasaran kenapa kak Marvel memanggil Nyonya Anita dengan sebutan 'ibu' tapi Davin memanggilnya dengan sebutan 'mommy' sedangkan mereka memanggil Tuan Doni dengan sebutan ayah.


" Emm... bu kenapa Davin bisa memanggil mommy sedangkan Kak Marvel memanggil ibu ? " Aluna benar-benar ingin menghilangkan rasa penasarannya.


" Sebenarnya dulu Davin juga memanggil ibu namun saat duduk di bangku SMP dia mengganti panggilannya menjadi mommy karena katanya kalau manggil ibu itu gak keren, sudah kuno. Makanya sampai sekarang dia memanggilku mommy " Aluna mengangguk paham. Sedangkan Shania hanya tersenyum ke arahnya.


" Sudah berapa bulan kak ? " Tanya Aluna sambil mengelus perut Shania.


" Delapan Lun, perkiraan bulan depan " Aluna masih mengelus perut Shania dengan lembut.


" Semoga lancar ya kak persalinannya. Ibu dan bayi sehat semua " Aluna menghentikan usapannya saat merasakan ada gerakan seperti sebuah tendangan di perut Shania.

__ADS_1


" Dia menendang kak " Teriak Aluna kegirangan. Sedangkan Shania dan Nyonya Anita hanya tersenyum melihat tingkah Aluna.


" Boleh aku cium engga kak ? " Pinta Aluna penuh harap. Setelah melihat Shania menganggukkan kepalanya, Aluna langsung menciumi perut Shania dengan sangat bahagia.


" Sehat-sehat ya di dalam kesayangan aunty, aunty tunggu kehadiranmu di dunia ini " Ucap Aluna lirih. Senyum di bibir Aluna mulai perlahan memudar. Namun tangan Aluna masih mengusap perut Shania dengan lembut, jika dia merasakan gerakan disana dia akan tersenyum.


" Andai aku tidak keguguran, pasti sebentar lagi aku merasakan gerakan seperti ini " Gumam Aluna tapi Shania dan Nyonya Anita masih bisa mendengarnya.


" Gak papa Lun .... kamu dan Davin masih punya banyak kesempatan untuk memiliki buah hati. Anggap saja saat ini kamu dan Davin masih disuruh menikmati waktu berdua untuk saling memahami " Nyonya Anita mengusap punggung belakang Aluna. Memberi kekuatan untuk Aluna. Aluna menghapus airmatanya yang hampir mengalir. Sungguh, Aluna sangat membenci dirinya yang sekarang sangat cengeng.


-----------@@@@@------------


" Nanti sekitar jam satu Tuan .... " Jawab Asisten Jo sopan.


" Lama sekali ... Aku sudah sangat merindukan Aluna " Davin memejamkan matanya. Dia ingin sekali dirumah menemani Aluna tapi hari ini banyak agenda yang tidak bisa dia tinggal begitu saja.


" Anda bisa menelfon Nona Aluna Tuan " Asisten Jo memberi saran tapi Davin tidak merespon.

__ADS_1


" Jangan bilang anda tidak punya nomernya Tuan " Davin langsung membuka matanya lebar dan menatap Asisten Jo tajam.


" Tentu saja aku punya, aku ini suami kesayangannya " Asisten Jo mencibir Tuan Mudanya yang begitu narsis.


" Tapi nomernya sudah tidak aktif Jo, dia kan sudah ganti nomer " Davin mendesah pelan. Sedangkan Asisten Jo tersenyum sinis.


" Tuan .... kenapa jika berhubungan dengan Nona Aluna, anda jadi tidak bisa menggunakan otak anda dengan baik " Cibir Asisten Jo. Davin langsung mendelik ke arahnya.


" Berani sekali kamu Jo ! " Bentak Davin kesal. Namun Asisten Jo tetap bersikap tenang. Davin sangat membenci ucapan Asisten Jo jika mulut pedasnya itu sedang beroperasi. Tapi, Asisten Jo juga termasuk orang yang sangat bisa di andalkan itulah mengapa Davin masih mempertahankan Asisten Jo disampingnya walaupun dia harus menggunakan kesabaran lebih saat Asisten Jo mengucapkan kata-kata yang sangat pedas.


" Bukankah Nona Aluna sekarang tinggal di Mansion Alexander Tuan ? " Davin hanya mengangguk mendengar pertanyaan Asisten Jo.


" Bukankah anda memiliki nomer telfon Mansion Alexander ataupun Nyonya Anita Tuan ? Apalagi tadi anda bilang Nona Shania ada di Mansion " Davin mengusap dagunya berkali-kali sambil berfikir. Beberapa saat kemudian dia menggebrak meja saat menyadari kebodohannya.


" Kenapa otakku lemot sekali ! " Umpat Davin pada dirinya sendiri. Asisten Jo dibelakangnya hanya berusaha menahan tawanya.


" Jangan menertawai ku Jo ! "

__ADS_1


" Saya tidak berani Tuan " Sanggah Asisten Jo masih berusaha menahan tawanya. Davin berdecak kesal. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomer telfon Mansion Alexander.


" Hallo selamat siang .... " Mendengar sapaan dari seberang telfon, mulut Davin membisu.


__ADS_2