Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 15


__ADS_3

Satu bulan kemudian, kesedihan Mila sudah mulai berkurang. Dia mulai ikhlas menerima kepergian ibunya walaupun saat mengingatnya, Mila kadang masih menangis. Asisten Jo benar-benar sangat menjaga Mila apalagi kini perut Mila benar-benar telah membuncit walaunpun persalinan Mila di perkirakan masih bulan depan.


"Bunda," Mila menatap Rayhan yang berlari ke arahnya. Dia langsung memeluk Rayhan begitu sudah sampai di dekatnya.


"Bunda kangen kamu, sayang," kata Mila sambil menghujami wajah Rayhan dengan banyak ciuman.


"Sudah bunda, Rayhan takut perut bunda meledak," kata Rayhan sambil melepaskan pelukan Mila.


"Kata siapa perut bunda bisa meledak?" tanya Mila lembut. Asisten Jo hanya menatap mereka berdua bergantian.


"Ayah Kev. Ayah bilang aku gak boleh minta gendong bunda, nanti perut bunda meledak," celoteh Rayhan membuat Mila terkekeh geli, tapi tidak dengan Asisten Jo yang menunjukkan raut wajah sebal.


"Sekarang di mana ayah Kev?" tanya Mila sambil celingukan mencari ayah kandung Rayhan itu, yang kadang Mila akui sebagai suami keduanya.


"Apaan sih, mas?" tanya Mila saat Asisten Jo menahan kepalanya.


"Gak usah celingukan! Gak usah kegenitan!" ketus Asisten Jo. Mila tersenyum, dia mencium pipi Asisten Jo begitu saja. Mila selalu merasa gemas saat Asisten Jo sedang cemburu, itu lah mengapa dia suka sekali menggoda Asisten Jo.


"Rayhan, kenapa kamu lari begitu saja?" tanya Tuan Kevin, dia berjalan masuk ke dalam rumah bersama Rayfan di sampingnya.


"Ayah Kev," panggil Mila cengengesan.


"Aku bukan ayahmu," sanggah Tuan Kevin, dia kesal akan tetapi dia juga ingin tertawa melihat wajah Asisten Jo yang merah padam.


"Mas, perutku sakit," ucap Mila sambil mengusap perutnya. Asisten Jo menatap lekat ke arah Mila.


"Kamu beneran sakit apa cuma bohong biar aku gak marah sama kamu karena genit?" tukas Asisten Jo, karena Mila sering beralasan sakit perut saat sedang melakukan kesalahan.


"Beneran sakit mas," Wajah Mila mengernyit, membuat Asisten Jo menjadi khawatir. Dia mengusap perut Mila lembut. Tuan Kevin dan kedua putra nya hanya menatap mereka berdua.


"Sudah hilang," kata Mila dengan wajah yang telah biasa.

__ADS_1


"Apa kamu yakin tidak berbohong?!" selidik Asisten Jo. Entah mengapa dia ragu bila memang Mila sakit perut karena kini Mila sudah nampak biasa saja.


"Yakin mas, tadi rasanya sangat sakit sekali. Aku mau ambil minum dulu," Mila berdiri dari duduknya, namun baru dua langkah berjalan, langkahnya terhenti saat merasakan perutnya kembali terasa kencang.


"Kamu kenapa?" Kali ini Asisten Jo merasa sangat khawatir, dia berdiri dan mengusap perut Mila.


"Bisa saja istri kamu akan melahirkan," ucap Tuan Kevin saat melihat Mila sebentar kesakitan dan sebentar biasa saja.


"Mana mungkin, bahkan perkiraan lahir masih satu bulan lagi," sanggah Asisten Jo, dia berhenti mengusap perut Mila karena sepertinya sudah tidak kencang lagi.


"Mas, aku mau pipis," ucap Mila lirih.


"Tinggal pipis aja, kenapa mesti pamit?" tanya Asisten Jo tidak peka.


"Kamu menyebalkan mas!" kesal Mila, dia berjalan pelan menuju kamar mandi, namun langkahnya kembali terhenti karena merasakan perutnya kembali kencang. Asisten Jo langsung berjalan mendekati Mila.


"Ayo aku antar," Tangan Asisten Jo menggandeng Mila. Dia menuntun Mila perlahan.


"Hampir aja aku mau ganti suami mas, kamu sangat tidak peka sebagai lelaki!" omel Mila, Asisten Jo langsung menghempaskan tangan Mila begitu saja.


"Tuh kan mas! Aku jadi pipis di celana," rengek Mila saat celananya telah basah.


