Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 29


__ADS_3

Mansion Alexander


"Muka kamu kusut sekali, Jo?" tanya Davin seraya masuk ke dalam mobil. Asisten Jo tidak menjawab pertanyaan Tuan Muda nya itu, dia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang setir kemudi.


"Kamu baik-baik saja, Jo?" tanya Davin, dia melihat Asisten Jo yang sedari tadi memasang wajah lesu.


"Sangat baik Tuan," jawab Asisten Jo.


"Kenapa kamu terlihat begitu lesu? Apa kamu belum berbuka?" tanya Davin lagi. Asisten Jo fokus menatap jalanan di depannya.


"Jo," panggil Davin karena tidak mendapat jawaban dari Asisten Jo.


"Tentu saja sudah Tuan, bahkan saya merasa seperti terbang begitu tinggi karena telah lama tidak menggapai Nirwana bersama istri saya," jawab Asisten Jo penuh semangat namun sesaat kemudian wajahnya kembali murung.


"Kamu terlihat berbeda, Jo. Apa kamu ada masalah dengan Mila?" tanya Davin lagi. Terdengar hembusan kasar dari mulut Asisten Jo.


"Saya hanya bingung Tuan. Semalam saya baik-baik saja dengan istri saya, bahkan kita sempat menggapai Nirwana bersama tapi tadi pagi, tiba-tiba istri saya berubah Tuan,"


"Berubah? Berubah jadi apa?" tanya Davin sambil menautkan kedua alisnya.


"Bukan raganya yang berubah Tuan, tapi sikap Istri saya menjadi cuek kepada saya," Asisten Jo berusaha tetap fokus pada jalanan.


"Mungkin kamu melakukan kesalahan, Jo."


"Mungkin karena semalam saya menolak keinginannya, bercinta memakai pengaman," Asisten Jo kembali menghembuskan nafas kasar.


"Hanya masalah itu?"


"Iya Tuan, karena saya langsung menolak begitu saja, padahal istri saya sudah membeli dua puluh bungkus,"


"What?!" pekik Davin terkejut hingga Asisten Jo menutupi satu telinganya.

__ADS_1


"Anda bisa membuat saya tuli, Tuan," cibir Asisten Jo kesal.


"Aku terkejut, Jo. Keren sekali istrimu itu, Jo," Davin menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Mila membeli pengaman dua puluh bungkus sekaligus.


"Tapi sekarang semua sudah saya buang ke kotak sampah," ucap Asisten Jo datar.


"Harusnya kamu mencoba nya walau sekali, Jo. Istrimu kan hanya penasaran seperti apa rasanya. Jangan sampai istri kamu saking penasarannya, dia mencobanya dengan pria lain," ucap Davin begitu saja.


"Jaga bicara anda, Tuan!" sewot Asisten Jo kesal namun Davin seolah tak peduli.


"Wanita itu makhluk Tuhan yang paling susah di hadapi, Jo. Kadang ada waktunya kita harus mengalah walaupun kita tidak suka dengan hal itu," Davin menyandarkan kepalanya di jok mobil. Asisten Jo hanya diam, dia berpura-pura fokus pada jalanan walaupun sebenarnya pikirannya sedang tak karuan dan dia juga merasakan hatinya begitu gelisah.


Sedangkan di tempat lain, Mila pun sedang merasakan hatinya sangat gelisah. Dia bingung harus bagaimana, ingin sekali dia berkata pada suaminya tapi dia takut akan menganggu suaminya yang sedang bekerja itu dan membuat suaminya jadi sangat khawatir. Dia menghidupkan layar ponselnya, kemudian menghubungi nomer ponsel Aluna.


"Hallo, Mi. Ada apa?" Terdengar suara Aluna begitu panggilan itu telah terhubung.


"Lun, aku mau bilang sesuatu boleh? Tapi aku tidak ingin kamu bicarakan hal ini pada siapapun termasuk suami kamu," sahut Mila dengan suara ragu. Cukup lama panggilan itu hening.


"Em, Lun. Dimas menghubungiku, dia mengajakku bertemu kalau aku tidak mau, dia mengancam akan menyakiti Nathan. Dia juga menyuruhku untuk tidak mengatakan kepada suamiku. Aku bingung Lun, aku harus bagaimana?"


"Dimas menghubungimu? Bukankah dia masih di penjara?" tanya Aluna tak percaya.