"Aku jadi malu sama mereka bertiga mas," Mila menunjuk mereka bertiga yang sedang duduk di sofa. Mila langsung berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Asisten Jo mendelik saat Mila berjalan cepat begitu saja.


"Dasar aneh! tadi merengek minta di antar ke kamar mandi tapi dia bisa ke kamar mandi sendiri dengan cepat," gerutu Asisten Jo. Dia hendak kembali duduk di sofa namun teriakan Mila dari dalam kamar mandi membuat Asisten Jo sangat khawatir dan segera berlari ke kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Asisten Jo sambil membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak di kunci.


"Aku berdarah mas," jawab Mila dengan suara bergetar. Dia terkejut saat melihat bercak darah di celana dal*mnya. Asisten Jo melihat bercak darah itu, dia lalu membopong tubuh Mila, membawanya perlahan keluar rumah. Tuan Kevin dan kedua putranya langsung berdiri, mereka juga cemas pada keadaan Mila.


"Biar saya saja yang menyetir," tawar Tuan Kevin. Dia duduk di belakang kemudi, sedangkan Asisten Jo duduk di belakang bersama Mila yang terus kesakitan. Rayhan dan Rayfan menunggu di rumah dengan di temani pelayan di rumah.

__ADS_1


"Apa sangat sakit?" tanya Asisten Jo khawatir, dia mengusap punggung Mila untuk mengurangi rasa sakit di tubuh Mila.


"Sakit sekali mas, aku takut," Mila hendak menangis, dia merasakan sakit yang begitu hebat. Dia takut akan terjadi apa-apa padanya. Sesakit inikah rasanya orang melahirkan?


"Jangan menangis, aku yakin pasti kamu baik-baik saja," Asisten Jo berusaha menenangkan Mila, Tuan Kevin fokus pada jalanan. Begitu mobil itu telah sampai di rumah sakit, Asisten Jo langsung membawa Mila masuk ke dalam. Mila pun di periksa dokter Mery, dia mengecek sudah sejauh mana pembukaan rahim Mila.


"Sudah lengkap teryata, ayo kita bersiap-siap," kata Dokter Mery sambil menyiapkan segalanya. Sedangkan Mila mulai merasakan kesakitan, berkali-kali dia menghembuskan nafas kasar.


"Mas, aku pengen pup," kata Mila di sela-sela tangisnya.


"Kalau sudah pengen pup, mengejan saja. Bokongnya jangan di angkat ya, biar tidak robek,"


"Apanya yang robek, dok? saya saja tidak pake celana," celetuk Mila sambil berusaha menahan hasrat buang air besarnya, yang seolah mendorong di bawah sana. Dokter Mery tersenyum mendengar ucapan Mila, sedangkan Asisten Jo terlihat sangat khawatir.


"Ayo mengejan," suruh Dokter Mery, Asisten Jo menggenggam tangan Mila erat.


"Aku yakin kamu bisa, bukankah kamu sudah tidak sabar melihat anak kita," Asisten Jo berusaha menenangkan Mila. Mila mengejan sekali, belum berhasil.


"Kamu harus semangat, aku mencintaimu," ucap Asisten Jo sambil mencium kening Mila.


"Kenapa kamu kalau bilang cinta tidak pernah berada di waktu yang tepat sih mas?!" protes Mila sambil menahan rasa yang begitu sakit.


"Berhentilah menyebalkan!" ketus Asisten Jo.


"Ayo Nyonya, jangan sampai lemah ya," Dokter Mery berusaha menguatkan.


"Kenapa rasanya sangat sakit, tidak senikmat saat membuatnya," keluh Mila, dia berusaha mengejan lagi. Hingga ejanan yang ketiga, suara tangis bayi terdengar menggema di ruangan itu. Dokter Mery mengangat bayi mungil yang masih merah. Asisten Jo dan Mila bernafas lega. Mata mereka berkaca-kaca melihat bayi yang sedang menangis itu.


"Rasanya lega sekali," kata Mila, dia menghembuskan nafas panjang. Kemudian, matanya terpejam. Asisten Jo menepuk pipi Mila untuk menyadarkan Mila.


"Mil, bangun Mil!!" panggil Asisten Jo khawatir, namun Mila tetap bergeming. Dia tidak membuka kedua matanya sama sekali.

__ADS_1


"Mil, bangun! Jangan buat aku takut," suara Asisten Jo terdengar gemetar. Dia benar-benar takut, Mila akan meninggalkannya.


Bangun Mil! Bangun Woy!


__ADS_2