"Seharusnya sih iya Lun. Mungkin ada yang membebaskannya, bukankah kamu tahu hukum di negara ini bisa di beli? Aku harus bagaimana Lun?"


"Mil, bukankah lebih baik kamu mengatakannya kepada suamimu? Biar suamimu yang menghadapi Dimas. Kamu tahu sendiri kan bagaimana nekatnya Dimas?"


"Tapi aku gak mau Mas Johan khawatir padaku, Lun,"


"Wajar kalau seorang suami khawatir pada istrinya. Itu menandakan kalau suami kita itu sangat sayang sama kita. Jadi berusaha lah untuk terbuka dengan suamimu Mil," Mila terdiam mendengar nasihat Aluna. Hatinya masih merasa ragu untuk berkata yang sebenarnya kepada Asisten Jo.


"Baiklah, Lun. Aku akan katakan pada suamiku," jawab Mila lesu, setelah berbincang-bincang cukup lama, Mila pun mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


Mila menatap layar ponselnya, dia ingin menghubungi suaminya, namun dia masih ragu tapi bagaimana pun juga benar kata Aluna kalau dia harus jujur mengatakan semuanya pada suaminya. Mila hendak menghubungi suaminya, tiba-tiba ada satu pesan masuk, dengan segera Mila membuka pesan itu. Darah Mila berdesir setelah membuka pesan itu, di mana ada foto Nathan bersama Ayu dari jarak dekat.


Aku tunggu kamu, kalau sampai sepuluh menit tidak datang jangan salahkan aku, kalau anak kesayanganmu ini berada dalam bahaya.


Ketakutan mulai menyergapi Mila, tanpa banyak bicara, Mila langsung memanggil Santi, salah seorang pelayan di rumah itu yang terkadang ikut membantunya mengurus buah hatinya.


"San, aku minta tolong jagain Cacha ya. Aku ada urusan sebentar, stok ASI di kulkas masih ada," ucap Mila sambil bersiap-siap pergi. Santi menatap majikannya itu dengan bingung.


"Anda mau kemana, Nyonya? Kenapa terlihat buru-buru sekali?" tanya Santi penasaran.


"Aku ada urusan mendadak sebentar. Nanti kalau Rayhan pulang sekolah, bilang saja bunda sedang ke Supermarket," kata Mila sambil berjalan ke luar kamar, Santi hanya menatap kepergian Mila.


Mila mengendarai motornya menuju ke Restoran XX. Bagaimanapun juga, dia harus menemui Dimas karena dia tidak mau Dimas menyakiti Nathan. Mila mengendarai motornya dengan cukup kencang. Hampir sepuluh menit perjalanan, Mila telah sampai di Restoran XX, dia memarkirkan motornya setelah itu dia pun masuk ke dalam Restoran. Pandangan matanya menyapu seluruh restoran namun dia tidak menemukan keberadaan Dimas. Ponsel nya berbunyi, menandakan ada satu pesan masuk, dengan segera Mila langsung membuka pesan itu.


Kaos biru, meja nomer 11


Mila kembali mengedarkan pandangannya, mencari meja nomer sebelas. Dia melihat seorang pria yang duduk di meja nomer sebelas dengan posisi membelakanginya. Jantung Mila terasa berdebar-debar, namun dia mencoba tetap tenang. Mila berjalan mendekati pria itu dengan langkah perlahan, berbagai doa dia ucapkan dalam hati. Saat Mila sudah berdiri dua langkah dari pria itu, langkahnya terhenti saat melihat pria itu berbalik.


"Apa kabarmu, Mil?" tanya Dimas dengan senyum yang terukir indah di bibirnya. Mila terdiam sesaat, dia terpesona dengan ketampanan Dimas. Jujur, sekarang Dimas terlihat sangat tampan.


"Di-Dimas," panggil Mila terbata. Dia merasa begitu gugup, apalagi melihat senyum Dimas yang begitu memikat.


"Jangan takut gitu. Duduklah Mil," suruh Dimas dengan lembut, tapi Mila tetap bergeming pada posisinya.


"Mil?" panggil Dimas menyadarkan lamunan Mila.


"Ah iya," kata Mila gugup, dia pun mendudukkan tubuhnya di kursi, hingga kini mereka berdua duduk saling berhadapan.


hari ini Author double up, tapi jangan lupa tetap tinggalkan jejak kalian ya,


beri dukungan untuk Author recehan ini

__ADS_1


Salam sayang dari Author recehan


__ADS_2